Jul 22

Buku Baru : Ayahmu Bulan, Engkau Matahari (Gramedia, Juli 2012)

Juli tahun ini istimewa sekali. Sebuah buku berisi 17 cerita pendek yang saya tulis dalam kurun waktu 2004- 2009 diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Lebih istimewa lagi karena desainer favorit saya Nani Puspasari di www.designani.com memiliki stok gambar serial The Feminine World yang sesuai dengan ke-17 cerita yang dipilih editor Mirna Yulistianti di Gramedia.

Sebenarnya, saya tak pernah berhasil menyelesaikan satu cerita pendek pun selama tahun 2010 hingga 2012. Satu-satunya cerita terbaru saya akhirnya saya selesaikan 20 Juli 2012, atau dua hari lalu. Alasan tak adanya cerita baru yang lahir cukup meyakinkan sebenarnya, meski tak boleh disebut sebagai pembenaran untuk mandek berkarya :

1. Kepindahan saya dari Tokyo, lalu mampir beberapa bulan di Jakarta, sebelum akhirnya ke Melbourne menyita waktu dan energi.

2. Tekad memulai pendirian dan pembangunan Rumah Budaya Rumata’ di Makassar bersama sahabat Riri Riza dibantu banyak keluarga dan teman sejak 2010.

3. Lahirnya Makassar International Writers Festival sejak Juni 2011

Proses kelahiran buku Ayahmu Bulan, Engkau Matahari ini juga terbilang cepat. Selain semua cerita dan grafis pendukung sudah tersedia, Mirna sebagai editor bekerja dengan cekatan dan mengakomodir keinginan saya sebagai penulis. Cerita yang dipilih Mirna untuk kumpulan ini, sebagian telah hadir di tiga buku saya sebelumnya, Makkunrai(2008), Maiasaura (2008) dan Family Room (2010) ditambah sejumlah cerita yang belum pernah dipublikasi,  serta cerita-cerita yang telah dipublikasi dalam Bahasa Inggris tapi belum pernah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia.

Mirna tampaknya secara sadar menyusun ke-17 cerita ini untuk merentang sebuah benang merah tentang sudut pandang perempuan menanggapi berbagai persoalan kehidupan, di dalam maupun di luar rumah,  yang membantu saya sendiri sebagai penulis untuk melihat keterkaitan antara satu cerita dengan cerita lainnya. Penerbitan buku ini sekaligus mengajak saya kembali ke ruang paling nyaman dalam keseharian saya: berimajinasi dan menulis cerita. Ruang yang terpaksa saya tinggalkan beberapa saat untuk mengerjakan banyak hal di luar sana, bersama keluarga dan sahabat-sahabat saya.

Semoga berkenan dengan kehadiran Ayahmu Bulan, Engkau Matahari!

 

Melbourne, 22 July 2012

Ly

 

0
comments

Oct 18

Pacar Untuk Moel

“Carikan aku pacar, dong!”

“Tak mungkin, Moel! Kamu ada-ada saja!”

Moel merengut. Ia bergayut di ventilasi jendela. Urat-uratnya yang menegang terukir jelas di sepanjang lengannya yang kurus. Moel memang selalu begitu bila ngambek, berayun-ayun di ventilasi jendela kamar dan mengancam tidak akan berhenti sebelum permintaannya dikabulkan.

“Jangan begitu, Moel!” Karya mencoba membujuknya.

“Ayolah, please….

Keringat dingin Karya mulai mengucur. Moel jarang mengajukan permintaan. Selama ini ia adalah partner yang baik dan penurut. Tak banyak tuntutan. Tapi karya hapal betul sifatnya, sekali ia mengajukan permintaan, maka ia akan berjuang terus agar permintaannya dikabulkan.

“Moel!!!!” Karya berteriak keras sekali. ( Read more )

5
comments

Jul 28

Isteriku yang Terbang

Kata Ayumi, adalah biasa lakilaki Jepang memukuli kepala isteri dan anaknya. Tapi rasanya sulit mendapatkan bayangan bagaimana adegan itu terjadi pada perempuan itu. Ia memang mungil. Tapi tidakkah segala wawasan dan pengetahuan serta harga diri bisa menuntunnya mengambil keputusan meninggalkan lakilaki brengsek yang mudah menamparnya?

“Kau tak paham…tak mudah meninggalkan Takeshi.”

Ya. Aku memang tak paham. ( Read more )

1
comments

Jul 26

Dua Sahabat, Dua Buku

Kadang saya berpikir, di Panyingkul! model “citizen journalism” yang senantiasa dibicarakan itu sebaiknya diganti menjadi “friendship journalism” saja. Soalnya, satu demi satu orang yang ikut percaya pada ide yang saya tawarkan, dan kemudian tergerak menyumbangkan pikiran, energi dan waktunya untuk menghidup-hidupi Panyingkul! secara perlahan tapi pasti masuk dalam lingkaran persahabatan dan keluarga besar saya dan Farid.

Tahun ini, saya menemani dua sahabat, Winarni KS dan Kamaruddin Azis memulai serial jurnalisme warga. Winarni mencatat Makassar, Kamaruddin alias Daeng Nuntung mencatat Galesong. Tahun ini juga, saya akan menemani Muhammad Ridwan Alimuddin menulis jurnal “The Last Bajau”. Sementara Nilam, Miss On The Way akan menemani Erni Aladjai dan Masdianah memulai program Jurnal dari Kegelapan, mencatat keseharian teman-teman tuna netra di Pertuni (Persatuan Tuna Netra) Makassar. ( Read more )

1
comments

Apr 12

The Kitchen

(published in Words Without Borders, January 2009)

http://www.wordswithoutborders.org/?lab=FaridKitchen

Ruth loved flour. Mother loved the kitchen. And I loved Ruth and Mother. I grew up at the large kitchen table, watching Ruth sift flour and mix various kinds of dough. I learned to walk while holding on to Mother’s skirt as she chopped onions, boiled potatoes, and minced meat.

My mother, a beautiful cheerful woman, always sang in the kitchen, often old songs by Frank Sinatra: Fly me to the moon, Let me play among the stars . . . ( Read more )

1
comments

Mar 05

Ayah di Layar

 Tunggulah ayahmu di situ!

 

Ibu mendudukkanku di depan televisi setelah mandi sore. Ah, seperti janjian saja. Ayah muncul, tampaknya juga baru selesai mandi, ia menyapaku di layar dengan wangi yang menembus kaca televisi. Aku mengendus-endus kaca cembung itu.

 

Apakah ayah pakai Mandom? Sering aku menebak-nebak. Soalnya ayah muncul setelah tayangan seorang lakilaki duduk di depan api unggun, yang mengiklankan minyak rambut dan bergumam “Hmmmm Mandom…”.

 

Di kemudian hari kutahu nama lakilaki itu Charles Bronson.

 

Tapi ah, bagiku ayah lebih tampan. ( Read more )

3
comments

Mar 05

Gurita

Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota.

“Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?”

“Ya, membuat film animasi.”

“Apa? Pasti butuh banyak biaya. Sudah, kau urus saja apotik ini. Ini usaha bagus. Sangat bagus.”

Aku turuti kehendak ibu. Aku ikuti intuisi bisnisnya. Ia menjemputku dengan rencana-rencana baru. Dalam perjalanan ke rumah, kubuang rencana hidupku. Ia tergilas truk gandeng, motor dan angkotan kota. Dari kaca belakang mobil, kulihat ia rata di aspal berdebu. ( Read more )

1
comments

Jan 30

Keluarga Pengkhayal

(bisa juga dibaca di sini)

BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi.

“Bapak narik taksi, ya? Wah….”

Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan.

Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah.

Bapak menutup warung nasi yang telah dirintisnya enam tahun terakhir. Gara-garanya, enam bulan lalu, adik bungsuku meninggal di sebuah RS Paru-paru. ( Read more )

5
comments

Jan 30

Ayahmu Bulan, Engkau Matahari

(bisa juga dibaca di sini)

KETIKA engkau lahir, malam seperti meledak. Engkau, bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangis pertamamu tenggelam oleh suara tangis ketakutan yang lebih kencang di luar sana.

Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung satu-satunya di kampungmu telah digergaji gerombolan pemberontak, membuat dukun beranak dari kampung sebelah tak mungkin mencapai rumahmu. Tapi  seolah bisa kau atasi sendiri titik genting itu. Ada keajaiban yang bekerja dengan sangat baik di malam itu –entah dari mana datangnya– ketika kau mampu mendobrak liang rahim sesaat sebelum ibumu lunglai kehabisan tenaga. ( Read more )

0
comments

Nov 19

Autumn Poetry Reading Class –Unfinished Project

Fawwaz calls this month, “bulan bahasa” as his school is conducting language and literary competitions today, while in our house, there are at least 3 homeworks of poetry reading and literary works on his list.

He did a good kick-off  last week:

jalanjalan naik taksi

mandimandi di sungai

makanmakan di kentucky

–you master bahasa ibu, son!  let’s check your early version in bahasa three years ago:

Di kebun binatang

aku melihat beruang

beruang melihat aku

aku tidak takut

beruang mungkin takut

*Ueno Zoo, Tokyo 2005

hmmmm… you played with the limited  vocabularies :)

This weekend you threw another piece:

AUTUMN

Dear autumn,

brush your teeth and shower

welcoming your sister:

winter!

SNOW

I love snow,

go, slow, blow, glow, go

So, my dear son..good luck with your “lomba bulan bahasa” today. Enjoy the competition. No matter the result would be, you are the winner in my heart.

Love,

Mum.

3
comments