Pacar Untuk Moel
“Carikan aku pacar, dong!”
“Tak mungkin, Moel! Kamu ada-ada saja!”
Moel merengut. Ia bergayut di ventilasi jendela. Urat-uratnya yang menegang terukir jelas di sepanjang lengannya yang kurus. Moel memang selalu begitu bila ngambek, berayun-ayun di ventilasi jendela kamar dan mengancam tidak akan berhenti sebelum permintaannya dikabulkan.
“Jangan begitu, Moel!” Karya mencoba membujuknya.
“Ayolah, please….”
Keringat dingin Karya mulai mengucur. Moel jarang mengajukan permintaan. Selama ini ia adalah partner yang baik dan penurut. Tak banyak tuntutan. Tapi karya hapal betul sifatnya, sekali ia mengajukan permintaan, maka ia akan berjuang terus agar permintaannya dikabulkan.
“Moel!!!!” Karya berteriak keras sekali. Read the rest of this entry »
Isteriku yang Terbang
Kata Ayumi, adalah biasa lakilaki Jepang memukuli kepala isteri dan anaknya. Tapi rasanya sulit mendapatkan bayangan bagaimana adegan itu terjadi pada perempuan itu. Ia memang mungil. Tapi tidakkah segala wawasan dan pengetahuan serta harga diri bisa menuntunnya mengambil keputusan meninggalkan lakilaki brengsek yang mudah menamparnya?
“Kau tak paham…tak mudah meninggalkan Takeshi.”
Ya. Aku memang tak paham. Read the rest of this entry »
Dua Sahabat, Dua Buku
Tahun ini, saya menemani dua sahabat, Winarni KS dan Kamaruddin Azis memulai serial jurnalisme warga. Winarni mencatat Makassar, Kamaruddin alias Daeng Nuntung mencatat Galesong. Tahun ini juga, saya akan menemani Muhammad Ridwan Alimuddin menulis jurnal “The Last Bajau”. Sementara Nilam, Miss On The Way akan menemani Erni Aladjai dan Masdianah memulai program Jurnal dari Kegelapan, mencatat keseharian teman-teman tuna netra di Pertuni (Persatuan Tuna Netra) Makassar. Read the rest of this entry »
The Kitchen
(published in Words Without Borders, January 2009)
http://www.wordswithoutborders.org/?lab=FaridKitchen
Ruth loved flour. Mother loved the kitchen. And I loved Ruth and Mother. I grew up at the large kitchen table, watching Ruth sift flour and mix various kinds of dough. I learned to walk while holding on to Mother’s skirt as she chopped onions, boiled potatoes, and minced meat.
My mother, a beautiful cheerful woman, always sang in the kitchen, often old songs by Frank Sinatra: Fly me to the moon, Let me play among the stars . . . Read the rest of this entry »
Ayah di Layar
Tunggulah ayahmu di situ!
Ibu mendudukkanku di depan televisi setelah mandi sore. Ah, seperti janjian saja. Ayah muncul, tampaknya juga baru selesai mandi, ia menyapaku di layar dengan wangi yang menembus kaca televisi. Aku mengendus-endus kaca cembung itu.
Apakah ayah pakai Mandom? Sering aku menebak-nebak. Soalnya ayah muncul setelah tayangan seorang lakilaki duduk di depan api unggun, yang mengiklankan minyak rambut dan bergumam “Hmmmm Mandom…”.
Di kemudian hari kutahu nama lakilaki itu Charles Bronson.
Tapi ah, bagiku ayah lebih tampan. Read the rest of this entry »
Gurita
Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota.
“Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?”
“Ya, membuat film animasi.”
“Apa? Pasti butuh banyak biaya. Sudah, kau urus saja apotik ini. Ini usaha bagus. Sangat bagus.”
Aku turuti kehendak ibu. Aku ikuti intuisi bisnisnya. Ia menjemputku dengan rencana-rencana baru. Dalam perjalanan ke rumah, kubuang rencana hidupku. Ia tergilas truk gandeng, motor dan angkotan kota. Dari kaca belakang mobil, kulihat ia rata di aspal berdebu. Read the rest of this entry »
Keluarga Pengkhayal
(bisa juga dibaca di sini)
BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi.
“Bapak narik taksi, ya? Wah….”
Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan.
Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah.
Bapak menutup warung nasi yang telah dirintisnya enam tahun terakhir. Gara-garanya, enam bulan lalu, adik bungsuku meninggal di sebuah RS Paru-paru. Read the rest of this entry »
Ayahmu Bulan, Engkau Matahari
(bisa juga dibaca di sini)
KETIKA engkau lahir, malam seperti meledak. Engkau, bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangis pertamamu tenggelam oleh suara tangis ketakutan yang lebih kencang di luar sana.
Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung satu-satunya di kampungmu telah digergaji gerombolan pemberontak, membuat dukun beranak dari kampung sebelah tak mungkin mencapai rumahmu. Tapi seolah bisa kau atasi sendiri titik genting itu. Ada keajaiban yang bekerja dengan sangat baik di malam itu –entah dari mana datangnya– ketika kau mampu mendobrak liang rahim sesaat sebelum ibumu lunglai kehabisan tenaga. Read the rest of this entry »
Autumn Poetry Reading Class –Unfinished Project
Fawwaz calls this month, “bulan bahasa” as his school is conducting language and literary competitions today, while in our house, there are at least 3 homeworks of poetry reading and literary works on his list.
He did a good kick-off last week:
jalanjalan naik taksi
mandimandi di sungai
makanmakan di kentucky
–you master bahasa ibu, son! let’s check your early version in bahasa three years ago:
Di kebun binatang
aku melihat beruang
beruang melihat aku
aku tidak takut
beruang mungkin takut
*Ueno Zoo, Tokyo 2005
hmmmm… you played with the limited vocabularies
This weekend you threw another piece:
AUTUMN
Dear autumn,
brush your teeth and shower
welcoming your sister:
winter!
SNOW
I love snow,
go, slow, blow, glow, go
So, my dear son..good luck with your “lomba bulan bahasa” today. Enjoy the competition. No matter the result would be, you are the winner in my heart.
Love,
Mum.
Cerita-cerita Ly di Oase Kompas.com
Teman-teman yang gemar membaca cerpen,
Sejumlah cerita pendek yang saya tulis, baik yang ada di buku Makkunrai (Maret,2008) dan Maiasaura (Juni,2008) akan muncul satu-satu di rubrik Oase Kompas.com. Beberapa di antaranya telah ditayangkan di sana dan juga akan saya tayangkan di blog ini. Tapi, ya ada tapinya, berhubung cerita pendek yang saya tulis selalu panjang (3000- 6000 kata) redaktur Oase terkadang memuatnya sebagai “cerita bersambung”.
Terima kasih atas apresiasinya untuk cerita-cerita yang saya tulis.
Salam,
~Ly~