(published in Words Without Borders, January 2009)
http://www.wordswithoutborders.org/?lab=FaridKitchen
Ruth loved flour. Mother loved the kitchen. And I loved Ruth and Mother. I grew up at the large kitchen table, watching Ruth sift flour and mix various kinds of dough. I learned to walk while holding on to Mother’s skirt as she chopped onions, boiled potatoes, and minced meat.
My mother, a beautiful cheerful woman, always sang in the kitchen, often old songs by Frank Sinatra: Fly me to the moon, Let me play among the stars . . . read more »
Tunggulah ayahmu di situ!
Ibu mendudukkanku di depan televisi setelah mandi sore. Ah, seperti janjian saja. Ayah muncul, tampaknya juga baru selesai mandi, ia menyapaku di layar dengan wangi yang menembus kaca televisi. Aku mengendus-endus kaca cembung itu.
Apakah ayah pakai Mandom? Sering aku menebak-nebak. Soalnya ayah muncul setelah tayangan seorang lakilaki duduk di depan api unggun, yang mengiklankan minyak rambut dan bergumam “Hmmmm Mandom…”.
Di kemudian hari kutahu nama lakilaki itu Charles Bronson.
Tapi ah, bagiku ayah lebih tampan. read more »
Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota.
“Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?”
“Ya, membuat film animasi.”
“Apa? Pasti butuh banyak biaya. Sudah, kau urus saja apotik ini. Ini usaha bagus. Sangat bagus.”
Aku turuti kehendak ibu. Aku ikuti intuisi bisnisnya. Ia menjemputku dengan rencana-rencana baru. Dalam perjalanan ke rumah, kubuang rencana hidupku. Ia tergilas truk gandeng, motor dan angkotan kota. Dari kaca belakang mobil, kulihat ia rata di aspal berdebu. read more »
(bisa juga dibaca di sini)
BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi.
“Bapak narik taksi, ya? Wah….”
Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan.
Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah.
Bapak menutup warung nasi yang telah dirintisnya enam tahun terakhir. Gara-garanya, enam bulan lalu, adik bungsuku meninggal di sebuah RS Paru-paru. read more »
(bisa juga dibaca di sini)
KETIKA engkau lahir, malam seperti meledak. Engkau, bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangis pertamamu tenggelam oleh suara tangis ketakutan yang lebih kencang di luar sana.
Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung satu-satunya di kampungmu telah digergaji gerombolan pemberontak, membuat dukun beranak dari kampung sebelah tak mungkin mencapai rumahmu. Tapi seolah bisa kau atasi sendiri titik genting itu. Ada keajaiban yang bekerja dengan sangat baik di malam itu –entah dari mana datangnya– ketika kau mampu mendobrak liang rahim sesaat sebelum ibumu lunglai kehabisan tenaga. read more »
Fawwaz calls this month, “bulan bahasa” as his school is conducting language and literary competitions today, while in our house, there are at least 3 homeworks of poetry reading and literary works on his list.
He did a good kick-off last week:
jalanjalan naik taksi
mandimandi di sungai
makanmakan di kentucky
–you master bahasa ibu, son! let’s check your early version in bahasa three years ago:
Di kebun binatang
aku melihat beruang
beruang melihat aku
aku tidak takut
beruang mungkin takut
*Ueno Zoo, Tokyo 2005
hmmmm… you played with the limited vocabularies
This weekend you threw another piece:
AUTUMN
Dear autumn,
brush your teeth and shower
welcoming your sister:
winter!
SNOW
I love snow,
go, slow, blow, glow, go
So, my dear son..good luck with your “lomba bulan bahasa” today. Enjoy the competition. No matter the result would be, you are the winner in my heart.
Love,
Mum.
Teman-teman yang gemar membaca cerpen,
Sejumlah cerita pendek yang saya tulis, baik yang ada di buku Makkunrai (Maret,2008) dan Maiasaura (Juni,2008) akan muncul satu-satu di rubrik Oase Kompas.com. Beberapa di antaranya telah ditayangkan di sana dan juga akan saya tayangkan di blog ini. Tapi, ya ada tapinya, berhubung cerita pendek yang saya tulis selalu panjang (3000- 6000 kata) redaktur Oase terkadang memuatnya sebagai “cerita bersambung”.
Terima kasih atas apresiasinya untuk cerita-cerita yang saya tulis.
Salam,
~Ly~
Dalam suatu kesempatan saya sempat mengikuti presentasi Isaac Mao di Bangkok. Ia mengajak saya berhitung. Yang dihitung adalah social tools. Jadi mulailah kami menghitungnya. Ini jawaban saya:
1. gmail? ya, ada!
2. yahoo mail? ya, ada!
3. facebook? ya, ada!
4. flickr? ya, lanjut….
5. slideshare? hm… belum
6. twitter? wah, belum merasa perlu..
Saya berhenti, Mao terus berhitung. Di angka 20, ia terus berhitung. Ia memiliki lebih dari 20 social tools! Ia lalu membagi alamatnya di slideshare. “Kau bisa membaca lengkap presentasiku di sana…” read more »
Saya ingin mengajak Anda menonton Kit Kittredge: An American Girl yang dirilis Juli lalu. Bila belum sempat menonton, bisa lihat-lihat dulu di situs resminya, www.kitkittredge. com untuk sekadar tahu tentang film ini. Enam tahun lalu, si “Pretty Woman” Julia Roberts bersama saudaranya penasaran mengangkat serial populer An American Girl ke layar lebar. Rasa penasaran terbayar. Film ini disutradarai dengan apik oleh Patricia Rozema. The great depression, orang-orang kelas menengah yang terjun bebas ke jurang kemiskinan di tahun 1930an dan petualang seorang bocah perempuan di rumah pohonnya dengan cita-cita yang tidak tanggung-tanggung: ingin tulisannya dimuat di surat kabar di kota tempat tinggalnya, Cincinnati Register, dibumbui upaya mengungkap misteri kejahatan a la Lima Sekawan karya Enid Blyton read more »
I gave a birth to a million question marks
the ocean sky sent down its rotten stars
midwives on the bedside spinning their heads
sinner, sinner they exchanged roars
to the wall, to the window, to the newborn babe,
the flame of veracity licked its own greenish smoke
the white-pearl milk as pure as my breast
dissolute my redden tears and sweat
no cradle, no lullabies, but hasty beat
no green home, no blue room, but a yellow cold miserable crest
drink my pain, drink me, drink me
you the seed i planted with dare
from the sweetest sin you grew
my apology to name you: an uninvited creature
holy hands will raise you, tomorrow they come
in this box i leave you a gloomy fairy tale:
you were born from a bamboo tree
Tokyo Sept 27/21:51 pm
Ly
*a note for underage mothers who leave their unwanted babies into “baby deposit box” in Japanese hospitals.