“A”

(Catatan: Cerita ini diambil dari kumpulan cerita pendek MAIASAURA. Ia merupakan cerita paling terakhir saya tulis dalam Proyek Tauge Jilid II Maret- Juni 2008. Beberapa teman yang membaca Maiasaura, menempatkannya sebagai cerita favorit. Rencananya versi Bahasa Inggris cerita ini akan saya bacakan di Ubud Writers and Readers Festival, Oktober 2008. Bila Anda punya waktu membacanya, saya ingin mendengar respon, kritikan dan apapun pendapat Anda. Terima kasih. ~ Ly~)

royalti-free picture by SRBichara 3D (www.sxc.hu)SUDAH setahun terakhir A bercerita tentang tangan ciptaannya yang belum juga sempurna. Aku sebenarnya awam soal ini. Tangan dengan kekuatan sekaligus kelembutannya, inikah yang hendak dibuatnya? Kataku, tangan ciptaannya bisa saja meniru multi gerak yang dihasilkan otot dan engsel sungguhan, tapi bagaimana para ilmuwan yang bekerja bersamanya bisa menghasilkan telapak yang empuk dengan kemampuan genggaman kelima jari yang padu memanipulasi benda?

Tangan robotik yang kulihat di televisi, lebih mirip capit kepiting yang kaku menyeramkan. Tapi katanya, bukan itu yang sedang dibuatnya, melainkan tangan sungguhan, dengan jari-jari yang dapat dibengkokkan dengan lentur.

Ia begitu yakin, suatu waktu eksperimennya akan berhasil meski tidak sedikit orang yang mengatakan ia terlalu ambisius. Ia bilang, keraguan orang-orang di sekelilingnya adalah pelecut.

Mengapa ia menceritakan tangan ini kepadaku? Katanya, tak mudah menemukan orang yang begitu setia mendengarkan ceritanya tentang proyek besar ini.

Setiap akhir pekan, ia menyempatkan datang ke toko tempatku bekerja. Setelah membeli kebutuhan sehari-hari, ia tak langsung pulang. Ia akan minta izin pada bibiku, si pemilik toko, untuk ikut duduk di belakang meja kasir dan bercerita di sela-sela denting laci mesin hitung yang terbuka dan tertutup menerima uang pembeli. Bila toko sedang ramai dan aku sibuk mengoperasikan mesin hitung, ia diam saja di sampingku. Ia melanjutkan ceritanya setelah gelombang pembeli reda.

Bibi Saori menyukai kehadirannya. Ada sinar kebanggaan di wajah keriput perempuan itu setiap kali mengatakan kepada pelanggan lain yang bercakap-cakap dengannya bahwa orang yang duduk di samping meja kasir itu adalah seorang doktor muda yang tengah menciptakan robot.

Ia sendiri menyukaiku karena katanya, aku satu-satunya orang yang tidak menunjukkan sikap bosan mendengarkan ceritanya. Aku bilang, aku memang terlatih mendengarkan orang mengoceh. Aku pernah menjalani pekerjaan sebagai pendengar. Sewaktu masih tinggal di Tokyo, aku pernah ikut kursus mendengarkan lalu menjadi relawan telinga.

Di Funabashi, kota di luar Tokyo, tepatnya, aku menjalani pekerjaan itu. Menjadi relawan telinga, mendengarkan cerita orang-orang tua yang kesepian, adalah salah satu titik balik terpenting dalam hidupku.

Di suatu pagi musim gugur yang lebih dingin dari biasanya, aku menyelamatkan seorang kakek bernama Ichiro Kawamura dengan menyodorkan kedua telingaku. Ia menangis putus asa setelah menyadari dirinya telah satu bulan tidak pernah berbicara pada seorang pun, kecuali pada guntingan berita koran yang dikoleksinya. Aku bertugas di hari yang genting, ketika Kakek Kawamura berencana menggantung diri di sudut ruang tidurnya. Aku mengetuk pintu apartemennya, menemaninya di meja makan, menampung muntahan cerita yang dipendamnya selama 30 hari. Kisah yang berasal dari masa-masa yang asing bagiku dan membuatku tercenung betapa beratnya beban Bumi ini menyimpan begitu banyak kenangan, sejarah dan nostalgia orang-orang udzur.

Lakilaki tua itu sedang mempersiapkan tali jemuran yang akan dililitkannya di lehernya, tapi ia menghabiskan begitu banyak waktu mondar mandir memikirkan bagaimana cara memasang ujung tali itu di langit-langit kamar. Saat itulah aku datang membunyikan bel rumahnya.

Wah, kau menyelamatkan hidupku, katanya.

Kakek Kawamura bercerita tentang penemu mi instan yang diakui adalah keluarga jauhnya, tentang anjingnya yang dibantai selama krisis pangan di masa perang berakhir, tentang tentara yang dianggap mati tapi ternyata hanya tersesat sebentar di Pasifik, lalu berhasil mencari jalan pulang, tapi sialnya menemukan istrinya sudah membangun makam bertuliskan namanya dan mendapatkan suami baru.

A tak percaya pada ceritaku. Katanya, apa iya ada pekerjaan seaneh itu di dunia ini?

Katanya lagi, kehidupan macam apa yang pernah kulalui di Tokyo? Apa iya ada orang yang ingin mati hanya karena tidak punya teman berbicara? Apa betul ada orang yang ingin bunuh diri hanya karena kesepian?

Ia mulai penasaran.

***

NAMANYA serumit lalu lintas di Bangkok: Rapatkorn Boorapolchai. Berbelit dan sulit dihapal orang asing. Jadi sebaiknya ia dipanggil A saja. Ia bilang, ini usulan ibunya ketika mereka mulai berpindah dari satu negara ke negara lainnya mengikuti tugas ayahnya sebagai diplomat. Di tempat-tempat yang jauh, namanya memang menjadi semakin asing.

Mengapa A?

Suatu hari, di bawah langit Seattle yang bergemuruh mengirim petir dan hujan, ia bercerita tentang semua yang serba nomor satu dalam hidupnya. Ibunya ternyata tidak sembarang mengusulkan nama ini. A adalah perlambang keunggulan-keunggulan keluarga secara turun temurun. A, karena ia adalah anak pertama. Bertahun-tahun menjadi anak sulung, lalu akhirnya ayah dan ibunya memastikan ia menjadi anak tunggal, dengan pengharapan-pengharapan tertinggi dalam hidupnya.

Aku memujinya. Kataku, kau memang manusia kelas A! Coba lihat dirimu, sudah menjadi nomor satu di dunia yang sekarang ini. Doktor ahli neurobotic yang cemerlang. Kau juga cantik.

Tapi katanya, bila bereinkarnasi nanti, ia membayangkan di dunia berikutnya akan menjadi kucing.

Ia penganut Buddha yang gemar mengingatkanku soal siklus kehidupan yang dipercayainya. Ia selalu memikirkan akan jadi apa kelak di dunia berikutnya.

Hahaha… kami berdua tertawa. Aku tahu maksudnya saat mengatakan “kucing”. Kami memang punya seorang sahabat lakilaki seperti kucing dalam hikayat lampau: binatang dengan tujuh nyawa. Nama manusia kucing itu Apichai. Ia sudah menggunakan tiga nyawanya dalam tiga demonstrasi di tiga negara berbeda. Semuanya berakhir dalam siksaan di tahanan. Tapi toh ia tetap selamat. Masih tersisa empat nyawa lagi yang entah akan digunakannya dalam kesempatan apa.

Menyebut nama Apichai membuatnya selalu terbakar. Merona. Ia mengaku jatuh cinta pada lakilaki itu. Sejak lama.

Apichai memang semanis kucing ya….

Hanya padaku ia membeberkan rasa cintanya dengan Apichai. Kukatakan lakilaki itu kerap datang berbelanja di toko ini. Ia membeli green curry instant, tom yum paste dan lotus tea. Sama seperti dirinya, Apichai juga kadang berlama-lama mengajakku ngobrol. Katanya, bertemu sesama orang-orang Asia selalu membuatnya betah.

Sama seperti dirinya, Apichai juga bercerita tentang tangan. Tapi yang diceritakannya adalah tangan-tangan siluman yang memburu dan ingin membunuhnya. Salah satu cerita yang sering diulangnya adalah tangan misterius yang menabur racun di gelas minuman sejumlah demonstran dalam suatu penerbangan ke Singapura, sekembalinya mereka dari sebuah pertemuan rahasia di perbatasan Thailand – Myanmar. Seorang kawannya kejang-kejang lalu mati. Apichai sendiri tidak meminum racun itu, karena memilih tidur selama perjalanan.

Aku suka meladeni Apichai. Aku suka cerita-ceritanya. Ia berkisah tentang penyekapan dan penyiksaan yang dialaminya di sejumlah tempat.

Hah, kau juga naksir padanya?

Kujawab, dulu mungkin pernah. Tapi sekarang tidak lagi.

Aku mencoba menenangkan A. Jangan khawatir, kataku, tak akan kurebut Apichai. Aku tak berminat menjalin hubungan serius dengan seorang aktivis. Yang terpenting dalam hidupku sekarang adalah menyelesaikan kuliah dan membantu Bibi Saori.

Ia kelihatan lega. Barangkali tengah dibayangkannya, Apichai kelak akan menjadi miliknya seorang.

***

SEJAK ia rutin datang bercerita tentang tangan robotik ciptaannya, aku jadi sering memperhatikan kedua tanganku sendiri serta mengingat tangan-tangan orang lainnya yang telah membelai atau menampar kehidupanku.

Ia bercerita tentang profesor cantik kepala proyek Neurobotic di kampusnya. Kehidupan profesor itu juga sempurna: punya suami setia, memiliki tiga anak, seekor anjing, dan waktu luang untuk bermain tenis dan snowboarding, juga laris menjadi pembicara di mana-mana. Profesor yang terobsesi menyambungkan perintah jalinan syaraf di otak ke sebuah tangan robotik itulah yang menebarkan bius pada A, hingga ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di laboratorium di University of Washington, ikut dalam barisan insinyur yang bercita-cita mewujudkan proyek ambisius itu.

Tanganlah yang membangun peradaban. Kita perlu menciptakan tangan buatan.

Kata-kata A, yang mengutip si profesor cantik itu, membuatku semakin sering mengamati kedua tanganku sendiri.

Otak kita memerintah semua gerakan tubuh. Otak kita yang berbicara pada tangan untuk mengepal, membuka, menggenggam, mengelus, , menampar, meninju…

Berapa banyak tangan yang telah membelai dan menampar kehidupanku?

Selalu saja aku gemetar menghitung jumlahnya.

***

CERITAKAN tentang kisah-kisah yang telah kau tampung selama bekerja sebagai relawan telinga!

Kali ini A datang dengan permintaan yang tidak biasanya. Ia mengaku suntuk dengan tangan robotiknya. Katanya, tak ada perkembangan yang berarti. Pencapaian yang paling maju saat ini adalah kemampuan timnya mencatat gerakan menekuk telunjuk mengikuti perintah sebuah chip yang dilekatkan di otak dan disambungkan dengan kabel halus ke tangan robotik itu.

Aku ini orang awam sains dan teknologi. Aku tak paham maksudnya. Meski demikian, selama ini kubiarkan saja A mengoceh terus menyebut berbagai istilah neurologi. Ia juga menyinggung pertengkaran di antara anggota timnya yang sama-sama frustrasi, dan tentang si profesor cantik kepala laboratorium yang sudah tiga minggu tidak masuk karena dua anaknya terkena cacar air, sementara suaminya telah dua bulan bertugas ke Mesir.

Kacau! Itulah kalau menjadi perempuan yang terlalu serakah dalam hidup, mau memiliki karir cemerlang dan juga ingin menjadi ibu teladan! Impossible!

A mengutuki si profesor cantik itu. Dan katanya, bukan ia sendiri saja yang memuntahkan gerutuan. Sebelas anggota tim lainnya mulai mengeluhkan si profesor itu.

Aku terus mendengarkan keluhannya. Hari ini lagi-lagi Seattle disiram hujan. Toko sepi. Ceritanya menderu-deru, seolah berlomba dengan rinai yang memukul-mukul jendela toko.

Setelah menyelamatkan kakek yang tidak berbicara selama satu bulan itu, apa ada lagi orang lain yang kau selamatkan berkat telingamu? Ceritakanlah…!

A mendesak-desakkan permintaannya seperti angin yang mendorong-dorong daun pintu.

Aku sebenarnya tidak ingin mengingat Tokyo, juga tidak ingin mengingat pekerjaanku sebagai relawan telinga selama dua tahun, tidak ingin mengingat deru kereta yang menggilas kerumitan hidupku, tidak ingin mengingat wajah-wajah tua kesepian yang berceracau seperti membuka gulungan benang sejarah dan kenangan mereka yang rumit, kusut dan berputar-putar. Tidak ada yang ingin kuingat. Sejak kepindahanku ke Seattle aku memutuskan mengunci bibirku dan memulai kehidupan baru bersama Bibi Saori.

Katakanlah kalau pada akhirnya aku terdesak dalam suatu keadaan di mana kuharus menuturkan riwayatku, maka akan kujelaskan seringkas mungkin seperti ini: dua tahun lalu ibuku bunuh diri menghirup gas sulfida hidrogen. Ia terlilit hutang dan meninggalkanku sendirian. Apa yang paling kuingat tentang ibu adalah tangannya yang selalu menampar wajahku bila ia kesal dan marah, tangannya yang dikibaskan mengisyaratkan bahwa aku sebenarnya tidak pernah dikehendakinya, tangannya juga selalu mengepal penuh dendam setiap kali menyebut nama-nama orang yang tak pernah kukenal. Ayahku seorang tentara AS yang bertugas di pangkalan militer di Okinawa, yang kata ibuku tidak perlu kuketahui rupa dan alamatnya. Ibuku mengaku sebagai korban perkosaan. Tak mungkin sudi mengingat ayahku yang kemudian dipecat tanpa hormat dari kesatuannya! Satu-satunya titik terang di riwayat keluargaku, adalah Bibi Saori, adik ibu yang berimigrasi ke Seattle di tahun 1976 dan berhasil menjalankan usaha toko Asia.

Ayolah… selama ini kau hanya mendengarkan. Kini aku ingin mendengarmu bercerita!

A terus mendesak. Permintaannya itu membuatku tercenung.

Bercerita? Sudah cukup lama aku tidak bercerita tentang apa pun pada siapa pun. Aku memilih tidak membagi riwayatku yang sama sekali bukan kelas A, seperti kehidupannya.

Ah, kau tertutup sekali! Tak mau bercerita!

A kecewa. Mungkin kecewa berat. Sebenarnya, permintaan A untuk mendengarkan aku bercerita adalah hentakan keras yang mengejutkan. Seperti gelegar di hari yang cerah.

Atau jangan-jangan karena terlalu sering mendengarkan cerita orang, kau tidak lagi merasa perlu menceritakan diri dan kehidupanmu?

A terus mengejar.

Aku hanya mengucapkan satu kata. Tepatnya, menggumamkan satu kata: barangkali…

***

KAU bisa menyimpan rahasia, bukan?

A mengajakku membuka karung rahasianya di Taste Café, Seattle Asian Art Museum. Selasa yang kelabu, sejak pagi hujan bertalu. Kepada Bibi Saori ia memohon agar aku dapat libur setengah hari dari tugas di toko. Ia mengajakku makan siang, khusus untuk perpisahannya. A akan cuti selama satu tahun ke Bangkok.

Ia mengunyah Smoked Salmon dan Thai Chili Sushi. Di meja kami juga ada semangkuk sayuran segar dengan nama yang aneh: Pacific Rim Grilled Chicken Salad. Ia kerap ke museum ini hanya untuk menikmati menu kafe, bukan untuk melihat lukisan atau pameran.

Kau pendengar yang baik, bukan? Kau bisa menyimpan rahasia?

Lama ia tidak datang ke toko Bibi Saori dan bercerita tentang eksperimen tangan robotiknya. Kira-kira tiga atau empat bulan ia menghilang. Aku pikir ia betul-betul tenggelam di laboratorium membuat tangan-tangan yang kokoh sekaligus lembut.

Kini, saat ia muncul, katanya, ia akan pulang ke Bangkok, menjalani satu tahapan kehidupan kelas A lagi, sesuai namanya: ia akan menikah dengan lakilaki dari keluarga terpandang dan menggelar pesta besar-besaran. Tepatnya, dinikahkan oleh keluarganya. Calon suaminya, teman sepermainannya sejak kecil yang menyelesaikan studi di Universitas Cambridge, Inggris.

Wah, selamat….!

Aku bersiap bangkit mengecup pipinya, tanda ikut berbahagia.

Ia menatapku sejenak, lalu berujar, aku hamil. Ini anak Apichai…

Aku duduk kembali. Lebih tepatnya terhenyak ke kursi yang alasnya terasa menjadi seratus kali lebih keras dari sebelumnya. Salad di meja berhamburan tersenggol lenganku yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

Ia menarik napas. Katanya, tak perlu panik! Semua bisa diatasi.

Aku hanya perlu seseorang yang menyimpan rahasia ini. Apichai pun tak perlu tahu. Kasihan dia… jangan-jangan konsentrasinya memperjuangkan demokrasi di Myanmar ikut terganggu. Simpanlah rahasia ini sendiri. Kau pendengar yang baik, bukan?

Ia menandaskan irisan Salmon berwarna jingga muda di piringnya. Wajahnya tampak datar saja.

***

KUBAYANGKAN suatu waktu nanti, saat tabunganku sudah cukup banyak, aku akan membuka restoran kecil. Mungkin bernama Confusing Asia atau Restless Asia. Tentu tidak akan kutinggalkan Bibi Saori dengan toko Asian Grocery-nya yang meski kecil tapi memiliki cukup banyak pelanggan setia. Bisa jadi, restoran kecil itu aku buka di samping tokonya itu. Bisa juga di seberangnya.

Restoranku ini sudah jelas akan menjadi tempat berkeluh kesah bagi He Yi Han, Nguyen Anh, Paliwal, Madhulika, Phom dan teman-teman Asia lainnya. Kami, orang-orang berkulit kuning, coklat atau gelap, adalah manusia-manusia perantau yang lega ketika menghirup harum rempah-rempah kampung halaman di toko dan restoran Asia. Rasa lega yang kemudian melahirkan sebentuk rasa saling percaya, dan saling membantu membangun sarang yang nyaman, menjadi obat bagi perasaan terasing.

Seandainya A masih di sini, ia mungkin akan menjadi pelanggan utamaku. Sayang aku tidak pernah lagi mendapat kabar tentang A sejak keberangkatannya ke Bangkok. Awalnya ia bilang, hanya cuti setahun. Tapi sekarang sudah setahun lebih, tak ada berita darinya. Profesor cantik yang menjadi kepala laboratoriumnya semakin terkenal di negeri ini. Eksperimen di laboratoriumnya, pada akhirnya berhasil menciptakan satu alat penyambung komunikasi otak manusia ke tangan buatan. Alat ini sudah bisa digunakan oleh orang-orang yang kehilangan lengan atau tangan dalam kecelakaan.

Di salah satu acara bincang-bincang di televisi, profesor cantik itu berkata dengan mantap, “Ada peristiwa tertentu yang membuat orang kehilangan anggota badan, tapi kita lupa bahwa selama otak kita sehat, kita masih bisa berkomunikasi. Inti kehidupan ini adalah otak, saya ingin menciptakan anggota badan buatan yang bisa meneruskan perintah otak…”

Setiap kali teringat A, aku mengelus kedua tanganku. Aku memendam rasa bersalah padanya. Perasaan bersalah yang teramat dalam.

Bagaimana gerangan kabarnya? Apa yang terjadi padanya? Ke mana ia?

Aku memikirkannya sambil terus mengasah kepekaan telingaku menampung begitu banyak rahasia orang-orang yang datang padaku. Kata orang-orang, aku adalah pendengar yang baik. Banyak yang datang berterima kasih padaku karena begitu sabar meladeni setiap keluh kesah yang dimuntahkan, yang diceritakan berputar-putar tanpa ujung pangkal. Begitu banyak orang yang ingin didengarkan, begitu sedikit yang bersedia mendengarkan.

Satu demi satu rahasia yang kudengarkan itu, herannya, memiliki benang merah yang sama: orang-orang ingin sisi kelam mereka didengarkan oleh seorang saja, tak perlu oleh orang banyak. Satu orang yang menampung cerita gelap itu, akan membuat perasaan mereka menjadi lega. Paliwal bercerita tentang Mina, istri yang dipilih orangtuanya di Lahore, yang sama sekali tidak bisa mengimbangi kehidupannya. Karenanya ia terus berhubungan dengan Lynn, yang katanya lebih menggairahkannya. Ia lega bukan kepalang setelah menumpahkan rahasia itu kepadaku. Phom juga merasa perlu datang padaku berkeluh kesah tentang dirinya yang menjadi gadis peliharaan seorang pejabat kantor pajak di negerinya, yang mengunjunginya secara teratur dua bulan sekali. Phom tidak meminta pertimbangan, apakah hubungannya itu sebaiknya diteruskan atau dihentikan. Ia hanya butuh aku mendengarkan, lalu melenggang pergi.

Telingaku menampung semuanya. Aku menjadi si pemegang segala rahasia orang, yang kujalin dengan rahasiaku sendiri.

Hari ini, setahun lebih setelah kepergian A ke Bangkok, Apichai tiba-tiba muncul berbelanja lotus tea dan tom yum paste di toko Bibi Saori. Ia menanyakan kabar A. Aku menggeleng, mengaku tak tahu apa-apa. Wajahnya murung. Kacamatanya berembun. Rambutnya basah. Di luar hujan menari.

Kata Apichai, minggu depan ia berangkat lagi ke perbatasan Thailand – Burma. Ia akan menghabiskan waktu mendampingi para pengungsi di sana.

Ke mana saja selama ini Apichai?

Ia menyumpahi nama seorang jenderal, lalu menyebut topan Nargis di Burma yang menewaskan teman-teman seperjuangannya, ia menyebut nama-nama tempat lainnya yang asing, juga menunjukkan dua tangannya yang lebam. Katanya, ia kena hajar popor senjata ketika mencoba mengatur pengiriman dokter asing ke Delta Irrawady melalui Tathon, tak jauh dari perbatasan Thailand Barat.

Aku terkenang A. Bayang-bayangnya sangat jelas.

Apichai dan A sama-sama selalu menyebutkan banyak nama istilah dan tempat yang sulit kubayangkan atau kupahami. Tapi aku tak pernah keberatan, karena aku menyayangi keduanya.

Ketika membungkus belanjaan lakilaki itu di meja kasir, pandanganku tertumbuk pada kedua tangannya. Aku teringat A. Juga teringat tangan robotik yang dulu sering diceritakan perempuan yang selalu bernasib baik itu.

Bisakah aku mengajakmu untuk terakhir kalinya? Maukah kau menemaniku malam ini?

Apichai tak beranjak dari meja kasir. Ia mengulangi pertanyaannya, menanti jawabanku. Sementara mataku terus terpaku pada kedua tangannya yang legam itu. Tangan itulah yang berkali-kali membelai dan mendekapku, jauh sebelum A mengatakan rahasianya tentang janin hasil percintaannya dengan lakilaki itu. Rasa-rasanya ingin kuraih tangan itu, membawanya dekat ke telingaku, kuajak mendengar semua rahasia yang kutampung … (*)

Salzburg – Tokyo, Juni 2008.

2 thoughts on ““A”

  1. the most great story i’ve ever heard!!!!!
    u could merged the past events that u have ever heard with the present events…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *