Mar 05

Ayah di Layar

 Tunggulah ayahmu di situ!

 

Ibu mendudukkanku di depan televisi setelah mandi sore. Ah, seperti janjian saja. Ayah muncul, tampaknya juga baru selesai mandi, ia menyapaku di layar dengan wangi yang menembus kaca televisi. Aku mengendus-endus kaca cembung itu.

 

Apakah ayah pakai Mandom? Sering aku menebak-nebak. Soalnya ayah muncul setelah tayangan seorang lakilaki duduk di depan api unggun, yang mengiklankan minyak rambut dan bergumam “Hmmmm Mandom…”.

 

Di kemudian hari kutahu nama lakilaki itu Charles Bronson.

 

Tapi ah, bagiku ayah lebih tampan.

 

Saat televisi dimatikan, kupeluk kotak gendut itu. Bagian belakangnya hitam berdebu. Terasa panas. Setelah cukup besar barulah kupaham, barang-barang elektronik menyimpan panas di bagian tertentu saat bekerja memancar-mancarkan sinar atau mengeluarkan energi. Dulu kupikir, ayah menyalakan semacam penghangat ruangan di dalam kotak kaca tempat tinggalnya. Sempat juga kutimbang-timbang, rasa panas itu adalah akumulasi kehangatan yang ditabung ayah untukku dan hendak dijalarkannya sedikit demi sedikit suatu saat kelak.

 

Anak bodoh! Jangan peluk-peluk bagian belakang televisi itu. Banyak debu! Ayo cuci kaki, sikat gigi dan tidur!

 

Keesokan sorenya Ibu mendudukkanku lagi di depan televisi. Tunggulah ayahmu di situ!

 

Pernah suatu saat dalam keadaan sangat sedih, kucakar layar kaca itu. Nilai matematika di raporku merah. Ibu mengamuk. Aku ingin mengadu. Kunyalakan televisi. Kuceritakan pada ayah bahwa aku tak suka pelajaran berhitung. Angka tak bisa diajak merangkai-rangkai cerita, Ayah! Aku lebih suka kelak seperti ayah, membaca berita dan mengobrol dengan orang di layar. Tapi ayah muncul membaca berita swasembada pangan dan program keluarga berencana. Ia tak peduli pada rintihanku.

 

Kumatikan ayah!

 

Ruang tengah senyap.

 

Kunyalakan kembali ayah!

 

Dia bicara tentang hadiah mesin jahit bagi peserta program KB teladan. Ayah ada di tengah sawah melaporkan panen dan keberhasilan KB. Huh!

 

Kumatikan lagi!

 

Menyebalkan! Malam ini aku berangkat tidur tanpa memeluk bagian belakang televisi, tempat ayah tinggal. Juga tak berpiyama, tak gosok gigi, tak cuci kaki.

 

Ibu keluar sejak sore. Dengan siapa? Entah. Ke mana? Entah. Berapa lama? Entah.

 

 

***

 

Rumah ayah bolong. Mungkin digigit tikus. Kulaporkan pada Pak Jun, sang penjaga bioskop. Lakilaki kurus berpipi kempot itu membawa selotip dan gunting berkilat.

 

“Beres!”

 

Hm, Pak Jun memang mahluk cerdas. Aku mundur beberapa langkah, menatap seksama. Gigitan tikus tertutup sempurna. Bopeng layar hilang dari pandangan.

 

Lakban ini banyak gunanya, Non…!”

 

Aku sayang pada Pak Jun. Pernah kutanya, “Mau jadi ayahku?” Ia cengengesan. Katanya, “Hehehe…ibumu pernah menolak cintaku!”

 

Ia menawarkan jalan keluar. “Ayahmu seperti itu!” ditunjuknya poster film yang berkilau.

 

Ada gambar lakilaki menggendong anak kecil dan perempuan yang melotot galak.

 

“Itu Deddy Mizwar. Bintang terkenal. Film Arie Hanggara ini laku keras…!” Pak Jun menunjuk-nunjuk poster film di depan kami. Bioskop milik kakek memang ramai minggu-minggu belakangan ini. Aku menemani Pak Jun duduk di loket karcis. Kulihat ibu-ibu datang menonton, membawa saputangan yang tampak lecek setelah bioskop bubar. Ada yang memaki-maki, ada yang masih tersedu-sedu di pelataran parkir.  

 

“Kau nontonlah… Film bagus tuh!”

 

Pak Jun mendorongku masuk ke ruang bioskop gelap. Aku bergidik. Ih, betapa kejamnya perempuan yang menjadi ibu tiri di dalam film itu.

 

Di libur Lebaran, Pak Jun mendorongku lagi masuk menempati kursi kosong di deretan paling belakang. “Nontonlah. Siapa tahu ada ayah lebih bagus di layar…” Ia mengedipkan mata.

 

Yang mana? Yang mana ayahku?

 

Adegan konyol orang-orang tergelincir, mengangkat setrika yang disangka telepon dan kesialan buruk lainnya sepanjang film membuat penonton tertawa. Aku tertawa-tawa juga. Tapi yang mana ayahku? Para pelawak yang kelihatan bodoh itu? Ih ogah…. Aku tak mau!

 

Kutemui Pak Jun sebelum film usai. “Yang mana ayahku?” Lakilaki itu cengengesan.

 

***

 

KEPADA semua pacar dan calon pacarku, kuceritakan soal ini. Tentang ayah yang sejak kecil kucari di televisi milik ibu dan juga di layar bioskop milik kakek, sebagaimana yang disarankan Pak Jun, sahabat tuaku. Bagi lakilaki yang bosan mendengar ceritaku, mereka tentu mundur, urung jadi pacarku. Bagi yang bertahan, kuberi peringatan selanjutnya, “Hati-hati, aku obsesif. Sangat obsesif. Kau bisa repot.”

 

Satu dua orang yang bilang cinta mati padaku menjawab, “Tak apa, Sayang. Aku paham. Betapa sakitnya masa kecil itu. Aku paham kau dihantui pencarian terus menerus…”

 

Seberapa paham para lakilaki itu? Apa ada yang betul-betul paham?

 

Di televisi aku pastikan bahwa ayah adalah si pembaca berita, yang berdasi, berjas, dengan rambut disisir licin. Tapi suatu hari ibu bilang, “Ah, bukan….bukan yang itu ayahmu.”

 

Lantas mengapa dulu ibu mendudukkanku di depan kotak kaca itu setiap sore dan menyuruhku menunggu ayah di sana?

 

“Ohhhh itu biar kau berhenti rewel!”

 

Desas desus yang menerobos dinding rumah kami bilang ibu berganti-ganti pacar. Ibu bilang, itu omongan orang kurang kerjaan. Jangan didengarkan.

 

Aku kecewa. Jadi ayah bukan lakilaki di kotak kaca itu?

 

“Hehehe…. Nantilah kau tahu..“ ibu mengedip nakal. Seperti remaja yang ogah memberi tahu siapa kekasihnya

 

Setelah agak besar, aku mencari ayah di bioskop. Aku berkhayal ayahku adalah Jacky Chen atau Rambo atau Rocky Balboa atau Dono atau Roy Marten. Hari-hari mencari ayah di layar sebenarnya cukup menyenangkan meski Kakek selalu mendamprat. “Kau masih terlalu kecil ikut nonton! Tak baik anak perempuan nongkrong di bioskop. Berhenti kau bergaul dengan Pak Jun, tukang sobek karcis dan tukang parkir di sana!”

 

Kepada satu dua lakilaki yang mengaku cinta mati padaku itu kupasang lagi papan peringatan, “Aku ini rumit. Menderita kompleks. Kumencari ayah, merindunya, membencinya. Kumenunggu ibu, merindunya, membencinya. Kumengutuk kakek, tua bangka kaya raya tapi keji seperti Firaun.”

 

Hingga tinggallah satu lakilaki yang berkata ia mau mati saja bila kutolak cintanya.

 

“Sungguh, aku paham, sangat paham…. Karena aku pun berjalan jauh mencari ayahku, di dalam lagu, di layar, di film terbaru, di komik dan juga di majalah… ”

 

***

Aku menemani perempuan itu melamun di restoran kecil yang hampir bangkrut.

 

Ia terkadang melihat dadaku seperti sebuah lemari. Ia membongkar isinya, mencari-cari sesuatu. Kubiarkan. Aku telah berjanji pada diri sendiri tak akan melarangnya sejak ia bersedia menjadi kekasihku. Ya, ia bersedia kugandeng, meski dengan banyak tanda larang dan tanda peringatan yang dibawanya dalam kisah cinta kami. “Aku rumit, aku rumit… tak mudah dipahami!”

 

Tak apa. Aku yakin bisa menemaninya, meski ikut tersekap dalam benang kusut kehidupannya. Aku terlanjur bertekuk pada matanya yang berkilauan seperti hujan malam ditimpa cahaya lampu jalan. Aku gemetar takluk pada suara geliginya yang gemeretak saat dingin, saat gugup, saat marah.

 

Aku mencintainya. Juga mencoba mencintai perjalanannya mengaduk-aduk apa saja demi mencari lakilaki lain dalam hidupnya, ayah yang dibenci dan dirindunya, ayah yang tumbuh seperti pohon lebat, beranting menjulur-julur, berbuah rasa penasaran semata. Seperti apa rasanya berteduh di bawah ayah? Serindang apa ayah?  Ia memilin-milin ujung taplak sambil mengulang-ulang pertanyaan itu. Ia menyebut ibunya adalah tanaman kaktus yang tahan didera kemarau panjang. Tapi yang dibayangkannya tentang ayah adalah sebuah  pohon besar, lebat, yang rimbun di dalam mimpi dan kesadarannya. “Saking lebatnya, ia terkadang tenggelam dalam teduh bayang-bayangnya sendiri…”

 

Pernah aku mengajaknya duduk di beranda, menyaksikan petugas pos ronda memukul tiang listrik setiap kali waktu beralih. Lalu kuceritakan tentang rasa kehilangan yang bisa terjadi pada lakilaki dan perempuan. Juga tentang kesalahan yang bisa dilakukan siapa saja dan tak ada kaitannya dengan jenis kelamin. Ia tampak menyusut di dalam gaunnya. Ia menjadi anak kecil yang meringkuk, takut pada malam, pada gelap dan bayang-bayang hitam. Aku menjelma ustas, pendeta, biksu, cerdik cendikia, psikiater, sekaligus pacar yang baik.  

 

“Lakilaki yang pasti meninggalkan! Lakilaki yang pasti membuat persoalan!”  giginya mulai gemeretak menegaskan sikap keras kepalanya. Aku memeluknya, ingin menariknya kembali pada kenyataan bahwa kami sedang di beranda, berdua, dan ia bukan sedang berada dalam pusaran ingatan yang pecah, meledak seperti kembang api cacat, yang sama sekali tak indah, tak dapat dinikmati.

 

Kebencian seperti apa yang disuapkan ibunya sedari kecil? Aku juga punya ibu. Selalu kukatakan padanya, ibuku sama dengan ibunya. Dan aku pun sama dengan dirinya. Ayah juga pergi dari kami, meninggalkan lubang besar di ruang tamu, yang menjadi luka raksasa yang sungguh perih, juga di lain waktu menjadi semacam tempat pembuangan sampah di mana sumpah serapah seluruh keluarga besar kami ditimbun. Tapi ibuku senantiasa berhasil menyulap lubang itu menjadi panggung sandiwara terbaik, ia memasang karpet, memberi lampu hias dan memasang senyum seterang matahari. Dari atas panggung itu ibu berkata, “Kita semua baik-baik saja. Jangan membenci. Sama sekali jangan membenci.”

 

Katanya, “Kau dibesarkan dengan kepura-puraan. Ibumu keliru!”

 

Aku seharusnya marah mendengar ia melecehkan ibu. Tapi rasa cintaku mengalahkan amarah, yang terlontar justru janji, “Sudahlah. Mari kutemani mencari ayahmu! Aku juga mencari ayahku.”

 

Jadi begitulah, ia melamun berlama-lama. Setelah melamun ia membuka dadaku yang selalu dilihatnya seperti lemari, lalu membongkar seluruh isinya. Ia menggerutu mengingat banyak hal yang sulit kurunut keterkaitannya, seperti percabangan labirin yang paling misterius.

 

“Kau mencintaiku?”

 

“Tentu.”

 

“Sampai kapan?”

 

“Selamanya”

 

Ia meludah. “Bohong!”

 

Aku menemani perempuan itu melamun di sebuah restoran yang hampir bangkrut. Kali ini untuk terakhir kalinya. Percintaan kami juga bangkrut.

 

Ia benar, aku tak akan pernah paham. Tak akan pernah tahan. Ia rumit, terlalu rumit, dengan lilitan kenangan tentang ibu yang kaktus dan ayah si pohon rindang yang sebenarnya tak pernah ada, juga dengan cerita-cerita lama dari televisi dan layar bioskop yang dijadikan khayalan, kompas pengembaraan, dan ilusi hingga dewasa, juga dengan anak kecil yang mendesak-desak di dalam kepalanya.

 

“Kau perempuan atau lakilaki sih?”

 

Aku mencatat pernyataannya yang perih itu. Ia membaca kelembutanku sebagai sikap perempuan yang salah tempat. Ia melihatku seperti awan nimbus yang sudah pasti mencurahkan hujan, seperti lakilaki yang pasti akan menelikung suatu hari nanti.

 

“Kau pasti akan menjadi jahat suatu hari nanti!”

 

Aku mencatat tuduhannya yang meruntuhkan semua kebajikan yang dibekalkan ibu padaku sedari kecil, tentang manusia yang pada dasarnya berbudi, meski terkadang khilaf.   

 

Aku pamit. Perempuan itu menangis. Aku gagal membantunya menerbitkan senyum dalam perjalanannya, seperti ibuku yang memancarkan ketulusan matahari pada senyumnya di atas panggung sandiwara di rumah kami sepeninggal ayah.

 

***

 

Televisi baru di rumah kami setipis papan tulis. Digantung seperti lukisan. Pantulan gambarnya tidak cembung menggelembung seperti televisi di masa kecilku.

 

Kini, ibu sudah sangat  tua. Lebih banyak di rumah. Ia kini adalah tanaman kaktus gemuk berkulit keriput, tanpa duri. Ia senang sekali dengan televisi baru itu. Di ruang tengah ibu duduk menatap dinding. Seperti pengunjung museum mengagumi lukisan. Aku juga menua, duduk di sampingnya, menanyakan apakah tak keberatan bila aku yang memegang remote control?

 

Satu demi satu lakilaki yang pernah singgah dalam kehidupanku muncul di layar, di sela iklan, di sela pidato presiden, menjadi pembaca berita, menjadi ustas, menjadi koruptor yang diborgol, menjadi orang miskin antre minyak tanah, menjadi bintang sinetron.

 

Mereka lakilaki yang pernah singgah dan menyerah.

 

Ibu tertidur di sampingku. Dengkurnya sangat halus, menderum. Ia selalu begitu, tertidur di depan televisi saat aku mengganti-ganti saluran. Aku menjaganya. (*)

 

Tokyo, 21 Desember 2008/13:10 pm.

 

 

 

3
comments

3 comments!!!

  1. Anik says:

    Karangannya bagus banget. Sedih, menyentuh.

    Apa kabar non? kata Leni mau ngumpet dulu?

    Yo wis, tak kasih ruang untuk ngumpet. Kalo udah puas, telpon ya?

  2. Weni Suryandari says:

    Lily….aku membaca cerpen yang ini di koran Jurnas. Bagus sekali…alur bahasa yang bukan keseharian. Ada jarak antara penulis dan ide ceritanya.
    Aku ingin bisa menulis sepertimu…

  3. lilyyulianti says:

    halo mbak anik dan weni…
    makasih telah mampir.
    @ mbak anik: sure! harus ketemuan dan ngobrol.
    tapi aku lagi banyak ke daerah…
    mungkin setelah juli, ya??

    @weni: wah.,..berarti sekali pujian ini, bikin semangat. yuk kapan2 kita ngebahas cerpen.

    luv,
    ly

Reply