Jan 30

Ayahmu Bulan, Engkau Matahari

(bisa juga dibaca di sini)

KETIKA engkau lahir, malam seperti meledak. Engkau, bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangis pertamamu tenggelam oleh suara tangis ketakutan yang lebih kencang di luar sana.

Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung satu-satunya di kampungmu telah digergaji gerombolan pemberontak, membuat dukun beranak dari kampung sebelah tak mungkin mencapai rumahmu. Tapi  seolah bisa kau atasi sendiri titik genting itu. Ada keajaiban yang bekerja dengan sangat baik di malam itu –entah dari mana datangnya– ketika kau mampu mendobrak liang rahim sesaat sebelum ibumu lunglai kehabisan tenaga.

Nenek di ujung ranjang menyaksikan kelahiranmu dengan mulut ternganga sempurna. Engkau, cucunya, mendesak minta dilahirkan, kepalamu muncul dengan rambut lebat hitam berbalur anyir darah dan air ketuban, disusul sepasang kaki yang menendang liar ke udara, serta sepasang tangan yang bergerak pelan dengan sepuluh jari membuat kepalan mungil.

Sepasang tangan renta nenek menjadi ayunan pertama yang membuaimu. Dada ibu menerimamu hangat, mengajak jantung kecilmu ikut berdegup bersama irama jantung perempuan muda itu. Kau membuka keran air mata ibumu, meminta air susu pertama.

Lengkap sudah, tiga generasi di rumah ini: nenek, ibu dan seorang cucu perempuan.

Tapi malam benar-benar telah meledak. Suara tembakan mendesing di bubungan. Angin malam letih bekerja mendorong peluru-peluru yang disasarkan ke tubuh siapa saja, di jalan-jalan, di parit-parit. Udara menjadi berat, darah muncrat di ujung clurit, di mana-mana ada perangkap dan jerat, yang menganga menanti mangsa.

“Sebentar kupanggil orang-orang untuk menggangkatmu…” Nenek tergopoh mengatur upaya pengungsian, di tengah riuh suara kentongan tanda bahaya, desing tembakan dan suara-suara yang membuat seluruh kampung dipeluk ketakutan. Sebuah bunker di halaman belakang menjadi kamar tidur pertamamu, dipangkuan ibumu yang merintih, di dekapan nenekmu yang terus terjaga mendoakanmu hingga pagi. Kau melewati pagi pertamamu di dunia, dalam keadaan gelap gulita di bawah tanah.

***
AYAHMU berjanji akan memberimu nama. Tapi ia lakilaki yang tak pernah beruntung mendapat kesempatan pulang setelah kerusuhan itu. “Panggil saja dia untuk sementara  Jannah. Ia surga yang sebenar-benarnya,” Nenek mengumumkan sebuah nama sementara kepada orang-orang kampung yang datang satu per satu mendoakan kelahiranmu, dua hari setelah gerombolan pemberontak pergi.

Nama sementara itu sebenarnya adalah doa nenek, harapan yang ditanamnya pada matahari dan bulan yang terbit bergantian: bahwa ayahmu akan pulang satu dua hari setelah pertikaian reda. Di kerusuhan-kerusuhan sebelumnya, semua lakilaki pemberani di kampungmu bergerilya di hutan-hutan memasang perangkap atau menyergap musuh. Mereka pulang setelah beberapa hari, demi memastikan bahwa kampung dan hutan di sekelilingnya benar-benar telah bersih dari musuh.

Di rumah panggung nenek yang besar dan kokoh, engkau dipestakan. Seusai salat subuh, orang-orang kampung menyembelih seekor kambing. Lengkingan binatang itu  menyambut kematiannya, menjadi penanda kesyukuran bagi kehidupan yang kelak kau jalani.  Sebuah pesta sederhana yang diliputi rasa was-was, dengan doa-doa yang mendentam, memantul-mantul di tiang-tiang kayu jati berkilat, kemudian ditiupkan ke ubun-ubunmu. Doa-doa yang sebenarnya bisa berubah menjadi semacam tahlilan mengenang ayahmu, yang tak juga kunjung datang memberimu nama.

Akhirnya nama sementara itu kau sandang selamanya. Jannah. Setelah berbulan-bulan berlalu, kekacauan gerombolan pemberontak yang hanya sekejap itu ternyata membawa pergi ayahmu untuk selama-lamanya. Ayahmu, lakilaki yang sederhana itu, akhirnya diabadikan dengan sebuah batu nisan di halaman belakang rumah. Nisan yang di depannya terentang gundukan tanah yang tidak pernah digali untuk menguburkan jasadnya. Satu nisan yang menyimpan cerita kematian yang berbeda-beda.

Pertama, lakilaki harapan seisi rumah panggung itu ditangkap gerombolan, dibawa ke markas mereka dan dibiarkan mati berkalang tanah. Ah, betapa cerobohnya ia kali ini.

Kedua, ayahmu berhasil lolos, tapi di tengah perjalanan pulang, ia mati ditembak tentara republik, yang menyangka ia adalah anggota pemberontak yang tertinggal dari rombongan. Aduh, betapa sialnya menemui ajal di saat ia justru punya firasafat bahwa engkau telah lahir.

Ketiga, ia menemui ajalnya di sungai deras, karena bersikeras menemuimu, mesti jembatan satu-satunya menuju kampungmu berhasil dirobohkan gerombolan. Ia melintasi arus, yang justru menyeretnya makin menjauhi jalan pulang menuju rumahmu. Sungguh, betapa tidak sabarnya ia menyaksikan kehadiranmu.

Apapun versi kematian yang dianggap paling benar, semua cerita berbeda itu bermuara pada satu keyakinan: ayah yang begitu mencintaimu, menanggalkan kewaspadaan dan sikap siaganya yang seharusnya tetap dijaga di hari-hari perlawanan yang melelahkan. Ia menjadi begitu cemas memikirkan kelahiranmu, juga memikirkan ibumu yang tengah mengarungi samudra kesakitan yang tak mungkin pernah dibayangkan para lelaki.

Di dalam gerilya, gemerisik dedaunan hutan dan langkah-langkah gerombolan tak mungkin lagi bisa dibedakan oleh jiwa yang lalai. Hunusan senjata lawan bisa tiba-tiba muncul di ujung tengkuk.

Berbulan-bulan setelah itu kampungmu memang aman. Tentara-tentara republik memburu satu demi satu anggota gerombolan. Tapi di rumahmu, ibumu menjadi lebih lebih banyak diam setelah melahirkanmu. Orang-orang kampung malah percaya, ibumu menjadi bisu setelah kehadiranmu. Ia lebih banyak duduk di beranda, menyusuimu sambil menangis. Adakah kesedihan lebih dalam selain menyadari bahwa ia meratapi suaminya di saat ia melahirkanmu?

Hanya nenek yang tegar mengajarimu tersenyum. Ia mengajakmu memandang bulan dan matahari, kemudian bercerita bahwa seperti dua bola langit itu, kau dan ayahmu tidak pernah bertemu. “Tapi kalian saling mencari, saling merindukan, saling menjaga…”

Dari tahun ke tahun, perempuan tua itu merawatmu dengan cara terbaik yang dipahaminya. Diguntingnya bulumatamu di usia tiga bulan, agar kelak tumbuh lentik. Dimandikannya tubuhmu dengan berbagai rempah dan dedaunan, agar bau tubuhmu hingga dewasa kelak adalah ruah aroma perempuan yang wangi dan terawat.

Belum lagi kau menginjakkan kakimu ke halaman sekolah, kau telah melewati akhir pekan dengan melafal abjad dan angka. Di hari Jumat nenek membawamu ke ibukota kabupaten, meminta tolong kepada seorang biarawati Belanda yang bertugas di gereja Katolik di kota kecil itu untuk mengajarimu baca tulis, melukis, dan bahasa Inggris.

Nenekmu perempuan tangguh dengan selera humor yang baik. “Yang penting, jangan kau ajak cucuku pindah agama..” begitu ia selalu mencandai suster Juliana yang bermata hijau kebiruan itu.

Nenekmu, pengusaha rokok tembakau yang terkenal. Di pekan ketiga setiap bulan ia berangkat ke ibukota provinsi, mengawal kardus-kardus rokok tembakaunya. Sepulangnya dari kota, ia membelikanmu buku-buku terbaik di satu-satunya toko buku yang ada di sana. Dimintanya suster Juliana memperlihatkan kartu-kartu pos berbagai kota dunia kepadamu. Nenekmu ingin, agar imajinasimu terbang menembus awan, menjelajahi samudra dan hinggap di kota-kota terbaik di lima benua, justru di saat kedua kaki kecilmu menjejak tanah kampung yang basah, yang sepanjang jalannya diteduhi pohon asam, dipagari kembang bougenville dan asoka.

***
Ayahmu bulan, engkau matahari. Dua bola langit yang tidak pernah bertemu, tapi saling mencari, saling merindu, saling menjaga…

Pada akhirnya kau tahu, di belahan bumi utara yang kau datangi puluhan tahun kemudian, langit musim dingin memberikan pemandangan yang membuat pernyataan nenekmu terbantahkan: bulan bisa bertemu matahari!

Doa nenekmu yang berhati baja, serta doa ibumu yang bisu, menjelma sayap terbaik bagi dirimu, yang membuatmu terbang dan hinggap ke kota-kota terbaik di lima benua. Kau terbang, hinggap dan terbang lagi,  seperti hendak memastikan bahwa gambar-gambar kartu pos  suster Juliana bukan isapan jempol belaka. Apa yang kemudian kau pahami, bahwa korban perang, orang lapar yang meregang nyawa, yang berserakan di setiap benua, tidak pernah menghiasi kartu-kartu pos itu.

Di kota-kota yang menyajikan musim dingin di penghujung tahun, selalu saja kau dapati
bulan ada di belakangmu, ketika matahari rekah di timur
, meski hangatnya tidak sampai ke pipi dan dahimu. Di gedung tinggi tempatmu bekerja di Jenewa atau di London, bulan memantul-mantul di jendela kaca sebelah timur, sehingga seolah-olah tampak begitu dekat dengan matahari yang menggigil di musim dingin.

Dalam penugasanmu ke tenda-tenda korban gempa di Kashmir, kau menunjuk-nunjuk riang ke arah bulan dan menjulukinya sebagai benda langit yang lupa pulang, di kala langit telah terang. Kau tersenyum senang, ketika bulan memang menjadi “keras kepala” tidak juga mau tenggelam, ketika matahari bersiap menjalankan tugas memancarkan jelujur sinarnya. Kau temui kegirangan yang luar biasa. Di waktu-waktu tertentu di musim dingin.
perasaanmu membuncah, membayangkan bahwa ayahmu, bulan yang lembut keperakan itu, menemuimu, Jannah, sang matahari yang tegar.

Tentu, kau tidak pernah menyalahkan nenekmu. Kau memaklumi saja bahwa perempuan tua itu membayangkan dua bola langit itu bekerja dengan patuh dan memang ditakdirkan tak pernah bertemu. Yang tak pernah berhenti kau syukuri, bahwa ia setia mendongeng tentang ayahmu, lakilaki yang menjelma bulan yang menjaga malam-malammu.

Di terjal pegunungan Kashmir, kau masuki satu demi satu tenda pengungsi. Cuaca dingin terkalahkan oleh kehangatan kenang-kenangan tentang rumah panggung dengan tiang-tiangnya yang kokoh berkilat. Engkau selalu mengenang tiga nisan di halaman belakang, bertulis nama ayah, ibu dan nenekmu. Mereka adalah tempat terbaik bagimu untuk memaknai arti pulang.

Di Kashmir, engkau mengingat cerita nenek tentang gerombolan pemberontak yang beberapa kali mencoba membumihanguskan kampung, di seputar hari kelahiranmu. Desingan senapan di garis perbatasan India-Pakistan, konflik-konflik, besar dan kecil, perampokan di bus, darah di garis perbatasan, pelecehan hingga kerusuhan yang meluas, menjadi pemandangan yang selalu membuat hatimu seperti disiram cuka.

Engkau bayangkan peluru-peluru itu bergerak seolah menjadi penunjuk arah bagi malaikat maut untuk menuju tempat tugas selanjutnya. Engkau bayangkan satu demi satu lakilaki yang terkapar adalah para ayah yang kelak terbang ke langit, menjelma sebagai bulan dalam dongeng-dongeng keluarga yang ditinggalkan.

Di saat benar-benar letih, engkau berpikir bahwa dirimu ditakdirkan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kemalangan ratusan ribu pengungsi. Hanya ransel anti-peluru dan simbol Palang Merah Internasional yang melintang di punggungmu yang menjadi tameng terbaikmu.

“Aku lahir saat sebuah pemberontakan meletus di kampung… Aku kehilangan ayahku di hari itu…”

Begitulah engkau selalu mengulang-ulang penjelasan kepada banyak pengungsi dari Afrika, Eropa Timur hingga ke Asia Selatan, yang menanyakan, apa gerangan yang membuat seorang perempuan bertubuh mungil dengan mata berbulu lentik sepertimu selalu hadir di antara mereka.

***

“Jannah, apakah kau masih ingin aku melanjutkan cerita ini?”  aku gamang melempar pertanyaan ini.

Aku, yang menceritakan perjalanan hidupmu ini, adalah gadis kecil yang di waktu-waktu tertentu mendesakkan diri keluar dari tubuhmu,

Engkau menggeleng. Pantulan wajahmu di cermin, sudah pasti meniru gerakan kepalamu itu.

“Aku harus bergegas ke bandara. Tak ada pesta ulangtahun. Aku harus terbang ke Darfur…”

Aku mengikutimu, masuk kembali dalam tubuhmu, terserap dalam sel-sel otak di dalam kepalamu, melebur dalam kesadaranmu. Aku gadis kecil yang meringkuk diam dibungkus tubuhmu yang makin matang, yang menumpahkan ruah aroma perempuan yang wangi dan terawat, berkah dari air rempah yang selalu dimandikan nenekmu sejak kecil.

Aku gadis kecil yang kadang-kadang mendesak-desak agar engkau berhenti menangis mengenang ayahmu, memberi waktu untuk diri sendiri, memikirkan hal-hal yang menyenangkan, dan menggelar pesta ulangtahunmu.

“Apakah yang lebih sedih daripada merayakan kelahiran yang juga adalah hari kematian ayah?” kau menghardikku, mendorongku kembali masuk ke dalam tubuhmu.

Di dalam tubuhmu, aku adalah sahabat terbaik yang memahami mengapa engkau selalu menangis melihat pemandangan langit musim dingin yang mempertemukan bulan dan matahari pagi. Di dalam tubuhmu, aku mencatat setiap tangis yang sengaja tak pernah kau usap, di setiap perayaan hari kelahiranmu yang sekaligus adalah hari kematian ayahmu.

Hanya kesepian yang setia mengungkungmu. Tapi aku terkadang protes. Aku ingin engkau menikmati kehidupan. Aku ingin engkau sekali-sekali keluar dari peta konflik. Berhenti mengurus penderitaan orang lain. Mengapa tidak berlibur ke pantai atau gunung, berbelanja di kota-kota dunia, bermanja di spa, manicure, pedicure? Tapi engkau selalu menghardikku. Engkau mematikan keinginan-keinginanku, yang sebenarnya sangat wajar dan dimiliki banyak perempuan manapun di dunia ini.

Namun kau membentakku. Kau katakan, tak pantas memikirkan kesenangan di saat di bagian lagi di dunia ini banyak orang yang mati kelaparan atau tewas percuma dalam konflik.

Aku paham bahwa doa-doa terbaik yang pernah diucapkan nenekmu telah terkabul. Engkau menghabiskan waktu di belahan bumi yang jauh dari kampungmu agar kau lupakan semua cerita sedih kelahiranmu. Engkau tumbuh tegar dan tidak pernah terkalahkan. Kukuh dalam kepungan keterasingan dan rasa sepi. Yang aku tidak paham, mengapa engkau tidak memberi ruang untuk memikirkan diri dan kehidupanmu sendiri?

Kapan engkau akan mendengar keinginanku: gadis kecil di dalam dirimu? (*)
–untuk ulangtahun ibuku.

Tokyo, 23 Desember 2007/6.00 pm

0
comments

Reply