Bulan di Pagi Hari

Musim dingin kerap menyembunyikan matahari. Musim dingin juga, di saat-saat tertentu,  menghadirkan bulan di pagi hari. Beberapa hari lalu, di jendela, langit kelabu pukul tujuh pagi diterangi bulan. Saya bisa berkata, “Selamat pagi, Bulan!” dan tertawa-tawa sendiri menikmati peristiwa ini. Anak kecil di dalam diri saya meronta, minta duduk di bingkai jendela, memandangi bulan, menunggu, terus menunggu, menghitung berapa jam kira-kira bulan bertahan. Pukul delapan, bulan hilang dari pandangan. “Selamat tidur, Bulan!”  Pagi delapan derajat Celcius. Bulan menggigil dan menghilang.

Bulan di pagi hari dan perasaan bahagia saat melihatnya, menerbitkan senyum. Di setiap musim, saya mengingat peristiwa-peristiwa kecil sebagai alasan untuk berbahagia. Angin yang memukul-mukul jendela dan menghadirkan semacam keyakinan bahwa hujan terasa lebih akrab di malam-malam tertentu di musim gugur; senja yang selalu lebih panjang di musim panas; serbuk sari yang semakin sering melekat di ujung baju saat musim semi tiba  dan langit di musim dingin yang selalu saya bayangkan sebagai payung raksasa berwarna kelabu yang menyodorkan hadiah ‘bulan di pagi hari’.

Saya tak pernah secara detail bercerita pada orang lain tentang bagaimana saya selalu mengamati hal-hal yang terkesan remeh di setiap musim. Dalam kehidupan saya sehari-hari, percakapan tentang cuaca senantiasa berlangsung singkat. “Panas ya…” atau “Dingin, ya…” atau “Duh, anginnya kencang sekali..” Saya tak membicarakan bulan di pagi hari dengan orang lain. Juga tak bertanya, apakah orang-orang juga membayangkan langit seperti payung raksasa berwarna kelabu di setiap musim dingin. Saya tahu, orang-orang sekarang semakin bergegas, dengan fisik dan pikiran yang terbelah (saya mengingat seorang kawan yang mengajak minum kopi di Jakarta, yang justru lebih asyik dengan gadget-nya dan seperti tak menghiraukan kehadiran orang di hadapannya). Saya tahu, tidak semua orang mau mendengar saya bicara tentang penanda-penanda kecil yang saya temui dan saya catat di setiap musim.

Tapi hari ini, di hari ulangtahun saya yang ke-45, saya tiba-tiba ingin membaginya. Saya ingin membagi sisi lain diri kehidupan saya: seseorang yang senang berlama-lama menatap langit, berlama-lama mengamati pohon di halaman belakang, mengukur berapa waktu yang dibutuhkan matahari untuk tenggelam di musim panas, seseorang yang terkadang menatap ujung sepatu sambil menerka-nerka perjalanan baru yang hendak ditempuh. Hari ini, saya teringat pada bulan di pagi hari dan perasaan bahagia yang terbit di hati. Senantiasa berbahagia dengan hal-hal kecil, itulah saya. Saya bisa tertawa tergelak hingga keluar airmata, karena lelucon yang sebenarnya tak terlalu lucu. Saya juga bisa menangis tersedu saat menonton film atau drama yang sebenarnya biasa saja. Dan hari ini saya kembali bersyukur, karena ternyata saya termasuk orang yang sangat mudah berbahagia hanya karena memandang langit, mengingat-ingat penanda setiap musim.

Dan bila saya telah selesai dengan rutinitas menatap langit dan berlama-lama di jendela melihat perubahan musim, saya tahu, ada keluarga dan sahabat yang tulus dan hangat, yang senantiasa hadir untuk saya. Mereka menjadi alasan utama saya untuk senantiasa menunjukkan yang terbaik dari apa yang ada di dalam diri saya,  dan semoga kehadiran saya juga bisa menerbitkan kebahagiaan di hati mereka, seperti bulan di pagi hari, yang selalu saya kenang dengan senyum.

Melbourne, 16 Juli 2016/ 20:08 PM

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *