<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lily Yulianti Farid &#187; Citizen Journalism</title>
	<atom:link href="http://lilyyuliantifarid.com/category/citizen-journalism/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lilyyuliantifarid.com</link>
	<description>Small Notes of Ly</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Oct 2009 09:24:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Dua Sahabat, Dua Buku</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/dua-sahabat-dua-buku-62.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/dua-sahabat-dua-buku-62.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 09:58:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Citizen Journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Kadang saya berpikir, di Panyingkul! model &#8220;citizen journalism&#8221; yang senantiasa dibicarakan itu sebaiknya diganti menjadi &#8220;friendship journalism&#8221; saja. Soalnya, satu demi satu orang yang ikut percaya pada ide yang saya tawarkan, dan kemudian tergerak menyumbangkan pikiran, energi dan waktunya untuk menghidup-hidupi Panyingkul! secara perlahan tapi pasti masuk dalam lingkaran persahabatan dan keluarga besar saya dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="photo photo_left">
<div class="photo_img">Kadang saya berpikir, di Panyingkul! model &#8220;citizen journalism&#8221; yang senantiasa dibicarakan itu sebaiknya diganti menjadi &#8220;friendship journalism&#8221; saja. Soalnya, satu demi satu orang yang ikut percaya pada ide yang saya tawarkan, dan kemudian tergerak menyumbangkan pikiran, energi dan waktunya untuk menghidup-hidupi Panyingkul! secara perlahan tapi pasti masuk dalam lingkaran persahabatan dan keluarga besar saya dan Farid.</div>
</div>
<p>Tahun ini, saya menemani dua sahabat, Winarni KS dan Kamaruddin Azis memulai serial jurnalisme warga. Winarni mencatat Makassar, Kamaruddin alias Daeng Nuntung mencatat Galesong. Tahun ini juga, saya akan menemani Muhammad Ridwan Alimuddin menulis jurnal &#8220;The Last Bajau&#8221;. Sementara Nilam, Miss On The Way akan menemani Erni Aladjai dan Masdianah memulai program Jurnal dari Kegelapan, mencatat keseharian teman-teman tuna netra di Pertuni (Persatuan Tuna Netra) Makassar.<span id="more-62"></span></p>
<p>Serial Jurnalisme Warga yang ditulis Winarni dan Daeng Nuntung ini tentu masih memiliki kekurangan di sana sini &#8212; utamanya disebabkan oleh kondisi kesehatan saya yang agak payah dan juga sempitnya waktu persiapan sehingga koordinasi kami kurang maksimal. Tapi terlepas dari semua itu, saya begitu bahagia, melihat mata Winarni dan Daeng Nuntung berbinar saat pertama kali melihat hasil karya mereka itu tiba di tangan masing-masing. Binar itu pesannya benderang: mimpi telah diwujudkan!</p>
<p>Kota dan kampung yang dicatatkan oleh Winarni dan Daeng Nuntung sudah pasti akan menjadi inspirasi bagi warga lainnya, bagi para citizen reporter lainnya.</p>
<p>Untuk Winarni, di usianya yang begitu belia, jelas buku pertamanya, &#8220;Makassar dari Jendela Pete-pete -catatan seorang pengguna jalan&#8221; membuat banyak teman yang &#8220;cemburu&#8221;. Di usia 22 tahun, ia telah dengan begitu serius mencatat Makassar, menguliti perencanaan dan pembangunan kota, ia membawa buku teks dari kampus untuk kemudian dikonfrontir dengan kenyataan di jalan.</p>
<p>Untuk Daeng Nuntung, Semesta Galesong adalah bukti kecintaan pada kampung sekaligus ajakan bagi penulis lain untuk kembali melihat kampung, menuliskan orang-orang dan peristiwa, merekonstruksi hal-hal yang telah hilang atau diabaikan, juga mempertanyakan nasib kampung di masa depan, tentu dengan sudut pandang khas seorang warga.</p>
<p>Selamat untuk Winarni dan Daeng Nuntung. Mohon maaf untuk semua hal yang kurang menyenangkan yang terjadi selama persiapan kelahiran kedua buku ini.</p>
<p>Tapi terlepas dari semua kendala dan keterbatasan, kelahiran kedua buku ini membuat persahabatan kita memiliki penanda yang abadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/dua-sahabat-dua-buku-62.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mao Mengajak Berhitung</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/mao-mengajak-berhitung-42.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/mao-mengajak-berhitung-42.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 00:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Citizen Journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Dalam suatu kesempatan saya sempat mengikuti presentasi Isaac Mao di Bangkok. Ia mengajak saya berhitung. Yang dihitung adalah social tools. Jadi mulailah kami menghitungnya. Ini jawaban saya: 1. gmail? ya, ada! 2. yahoo mail? ya, ada! 3. facebook? ya, ada! 4. flickr? ya, lanjut&#8230;. 5. slideshare? hm&#8230; belum 6. twitter? wah, belum merasa perlu.. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/isaacphoto.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-43" title="isaacphoto" src="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/isaacphoto-300x223.jpg" alt="" width="251" height="186" /></a>Dalam suatu kesempatan saya sempat mengikuti presentasi Isaac Mao di Bangkok. Ia mengajak saya berhitung. Yang dihitung adalah <span style="font-style: italic;">social tools</span>. Jadi mulailah kami menghitungnya. Ini jawaban saya:<br />
1. gmail? ya, ada!<br />
2. yahoo mail? ya, ada!<br />
3. facebook? ya, ada!<br />
4. <span id="lw_1225410051_0" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">flickr</span>? ya, lanjut&#8230;.<br />
5. slideshare? hm&#8230; belum<br />
6. twitter? wah, belum merasa perlu..</p>
<p><span id="lw_1225410051_1" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">Saya</span> berhenti, Mao terus berhitung. Di angka 20, ia terus berhitung. Ia memiliki lebih dari 20 social tools!  Ia lalu membagi alamatnya di <span style="font-style: italic;">slideshare</span>. &#8220;Kau bisa membaca lengkap presentasiku di sana&#8230;&#8221;<span id="more-42"></span></p>
<p>Siapa Mao? Ia adalah pakar <em><span id="lw_1225410051_2" class="yshortcuts">social media</span></em>, konsultan new media untuk proyek <span id="lw_1225410051_3" class="yshortcuts">I<em>nternet and Society</em></span> di Harvard University. Ia duduk sebagai supervisor termuda <em>Global Voice</em>, inisiatif pelacak dan perangkum blog di seluruh dunia yang dirintis Ethan Zuckerman beberapa tahun lalu. Ia kini tengah berkeliling dunia nyata dan dunia maya mempromosikan sejumlah istilah aneh yang membuat penasaran: meta, memes, mind morphing, sharism, democracy 2.0,</p>
<p>Siapa Mao? Ia seperti anak muda kebanyakan.Ke mana-mana memanggul ransel, berpenampilan rileks dan selalu bersemangat diajak bicara tentang perkembangan Internet. Yang membedakannya barangkali adalah sejuta gagasan <em>social media</em> yang dibawanya di dalam laptop dan kepalanya.</p>
<p>Sejak mendirikan Panyingkul! saya memang meminjam salah satu konsepnya, &#8220;sharism&#8221;. Intinya bagaimana kita mengajak semua  anggota komunitas mengidentifikasi modal sosial dan intelektualnya kemudian bekerja membaginya untuk mencapai suatu misi yang disepakati bersama. Sharism &#8211;istilah yang kedengaran lucu ini&#8211; pada dasarnya bukan konsep baru. Ia adalah hasil reproduksi yang telah mengalami penyesuaian di sana sini. Dalam konteks social media di China, Mao dan timnya bekerja untuk memperdayai para intel dan departemen propaganda pemerintah yang memberlakukan sensor sangat ketat terhadap media. Ya, ada yang lebih kokoh dan tebal dari Tembok China: sensor.</p>
<p>Mao memutar otak. Bagaimana memperdayai para intel, bagaimana membantu para aktivis HAM di China, bagaimana memborbardir China dengan informasi yang lebih berimbang? Di belakang Mao, berbaris para blogger dan kalangan muda yang kecanduan Internet. Anak-anak muda ini tiba-tiba merasa mendapatkan semacam &#8220;panggilan berperang melawan kebatilan&#8221;. Mereka menabuh genderang perlawanan di ranah maya. Mao menggelar peta virtual, memanfaatkan sebaik-baiknya <span id="lw_1225410051_4" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">Google</span> mashup, <span id="lw_1225410051_5" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">Yahoo</span> pipe, twitter, Google map, dan kini bahkan menyusun sebuah peta social media yang rumit dengan melibatkan media mainstream seperti Reuters (tapi berupaya dijelaskan dengan lebih sederhana). Mereka menyusun siasat, tidak sekadar mendambakan arus informasi yang lebih bebas dan sehat, tapi mereka menciptakannya. Ya, setiap hari ada siasat baru untuk berupaya membobol sensor, termasuk memperbaharui bahasa sandi di kalangan blogger.</p>
<p>Mao memang mengajak kita berhitung. Yang dihitung bukan sekadar berapa banyak email account, blog, SNS, dan social tools lainnya yang kita miliki. Yang dihitung adalah manfaat apa yang bisa kita ciptakan dari semua ini?</p>
<p>&#8220;It&#8217;s not a game. It&#8217;s about a life!&#8221;  kata Mao ketika memberi contoh tentang upaya sejumlah blogger mengirimkan susu bubuk untuk seorang bayi berusia satu bulan,  anak dari seorang aktivis HAM  di China. Dengan menggunakan Google Map, para blogger melacak di mana gerangan keluarga demonstran ini disembunyikan oleh aparat? Setelah sang demonstran ditahan, akses makanan bagi keluarga ini diblokir total.</p>
<p>Sosodara,<br />
setelah Mao mengajak saya berhitung. Kini saya yang ingin mengajak Anda semua berhitung.Yang kita hitung tentu saja bukan berapa banyak blog dan cerita serta foto narsis yang terpajang. Yang kita hitung adalah sinergi, sharism, reproduksi ide dan gagasan untuk dijadikan sebuah tindakan dengan memanfaatkan sebaik-baiknya social tools yang kita miliki. Kita jauh lebih beruntung dibandingkan Mao dan kawan-kawannya, karena sensor telah lama mati di negeri ini.</p>
<p>Nah, mari kita hitung bersama. Di sini. Di Panyingkul!</p>
<p>ly<br />
Tokyo, 28  bulan dua 2008/ 6:20 am</p>
<p>*Isaac Mao bisa ditemui di <a href="http://www.isaacmao.com/" target="_blank"><span id="lw_1225410051_6" class="yshortcuts">www.isaacmao.com</span></a></p>
<p>*Sumber foto: Global Voice Online</p>
<p>*Tulisan ini adalah Celoteh Ly tentang Citizen Journalism di milis panyingkul@yahoogroups.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/mao-mengajak-berhitung-42.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kit Menggedor Arogansi Media</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/kit-menggedor-arogansi-media-40.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/kit-menggedor-arogansi-media-40.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 23:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Citizen Journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin mengajak Anda menonton Kit Kittredge: An American Girl yang dirilis Juli lalu. Bila belum sempat menonton, bisa lihat-lihat dulu di situs resminya, www.kitkittredge. com untuk sekadar tahu tentang film ini. Enam tahun lalu, si “Pretty Woman” Julia Roberts bersama saudaranya penasaran mengangkat serial populer An American Girl ke layar lebar. Rasa penasaran terbayar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/kitposter.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-41" title="kitposter" src="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/kitposter-203x300.jpg" alt="" width="169" height="250" /></a>Saya ingin mengajak Anda menonton <span class="yshortcuts"><em><span id="lw_1225408582_0">Kit Kittredge: An American Girl</span></em></span> yang dirilis Juli lalu. Bila belum sempat menonton, bisa lihat-lihat dulu di situs resminya, <a href="http://www.kitkittredge.com">www.kitkittredge. com</a> untuk sekadar tahu tentang film ini. <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_1">Enam</span></span> tahun lalu, si “Pretty Woman” Julia Roberts bersama saudaranya penasaran mengangkat serial populer <em>An American Girl </em>ke layar lebar. Rasa penasaran terbayar. Film ini disutradarai dengan apik oleh Patricia Rozema. <em>The great depression</em>, orang-orang kelas menengah yang terjun bebas ke jurang kemiskinan di tahun 1930an dan petualang seorang bocah perempuan di rumah pohonnya dengan cita-cita yang tidak tanggung-tanggung: ingin tulisannya dimuat di <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_2" style="cursor: pointer;">surat kabar</span></span> di kota tempat tinggalnya, <em>Cincinnati Register</em>, dibumbui upaya mengungkap  misteri kejahatan a la Lima Sekawan karya Enid Blyton <span id="more-40"></span></p>
<p>Bagi yang sudah menikmati <em>Little Miss Sunshine</em> dan <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_3" style="cursor: pointer;">gemas </span>pada akting si cilik <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_4">Abigail Breslin</span></span>, film ini akan mempertebal kekaguman itu. Tapi bukan kehebatan Abigail itu yang ingin saya ceritakan di sini. Saya ingin bercerita tentang tokoh Kit yang diperankannya dan  akar <em>citizen  journalism</em> yang tergambar di film itu. Kit yakin, dengan mesin ketik tua di rumah pohon dan restu kedua orangtua, ia bisa menulis sesuatu yang segar dan belum diketahui pembaca di kota itu. Ia mewawancarai tukang kebunnya. Saat si tukang kebun remaja itu ragu, &#8220;Apa ada yang menarik dari kehidupan saya?&#8221; Kit bersikeras, &#8220;Pasti ada! Setiap warga di kota ini pasti punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan! &#8220;</span></p>
<p><em>A resourceful young girl with bravery, compassion and determination</em>.  Begitu karakter Kit diterjemahkan oleh sang sutradara saat mengarahkan akting Abigail. Tiga modal Kit ini yang perlu kita catat. Ia memberi peran pada dirinya, mengabarkan kehidupan orang biasa di tengah resesi yang muram.</p>
<p>Tentu mencuat  pertanyaan soal hal-hal yang tidak masuk akal di film ini. Kit yang terlalu berani dan cerdas untuk bocah perempuan berusia 10 tahun, jelas mengusik saya. Ia seperti bocah Belitong, Ikal, Lintang dan Mahar yang <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_5">luar biasa</span></span> cemerlang dan berpengetahuan luas di <span class="yshortcuts"><em><span id="lw_1225408582_6" style="cursor: pointer;">Laskar Pelangi</span></em></span>.</p>
<p>Misalnya, ada adegan Kit datang ke Kantor Surat Kabar Cincinnati Register menggedor pintu Sang Pemimpin Redaksi dan penuh percaya diri menyerahan tulisannya. Artikelnya ditolak. Ia tak menyerah. Kit meliput lagi kehidupan kalangan pengangguran dan miskin kota yang disebut <em>The Hobos</em>, kelompok yang makin tercekik gara-gara hantaman krisis keuangan. Ia datang lagi, mengetuk pintu di ruang redaksi. Gadis kecil ini pantang mundur, deh pokoknya. Tentu, sebagai penonton, saya agak terganggu dengan rasa percaya diri berlebihan yang disusupkan pada karakter si bocah.</p>
<p>Tapi mengutip anak saya Fawwaz, yang gemar berkata: &#8220;yang penting kita mengerti pesan moral cerita ini&#8230;.&#8221;  maka saya mengabaikan sejumlah kejanggalan itu dan mengedepankan pesan moral  Kit Kittredge: &#8220;Di tengah peristiwa besar seperti depresi hebat 1930an begitu banyak hal yang nyaris luput dicatat dalam sejarah, seandainya bukan orang biasa yang menggerakkan tangan menuliskannya. &#8221;</p>
<p>Setelah terus berupaya tanpa lelah, tulisan Kit akhirnya dimuat. Judulnya: &#8220;Depresi Ekonomi dari perspektif seorang bocah.&#8221; <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_7" style="cursor: pointer;">Anak</span></span> perempuan itu berlompatan riang memperlihatkan surat kabar yang memuat tulisan dan gambar-gambar hasil jepretannya.  Sebagai warga Cincinnati, ia  menyeruak dengan laporan yang khas, yang tak terpikirkan wartawan yang terlanjur menjangkarkan diri pada wacana-wacana besar terkait resesi: kebangkrutan, pengangguran, kejahatan, langkah pemecahan dan seterusnya.</p>
<p>Bagi saya, citizen journalism yang menjadi pesan moral film ini. Tiga kata yang menjadi karakater utama Kit, bukankah itu juga yang jadi resep citizen journalism yang senantiasa didiskusikan?</p>
<p>Nah, hari-hari belakangan ini, di tengah krisis keuangan global yang membuat banyak orang megap-megap ditelan badai, apa yang telah kita catat sebagai warga? Media mainstream berlomba mengabarkan &#8220;bailout&#8221;, &#8220;fresh fund injections&#8221;, &#8220;coordinated global actions&#8221;, “interest rate cut” dan seterusnya. Dari perspektif warga, istilah dan cerita apa yang sebaiknya kita disandingkan dengan wacana krisis yang bikin kita semua panik itu? Kit menyodorkan ide: menuliskan sisi paling manusiawi dari kita semua di tengah gelombang krisis. Ada semangat setia-kawan antar orang-orang yang hidup di perkampungan tuna wisma, ada juga orang-orang yang tergerak tipu sana sini memanfaatkan kepanikan kelas menengah yang tidak siap jatuh miskin, juga tentang perayaan Thanks Giving yang mesti mengalami perombakan besar-besaran karena dirayakan di tengah situasi depresi yang begitu muram.</p>
<p>*tulisan ini adalah Celoteh Ly seputar Citizen Journalism di milis <a href="mailto:panyingkul@yahoogroups.com">panyingkul@yahoogroups.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/kit-menggedor-arogansi-media-40.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
