<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lily Yulianti Farid &#187; columns and articles</title>
	<atom:link href="http://lilyyuliantifarid.com/category/columns-and-articles/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lilyyuliantifarid.com</link>
	<description>Small Notes of Ly</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Oct 2009 09:24:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Hiroshima, Hiroshima Sampai Kapan pun&#8230;</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/hiroshima-hiroshima-sampai-kapan-pun-26.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/hiroshima-hiroshima-sampai-kapan-pun-26.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 05:13:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[columns and articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Ini jelas kabar yang mengerikan: Rusia dan Amerika Serikat hingga hari ini memiliki cadangan lebih dari 10.000 hulu ledak nuklir; kapal selam AS bertenaga nuklir toh bisa berlabuh tenang di Sasebo, Nagasaki di tengah protes aktivis anti nuklir yang sayup; negara kekuatan nuklir lainnya juga seperti kuda tuli yang terus berlari dengan keyakinan, hanya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/7agustus2008a.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-27" title="7agustus2008a" src="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/7agustus2008a-150x150.jpg" alt="Hiroshima Peace Memorial Park" width="150" height="150" /></a>Ini jelas kabar yang mengerikan: Rusia dan Amerika Serikat hingga hari ini memiliki cadangan lebih dari 10.000 hulu ledak nuklir; kapal selam AS bertenaga nuklir toh bisa berlabuh tenang di Sasebo, Nagasaki di tengah protes aktivis anti nuklir yang sayup; negara kekuatan nuklir lainnya juga seperti kuda tuli yang terus berlari dengan keyakinan, hanya dengan senjata nuklir rasa aman bisa dibangun.</p>
<p>Kekejaman perang masih terekam jelas di Hiroshima. Dalam kata, dalam ingatan orang-orang, dalam cerita yang dibagi di jalan, di kafe dan rumah-rumah penduduk. “Namida Ame…,” kata Ichiro Ando, warga Hiroshima pertama yang saya temui. Ia mengomentari hujan yang turun sebentar di tengah hawa panas yang tak nyaman. Hari pertama Agustus tahun ini, ada hujan yang sesaat. Lakilaki berusia 56 tahun itu menyebutnya “hujan air mata”, namida ame, di bulan kedelapan, setiap tahun, di Hiroshima.<span id="more-26"></span></p>
<p>Hari itu, papan informasi cuaca di Stasiun Hiroshima memajang gambar matahari kuning tanpa awan dengan angka 38 derajat Celcius. Sungguh musim panas yang menyiksa. Tapi ajaib! Ada hujan yang melintas. “Saya dibesarkan dengan cerita-cerita seputar perang. Saya dulu sangat benci pada Amerika. Tapi tahu tidak? Anak kedua saya justru menikah dengan orang Amerika dan kini menetap di Los Angeles..”</p>
<p>Ia tertawa sejenak, lalu melanjutkan, “Saya pernah mengunjungi mereka sekali. Sekarang, anak-anak yang lebih muda, punya pikiran lain…mereka kurang suka nostalgia..,”</p>
<p>Pukul 8.15, 6 Agustus 1945, sekitar 300.000 penduduk, yang baru memulai kegiatan pagi di bawah langit musim panas yang benderang, disentakkan oleh ledakan yang luar biasa dahsyat, yang dalam sekejap meluluhlantakkan kota, menghentikan semua rutinitas. Bom atom “little boy” dijatuhkan pagi hari, dengan sasaran utama jembatan Aoi tepat di jantung kota. Sebuah eksperimen nuklir beberapa tahun sebelumnya di sebuah laboratorium di Manhattan, AS akhirnya dieksekusi di sini, yang kemudian menjadikan Hiroshima sebagai kota yang mendapat serangan senjata nuklir pertama di dunia. Mengapa Hiroshima? Di Museum Perdamaian Hiroshima ada penjelasan singkat: kota ini dianggap sebagai sasaran sempurna karena ia satu-satunya kota yang tidak memiliki kamp tawanan perang (prisoners of war).</p>
<p>Berapa orang yang mati? Banyak versinya. Yang sering kali dikutip adalah 140.000 korban jiwa hingga akhir tahun 1945. Separuh dari angka ini adalah kematian yang tercatat di hari pemboman. Berapa banyak yang terluka, sakit, menderita trauma dan menunggu kematian? Angka ini yang terus bertambah hingga hari ini.</p>
<p>Luka memang abadi di Hiroshima. Pukul 8.15, 6 Agustus 2008, 45.000 orang berkumpul di Hiroshima untuk mendengarkan angka kematian baru. Begitulah setiap tahun, di awal upacara peringatan jatuhnya bom atom, nama-nama orang yang mati dalam setahun, di baca lantang di sela ributnya dengung ribuan tenggerek di perdu dan pohon Taman Perdamaian Hiroshima. Bila angka ini penting benar untuk dibacakan di berita hari ini, catatlah: dalam setahun terakhir 5.032 yang mati – yang kematiannya diakui negara sebagai kematian akibat radiasi. Merekalah para hibakusa atau orang yang menjadi korban bom atom.</p>
<p>Ichiro Ando mungkin benar, bahwa tak banyak lagi orang-orang muda Jepang yang betah mendengar nostalgia kalah perang dan kebangkitan sesudahnya. Generasi hari ini hanya melihat perang dan segala konsekuensinya melalui lembar-lembar dokumentasi yang dingin.</p>
<p>Tapi tak jauh dari Taman Perdamaian, ada Yuki Otsuji (22) yang menjadi pengecualian. Gadis manis ini sedang bersiap ke Rwanda, bergabung dengan tim pendidikan pasca perang di negara Afrika yang luluhlantak itu. Ini sebuah rencana yang diidamkannya sejak lama.</p>
<p>Ia tinggal di Tokyo, lahir dan besar di Hiroshima, berpenampilan layaknya anak muda kebanyakan, mengenakan T-shirt, celana selutut dan flat-shoes yang sedang tren. Yuki meringkas perjalanan karirnya sebagai Peace Educator, “Saya menghabiskan waktu satu tahun di Amerika dan Kanada, mengajarkan mata pelajaran perdamaian di sekolah dan universitas. Dalam setahun itu saya berbicara di 200 pertemuan dan bertemu lebih dari 5.000 pelajar dan mahasiswa. Dalam presentasi tentang Hiroshima dan Nagasaki, tidak sedikit yang menyalahkan Jepang di Perang Dunia Kedua, dan mengatakan Jepang pantas menerima ganjaran setelah terlebih dahulu menyerang Pearl Harbour.”</p>
<p>“Teman-teman saya bilang, mendengar Hiroshima seperti menyimak lagu lama yang terus menerus diputar, seperti diorama museum yang dimainkan secara otomatis dari pagi hingga sore. Di Tokyo tak banyak yang tertarik pada cerita-cerita seperti ini. Tapi saya lain, saya lahir di kota ini, di keluarga saya, cerita tentang kekejaman bom atom dituturkan turun temurun. Saya sendiri akan tetap kembali ke sini setiap tahun, bekerja untuk perdamaian!”</p>
<p>Yuki telah tiga tahun menjadi relawan di Konferensi Internasional Anti Bom Atom dan Bom Hidrogen yang diadakan setiap tahun di Hiroshima dan Nagasaki. Neneknya adalah seorang hibakusa. Radiasi bom atom merenggut nyawa sang nenek ketika Yuki berusia 10 tahun. Kematian itu kemudian menjadi cerita turun temurun di tengah keluarganya, bahwa sang nenek menderita kanker payudara. “Semasa hidupnya, nenek saya enggan bicara tentang tragedi bom atom itu. Ayah saya baru menceritakannya setelah nenek meninggal. Saya jadi berpikir-pikir, adakah orang yang sebaya dengan nenek saya yang tidak terdata sebagai hibakusa? Bukankah radiasi itu bisa menyebar, masuk ke tubuh siapa saja, dengan begitu halusnya?”</p>
<p>Dari Yuki, saya menyimak cerita tentang orang-orang yang enggan mengenang pemboman itu. “Mereka mudah menangis… juga memilih menutup mulut. Ingatan itu memang terlalu pahit.”</p>
<p>Ia rupanya tidak berlebihan soal ini. Di rumah jompo Funairi Mutsumien, saya menyaksikan tatapan penuh keengganan Chieko Fujihiro, yang masih tetap bugar di usia 82 tahun. Suster pendamping sebelumnya telah mewanti-wanti, jangan melontarkan pertanyaan yang melukai, ia akan enggan menjawab.</p>
<p>Chieko berusia 19 tahun ketika Hiroshima porak poranda. Ia berada sekitar 3,5 kilometer dari episentrum, baru saja memulai kesibukan paginya di tempat kerja. “Mengerikan…”</p>
<p>Ia menggumam. Saya mencoba sabar menunggu kalimat selanjutnya. “Mengerikan…” Ia memutar ingatannya tentang kota yang kacau di detik berikutnya ketika orang-orang berlarian ke jalan, berteriak kepanasan, meminta air, histeris.</p>
<p>Apa yang disesalinya karena ia, yang waktu itu tidak terluka berat, begitu saja mengikuti aliran massa ikut turun ke jalan tanpa pelindung tubuh yang memadai – beberapa menit setelah penduduk menyadari bencana itu, siapa yang tahu bahwa kali ini yang terjadi bukan serangan udara yang biasa, melainkan bom atom dengan resiko radiasi luar biasa ganas?</p>
<p>Chieko mendekat ke arah kota, ingin mencari tahu kondisi rumah, ayah, kakak, dan seluruh keluarganya.</p>
<p>Cerita belum tuntas tapi suster yang mendampingi Chieko memberi isyarat. “Ia tak bisa dibiarkan lelah mengingat banyak hal…”. Kelanjutan cerita itu kemudian dibagi sang suster di koridor, bahwa Chieko terkena radiasi pada matanya. Hingga kini telah menjalani sembilan kali operasi mata.</p>
<p>Saat mengunjungi rumah jompo itu, bersama saya turut Odetta King, mahasiswi asal Washington DC. Ia membagi refleksinya. “Pertemuan dengan Chieko hari ini terasa sangat personal bagi saya. Coba lihat, usianya 19 tahun ketika Hiroshima dibom, sama dengan usia saya sekarang. Ia berada sekitar 3,5 kilometer dari pusat pemboman. Saya sendiri tinggal sekitar 2 mil dari Gedung Putih, tempat disusunnya berbagai kebijakan yang memastikan bahwa kami orang-orang Amerika harus senantiasa merasa aman. Tapi apa yang terjadi? Saya sendiri selalu merasa ketakutan, ancaman teror ada di mana-mana…dan saya tidak tahu sejauh mana pemerintah kami mampu memberi rasa aman itu? Menjamin rasa aman dengan nuklir? No way!”</p>
<p>Odetta menulis esai. Tentang Hiroshima, tentang perdamaian. Saat masih SD, Odetta membaca kisah tentang Sadako Sasaki, gadis kecil berusia 10 tahun, korban radiasi. Sadako bertekad membuat 1,000 origami burung bangau saat dirawat di RS Palang Merah Hiroshima. Origami itu diyakini bisa menumbuhkan harapannya berjuang melawan leukimia. Sadako meninggal delapan bulan kemudian, dan origami burung bangau itu dilanjutkan oleh banyak orang di seluruh Jepang dan di berbagai negara, hingga hari ini.</p>
<p>Odetta turun ke jalan. Di Hiroshima, di Nagasaki, bersama puluhan remaja lainnya membentang spanduk menuntut penghapusan senjata nuklir.<br />
Dari Odetta saya belajar, bahwa apapun pekerjaan atau kehidupan yang kita pilih, berkontribusi secara nyata bagi perdamaian dunia adalah kewajiban.</p>
<p>Di hari berikutnya, saya menyimak orasi Celeste Zappala, pendiri Gold Star Families Speak Out, organisasi keluarga korban perang di Amerika Serikat. Celeste seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi simbol perdamaian dan penentang perang yang gigih. Kematian putranya, Sersan Sherwood Baker di Baghdad pada tanggal 26 April 2004, menjadi titik balik dalam kehidupan Celeste. “Saat kita berkumpul di sini mengenang tragedi Hiroshima dan Nagasaki, di tempat lain di dunia ini, ada pihak-pihak yang juga berkumpul merencanakan perang berikutnya, membuat lebih banyak senjata, dan merancang aksi militer yang baru. Ada pihak-pihak yang berkumpul untuk menghitung-hitung untung yang bisa mereka raup dari perang…,” Celeste marah, tapi suaranya itu sekaligus membangkitkan semangat.</p>
<p>Ia bertutur lembut. Ia berbicara dengan tempo yang diperlambat, mengingatkan saya pada suara seorang ibu membacakan dongeng pengantar tidur. Ia melawan sekaligus mengajak. Katanya, “Suara kita harus lebih keras, keyakinan kita harus lebih kokoh, dan tawaran jalan keluar yang kita sodorkan harus lebih persuasif. Mewujudkan perdamaian adalah tugas yang paling sulit di dunia ini. Pemimpin dunia dan pemikir besar telah mengingatkan soal ini sepanjang masa..”</p>
<p>Tak mudah. Sungguh tak mudah mewujudkan perdamaian. Orang-orang yang bergelut dengan urusan ini adalah mereka yang punya daya tahan luar biasa. Lelah tapi tidak putus asa. Lihatlah hari ini, pelaksanaan perjanjian Non Proliferation Treaty (NPT) yang telah berusia 40 tahun, hanya jadi pepesan kosong. Kekuatan-kekuatan nuklir dunia makin kencang bertanding, bahkan mereka bisa dengan mudah berkelit dari kewajiban mewujudkan pelucutan senjata nukir sambil sibuk tuding sana sini ke Iran dan Korea Utara. Sudah tepatlah apa yang dikatakan Mohammed Ezzeldine Abdel-Moneim, penasehat khusus bidang Pelucutan Senjata Nuklir Liga Arab, “Kita orang-orang yang menyuarakan perdamaian kini mengalami kekecewaan. Kita ditelikung dan dikhianati…”</p>
<p>Disappointment, deception and betrayal. Tiga kata ini diulang-ulang para aktivis perdamaian yang satu per satu berbicara di Hiroshima. Hal yang paling nyata adalah menunggu tahun 2010, berharap NPT Review Conference membawa titik terang, apakah dunia yang bebas senjata nuklir betul-betul bisa terwujud atau kita bakal kembali ke tiga kata itu lagi: dissappointment, deception and betrayal sambil menunggu Agustus berikutnya, mendengar angka kematian baru, para hibakusa yang mati satu-satu. (p!)</p>
<p>*Tulisan ini bisa dibaca di <a href="http://www.panyingkul.com/view.php?id=936&amp;jenis=kabarkita">www.panyingkul.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/hiroshima-hiroshima-sampai-kapan-pun-26.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why Whaling?</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/why-whaling-24.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/why-whaling-24.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 14:57:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[columns and articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[*Lily Yulianti Farid for Nytid Oslo, Norway (www.nytid.no) May 2008 Edition Last summer, a friend of mine offered me kujira tempura, &#8211;Japanese words for  deep fried whale meat. It is a seasonal menu here in Japan. Whale is familiar seafood for many Japanese. Asking for “kujira”, the whale for your lunch menu is common as [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://animals.nationalgeographic.com/staticfiles/NGS/Shared/StaticFiles/animals/images/primary/orca-killer-whale.jpg" alt="" width="92" height="120" /><strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">*Lily Yulianti Farid  for Nytid Oslo, Norway <a href="http://www.nytid.no">(www.nytid.no)</a> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">May 2008 Edition</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Last summer, a friend of mine offered me <em>kujira tempura</em>, &#8211;Japanese words for  deep fried whale meat. It is a seasonal menu here in Japan. Whale is familiar seafood for many Japanese. Asking for “kujira”, the whale for your lunch menu is common as if you order shrimp, lobster or octopus.<span> </span><span> </span>In here, they also have whale steak as well, meanwhile several primary schools in regional areas across Japan Sea, serve whale meat in their lunch menu, as a part of Japanese long tradition back to 10.000 BC.</span><span id="more-24"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Did I eat the <em>kujira tempura? </em>Yes, in the name of curiosity. It was juicy and tender, just like beef or chicken. Its taste was different compared to other fish meat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Next time, will I order any whale menu for the sake of my cuisine adventure? No, for my respect to the recent controversy. Personal is politics, isn`t it?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Whale is a controversial issue, especially if we ask our fellows in <em>Sea Sepherd</em>, an environmental organization which consistently protesting Japanese whale activities. The word of <em>Kujira</em> could spark their anger as they believed that Japanese Whale research activities are not acceptable and are regarded as harmful for whales` habitat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">But why Japanese government is so keen to conduct the research apart from their long history as “whale eaters” and international criticism? Toshiro Shirasu, Japanese fishery minister says the country has a huge responsibility to mapping the location of whales and to find out how many fish that the whales eat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">International environmental activists have launched serious attacks to Japanese whaling ships. Meanwhile Japan regrets that the country`s whale catch in the latest season December 2007 to March 2008 fell far short of its quota due to sabotage by those anti whaling groups.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Who is right, who is wrong? Of course both sides insist that their holding the best arguments to defend their acts.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">The minister says that research whaling is permitted by the relevant treaty of International Whaling Commission and Japan will earnestly continue this activity. The underlined message was: Please do understand that our whaling for research purposes, not for the commercial one!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">But things are getting harder. A Japanese 6-vessel fleet targetted to catch 850 minke whales and 50 fin whales in the Antarctic from December to March. Unfortunately the fleet caught only 551 minke whales, or about 60 percent of what it had planned and caught no fin whales at all.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">The ministry of fishery says that Japan was forced to suspend its hunt because of sabotage by the <em>US Sea Sheperd Conservation Society</em> and other enviromentalists on 5 occasions since January.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Moreover, the Japan Coast Guard says it will investigate the series of alleged forcible obstructions by the Sea Shepherd with a view to bringing charges against the activists involved.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Will the angry activists step back? 100 hundred percent no! Just visit their Web sites and we will find out convincing explanations of how dangerous the whaling activities are, especially the one that conducted by Japanese fleet. And for sure more protests are still to come. Don`t believe the Japanese research-related reasons, they claimed. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Environmentalists argue that the whale meats as by-products of the “research activities” are sold to expensive Japanese restaurants.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">But here in Japan, the activities are going on. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">A departure ceremony was held last month for Japanese whaling ships that will study the consumption patterns of minke whales off Japan`s northeastern coast.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">About 100 people attended the ceremony near Ishinomaki Port in Miyagi Prefecture. People gathered to say “good luck” for small vessels that will catch 60 minke whales for research purposes off the coast of Sanriku. These people, just like the Japanese government, are the proponents for the whaling activities, although they are not the representatives of the whole Japanese society over the issue. I have quite many Japanese friends who opposing the activities</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">So, it is important to highlight that Japanese people are divided on the issues, as well. Just like the long dispute among Whaling Nations (</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Japan, Norway, Iceland, Russia) and the Anti-whaling nations include the U.S., the U.K., France, Australia, Switzerland, Monaco, New Zealand and others, I have found several of my Japanese fellows are against the activities. Why? “It is a shame though to declare that it is a research activity while realizing that the whale meat from such scientific activities is sold to the market,” says a friend. Another friend says, “It is a global issue and it is a sensitive matter. We should take international response more seriously just like if we condemn nuclear power, land mines, human trafficking and so on&#8230; International pressure is mounting on this issue.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Yes, please keep in mind a petition to collect more than 1 million signatures to stop whaling organized by Whale Revenge is now in progress. The voice of the protest is not huge in Japan, but there are few people have joined in. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">So, why whaling? Japanese government has a bunch of justifications, from international treaties to traditional and scientific matters. Other whaling nations, including Norway also has a bunch of strong reasons.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">And here, again another common argument from pro-whaling in Japan: “Look, we are different compare to pro-whaling nations in Europe. We use the whale, from their meat to skin, from their fins to bones. No left over. Nothing left. It is our tradition to use them as food and medicine resources. We do catch whale wisely…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">For better or worse, for tradition or scientific purposes, environmentalists could not see any justification to catch the sea mammals. Killing whale should be stopped, they shout! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">How about linking this issue with global warming? – the most popular catch phrase since we have experience the climate hysteria in recent years? Perhaps, whaling nations such as Japan will realize that their attitude toward various environmental issues contains contradiction: hunting whales while pushing other major green gases emitters to set firm measures to combat global warming.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Asian countries praise Japan for its swift approach to tackle down global warming by providing green technologies, but when it comes to whaling issues, we still hear unexpected response saying, “Oh really? Are they still hunting whales in the Antarctic?”<span> </span>Ambiguous, isn’t it.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">Well, that is the fact.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;">So, for ordinary people like me and you –especially those who live in Whaling Nations, what the best thing that we can do over the issue? Me: never order whale meat menu, joining the petition, and I think being more friendly to our environment –including to seriously consider the threats against whales in the Antarctic and elsewhere – is a must in the global warming era, isn`t it? It’s a firm stance of the ordinary citizen of the World. Not the ambiguous or pathetic one, shown by powerful nations in driving the issues. (*)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/why-whaling-24.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Korea Utara Tak Gentar</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/mengapa-korea-utara-tak-gentar-20.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/mengapa-korea-utara-tak-gentar-20.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 14:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[columns and articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Opini Kompas 12 Oktober 2006 Uji coba nuklir bawah tanah Korea Utara, Senin (9/10), disebut kantor berita KCNA sebagai tindakan yang memberi perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea dan sekitarnya. Ungkapan ini berlawanan dengan kecaman dari berbagai penjuru dunia. Korea Utara (Korut) dinilai tidak bertanggung jawab, menciptakan instabilitas, mengancam keamanan Asia Timur Laut dan dunia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/nuclear_weapons-atomic.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-21" title="nuclear_weapons-atomic" src="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/nuclear_weapons-atomic-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><em>Opini Kompas 12 Oktober 2006</em></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/orca-killer-whale.jpg"><br />
</a></p>
<p>Uji coba nuklir bawah tanah Korea Utara, Senin (9/10), disebut kantor berita KCNA sebagai tindakan yang memberi perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea dan sekitarnya.</p>
<p>Ungkapan ini berlawanan dengan kecaman dari berbagai penjuru dunia. Korea Utara (Korut) dinilai tidak bertanggung jawab, menciptakan instabilitas, mengancam keamanan Asia Timur Laut dan dunia.<span id="more-20"></span></p>
<p>Pengumuman resmi Korut menyebutkan, uji coba pagi hari di Desa Hwade itu berlangsung mulus, dipastikan tidak ada kebocoran radiasi. Pernyataan ini bisa benar, tetapi bisa salah, mengingat selama ini Korut dicurigai sering melalaikan keamanan uji coba.</p>
<p>Seismograf Rusia yang dipasang di seluruh penjuru negeri mencatat getaran dari uji coba itu. Sementara Lembaga Penelitian Sumber Daya Alam dan Geologi Korea Selatan merinci, uji coba itu menimbulkan guncangan berskala 3,5-3,7 skala Richter. Laporan intelijen melengkapinya, lokasi uji coba sama dengan lokasi uji coba rudal Taepodong 2 yang ditembakkan bulan Juli. <!--more--></p>
<p>Uji coba itu jelas menimbulkan gempa besar di Gedung Putih, di Markas Dewan Keamanan (DK) PBB, dan negara-negara Asia Timur lainnya, yakni Korea Selatan, Jepang, dan China, serta seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Sumber-sumber diplomatik di Beijing mengungkapkan, setengah jam sebelum uji coba, Pemerintah China berinisiatif memberi peringatan dini kepada Kedubes AS, Korea Selatan, dan Jepang. Pesannya,  China telah diberi tahu Korut tentang rencana uji coba yang bisa menimbulkan getaran setara peledakan 10 ton bubuk peledak TNT.</p>
<p>Sudah diperkirakan</p>
<p>Bagi sebagian pengamat masalah Asia Timur, langkah Korut itu adalah sesuatu yang telah lama diperkirakan. Korut telah lama mengembangkan teknologi nuklirnya. Banyak ahli meyakini negara ini memiliki cadangan material yang mampu memproduksi hingga 10 bom nuklir sekelas bom yang dijatuhkan AS di Hiroshima dan Nagasaki.</p>
<p>Menurut Prof Shen Dingli, Dekan Jurusan Kajian AS di Universitas Fudan, China, Korut ada dalam titik kepercayaan diri yang tinggi dalam menghadapi tekanan internasional, khususnya AS dan sekutunya di Asia Timur. Dingli menyebut lima alasan yang membuat Korut amat percaya bahwa negara yang terisolasi itu tidak akan begitu saja diserang AS. Kim Jong IL yakin dengan serangkaian deterrent effect yang ditimbulkan oleh uji coba nuklir. Kemarahan Gedung Putih tidak akan berujung pada kemungkinan terburuk, menyerang Korut. Kim Jong IL juga yakin, terlepas dari seruan ditingkatkannya sanksi menyusul uji coba, tetapi suara yang menganjurkan mencoba pendekatan persuasif nyaring disuarakan China dan Rusia di DK PBB.</p>
<p>Bagi Korut, uji coba itu adalah pembuktian falsafah juche (pertahanan diri) yang ingin ditunjukkan kepada dunia. Falsafah ini menjadi pedoman, yang menganjurkan Korut mengontrol sendiri keamanan negaranya, bukan menggantungkan diri pada perbaikan hubungan dengan AS. Sikap Korut ini menjadikan kondisi keamanan Asia Timur yang amat bergantung pada AS kini menghadapi tantangan lebih besar.</p>
<p>Perkembangan yang dilaporkan The Washington Post, Selasa (10/10), menyebutkan, AS telah menyerahkan sebuah rancangan resolusi kepada DK PBB yang mendesak diadakannya inspeksi terhadap semua arus perdagangan dari dan ke Korut. Tujuannya, untuk memblokir kemampuan Pyongyang mengimpor dan mengekspor teknologi nuklir dan rudal balistik serta untuk membatasi ruang gerak mengumpulkan dana ilegal.</p>
<p>Sayang, lima anggota tetap DK PBB tidak satu suara mendukung proposal AS. Inggris dan Perancis dilaporkan mendukung sanksi, tetapi tidak mendukung seluruh isi rancangan. China bahkan mengingatkan DK PBB untuk &#8220;hanya&#8221; menggunakan jalur diplomatik dalam membujuk Pyongyang menghentikan aktivitas nuklirnya dan kembali ke perundingan enam negara. Sementara Rusia, meski menyuarakan kecaman keras, juga tidak ikut mendukung sanksi.</p>
<p>AS kewalahan</p>
<p>Tentu banyak penjelasan yang bisa dikedepankan menjawab pecahnya suara di DK PBB. Seruan lama berjudul &#8220;menjungkalkan rezim di Pyongyang&#8221; yang ditiupkan AS sudah lama tidak mendapat angin. Serangan pendahuluan (preemptive strike) yang menjadi kosakata dalam menanggapi tiap ancaman, dan kerap diucapkan Presiden George W Bush, sudah mendapat tentangan dari Rusia dan China.</p>
<p>Korut dan China terikat perjanjian kerja sama dan saling membantu, yang berlaku hingga hari ini. Perjanjian itu menyebutkan, China wajib membantu Korut apabila negara itu diserang AS. Adalah konyol apabila AS rela mengorbankan kepentingannya dengan China &#8220;hanya&#8221; gara-gara uji coba nuklir. Rusia sendiri tetap memprioritaskan hubungan dengan Korut dengan pertimbangan geopolitik.</p>
<p>Menyadari posisi AS yang kepayahan dalam arena politik internasional membuat Korut tak gentar melakukan uji coba nuklirnya. Bukankah AS masih kewalahan di Afganistan, terjebak menuntaskan masalah Irak, bahkan gertakannya terhadap Iran yang juga melakukan pengayaan uranium tidak menunjukkan taring yang betul-betul menggigit. Karena semua itulah Korut menyadari posisinya ada di atas angin. Uji coba itu hanya salah satu letupan sikap percaya diri.</p>
<p>Barangkali yang paling tepat dilakukan menanggapi uji coba nuklir ini, seperti dianjurkan aktivis antinuklir, dengan menjadikannya momentum untuk secara serius meninjau kembali &#8220;rezim non-proliferasi global&#8221;.</p>
<p>Uji coba nuklir Korut dan pengayaan uranium Iran bukankah juga secara telak menelanjangi kelemahan-kelemahan dalam kebijakan non-proliferasi AS, sang polisi dunia itu? (*)</p>
<p>*Lily Yulianti Farid<br />
<em> Language Specialist NHK World di Tokyo; Pendapat Pribadi</em></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/mengapa-korea-utara-tak-gentar-20.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
