“Carikan aku pacar, dong!”

“Tak mungkin, Moel! Kamu ada-ada saja!”

Moel merengut. Ia bergayut di ventilasi jendela. Urat-uratnya yang menegang terukir jelas di sepanjang lengannya yang kurus. Moel memang selalu begitu bila ngambek, berayun-ayun di ventilasi jendela kamar dan mengancam tidak akan berhenti sebelum permintaannya dikabulkan.

“Jangan begitu, Moel!” Karya mencoba membujuknya.

“Ayolah, please….

Keringat dingin Karya mulai mengucur. Moel jarang mengajukan permintaan. Selama ini ia adalah partner yang baik dan penurut. Tak banyak tuntutan. Tapi karya hapal betul sifatnya, sekali ia mengajukan permintaan, maka ia akan berjuang terus agar permintaannya dikabulkan.

“Moel!!!!” Karya berteriak keras sekali. read more »

Kata Ayumi, adalah biasa lakilaki Jepang memukuli kepala isteri dan anaknya. Tapi rasanya sulit mendapatkan bayangan bagaimana adegan itu terjadi pada perempuan itu. Ia memang mungil. Tapi tidakkah segala wawasan dan pengetahuan serta harga diri bisa menuntunnya mengambil keputusan meninggalkan lakilaki brengsek yang mudah menamparnya?

“Kau tak paham…tak mudah meninggalkan Takeshi.”

Ya. Aku memang tak paham. read more »

(published in Words Without Borders, January 2009)

http://www.wordswithoutborders.org/?lab=FaridKitchen

Ruth loved flour. Mother loved the kitchen. And I loved Ruth and Mother. I grew up at the large kitchen table, watching Ruth sift flour and mix various kinds of dough. I learned to walk while holding on to Mother’s skirt as she chopped onions, boiled potatoes, and minced meat.

My mother, a beautiful cheerful woman, always sang in the kitchen, often old songs by Frank Sinatra: Fly me to the moon, Let me play among the stars . . . read more »

 Tunggulah ayahmu di situ!

 

Ibu mendudukkanku di depan televisi setelah mandi sore. Ah, seperti janjian saja. Ayah muncul, tampaknya juga baru selesai mandi, ia menyapaku di layar dengan wangi yang menembus kaca televisi. Aku mengendus-endus kaca cembung itu.

 

Apakah ayah pakai Mandom? Sering aku menebak-nebak. Soalnya ayah muncul setelah tayangan seorang lakilaki duduk di depan api unggun, yang mengiklankan minyak rambut dan bergumam “Hmmmm Mandom…”.

 

Di kemudian hari kutahu nama lakilaki itu Charles Bronson.

 

Tapi ah, bagiku ayah lebih tampan. read more »

Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota.

“Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?”

“Ya, membuat film animasi.”

“Apa? Pasti butuh banyak biaya. Sudah, kau urus saja apotik ini. Ini usaha bagus. Sangat bagus.”

Aku turuti kehendak ibu. Aku ikuti intuisi bisnisnya. Ia menjemputku dengan rencana-rencana baru. Dalam perjalanan ke rumah, kubuang rencana hidupku. Ia tergilas truk gandeng, motor dan angkotan kota. Dari kaca belakang mobil, kulihat ia rata di aspal berdebu. read more »

(bisa juga dibaca di sini)

BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi.

“Bapak narik taksi, ya? Wah….”

Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan.

Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah.

Bapak menutup warung nasi yang telah dirintisnya enam tahun terakhir. Gara-garanya, enam bulan lalu, adik bungsuku meninggal di sebuah RS Paru-paru. read more »

(bisa juga dibaca di sini)

KETIKA engkau lahir, malam seperti meledak. Engkau, bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangis pertamamu tenggelam oleh suara tangis ketakutan yang lebih kencang di luar sana.

Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung satu-satunya di kampungmu telah digergaji gerombolan pemberontak, membuat dukun beranak dari kampung sebelah tak mungkin mencapai rumahmu. Tapi  seolah bisa kau atasi sendiri titik genting itu. Ada keajaiban yang bekerja dengan sangat baik di malam itu –entah dari mana datangnya– ketika kau mampu mendobrak liang rahim sesaat sebelum ibumu lunglai kehabisan tenaga. read more »

Teman-teman yang gemar membaca cerpen,

Sejumlah cerita pendek yang saya tulis, baik yang ada di buku Makkunrai (Maret,2008) dan Maiasaura (Juni,2008) akan muncul satu-satu di rubrik Oase Kompas.com. Beberapa di antaranya telah ditayangkan di sana dan juga akan saya tayangkan di blog ini. Tapi, ya ada tapinya, berhubung cerita pendek yang saya tulis selalu panjang (3000- 6000 kata) redaktur Oase terkadang memuatnya sebagai “cerita bersambung”.

Terima kasih atas apresiasinya untuk cerita-cerita yang saya tulis.

Salam,

~Ly~

I gave a birth to a million question marks
the ocean sky sent down its rotten stars
midwives on the bedside spinning their heads
sinner, sinner they exchanged roars

to the wall, to the window, to the newborn babe,
the flame of veracity licked its own greenish smoke

the white-pearl milk as pure as my breast
dissolute my redden tears and sweat
no cradle, no lullabies, but hasty beat
no green home, no blue room, but a yellow cold miserable crest

drink my pain, drink me, drink me
you the seed i planted with dare
from the sweetest sin you grew
my apology to name you: an uninvited creature

holy hands will raise you, tomorrow they come
in this box i leave you a gloomy fairy tale:
you were born from a bamboo tree

Tokyo Sept 27/21:51 pm
Ly

*a note for underage mothers who leave their unwanted babies into “baby deposit box” in Japanese hospitals.

“Maaf boleh numpang tanya,.. apa yang Anda lakukan di sini? Menunggui padi matang, ya?” seorang pendatang bertanya padaku.

“Di dangau kau akan mendapati suasana di mana seolah waktu tercerabut dari dimensi ruang. Bila engkau membawa seribu persoalan sekalipun ke dangau, maka ribuan bulir padi bersedia menyerapnya. Boneka sawah mengusir pipit, juga mengusir segala persoalanmu. Segenap kenangan yang engkau nikmati terhampar dengan gradasi kuning hijau, lengkap dengan segala alurnya seperti pematang yang saling sejajar kemudian bersilangan di titik tertentu. Dangau adalah tempat yang membuatmu lupa pulang …”

Ia pasti bingung mendengar ceracauku. Biar saja, orang Jakarta memang perlu dibuat bingung! read more »