<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lily Yulianti Farid &#187; Creative Writing Projects</title>
	<atom:link href="http://lilyyuliantifarid.com/category/creative-writing-projects/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lilyyuliantifarid.com</link>
	<description>Small Notes of Ly</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Oct 2009 09:24:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pacar Untuk Moel</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/pacar-untuk-moel-71.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/pacar-untuk-moel-71.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 09:24:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[“Carikan aku pacar, dong!” “Tak mungkin, Moel! Kamu ada-ada saja!” Moel merengut. Ia bergayut di ventilasi jendela. Urat-uratnya yang menegang terukir jelas di sepanjang lengannya yang kurus. Moel memang selalu begitu bila ngambek, berayun-ayun di ventilasi jendela kamar dan mengancam tidak akan berhenti sebelum permintaannya dikabulkan. “Jangan begitu, Moel!” Karya mencoba membujuknya. “Ayolah, please&#8230;.” Keringat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Carikan aku pacar, dong!”</p>
<p>“Tak mungkin, Moel! Kamu ada-ada saja!”</p>
<p>Moel merengut. Ia bergayut di ventilasi jendela. Urat-uratnya yang menegang terukir jelas di sepanjang lengannya yang kurus. Moel memang selalu begitu bila <em>ngambek</em>, berayun-ayun di ventilasi jendela kamar dan mengancam tidak akan berhenti sebelum permintaannya dikabulkan.</p>
<p>“Jangan begitu, Moel!” Karya mencoba membujuknya.</p>
<p>“Ayolah, <em>please&#8230;.</em>”</p>
<p>Keringat dingin Karya mulai mengucur. Moel jarang mengajukan permintaan. Selama ini ia adalah <em>partner</em> yang baik dan penurut. Tak banyak tuntutan. Tapi karya hapal betul sifatnya, sekali ia mengajukan permintaan, maka ia akan berjuang terus agar permintaannya dikabulkan.</p>
<p>“Moel!!!!” Karya berteriak keras sekali.<span id="more-71"></span></p>
<p>Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia terbangun dengan perasaan tak nyaman. <em>Migrain </em>membuat kepalanya berdenyut-denyut seakan ingin meledak. Sial! Moel telah <em>pergi</em> dan membuatku terbangun tengah malam, umpatnya. Pukul satu lewat enam menit. Daun jendela kamar terbuka lebar. Angin malam yang bertiup membuat suasana makin dingin. Moel betul-betul kurang ajar! Kenapa ia harus <em>datang</em> tengah malam dan merengek dicarikan pacar? Laki-laki bertubuh kecil itu memang semakin bertingkah sejak namanya mulai dikenal orang.</p>
<p>“Moel, Moel, kamu seharusnya tahu, kehadiran seorang pacar hanya akan membuat semuanya berantakan. Berantakan, Moel!” Karya mulai bicara di depan cermin. Bicara dengan bayangannya. “Perempuan hanya akan membuat dunia kita semakin luluh lantak, Moel, percayalah!”</p>
<p>“Tapi aku butuh pacar, Karya!” Tiba-tiba Moel <em>muncul</em> lagi. Ia duduk di bingkai jendela sambil bertopang dagu.</p>
<p>“Kamu <em>edan</em>, Moel!”</p>
<p>“Aku butuh seseorang yang memperhatikanku. Seseorang yang menghiburku di kala sedih, yang menentramkanku di kala gelisah. Ini bukan mengada-ada. Ini kebutuhan. Pokoknya aku butuh pacar!” Moel semakin menjadi-jadi.</p>
<p>Karya meraih kacamata di atas meja gambarnya. Lewat sepasang lensa yang berbingkai tebal itu ia memelototi Moel yang masih bertopang dagu di bingkai jendela. “Lalu di mana kita akan mencari perempuan semacam itu?” ia mencoba merendahkan suaranya yang seakan hendak tersembur keluar lewat kerongkongannya.</p>
<p>Moel mengangkat bahu. “Itu urusanmu. Yang jelas, episode minggu depan aku sudah punya pacar. Tak perlu cantik, yang penting mau mengerti pilihan hidupku dan tidak mata duitan!”</p>
<p>Karya masih ingin mengomel panjang. Moel telah <em>meloncat</em> keluar. Angin malam bertiup semakin keras, mempermainkan daun jendela kamar. Karya terpaku sendirian di bingkai jendela yang telah kosong. Ini pertanda buruk, ini pasti pertanda buruk! Ia bergumam sendiri sambil mengelilingi kamar tidurnya. Moel yang <em>bertingkah</em> dan <em>migrain</em> yang semakin menjadi-jadi membuat sisa malamnya seperti lorong gelap dan menyesatkan. Sialan! Ditariknya selimut sampai ke batas leher dan memaksakan matanya terpejam.</p>
<p>***</p>
<p>KEESOKAN paginya Karya terlambat bangun sepuluh menit dari biasanya. Riniwati, sekretaris pribadinya, telah tenggelam dalam tumpukan surat-surat di ruang kerja ketika Karya keluar dari kamarnya.</p>
<p>“Pagi, Pak! Anda terlambat bangun pagi ini?” Riniwati berbasa-basi. Ia tersenyum melihat Karya masih mengenakan piyama yang kusut. Karya yang merasa dirinya diperhatikan tiba-tiba merasa gugup.</p>
<p>“Eh, maaf&#8230;.maaf&#8230;.” Ia menyadari keadaannya. Berantakan. Karya kembali masuk ke dalam kamarnya, lalu muncul lagi dengan keadaan tidak lebih baik.</p>
<p>“Hari ini banyak surat dari penggemar Anda dan ada kiriman tar coklat buat Moel,” jelas Riniwati ketika Karya kembali menemuinya di ruang kerja.</p>
<p>“Juga ada telepon dari <em>Cendikia Pos</em>, gambar Anda untuk edisi minggu depan paling lambat sudah harus masuk besok.”</p>
<p>“Apa jadwal acara saya hari ini?”</p>
<p>“Hari ini Anda akan menerima kedatangan Pak Mulya dan membicarakan rencana penerbitan <em>Moel Mulai Berjuang</em> Jilid 2,” Riniwati menyodorkan buku agenda besar ke hadapan Karya.</p>
<p>“Hanya itu?”</p>
<p>“Yang terjadwal hanya itu. Tapi Anda <em>kan</em> harus menandatangani ratusan foto untuk penggemar dan menyelesaikan episode Moel untuk minggu depan.”</p>
<p>Karya melangkah ke meja gambarnya. Riniwati sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia meninggalkan Karya sendirian di ruang kerja.</p>
<p>***</p>
<p>“Mana pacarku?” Moel <em>muncul</em> lagi. Ia duduk di tepi meja gambar. Kakinya diayun-ayunkan ke muka belakang, seperti anak kecil yang sedang merajuk.</p>
<p>“Aku tidak mengerti kamu akhir-akhir ini, Moel. Biasanya, pada saat-saat aku <em>membutuhkanmu</em>, kamu tidak banyak tingkah. Tapi sekarang&#8230;.” Karya mulai gugup. Kacamata tebalnya melorot, meluncur dan berhenti di kedua sayap hidungnya. “Ka&#8230;.ka&#8230;mu&#8230;aneh&#8230;.”</p>
<p>“Dengar, aku hanya minta kamu <em>menghadirkan</em> seorang pacar untukku mulai episode minggu depan. Hanya itu. Apakah pembaca akan protes atau tidak, itu urusanmu. Kamu jangan terlalu egois, Karya. Kamu terkenal karena aku. Kamu banyak uang karena aku. Kamu dipuja banyak orang juga  karena aku. Kamu punya rumah, punya mobil, punya sekrertaris yang cuma kamu tugaskan nonton sinetron juga karena aku. Nah, tolong juga perhatikan keinginan-keinginanku!”</p>
<p>Karya terdiam. Ia mulai menggambari kertas kosong di hadapannya. “Okey. Kita <em>mulai</em> <em>bekerja</em> sekarang.”</p>
<p>Moel tersenyum penuh kemenangan. Dengan sigap ia <em>masuk</em> ke dalam tubuh Karya. Mereka mulai <em>bekerja sama</em> menggarap cerita untuk minggu depan. “Pacar kamu kita beri nama Donna Wangi,” usul Karya sekenanya. Moel tidak protes.</p>
<p>***</p>
<p>Sebagai tokoh kartun di harian <em>Cendikia Pos</em> Moel memang dipuja dan selalu dinanti-nanti kehadirannya oleh jutaan pembaca. Tokoh ciptaan Karya yang lahir tiga tahun lalu itu sangat dicintai oleh penggemar. Tak heran bila setiap hari ratusan surat mengalir ke alamat Karya, bahkan kadang ada yang mengirim tar coklat, yang digambarkan Karya sebagai makanan favorit Moel. Enam bulan lalu, atas prakarsa pihak penerbit yang mengontrak Karya untuk membukukan ceritanya, dibentuklah MFC (Moel Fans Club). Di luar dugaan, kaos oblong, topi, bros, kaos kaki, tas, gelang, piring, saputangan, dan barang-barang lain yang dijual dengan gambar Moel laku keras. Karya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang begitu tergila-gila pada Moel.</p>
<p>Tapi tak ada yang tahu, proses <em>lahirnya</em> Moel adalah suatu keajaiban yang belum bisa dimengerti oleh Karya sampai saat ini. Mereka <em>bertemu</em> secara tidak sengaja di jendela kamar Karya. Moel tiba-tiba <em>muncul</em> dan duduk di bingkai jendela ketika Karya sedang melamun. Mulanya, Karya pikir, Moel adalah sejenis tuyul. Tubuhnya yang kurus ceking dengan kepala yang nyaris botak, licin dan <em>peyang</em> memperkuat dugaannya. Mereka berkenalan, saling menyebut nama. Lalu, Moel <em>pergi</em> begitu saja.</p>
<p>Keesokan harinya Karya merasakan ada <em>sesuatu</em> yang menuntunnya untuk menggambarkan wajah Moel di kertas putih. <em>Sesuatu</em> itu juga menghadirkan rasa sakit yang tidak <em>ketulungan</em> di bagian dada dan kerongkongannya saat berkonsentrasi menyelesaikan gambarnya.</p>
<p>“Aduh&#8230;tolong! Dadaku sesak! Tolong&#8230;kerongkonganku gatal!” Karya berteriak tak karuan saat mencapai klimaks cerita yang digambarnya.</p>
<p>“Ayolah, teruskan&#8230;<em>melahirkan</em> kebenaran memang selalu menyakitkan, tahan saja, ayo teruskan&#8230;!” Moel tiba-tiba muncul di sampingnya, memompakan semangat.</p>
<p>Dua jam kemudian Karya sendiri tidak percaya kalau telah menyelesaikan sebuah cerita bergambar tentang penggusuran tanah dengan tokoh utama <em>mahluk</em> yang dikenalnya semalam.</p>
<p>Hari-hari selanjutnya adalah keajaiban-keajaiban baru. Moel diterima di <em>Cendikia Pos</em> tanpa banyak hambatan. Padahal, dulunya gambar Karya selalu ditolak di mana-mana, bahkan di penerbit buku TTS murahan sekali pun.</p>
<p>“Moel menjadi wakil ketakutan kita, wakil jutaan mulut yang tidak bisa mengemukakan kebenaran. Dia adalah pahlawan kita!” komentar salah seorang pengamat sosial politik pada saat Moel ramai dibicarakan orang.</p>
<p>“Banyak orang yang merasa bahwa Moel adalah keberanian yang telah lama hilang dalam diri mereka,” komentar pakar yang lain.</p>
<p>Karya hanya mengangguk-angguk mendengar semua pendapat yang dilontarkan. Sekali-kali ia kelihatan gugup, kacamata tebalnya melorot, bila ada yang menanyakan proses kreatifnya menciptakan Moel dan menulis cerita yang begitu bagus. “Moel sepertinya hidup di tengah-tengah kita ya, Bung Karya?” ujar seorang penggemar fanatik.</p>
<p>“Ya..ya.. ia memang ada&#8230;” Karya menujukan pernyataan itu untuk dirinya sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>“SELAMAT pagi, Pak! Sampai detik ini sudah 67 telepon yang saya terima. Semuanya protes terhadap episode <em>Pacar untuk Moel</em>. Surat-surat yang masuk hari ini juga isinya sama,” Riniwati menyodorkan catatannya ke hadapan Karya. Ia menggigit-gigit pulpennya. Ia kelihatan gelisah dan tegang.</p>
<p>Tanpa memberi komentar Karya duduk di belakang meja kerjanya. “Tinggalkan saja catatan itu di sini. Semua telepon atau tamu yang ingin ketemu saya tunda saja sampai besok.”</p>
<p>Detik berikutnya Riniwati telah melesat keluar. Samar-samar terdengar suara televisi dihidupkan dari ruang tengah, sebuah lagu tema sinetron lagu<em> </em>mengalun menembus dinding ruang kerja Karya.</p>
<p>“Apa kataku, kamu hanya menggaji sekertarismu untuk menonton tivi kan?” Moel tiba-tiba telah duduk diatas meja Karya. “Ganti saja sekertarismu itu! Kalau perlu&#8230;.”</p>
<p>“Moel! Kita sedang dalam kesulitan. Berhenti  mengoceh tak karuan!” sergah Karya agak kesal. “Semua orang protes kamu punya pacar. Pagi ini sudah banyak telepon yang masuk, semua mencerca episode percintaanmu dengan Donna Wangi. Redakturnya bilang, kalau untuk drama percintaan, orang cukup nonton televisi saja. Belum lagi para penggemarmu, mereka menyesalkan kamu punya pacar!”</p>
<p>Moel ternganga. Ia loncat dari meja tempatnya duduk, lalu mondar-mandir di depan Karya. Kedua tangannya disatukan di belakang punggung.</p>
<p>“Padahal aku datang pagi ini sebenarnya ingin berterima kasih karena kamu telah menghadirkan Donna Wangi. Aku menyukainya. Asyik sekali jalan-jalan berdua, makan malam, <em>ngedate</em>&#8230; Aku benar-benar jatuh cinta pada Donna Wangi. Aku pikir, barangkali tidak lama lagi aku ingin melamarnya, menikah, punya dua atau tiga orang anak, mencicil rumah sederhana, mencicil sebuah mobil bekas,&#8230;..”</p>
<p>“Stop Moel! Hentikan omong kosong itu. Kamu jangan sekali-kali berpikir seperti itu. Aku sudah tidak menghadirkan Donna Wangi minggu depan. <em>Back to business</em>, Moel! Masih banyak yang harus kamu kerjakan. Masih banyak cerita tentang perjuanganmu yang belum selesai kita garap. Kita <em>kan</em> sudah sepakat memulai episode <em>Demonstrasi di Musim Bunga</em>, aku juga sudah menandatangani kontrak penerbitan buku serialmu yang baru. Kalau kamu bertingkah macam-macam aku tidak bisa berkarya apa-apa. aku <em>mandeg</em> tanpa kamu, Moel. <em>Please </em>Moel&#8230;” Karya memelas. Keringatnya mulai mengucur deras.</p>
<p>Moel masih mondar-mandir. Sekali-kali wajahnya ditekuk. “Kamu egois! Cuma memikirkan dirimu sendiri. Tiga tahun sudah aku membantumu, mengikuti semua keinginanmu, apa itu tidak cukup?”</p>
<p>“Tapi Moel, penggemarmu masih menanti kehadiranmu, mereka tidak ingin kamu berubah, semua orang sudah menyandarkan harapannya padamu, semua&#8230;.”</p>
<p>“Puiihh!” Moel meludah. “Persetan dengan kamu dan semua orang. Pokoknya aku mau pacaran, mau menikah, mau senang-senang! Kalau aku capek memperjuangkan sesuatu, apa ada yang mau peduli? Orang lain selalu mau jadi penonton. Aku yang dijadikan matador. Kalau aku terluka oleh banteng liar, mereka semua akan pulang dan cukup berkata ‘kasihan’ tanpa mau tahu nasibku selanjutnya. Lalu aku sembuh, bertarung lagi, jadi tontonan lagi, terluka lagi, dilupakan lagi, begitu seterusnya&#8230;. Aku mau berhenti. Berhenti, Karya! B-e-r-h-e-n-t-i!” Moel mendekati jendela, bersiap memanjat bingkainya. Kelihatannya ia hendak <em>pergi</em>.</p>
<p>“Moel, <em>please</em>&#8230;.jangan pergi dulu. Kita bisa atur semuanya, ayolah&#8230;.” Karya mencoba membujuk.</p>
<p>“Kamu cari tokoh lain saja. Aku mau pacaran dengan Donna Wangi dan persetan dengan protes penggemarmu!” Moel telah berdiri di bingkai jendela. “Atau suruh saja penggemar-penggemar sialan itu melanjutkan ceritanya sesuai dengan kehendaknya masing-masing! Adios&#8230;.!” Moel <em>lenyap</em> tiba-tiba.</p>
<p>“Moel, jangan pergi! Moel!!” Karya berteriak sangat keras.</p>
<p>Riniwati muncul di depan pintu. “Ada apa? Ada apa? Anda memanggil saya?” tangannya memegang sebungkus keripik kentang. Mulutnya penuh, kedua pipinya menggembung.</p>
<p>Karya memandangnya bingung. “Tinggalkan aku sendiri&#8230;.,” Ia lunglai di depan meja gambarnya.</p>
<p>*****</p>
<p><strong>Makassar, April 1995.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(cerpen dahulu kala ini ditayangkan di Kompas Minggu Juni 1995, saat masih kuliah di Unhas <img src='http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/pacar-untuk-moel-71.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isteriku yang Terbang</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/isteriku-yang-terbang-67.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/isteriku-yang-terbang-67.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 00:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Kata Ayumi, adalah biasa lakilaki Jepang memukuli kepala isteri dan anaknya. Tapi rasanya sulit mendapatkan bayangan bagaimana adegan itu terjadi pada perempuan itu. Ia memang mungil. Tapi tidakkah segala wawasan dan pengetahuan serta harga diri bisa menuntunnya mengambil keputusan meninggalkan lakilaki brengsek yang mudah menamparnya? “Kau tak paham…tak mudah meninggalkan Takeshi.” Ya. Aku memang tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:DisplayHorizontalDrawingGridEvery>0</w:DisplayHorizontalDrawingGridEvery> <w:DisplayVerticalDrawingGridEvery>2</w:DisplayVerticalDrawingGridEvery> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:SpaceForUL /> <w:BalanceSingleByteDoubleByteWidth /> <w:DoNotLeaveBackslashAlone /> <w:ULTrailSpace /> <w:DoNotExpandShiftReturn /> <w:AdjustLineHeightInTable /> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:UseFELayout /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;
	mso-para-margin:0mm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/wing1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-68" title="wing1" src="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/wing1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kata Ayumi, adalah biasa lakilaki Jepang memukuli kepala isteri dan anaknya. </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tapi rasanya sulit mendapatkan bayangan bagaimana adegan itu terjadi</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> pada perempuan itu</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">. </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ia memang mungil. Tapi tidakkah segala wawasan dan pengetahuan serta harga diri bisa<span> </span>menuntunnya mengambil keputusan meninggalkan lakilaki brengsek yang mudah menamparnya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kau tak paham…tak mudah meninggalkan Takeshi.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ya. Aku memang tak paham.</span><span id="more-67"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">A</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">k</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">u juga berusaha membayangkan bagaimana Paliwal merenung-renung di depan jendela menunggu kabar dari Svida, kekasihnya yang belum jelas rimbanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bagaimana mungkin Paliwal berkhayal tentang Svida yang entah di mana itu, tiba-tiba saja datang di hadapannya. Bagaimana mungkin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kau tak mengerti. Selalu ada keajaiban.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ya. Aku memang tak mengerti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ayumi dan Paliwal baru saja menyelesaikan keluh kesahnya. Aku berusaha menunjukkan empati yang dalam, seperti biasanya. Aku ingin menghibur</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kutraktir</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> mereka di café <em>Lonely Heart</em></span><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">s</span></em><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> Ayumi memilih <em>mo</em></span><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ch</span></em><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">a-latte</span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">, Paliwal memilih <em>long-black</em>, dan aku tetap setia dengan secangkir teh panas beraroma <em>mint</em> . Di sekitar kami terdengar musik yang menurut pelayan diambil dari seri <em>the Healing Music –</em>musik yang katanya bisa menyembuhkan luka hati. Suara biola ditimpal denting harpa<span> </span>mengalun menyayat-nyayat, seperti pisau tajam yang mengiris-iris langit di atas kepala kami.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">K</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">eluh kesah Ayumi </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span>dan </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Paliwal</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> menyusup ke saluran telinga</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">, </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">sementara bayangan Maila menyala di kepala. B</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ukan sekadar </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">meng</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ingat</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">nya</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">. Aku </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">merindukannya.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sangat rindu. </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di mana ia sekarang? Tengah bergabung dengan tim kemanusiaan di Darfur? Atau telah terbang ke Johannesburg menemui seorang pengusaha teman lamanya yang bersedia menjadi donatur kegiatan kemanusiaan yang tengah dijalankannya? Sebentar lagi aku akan tahu jawabannya. Sebentar lagi…ia pasti berkirim kabar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Inilah kami sore ini. Tiga kandidat doktor dari tiga negara dengan tiga kekasih yang menjadi sumbu cerita dari waktu ke waktu. Di kelas dan diskusi, kami tiga mahluk intelektual dengan logika dan argumen terbaik. Di meja kafe langganan ini, kami tiga manusia tolol penuh keluh kesah.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Telepon di dalam kantong kemejaku berdering</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Maila! A</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ku tahu itu pasti dari Maila. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“</span></em><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Honey</span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">, pernah dengar nama Tarja Halonen</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">?”</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">S</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">uara dari seberang itu lembut,<span> </span>tapi </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">mendarat</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">di kesadaranku </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">seperti gemuruh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Selalu seperti itu, dan gemuruh itu akan dengan cepat merambat ke dada. <em>Maila, tidakkah kau tahu suaramu selalu membuat dadaku berdegup?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku menggeleng. Maila mengulang pertanyaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tarja Halonen? Pernah dengan namanya? <em>Honey</em>…jangan hanya menggeleng atau mengangguk, aku tidak bisa melihatmu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Maaf. Hmmm namanya kedengaran aneh…aku tidak tahu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Honey</span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">…dia presiden<span> </span>Finlandia…… Dia pre-si-den….dan aku akan mempresentasikan program kerja kemanusiaan di wilayah konflik di hadapannya, minggu depan…..di hadapan presiden Finlandia itu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku melirik Ayumi dan Paliwal yang duduk di sebelahku, lalu dengan isyarat tubuh mohon diri sejenak agar leluasa berbicara dengan Maila. Keduanya mengangguk paham.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku mendengarkan kabar dari Maila. Aku menyimak kalimat-kalimatnya dan tidak ingin memotong ceritanya tentang anak-anak dan ibu-ibu yang kelaparan di tenda-tenda penampungan di luar kota Darfur. Kemarin ia terbang ke Johannesburg untuk penggalangan dana. Ia pun bersemangat bercerita tentang rencana perjalanan menemui Presiden Tarja Halonen.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kata-katanya seperti gemuruh dan halilintar yang saling bersusulan. Aku menjadi galau. Mungkin ini kegalauan sekaligus kerinduan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hati-hati, sayang….jangan terlalu capek..<em>I miss you</em></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.”</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hanya itu yang aku ucapkan. Hanya itu. Percakapan pun usai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku tahu Ayumi dan Paliwal sudah siap dengan setidaknya dua atau tiga pertanyaan tentang Maila, ketika aku kembali ke dalam Café menemui mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Pertanyaan pertama: Itu tadi telepon dari Maila? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">M</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ereka bertanya hampir bersamaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ya…Maila titip salam buat kalian. Dia baru saja meninggalkan Darfur…dia baik-baik saja….<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Pertanyaan kedua: Kapan ia akan kembali? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">K</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ali ini Paliwal yang bertanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku mengangkat bahu. Aku lupa menanyakannya</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">, kataku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Pertanyaan ketiga: <em>Well</em>, Maila, <em>the flying wife</em>…., tidakkah kamu kesepian dengan <em>the flying wife</em> seperti itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ini pertanyaan yang terlontar dari mulut Ayumi.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku tidak menjawab pertanyaan</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">nya.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">MAIL</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">A, k</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">apankah ia akan kembali?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ayumi dan Paliwal telah lama pamit ke perpustakaan, tapi pertanyaan mereka </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">terasa mengganggu</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">. Lebih terasa mengganggu dari cericit burung-burung <em>robin</em> yang bergerombol pulang setelah senja. Lebih terasa menganggu dibanding suara caci maki yang keluar dari mulut gerombolan penonton <em>footy</em> yang kalah taruhan yang melintas di depan </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">kafe</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kapan Maila kembali? </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku memanggil pelayan. </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kup</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">esan <em>happy tea</em>. Bukan untuk mengusir dingin udara sore, tapi untuk menemaniku melamunkan Maila. <em>Happy tea</em> tentu tidak membuatku langsung bahagia</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Seperti</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> pelanggan lainnya aku sebenarnya membeli secangkir sugesti </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">dari nama secangkir teh, </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">yang kupercayai</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> dapat menghadirkan rasa</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> bahagia setelah meneguknya. Seperti sugesti lainnya yang membuatku setia antri di </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">kios <em>C</em></span><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">razy </span></em><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">J</span></em><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">uice </span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">setiap habis kuliah untuk memesan <em>anti-stress juice</em> ukuran besar. Setelah meminumnya aku merasa telah menjalankan ritual yang membuatku melakukan upaya mengurangi stress. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku meneguk <em>happy tea</em> dan menggumamkan pertanyaan </span><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">k</span></em><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">apan Maila kembali</span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sebenarnya</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">, apakah</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> yang dimaksud dengan “kembali”? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kembali” untukku ataukah “kembali” ke rumah kami di tanah air, atau “kembali” ke mana? Tidakkah dalam percakapan-percakapan akhir-akhir ini aku tidak pernah menanyakan kapan ia kembali? Kapan terakhir kali aku menanyakan hal itu padanya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Lagipula, pentingkah </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">saat ini </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">aku menanyakan hal itu pada Maila yang setiap kali menelepon terdengar bersemangat bertutur tentang </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">orang malang yang bergelimpangan di kakinya?</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku pernah merasa menjadi laki-laki yang paling tolol di dunia saat menerima teleponnya dari Pakistan. Waktu itu aku betul-betul menyatakan kekhawatiran akan kehilangan dirinya dan memintanya segera kembali ke Melbourne. Ia tengah terlibat penyusunan program baca tulis bagi perempuan di Kabul, Afghanistan, dan menyempatkan diri menelepon sebelum rombongannya bertolak ke Kabul.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Katanya, <em>Honey, I do love you</em>..</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kita percaya kehidupan setelah mati kan? Di surga, kita akan ketemu, kita akan menjadi sepasang suami isteri sejati, yang menghabiskan setiap detik bersama-sama..tidak akan </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ada </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">kata perpisahan…sekejap pun tak ada. Itulah hadiah yang akan diberi Tuhan kepada kita, karena kita telah membaktikan kesempatan hidup di dunia sebaik-baiknya untuk kepentingan umat manusia. <em>I love<span> </span>you</em>, <em>honey. </em>Kalau di Kabul aku kena tembakan roket nyasar, itu artinya aku duluan menunggu<span> </span>kau di surga. <em>I love you</em></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sejak itu, aku tidak pernah lagi menanyakan kapan ia akan kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kau tahu arti peta dunia yang kuminta sebagai hadiah pernikahan. Kau pasti paham.” Kalimat itu milik Maila. Diucapkan ketika ia bersedia menjadi istriku, ikut ke Melbourne, menemaniku belajar untuk beberapa bulan….. dan “Aku ingin melanjutkan tugasku…” ia mengepak koper dan berangkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Serena Hanna Alexeyyef</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">. Professor berkacamata berbingkai merah, dengan sepasang mata penuh rasa penasaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Apa yang membuat anda tertarik belajar jender?</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku merasa bukan hanya </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ia </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">yang menunggu jawabanku, satu-satunya laki-laki yang hadir dalam kuliah <em>Gender Issues in Developing Countries.</em> Dua puluh satu mahasiswi lainnya pun menatap ke arahku. Dari formulir yang telah kuserahkan sebelum kelas dimulai, </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">sang p</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">rofessor tahu </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">bahwa </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">aku seorang kandidat doktor di <em>Melbourne Businees School, </em>dan semata-mata mendaftarkan diri pada mata kuliah ini dengan alasan: “demi lebih memahami para feminis.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“<em>Well</em>,….isteri saya seorang feminis</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> dan pekerja kemanusiaan</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">. Saya ingin memahami dunianya. Ia yang menyarankan menghadiri kuliah ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span>Kelas terdengar bergemuruh dengan berbagai macam komentar. Sekilas aku dengar ada yang mengucapkan kata</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">: </span><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Wonderful</span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">, seandainya suami saya juga ingin melakukan hal yang sama….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Professor Serena Hanna Alexeyyef memulai kuliah</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> Di luar langit pukul lima sore telah gelap. Penjelasan <em>Washington Consensus</em> terasa tidak menjadi menarik di tengah cuaca yang muram seperti ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dari jendela kelas, </span><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">s</span></em><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">outh lawn, </span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">lapangan yang biasanya dipenuhi mahasiswa, terlihat sunyi. Hanya orang-orang bermantel tebal yang terlihat melintas terburu-buru membelah cuaca yang makin gelap.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Maila, Maila seperti apakah langit yang menaungimu, sekarang?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Pernah sekali kau berkata seperti ini untuk mengobati kesepianku, </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“</span><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Honey,</span></em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> banyak hal yang bisa membuat kita tetap merasa dekat. Tidakkah kita masih berada di bawah langit yang sama? Tidakkah kita bisa berangan-angan bahwa meski berjauhan, tapi bila di detik yang sama, kita sama-sama menengadah ke langit, menatap bulan yang sama, mengamati bintang timur yang sama juga. Kalau kau rindu, lihatlah langit dan kabarkan seperti apa langit yang menaungimu saat itu..</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tapi Maila, Maila….menatap langit hanya akan membuatku semakin rindu….</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Coba lihat, Maila… kuikuti saranmu mengikuti kuliah ini. Aku siap mendapatkan olok-olok dari Ayumi dan Paliwal. Apa peduliku? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Oh my God, jadi aku harus ikut kelas domestic violence untuk memahami Takeshi!”<span> </span>Ayumi memang pada akhirnya melontarkan ejekan itu saat kami makan malam bertiga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kau tahu Maila? Aku marah sekali padanya. Sungguh, aku marah sekali!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kau, suami kesepian tapi setia!”<span> </span>Ayumi menunjuk-nunjuk hidungku. Begitu dekat. Ia mabuk dan terus mengulang kata-kata itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku memimpikanmu, Maila. Aku mimpi kau datang mengetuk pintu apartemen dan langsung memelukku. Katamu, kau akan menghabiskan musim semi tahun ini bersamaku, dan men</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">gajak</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> <span> </span>pulang liburan beberapa hari di Jakarta, sambil menjenguk bapak dan ibu. Dalam mimpi itu, aku melihat diriku tersenyum bahagia. Aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku menggendongmu, mengangkat tubuhmu yang mungil, berputar-putar di ruang tengah, hingga kau berteriak-teriak kecil minta diturunkan. Kataku, aku harus bergegas memesan tiket, karena penerbangan Melbourne-Jakarta selalu penuh <span> </span>menjelang akhir tahun. Aku harus bergegas menyiapkan pakaian, menyiapkan kopor. Dan sebelum melakukan semua itu, aku kembali mengangkatmu setinggi mungkin, berputar-putar di ruang tengah untuk meluapkan kegembiraan…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Telepon berdering. Itu pasti Maila, itu pasti <em>my Maila</em>. Aku tak sempat melirik jam di samping tempat tidur. Aku tak tahu jam berapa saat ini. Yang aku tahu, aku baru saja memimpikan Maila dan telepon yang berdering itu harus segera kujawab…Aku tahu Maila akan menelepon…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Maila…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Oh, maaf…ini aku Ayumi……malam ini Takeshi mabuk berat, ia memukul kepalaku dengan patung kayu…..</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">,” ada kesedihan yang menyebar cepat.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bisakah aku numpang tidur di apartemenmu malam ini…?</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Suara Ayumi memecah sunyi, pada saat aku masih sibuk dengan berbagai pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam benakku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ia berdiri di pintu dengan lebam kecil di dahi. Aku menuntunnya masuk ke dalam kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Maaf telah menyusahkanmu…</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> aku tahu kau masih marah…,”</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> suara itu sangat lirih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku menggeleng. </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Tidurlah&#8230;,” kataku sambil m</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">enepuk pelan punggung tangannya. </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku l</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">alu bangkit, mematikan lampu di atas meja kecil di samping tempat tidur, menutup pintu kamar sepelan mungkin, dan melangkah ke ruang tengah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku berbaring di sofa sambil menatap langit-langit. Lalu mataku beralih menatap ruang tengah yang kosong. Aku </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">memikirkan</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> Ayumi yang selalu menanyakan kabar Maila, <em>my flying wife</em>. Ayumi yang kini terbaring lemah <span> </span>di kamar tidurku, sahabat yang senantiasa berwajah sendu, tapi </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">tak henti</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> menggodaku sebagai: suami kesepian tapi setia. Pandanganku lalu beralih menatap televisi yang </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">bisu.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">A</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">ku</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> berkhayal tengah</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> berdiri di depan televisi, </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">dan </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">di ruang yang agak luang di antara meja televisi dan sofa, aku mengangkat tubuh Maila tinggi-tinggi ke udara sambil berputar-putar di ruang tengah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sungguh, aku tidak ingin memejamkan mata. Aku tidak ingin kembali tidur. Karena aku tahu, bila aku tidur, aku akan memimpikan Maila, memimpikan ia datang mengetuk pintu apartemen dan mengajakku pulang ke Jakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku tidak ingin tidur. Aku ingin menjaga Ayumi. </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">harus berjaga-jaga siapa tahu Ayumi terserang trauma dan histeria tahap awal, karena pengalaman kekerasan yang dialaminya tidak akan sembuh secepat pulihnya luka di kepalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dalam keadaan terbaring, dari jendela di belakang televisi, aku melihat langit mulai terang. Angin pagi musim semi</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> yang dingin menerobos </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">masuk <span> </span>melalui celah pintu dan jendela yang setengah terbuka. Bayang-bayang pohon peneduh jalan terlihat bergerak-gerak pelan. Semua terlihat jelas dari tempatku berbaring.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Maila, aku merindukanmu. Aku menatap langit, dan berharap di saat yang sama kau tengah menengadah dan menatap langit. Bukankah, katamu, kita bernaung di bawah langit yang sama? Aku ingin mengabarkan, langit pagi hari yang kupandangi, terlihat bersih dengan warna biru </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">tidak secerah biasanya</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Samar, terdengar suara Ayumi memanggilku… Lirih. Merintih. </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">(*)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;">Melbourne-Tokyo, 2004. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/isteriku-yang-terbang-67.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Kitchen</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/the-kitchen-59.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/the-kitchen-59.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 12:02:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[(published in Words Without Borders, January 2009) http://www.wordswithoutborders.org/?lab=FaridKitchen Ruth loved flour. Mother loved the kitchen. And I loved Ruth and Mother. I grew up at the large kitchen table, watching Ruth sift flour and mix various kinds of dough. I learned to walk while holding on to Mother&#8217;s skirt as she chopped onions, boiled potatoes, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/dapur1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-60" title="dapur1" src="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/dapur1.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>(published in Words Without Borders, January 2009)</span></span></p>
<p><span style="color: #3366ff;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">http://www.wordswithoutborders.org/?lab=FaridKitchen</span></span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Ruth loved flour. Mother loved the kitchen. And I loved Ruth and Mother. I grew up at the large kitchen table, watching Ruth sift flour and mix various kinds of dough. I learned to walk while holding on to Mother&#8217;s skirt as she chopped onions, boiled potatoes, and minced meat.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-family: ＭＳ Ｐゴシック;"><span style="font-size: small;">My mother, a beautiful cheerful woman, always sang in the kitchen, often old songs by Frank Sinatra: <em><span style="font-family: &quot;ＭＳ Ｐゴシック&quot;; mso-bidi-font-family: 'ＭＳ Ｐゴシック';">Fly me to the moon, Let me play among the stars . . . <span id="more-59"></span><!--more--></span></em></span></span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">On Ruth&#8217;s lap, I was coddled on her oil-spotted sarong that always smelled of spices. On Mother&#8217;s lap, I napped on the expanse of her slickly ironed skirt. Sometimes, when I wet myself, Mother would suddenly jump up in horror to find her skirt stained and smelling of urine. But Mother had her own special way of dealing with such events and never made me feel guilty for what I&#8217;d done. &#8220;Such a clever girl,&#8221; she&#8217;d say. &#8220;Just look at the little islands you made!&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">It was Ruth, of course, whose job it was to clean and dry the island creations I left on the mattress, Mother&#8217;s skirts, Ruth&#8217;s sarong, and even the carpet. Years later, when talking to me about my childhood, Ruth spoke in an Ambonese dialect with no less humor than Mother&#8217;s own: &#8220;When you were a little girl, you made an island shaped just like Java!&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Quite likely it was only in Ruth&#8217;s imagination that my urine stains resembled a map of Java. I seriously doubted that Ruth had any idea of what Java looked like. But if her imagination could make us laugh, there was no reason to object.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Ruth, in fact, had something of an obsession with Java which had begun with stories she&#8217;d heard as a young girl from old women in her village—women whose husbands had once served in The Royal Netherlands Indies Army, and who, in the 1940s, throughout the war for independence, had accompanied their husbands from one large city in Java to the next. Even as a girl, Ruth told me, she had dreamed of riding a train in Java.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;Then why, when you left Ambon,&#8221; I asked, &#8220;why didn&#8217;t you go to Java?&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">In our spacious kitchen, Ruth recalled her reasons: &#8220;I always got seasick and the trip to Java took such a long time, I decided it would better to come with my uncle to Makassar, which is much closer.&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">I grew older until finally I reached the age where I was able to help beat the dough, slice the onions, peel the potatoes, and help Mother fill the orders she received for various kinds of cakes and foods. I spent so much of my time with Ruth sifting flour, I fell in love with flour too. I imagined the powdery substance flowing through the sifter to be snow falling on another part of the world—like I had seen in picture books and on television.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;Look, Ruth, this flour is just like snow.&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;And what is &#8216;snow,&#8217; young miss? I don&#8217;t know.&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;You know, Ruth, that soft white stuff like shaved ice in foreign lands.&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Clearly still not understanding, she asked me, &#8220;Is there snow in Java?&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Snow in Java? I laughed out loud. In Ruth&#8217;s imagination, I supposed, Java was the farthest place in the world where everything was to be found. This loyal helpmate, raised on the coast of Ambon town, had been with our family a long time. Her thoughts, her life, even her manners, were simple. All she loved was flour, which, as it danced in the air when falling from sifter to bowl, must have reminded her of the white sands of her hometown— sands that, years later, were stained with the blood of sectarian vengeance, creating a rancid stench that wafted through the coconut-covered island.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Ruth, who had come with her uncle to Makassar, had found a simple form of service: to be my caregiver! Mother met Ruth at the maternity hospital where I was born and where she was working in the nutrition section and the hospital kitchen. Mother offered her the job of caring for me, which she accepted. And then, even after I was out of diapers and able to walk, she decided not to leave me—nor did Mother want her too after the marital storm that shook our home.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">In the late 1990s when unrest broke out in Ambon, with both Christian and Muslim militia forces spreading death and destruction, Ruth, who was getting on in years but still sifting flour in our kitchen, cursed with teary eyes the hateful and abhorrent images of the island on television: &#8220;Why are they killing each other? Why?&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">In sadness and in anger Ruth slammed the bread and doughnut dough as hard as she could against the table. As the days passed and as the destruction in Ambon mounted, the breads Ruth made became more pliable and soft.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;You&#8217;re becoming an expert at making rubber bread,&#8221; Mother commented, describing in simple terms Ruth&#8217;s reaction to her sadness and anger.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">The bread and doughnut dough that Ruth produced in the kitchen while watching the horrible scenes of destruction in Ambon became the most pliable dough she had ever produced. …But don&#8217;t ask about its taste! On the tongue of my imagination, the strawberry jellyrolls that Ruth made had a rancid taste of blood which turned my stomach.</span></span></p>
<p><strong><span style="font-family: &quot;ＭＳ Ｐゴシック&quot;; mso-bidi-font-family: 'ＭＳ Ｐゴシック';" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">*</span></span></strong></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Our kitchen became ever busier. Every day, it seemed, the orders increased, a large portion of them coming from government offices. Apparently, government offices could no longer hold meetings without first having their food paid for by the state, or so it seemed to me. Numerous government officials came to negotiate catering services with my mother.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">The government people would bend over in discussion, look back and forth at each other, and then cough. Sometimes they&#8217;d pretend to be busy punching the keys of their calculators, toting up figures like a grade school child in a mathematics examination, after which they&#8217;d say, &#8220;Gosh, I&#8217;m really sorry, Mrs. Andis, but the budget for our meeting is only five million rupiah. Do you think we could get a discount?&#8221; Or: &#8220;How would this be, Mrs. Andis, if we pay for three months in advance so that this month&#8217;s bill is combined with the budget for the next two months&#8217; meetings? There would be a little advance for you…&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Mother always smiled patiently while dealing with her clients&#8217; requests. She even maintained her calm decorum when one government official came to her and, after clearing his throat loudly, handed her an empty receipt: &#8220;Excuse me, Mrs. Andis, but would you mind not filling in the receipt? Just your signature will do. That will be all right, won&#8217;t it? For our upcoming meetings, we&#8217;ll be sure to order all our food from you.&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Peering through the kitchen window as the man walked away, Ruth shook her head and grumbled: &#8220;Those government guys. The only thing they ever want is a discount.&#8221;</span></span></p>
<p><strong><span style="font-family: &quot;ＭＳ Ｐゴシック&quot;; mso-bidi-font-family: 'ＭＳ Ｐゴシック';" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">*</span></span></strong></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Ruth, Mother, and I immersed ourselves in our work in the kitchen we loved so well. Every day was a new menu. On a daily basis, flour, vegetables, and meat filled our lives. Of late, however, something strange was happening. Why did Mother&#8217;s eyes water when she was dicing shallots? Was she crying? Why did she slap the dough so hard that it made the table shake? Was she angry? Why would she be crying? At whom might she be angry?</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Mother stormed about in the kitchen, making the whole place shake. I thought the ceramic floor tiles might crack beneath her anger. The sound of pots and pans, clanging together, hurt my ears.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Mother&#8217;s catering business was flourishing; our kitchen ever more busy. Why then was she in such a bad mood? The pounding and beating of kitchen utensils made even more of a racket than normal. Both Ruth and I sensed a warning flag.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">There was tension in the kitchen but Ruth and I did not raise our voices. There was too much to do: flour to sift, butter to melt, bars of chocolate to be finely grated, chickens to be fried, and red chilies to be ground. Meanwhile, men in government uniforms kept coming to our home, bringing with them blank receipts, asking for discounts, placing their orders, handing over more blank receipts, placing more orders, and so on, unendingly, like a water wheel.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Ruth and I were capable of filling all the orders that came in and could have just gone on doing our duties, speaking to each other in lowered voices. But now, for some reason, Ruth had lost her initiative, her spirit, and her spontaneity.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">My dark-skinned Ruth with her chiseled features, who had taken care of me since I was a child, chose to bury her head in the flour basin. Only her hands were busy, rubbing the flour between thumb and index finger to test its fineness. The fine white powder would fall freely through Ruth&#8217;s fingers, back to the bottom of the basin.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">For days we watched Mother&#8217;s ever-odder behavior. She still took the orders of the government officials with a blank look instead of a pleasant smile. My beautiful mother, who was usually so cheerful and clever in conversation, had become a roaring lioness, ready to pounce.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">When I greeted her in my standard fashion, singing &#8220;Mother, how are you today?&#8221;—a line I&#8217;d picked up from one of my favorite songs—she shouted at me, &#8220;Don&#8217;t ask! Just take care of the food orders!&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Mother&#8217;s harsh voice made me reel and I retreated hurriedly to the corner of the kitchen, fluttering about like a cockroach hit by bug spray. This was only the second time I had seen such a transformation in Mother. The first had been years ago when she had chased my father from our home after discovering that he had taken another wife. I was quite young at the time, just six years old, and don&#8217;t remember the incident all that clearly. What I do remember is Ruth and me waiting inside the kitchen, with Ruth trying to distract my attention from the loud voices in the living room by feeding me a jarful of chocolates. (I cried and felt hurt and since that time promised myself never to eat another chocolate in my life!)</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">This time the reason for Mother&#8217;s bad temper was obviously something else. And on the fourth day after the kitchen had become a tension-filled battlefield, Ruth finally opened her mouth: &#8220;There&#8217;s a real problem this time…&#8221; she began, as she whispered news of the tempest that was making me shake.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">I would find it difficult to believe anything bad about my mother. She was my mother, after all, and I was proud of her. Also, other than Ruth, she was the only person in the world with whom I could share my feelings. It now seemed, however, that Mother was not always able to share those same feelings with me.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Mother was a beautiful woman who loved our kitchen; who created one dish after another with love and devotion; and who now minced meat, shrimp, and onions as if trying to cut away her very past. It seemed she was in a dark and mysterious cave, emitting no light to reveal what was held inside. Just as she kept her very best recipes to herself, she also locked up her personal life.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;Is it true?&#8221; I asked when Ruth had finished.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">She didn&#8217;t reply.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;Tell me, Ruth. Is it true?&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">The following day I asked Ruth the same question, but once more received no reply. Ruth&#8217;s face was pale as flour.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;Is it true?&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">I wasn&#8217;t going to give up. I peered at her, my face surely as pale as hers.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">In the two kitchen windows where panes of blue sky usually appeared, were now dark and rolling clouds. From the corner of the kitchen a cockroach appeared, bearing bad news. Broccoli, carrots, cabbage, tomatoes, and string beans began to smell and rot. The refrigerators hummed in loneliness. Our beloved kitchen was weary and disheveled, like a lovelorn girl who hadn&#8217;t bathed for days.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">&#8220;Is it true, Ruth?&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Ruth kept sifting the flour and I kept repeating my question until Ruth looked even older, her head almost covered in white hair, as if the basin of flour had been dumped on her head.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">The rumor was that Mother was the mistress of a high government official, that being the reason, of course, she had been awarded contracts for food services. This rumor now hovered in the kitchen air, transforming into oven soot and char, black and disgusting.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">The days when Mother cried while slicing onions and the days when she pounded the dough with anger were the same times when she was weary from bearing those secrets alone. She was exhausted from having to fend off the stories of how she had gotten her contracts after a series of affairs with government officials. Amoeba-like, the rumors spread, faster than light, multiplied. (But who wouldn&#8217;t be entranced by my mother? She was a woman blessed with a natural beauty that did not fade with age; a woman with an aura of enchantment, who took very good care of herself and dressed like Audrey Hepburn—she was forever wearing the kind of dress that the film star wore in <em><span style="font-family: &quot;ＭＳ Ｐゴシック&quot;; mso-bidi-font-family: 'ＭＳ Ｐゴシック';">Breakfast at Tiffany&#8217;s</span></em>.)</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Our kitchen entered a transition period. As the rumors grew more pointed, the atmosphere changed like oil in a wok, bubbling and hot. Yet Ruth remained silent. And I, in the end, finally yielded, stopping my questions, and choosing to follow Ruth&#8217;s example by pounding the bread dough as hard as possible.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">When Mother finally stopped crying, and stopped roaring like a wounded lioness, she invited Ruth and me on a trip around Java. This was a surprise, a kind of therapy for the three of us who had been overtaken by rumors and anger in the kitchen. Ruth was so incredibly happy, she screamed in delight on the plane, as she pointed toward the obscure outline of Java&#8217;s coast: &#8220;What did I tell you, Kalyla, the island&#8217;s shape is just like the piddle you made as a baby! Look!&#8221;</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">That was the last picnic the three of us had together. A few months later, Ruth died suddenly of a heart attack. Mother and I escorted her body back home to her family in Ambon. Ruth, that strong woman who had cared for me tirelessly, was buried not far from the sands of the Ambon coast, a strand as soft and white as the flour she had loved so well.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">As for me, I spent my days trying to guess the secrets of the black soot and char that hovered about my mother&#8217;s eyes. I tried to find a way into my mother&#8217;s secret cave. After Ruth was gone, the beautiful woman who was my mother spent more time conversing with the flowers that she grew than with people.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">In the morning, before the flowers had opened completely, I would watch Mother stroke the leaves of her begonia and chrysanthemums. From the window of my room, I would sometimes see tears fall from my mother&#8217;s eyes onto the leaves. Her teardrops became one with the morning dew.</span></span></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Our kitchen fell quiet. Finally, our kitchen died. All that was left there was me, daydreaming at the large wooden table in the middle of the kitchen, juggling my memories, both the bitter and the sweet. The kitchen wall seemed to be a movie screen on which appeared &#8220;The End.&#8221;</span></span></p>
<p><strong><span style="font-family: &quot;ＭＳ Ｐゴシック&quot;; mso-bidi-font-family: 'ＭＳ Ｐゴシック';" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">*</span></span></strong></p>
<p><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: ＭＳ Ｐゴシック;">Now I too am a caterer who people say is just as beautiful as my mother. What distinguishes us is that I am quick to anger and will not hesitate to spit on a blank receipt that some low-level official tries to hand me or to curse out a high-level official&#8217;s assistant who tries to arrange an assignation with his superior, and will blow up when an official tries to fix prices. I have no smiles for them, not like the ones my mother showed them so many years ago. </span></span></p>
<p><a rel="external" href="http://lilyyuliantifarid.com/wp-admin/browse.phtml?f=download&amp;id=1170314" target="_blank"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/the-kitchen-59.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah di Layar</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/ayah-di-layar-55.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/ayah-di-layar-55.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 11:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[ Tunggulah ayahmu di situ!   Ibu mendudukkanku di depan televisi setelah mandi sore. Ah, seperti janjian saja. Ayah muncul, tampaknya juga baru selesai mandi, ia menyapaku di layar dengan wangi yang menembus kaca televisi. Aku mengendus-endus kaca cembung itu.   Apakah ayah pakai Mandom? Sering aku menebak-nebak. Soalnya ayah muncul setelah tayangan seorang lakilaki duduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><strong><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"></span></span></strong></p>
<p><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span><span style="font-size: small;"><em><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB">Tunggulah ayahmu di situ!</span></em><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Ibu mendudukkanku di depan televisi setelah mandi sore. Ah, seperti janjian saja. Ayah muncul, tampaknya juga baru selesai mandi, ia menyapaku di layar dengan wangi yang menembus kaca televisi. Aku mengendus-endus kaca cembung itu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Apakah ayah pakai <em>Mandom</em>? Sering aku menebak-nebak. Soalnya ayah muncul setelah tayangan seorang lakilaki duduk di depan api unggun, yang mengiklankan minyak rambut dan bergumam “Hmmmm Mandom…”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Di kemudian hari kutahu nama lakilaki itu Charles Bronson. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Tapi ah, bagiku ayah lebih tampan. <span id="more-55"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Saat televisi dimatikan, kupeluk kotak gendut itu. Bagian belakangnya hitam berdebu. Terasa panas. Setelah cukup besar barulah kupaham, barang-barang elektronik menyimpan panas di bagian tertentu saat bekerja memancar-mancarkan sinar atau mengeluarkan energi. Dulu kupikir, ayah menyalakan semacam penghangat ruangan di dalam kotak kaca tempat tinggalnya. Sempat juga kutimbang-timbang, rasa panas itu adalah akumulasi kehangatan yang ditabung ayah untukku dan hendak dijalarkannya sedikit demi sedikit suatu saat kelak. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Anak bodoh! Jangan peluk-peluk bagian belakang televisi itu. Banyak debu! Ayo cuci kaki, sikat gigi dan tidur! </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><em><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Keesokan sorenya Ibu mendudukkanku lagi di depan televisi. <em>Tunggulah ayahmu di situ!</em> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Pernah suatu saat dalam keadaan sangat sedih, kucakar layar kaca itu. Nilai matematika di raporku merah. Ibu mengamuk. Aku ingin mengadu. Kunyalakan televisi. Kuceritakan pada ayah bahwa aku tak suka pelajaran berhitung. Angka tak bisa diajak merangkai-rangkai cerita, Ayah! Aku lebih suka kelak seperti ayah, membaca berita dan mengobrol dengan orang di layar. Tapi ayah muncul membaca berita swasembada pangan dan program keluarga berencana. Ia tak peduli pada rintihanku. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Kumatikan ayah!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Ruang tengah senyap.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Kunyalakan kembali ayah!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Dia bicara tentang hadiah mesin jahit bagi peserta program KB teladan. Ayah ada di tengah sawah melaporkan panen dan keberhasilan KB. Huh!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Kumatikan lagi!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Menyebalkan! Malam ini aku berangkat tidur tanpa memeluk bagian belakang televisi, tempat ayah tinggal. Juga tak berpiyama, tak gosok gigi, tak cuci kaki. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Ibu keluar sejak sore. Dengan siapa? Entah. Ke mana? Entah. Berapa lama? Entah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Rumah ayah bolong. Mungkin digigit tikus. Kulaporkan pada Pak Jun, sang penjaga bioskop. Lakilaki kurus berpipi kempot itu membawa selotip dan gunting berkilat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">“Beres!” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Hm, Pak Jun memang mahluk cerdas. Aku mundur beberapa langkah, menatap seksama. Gigitan tikus tertutup sempurna. Bopeng layar hilang dari pandangan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">“<em>Lakban </em>ini banyak gunanya, Non…!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Aku sayang pada Pak Jun. Pernah kutanya, “Mau jadi ayahku?” Ia cengengesan. Katanya, “Hehehe…ibumu pernah menolak cintaku!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Ia menawarkan jalan keluar. “Ayahmu seperti itu!” ditunjuknya poster film yang berkilau. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB">Ada</span><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"> gambar lakilaki menggendong anak kecil dan perempuan yang melotot galak. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">“Itu Deddy Mizwar. Bintang terkenal. Film Arie Hanggara ini laku keras…!” Pak Jun menunjuk-nunjuk poster film di depan kami. Bioskop milik kakek memang ramai minggu-minggu belakangan ini. Aku menemani Pak Jun duduk di loket karcis. Kulihat ibu-ibu datang menonton, membawa saputangan yang tampak lecek setelah bioskop bubar. Ada yang memaki-maki, ada yang masih tersedu-sedu di pelataran parkir.<span style="mso-spacerun: yes;">   </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">“Kau nontonlah… Film bagus tuh!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Pak Jun mendorongku masuk ke ruang bioskop gelap. Aku bergidik. Ih, betapa kejamnya perempuan yang menjadi ibu tiri di dalam film itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Di libur Lebaran, Pak Jun mendorongku lagi masuk menempati kursi kosong di deretan paling belakang. “Nontonlah. Siapa tahu ada ayah lebih bagus di layar…” Ia mengedipkan mata.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: small;"><em><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB">Yang mana? Yang mana ayahku?</span></em><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Adegan konyol orang-orang tergelincir, mengangkat setrika yang disangka telepon dan kesialan buruk lainnya sepanjang film membuat penonton tertawa. Aku tertawa-tawa juga. Tapi yang mana ayahku? Para pelawak yang kelihatan bodoh itu? Ih ogah…. Aku tak mau! </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Kutemui Pak Jun sebelum film usai. “Yang mana ayahku?” Lakilaki itu cengengesan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">KEPADA semua pacar dan calon pacarku, kuceritakan soal ini. Tentang ayah yang sejak kecil kucari di televisi milik ibu dan juga di layar bioskop milik kakek, sebagaimana yang disarankan Pak Jun, sahabat tuaku. Bagi lakilaki yang bosan mendengar ceritaku, mereka tentu mundur, urung jadi pacarku. Bagi yang bertahan, kuberi peringatan selanjutnya, “Hati-hati, aku obsesif. Sangat obsesif. Kau bisa repot.” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Satu dua orang yang bilang cinta mati padaku menjawab, “Tak apa, Sayang. Aku paham. Betapa sakitnya masa kecil itu. Aku paham kau dihantui pencarian terus menerus…”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Seberapa paham para lakilaki itu? Apa ada yang betul-betul paham? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Di televisi aku pastikan bahwa ayah adalah si pembaca berita, yang berdasi, berjas, dengan rambut disisir licin. Tapi suatu hari ibu bilang, “Ah, bukan….bukan yang itu ayahmu.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Lantas mengapa dulu ibu mendudukkanku di depan kotak kaca itu setiap sore dan menyuruhku menunggu ayah di sana? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">“Ohhhh itu biar kau berhenti rewel!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Desas desus yang menerobos dinding rumah kami bilang ibu berganti-ganti pacar. Ibu bilang, itu omongan orang kurang kerjaan. Jangan didengarkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Aku kecewa. Jadi ayah bukan lakilaki di kotak kaca itu?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">“Hehehe…. Nantilah kau tahu..“ ibu mengedip nakal. Seperti remaja yang ogah memberi tahu siapa kekasihnya </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Setelah agak besar, aku mencari ayah di bioskop. Aku berkhayal ayahku adalah Jacky Chen atau Rambo atau Rocky Balboa atau Dono atau Roy Marten. Hari-hari mencari ayah di layar sebenarnya cukup menyenangkan meski Kakek selalu mendamprat. “Kau masih terlalu kecil ikut nonton! Tak baik anak perempuan nongkrong di bioskop. Berhenti kau bergaul dengan Pak Jun, tukang sobek karcis dan tukang parkir di sana!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Kepada satu dua lakilaki yang mengaku cinta mati padaku itu kupasang lagi papan peringatan, “Aku ini rumit. Menderita kompleks. Kumencari ayah, merindunya, membencinya. Kumenunggu ibu, merindunya, membencinya. Kumengutuk kakek, tua bangka kaya raya tapi keji seperti Firaun.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Hingga tinggallah satu lakilaki yang berkata ia mau mati saja bila kutolak cintanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">“Sungguh, aku paham, sangat paham…. Karena aku pun berjalan jauh mencari ayahku, di dalam lagu, di layar, di film terbaru, di komik dan juga di majalah… ”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Aku menemani perempuan itu melamun di restoran kecil yang hampir bangkrut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Ia terkadang melihat dadaku seperti sebuah lemari. Ia membongkar isinya, mencari-cari sesuatu. Kubiarkan. Aku telah berjanji pada diri sendiri tak akan melarangnya sejak ia bersedia menjadi kekasihku. Ya, ia bersedia kugandeng, meski dengan banyak tanda larang dan tanda peringatan yang dibawanya dalam kisah cinta kami. “Aku rumit, aku rumit… tak mudah dipahami!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Tak apa. Aku yakin bisa menemaninya, meski ikut tersekap dalam benang kusut kehidupannya. Aku terlanjur bertekuk pada matanya yang berkilauan seperti hujan malam ditimpa cahaya lampu jalan. Aku gemetar takluk pada suara geliginya yang gemeretak saat dingin, saat gugup, saat marah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Aku mencintainya. Juga mencoba mencintai perjalanannya mengaduk-aduk apa saja demi mencari lakilaki lain dalam hidupnya, ayah yang dibenci dan dirindunya, ayah yang tumbuh seperti pohon lebat, beranting menjulur-julur, berbuah rasa penasaran semata. Seperti apa rasanya berteduh di bawah ayah? Serindang apa ayah?<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Ia memilin-milin ujung taplak sambil mengulang-ulang pertanyaan itu. Ia menyebut ibunya adalah tanaman kaktus yang tahan didera kemarau panjang. Tapi yang dibayangkannya tentang ayah adalah sebuah<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>pohon besar, lebat, yang rimbun di dalam mimpi dan kesadarannya. “Saking lebatnya, ia terkadang tenggelam dalam teduh bayang-bayangnya sendiri…”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Pernah aku mengajaknya duduk di beranda, menyaksikan petugas pos ronda memukul tiang listrik setiap kali waktu beralih. Lalu kuceritakan tentang rasa kehilangan yang bisa terjadi pada lakilaki dan perempuan. Juga tentang kesalahan yang bisa dilakukan siapa saja dan tak ada kaitannya dengan jenis kelamin. Ia tampak menyusut di dalam gaunnya. Ia menjadi anak kecil yang meringkuk, takut pada malam, pada gelap dan bayang-bayang hitam. Aku menjelma ustas, pendeta, biksu, cerdik cendikia, psikiater, sekaligus pacar yang baik.<span style="mso-spacerun: yes;">   </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">“Lakilaki yang pasti meninggalkan! Lakilaki yang pasti membuat persoalan!”<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>giginya mulai gemeretak menegaskan sikap keras kepalanya. Aku memeluknya, ingin menariknya kembali pada kenyataan bahwa kami sedang di beranda, berdua, dan ia bukan sedang berada dalam pusaran ingatan yang pecah, meledak seperti kembang api cacat, yang sama sekali tak indah, tak dapat dinikmati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Kebencian seperti apa yang disuapkan ibunya sedari kecil? Aku juga punya ibu. Selalu kukatakan padanya, ibuku sama dengan ibunya. Dan aku pun sama dengan dirinya. Ayah juga pergi dari kami, meninggalkan lubang besar di ruang tamu, yang menjadi luka raksasa yang sungguh perih, juga di lain waktu menjadi semacam tempat pembuangan sampah di mana sumpah serapah seluruh keluarga besar kami ditimbun. Tapi ibuku senantiasa berhasil menyulap lubang itu menjadi panggung sandiwara terbaik, ia memasang karpet, memberi lampu hias dan memasang senyum seterang matahari. Dari atas panggung itu ibu berkata, “Kita semua baik-baik saja. Jangan membenci. Sama sekali jangan membenci.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Katanya, “Kau dibesarkan dengan kepura-puraan. Ibumu keliru!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Aku seharusnya marah mendengar ia melecehkan ibu. Tapi rasa cintaku mengalahkan amarah, yang terlontar justru janji, “Sudahlah. Mari kutemani mencari ayahmu! Aku juga mencari ayahku.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Jadi begitulah, ia melamun berlama-lama. Setelah melamun ia membuka dadaku yang selalu dilihatnya seperti lemari, lalu membongkar seluruh isinya. Ia menggerutu mengingat banyak hal yang sulit kurunut keterkaitannya, seperti percabangan labirin yang paling misterius. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">“Kau mencintaiku?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">“Tentu.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">“Sampai kapan?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">“Selamanya”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Ia meludah. “Bohong!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Aku menemani perempuan itu melamun di sebuah restoran yang hampir bangkrut. Kali ini untuk terakhir kalinya. Percintaan kami juga bangkrut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Ia benar, aku tak akan pernah paham. Tak akan pernah tahan. Ia rumit, terlalu rumit, dengan lilitan kenangan tentang ibu yang kaktus dan ayah si pohon rindang yang sebenarnya tak pernah ada, juga dengan cerita-cerita lama dari televisi dan layar bioskop yang dijadikan khayalan, kompas pengembaraan, dan ilusi hingga dewasa, juga dengan anak kecil yang mendesak-desak di dalam kepalanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">“Kau perempuan atau lakilaki sih?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Aku mencatat pernyataannya yang perih itu. Ia membaca kelembutanku sebagai sikap perempuan yang salah tempat. Ia melihatku seperti awan nimbus yang sudah pasti mencurahkan hujan, seperti lakilaki yang pasti akan menelikung suatu hari nanti. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">“Kau pasti akan menjadi jahat suatu hari nanti!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Aku mencatat tuduhannya yang meruntuhkan semua kebajikan yang dibekalkan ibu padaku sedari kecil, tentang manusia yang pada dasarnya berbudi, meski terkadang khilaf.<span style="mso-spacerun: yes;">    </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"><span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">Aku pamit. Perempuan itu menangis. Aku gagal membantunya menerbitkan senyum dalam perjalanannya, seperti ibuku yang memancarkan ketulusan matahari pada senyumnya di atas panggung sandiwara di rumah kami sepeninggal ayah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Televisi baru di rumah kami setipis papan tulis. Digantung seperti lukisan. Pantulan gambarnya tidak cembung menggelembung seperti televisi di masa kecilku. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Kini, ibu sudah sangat <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>tua. Lebih banyak di rumah. Ia kini adalah tanaman kaktus gemuk berkulit keriput, tanpa duri. Ia senang sekali dengan televisi baru itu. Di ruang tengah ibu duduk menatap dinding. Seperti pengunjung museum mengagumi lukisan. Aku juga menua, duduk di sampingnya, menanyakan apakah tak keberatan bila aku yang memegang <em>remote control</em>? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Satu demi satu lakilaki yang pernah singgah dalam kehidupanku muncul di layar, di sela iklan, di sela pidato presiden, menjadi pembaca berita, menjadi ustas, menjadi koruptor yang diborgol, menjadi orang miskin antre minyak tanah, menjadi bintang sinetron. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Mereka lakilaki yang pernah singgah dan menyerah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;">Ibu tertidur di sampingku. Dengkurnya sangat halus, menderum. Ia selalu begitu, tertidur di depan televisi saat aku mengganti-ganti saluran. Aku menjaganya. (*)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB">Tokyo</span><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB">, 21 Desember 2008/13:10 pm.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial; mso-ansi-language: EN-GB;" lang="EN-GB"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"><span style="font-family: Arial;" lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/ayah-di-layar-55.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gurita</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/gurita-54.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/gurita-54.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 11:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota. “Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?” “Ya, membuat film animasi.” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota.   </p>
<p>“Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?”</p>
<p>“Ya, membuat film animasi.”</p>
<p>“Apa? Pasti butuh banyak biaya. Sudah, kau urus saja apotik ini. Ini usaha bagus. Sangat bagus.”</p>
<p>Aku turuti kehendak ibu. Aku ikuti intuisi bisnisnya. Ia menjemputku dengan rencana-rencana baru. Dalam perjalanan ke rumah, kubuang rencana hidupku. Ia tergilas truk gandeng, motor dan angkotan kota. Dari kaca belakang mobil, kulihat ia rata di aspal berdebu. <span id="more-54"></span></p>
<p>Mengurus apotik. Tugasku: mengawasi dua apoteker muda yang kuperhatikan gemar membaca tabloid gosip dan menonton tayangan infotainment bila tak sibuk meracik obat. Pekerjaan yang sebenarnya tak sulit. Aku duduk-duduk saja, melihat mereka bekerja, sesekali membantu menerima resep dan memanggil nama pasien, mengobrol ini itu yang serba remeh temeh, dan yang terpenting, menghitung pemasukan dan pengeluaran harian sebelum apotik tutup. </p>
<p>Mengurus apotik. Rasanya: Huh, membosankan! Membuatku terpenjara. Tapi ibu bilang, keluarga kami dilanda musibah, tak ada orang yang bisa diajak kerja sama. “Coba lihat, orang-orang menjauhi kita setelah ayahmu kena jerat. Siapa yang peduli? Sekarang kita berdua harus berusaha keras memperbaiki nama dan mencari uang. Huh!” (Ibu mengucapkan “Huh” yang selalu lebih keras dari “Huh” milikku).</p>
<p>Beberapa tahun terakhir, kota kami memang penuh papan praktik dokter, apotik dan toko obat. Praktik dokter berkelompok muncul di sana-sini, mengingatkanku pada gerombolan anak muda yang duduk-duduk di ujung lorong sehabis magrib, main gitar dan bersiul menggoda orang lewat. Bedanya, para dokter ini berjubah putih, dan dari tubuh mereka tercium bau parfum bercampur larutan suci hama, penanda betapa terawat, wangi sekaligus sterilnya mereka. Mereka datang dengan mobil mewah, berkumpul sore-sore, mengobati　(tapi lebih sering hanya mendengarkan keluhan pasien lalu menulis resep) hingga tengah malam. Dan, beberapa meter dari praktik dokter itu, pasti ada apotik atau toko obat. </p>
<p>Ibu sigap menangkap peluang. Om Yan, adik ibu, seorang dokter ahli penyakit dalam, punya usaha praktik berkelompok di pusat kota, tak jauh dari rumah jabatan gubernur. Apotik milik ibu ada di dalam gedung gerombolan dokter itu. Di bagian bawah resep obat yang ditulis Om Yan tertera stempel: Diskon 5 persen bila membeli obat di apotik Sriani Farma. Istri Om Yan, seorang dokter ahli kandungan juga membubuhkan stempel yang sama di ujung setiap resep yang ditulisnya, ditambah sedikit variasi: Diskon 10 persen untuk pembelian multivitamin dan susu bagi ibu hamil. Dokter spesialis lainnya, ahli jantung, ahli kulit dan kelamin, dokter anak, ahli tenggorokan, hidung dan telinga memiliki stempel yang sama dengan variasi di sana-sini, dan tentu saja mereka mengucapkan kalimat berpisah yang seragam kepada setiap pasien, yang bunyinya kurang lebih: “Ini resepnya dan bisa ditebus di apotik sebelah.” </p>
<p>Berkat stempel dan anjuran para dokter itulah, apotik kami maju, laris dan sibuk. </p>
<p>Tapi omong-omong, ayah di penjara bagaimana kabarnya? </p>
<p>Ibu menyemburkan puting beliung dari mulut, hidung dan telinganya menjawab pertanyaanku ini. Celaka, aku membuat rumah porak poranda kena hantam amarah ibu. Dua kali kuutarakan keinginan menjenguk ayah, kubayangkan membawa rantang, buah, buku atau majalah, dan bercakap-cakap di bawah pengawasan sipir penjara yang mengisyaratkan minta sogok. Dua kali juga ibu menabur badai kemarahan sambil membawa tanda larang besar. Ibu seperti polisi dengan rambu lalu lintas bulat bergambar wajah ayah yang diberi tanda silang merah. Tak cukup dengan itu, ia juga memasang portal, digembok, lalu dilapisi pagar kawat berduri. Pesannya jelas: aku tidak boleh bicara atau tanya-tanya soal ayah. </p>
<p>Tapi beberapa bulan kemudian ayah mati dan langsung jadi bintang televisi. Beritanya berendengan dengan kabar tentang banjir di Jakarta, kapal sarat muatan yang tenggelam di perairan Sulawesi Barat dan harga BBM yang diturunkan pemerintah. “Katanya ayahmu mati diracun.”　Ibu memberi penekanan pada kata “mu” di belakang kata “ayah”.</p>
<p>Televisi menjelma sosok yang merasa paling mengenal ayah. Dari kotak persegi itu memancar-mancar semua berita tentang ayah. Aku mengutuk benda ini. Di layar muncul acara bertajuk “investigasi korupsi pembangunan pelabuhan dan bandara”.  Ayah hadir dengan berbagai pose dan busana. Berkopiah, berbaju safari, berbaju takwa, berbaju partai, kemeja putih lengan panjang selama sidang serta satu rekaman yang kabur menayangkan ayah menutup wajahnya dari serbuan kamera. Yang terakhir, tentu gambar jasadnya yang disemayamkan di ruang tamu kami dilatari suara yang menyebut angka, nama proyek dan sejumlah nama pejabat.   </p>
<p>Aku jarang bertemu ayah. Terakhir, kira-kira satu setengah tahun lalu saat pamit hendak kuliah di Jakarta, ia mengirim SMS, “Jadi anak baik. Jauhi narkoba. Perusak generasi bangsa.” Hihihi, lucu juga. Di gerbang bandara, pesan “jauhi narkoba” tercantum besar-besar di samping iklan rokok dan telepon seluler. Wah, jangan-jangan ayah sebenarnya sedang di bandara yang sama, barusan mendarat (entah dari kota mana), meluncur ke ruang VIP, yang hanya bisa dilalui presiden, menteri, gubernur dan pejabat tinggi, lalu iseng menyalin isi iklan itu untukku. </p>
<p>Sempat kucoba menelepon ayah. Suara ajudan yang menjawab telepon, membuatku kehilangan selera. “Kata Bapak, nanti ketemu di Jakarta. Beliau sedang mendampingi Pak Menteri.”</p>
<p>Kini ayah mati. Aku berusaha keras mengingat-ingat kenangan paling gres tentangnya. Yang paling baru, ya pesan SMS itu. Ah, kenapa ibu melarangku ke penjara? Kusesali ibu, si polisi yang gemar memasang tanda larang itu membuatku sia-sia mengais-ngais lubang kenangan tentang ayah, yang sebenarnya hampa. </p>
<p>Kami berduka. Dokter-dokter dari praktik berkelompok milik Om Yan memesan bunga duka cita yang sangat besar, mengalahkan deretan karangan bunga lainnya. Ibu menyembunyikan wajahnya di balik kaca mata hitam yang sangat besar, yang tidak hanya menutupi matanya, tapi juga sebagian pipinya. Dior. Inisial huruf “D” berkilau-kilau di dua gagang kaca mata itu. Pelayat yang memberi ciuman pipi pasti merasakan bingkai dingin kacamata hitam ibu itu menempel di kulit mereka. Ibu menerima ciuman, pelukan, jabat erat, dan kata-kata baik yang dari mulut ratusan orang. Aku berdiri di sampingnya, mengenakan gaun hitam terusan hingga mata kaki yang berbau kapur barus. Koleksi lama dari lemari ibu. Yves Saint Laurent. Inisial “YSL” menonjol di dua kancing emas di ujung lengan baju yang agak kedodoran di tubuhku.     </p>
<p>Jasad ayah datang seusai magrib, disambut listrik yang byar pet, byar pet, berpijar sebentar menimbulkan harapan lalu selebihnya hitam. Aku ingat sekali peristiwa itu: ayah, si Riang, kucing kami dan listrik, ketiganya mati bersamaan. Aku mendengar tetangga berteriak marah mengutuki pemadaman bergilir dan krisis listrik. Mereka seakan memasang petasan injak di lidah mereka. Bukan main bisingnya bila mereka menyalak. “Masak kompleks kelas atas di kota ini juga kena pemadaman bergilir? Yang benar saja. Anjing!!” Pak Jaropi, tetangga kami, seorang pensiunan jenderal mencak-mencak di halaman depan. </p>
<p>Kami berduka di rumah yang kacau balau. Jenazah ayah terbaring dalam gelap, , tampak remang-remang. Orang-orang sibuk mencari lilin atau lampu darurat (“Kenapa tidak ada lilin? Kalau lampu berbaterei? Hah? Tidak ada juga? Ya, tidak adalah, kan kompleks ini jarang mati lampu. Bodoh!)</p>
<p>Para pelayat berbaju hitam tampak semakin hitam. Dalam gelap, hanya kilau gelang, cincin, anting perempuan-perempuan wangi teman arisan ibu serta pajangan kristal di ruang tamu yang berkerjap seperti lentera-lentera kecil. </p>
<p>Aku melirik ke halaman belakang. Ternyata, diam-diam Mak Tun mengubur Si Riang, di sana. Kucing itu mati tergilas mobil sore tadi. Beruntung ia menjalani pemakaman sederhana, berlangsung lancar tanpa huru hara. Setelah Riang dikubur, Mak Tun kembali ke dalam rumah. Ia ikut menggotong ibu yang pingsan lunglai di samping jasad ayah. Makin banyak pelayat datang. Di halaman depan, polisi berkumpul, disusul serombongan wartawan. Gaduh sekali.</p>
<p>Terbujur di sel dengan mulut berbusa. Katanya, almarhum minum Baygon. </p>
<p>Orang-orang berbisik lalu berdoa. </p>
<p>Bukannya diracun?</p>
<p>Ada juga orang-orang yang berdoa dulu, baru berbisik-bisik. </p>
<p>Aku menanam bisik-bisik dan doa-doa itu di dalam dadaku. Membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku teringat pelajaran biologi di SMA, tentang sekresi yang dilakukan organ tubuh manusia. Di tengah kemalangan ini aku mengalami proses sekresi yang sempurna: tangis pada mata, keringat pada telapak tangan dan kaki, air kencing yang membasahi celana dalam. Aku menangis, gemetaran dan pipis sekaligus. Sedih dan takut melihat ayah yang terbujur; panik dan bingung menyaksikan ibu yang setelah menerima kedatangan  pelayat akhirnya pingsan; geram dan ngilu mendengar orang-orang yang berdoa sekaligus berbisik-bisik. </p>
<p>Mak Tun, pembantu setia itu satu-satunya tiang kokoh di rumah ini. Ia memelukku sepanjang prahara. Om Yan, dokter yang baik itu memesan ambulans. Mungkin khawatir, aku atau ibu memerlukannya. </p>
<p>Listrik menyala, ibu siuman. Doa-doa berdengung lagi. Lalu bisik-bisik lagi. Ibu pingsan lagi. Wajah-wajah pelayat yang tadi gelap dan samar, kini berpijar seperti bulan, bibir-bibir mereka komat kamit, mengulum doa dan bisik-bisik. Aku yang entah kenapa merasa lebih kuat dan tabah dari ibu, bermaksud memapah tubuh perempuan yang doyong itu. Sial. Ujung gaunku yang kedodoran terinjak, membuatku tersandung, jatuh. Aku dan ibu sempoyongan, berhimpit seperti roti tangkup di atas jasad ayah. Orang-orang merubung kami. Doa-doa lagi. Bisik-bisik lagi. Semakin gaduh. Lalu gelap.  </p>
<p>***<br />
Judul film animasi pertamaku adalah Gurita. Baru sebatas rencana. Berkelebat di kepala. Aku ingin bercerita tentang gurita berkepala perempuan. Wajah, perangai dan segala tindak tanduknya mirip ibu. Mungkin kunamakan ia Bu Gur. Atau Bu Rita. </p>
<p>Kusampaikan rencana melanjutkan kuliah. Kupikir, ini saat yang tepat. Semua sudah tampak baik. Ayah mati di penjara. Kami menangis, malu, bingung dan akhirnya pingsan. Berminggu-minggu, hanya Mak Tun yang menjadi tiang kokoh yang menyokong kami berdua. Aku percaya, setidaknya ada dua atau tiga malaikat yang bersemayam di dalam tubuh pembantu tua itu. Ia yang menolong ibu bangun, hingga kuat dan percaya diri membuka pintu dan bertemu kenyataan di jalan. Setelah ibu menolak permohonan otopsi jenazah ayah dan tak ingin memperpanjang dugaan siapa yang meracunnya atau apa yang mendorongnya minum Baygon, kehidupan kami tidak lagi diguncang berbagai kabar buruk. </p>
<p>Ibu bangkit. Ibu telah kembali! </p>
<p>Menjual obat, menjual obat, menjual obat. Memperluas usaha, memperluas usaha, memperluas usaha. Tiga kali sehari aku bertemu mantra ini. Saat sarapan, makan siang di apotik dan sebelum tidur. Tukang mantranya adalah ibuku, perempuan perkasa itu. </p>
<p>Inilah kesimpulan baru dalam perjalanan hidupku: ibu jadi matahari, jadi bulan, jadi tukang mantra, jadi perempuan terhebat dalam kehidupanku.</p>
<p>Di suatu pagi yang tak terlalu cerah, kubilang pada ibu ingin kuliah lagi, ingin membuat film animasi. Wajah ibu langsung sekusut sutra yang diremas penuh amarah. Pertama, ia menyemprotkan puting beliung dan memaki-maki rencanaku. Kedua, ia mengenakan seragam polisi, langsung memasang rambu peringatan besar-besar: Dilarang melanjutkan kuliah ke Jakarta. Di sana ada gambar gedung kuliahku dengan tanda silang merah besar. Lalu rambu berikutnya: Jangan Berpikir Macam-macam. Apalagi berpikir membuat film! Ketiga, tak puas menjadi polisi, ibu berganti busana: stelan perempuan karir dengan jabatan Presiden Direktur Sriani Medika Utama, usaha yang dirintisnya bersama Om Yan. Ia menjabarkan prospek bisnis di depan hidungku. </p>
<p>“Dari jaringan apotik di Makassar, kita akan memperluas usaha pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan di rumah sakit se-Indonesia Timur. Proyek besar ini ada di tangan ibu! Kita akan memasok cairan infus, jarum suntik, obat generik dan segala macam kebutuhan rumah sakit. Ini bisnis luar biasa dan ibu ingin kau membantu membesarkan usaha ini.”  </p>
<p>Aku sebenarnya ingin berterus terang pada ibu, bahwa rencana hidup yang sudah kubuang di jalan saat kembali ke kota ini, ternyata tak mati-mati. Ia bangkit dan menemuiku dalam mimpi. Dari satu malam ke malam berikutnya, aku bermimpi membuat film animasi berjudul Gurita. Ceritanya tentang gurita perempuan yang muncul dari dasar laut, dengan delapan tangannya ia meraup dengan rakus semua kekayaan samudra. Gurita bersekongkol dengan hiu bertaring tajam dan sejumlah ikan ganas, menindas mahluk laut lainnya. Lalu…</p>
<p>“Berhenti melamun, anak bodoh!”</p>
<p>Memperluas usaha, memperluas usaha, memperluas usaha, memperluas usaha, memperluas usaha. (Di pagi nan celaka ini, ibu mengulang mantra itu lima kali. Ia kesal mendengarku berceloteh tentang film animasi yang dianggapnya tak masuk akal.)</p>
<p>Ah aku perlu merevisi kesimpulanku: Ibu jadi matahari, jadi bulan, jadi tukang mantra, jadi perempuan terhebat dan tentu saja menjadi polisi yang melarangku ini itu! Huh!<br />
***</p>
<p>Di sebuah restoran hotel mewah di Jakarta, ibu menggandengku penuh percaya diri. Agenda kami: menghadiri makan malam dengan Om Jumadil, sepupu ibu yang disebut orang penting di kementrian, bersama sejumlah pejabat lainnya. Agenda khusus ibu: membicarakan tender obat-obatan untuk rumah sakit di Indonesia Timur. Agenda khusus untukku: belajar bisnis dan kenal lebih dekat dengan Om Jumadil itu, yang disebut ibu sebagai orang Makassar yang paling melejit di ibukota saat ini.</p>
<p>“Mereka sudah di lobi. Sebentar lagi ke sini…” </p>
<p>Ibu membetulkan duduk, merapikan ujung gaun, menatapku meminta konfirmasi tentang penampilannya. Ia bekerja keras sejak pagi untuk tampil cantik malam ini. Kuberi anggukan dengan pesan benderang: ia adalah mahluk tercantik sejagat raya, tak terkalahkan, bahkan oleh Miss Universe sekalipun! (Lihatlah, aku kadang bertugas sebagai si cermin ajaib dalam dongeng Putri Salju untuk ibuku tercinta).</p>
<p>“Itu mereka!”</p>
<p>Ibu berdiri dengan gerak seanggun mungkin. Ibu tersenyum dengan tarikan bibir semanis mungkin. Di pintu restoran beberapa orang berjas melambai ke arah kami. </p>
<p>“Yang di depan itu Om Jumadil. Masih ingat kan?” Ibu berbisik. Suaranya lebih mirip wanti-wanti agar aku menyapa lakilaki itu seolah sangat akrab. </p>
<p>Mereka mendekat ke meja kami. Dan kini, di hadapanku hadir seekor hiu besar dan serombongan ikan ganas bertaring tajam lainnya.</p>
<p>Kulirik ibu. Ia menjelma gurita berbulu mata lentik. (*)</p>
<p>Tokyo-Jakarta, Januari 2009.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/gurita-54.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keluarga Pengkhayal</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/keluarga-pengkhayal-53.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/keluarga-pengkhayal-53.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 12:21:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[(bisa juga dibaca di sini) BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi. “Bapak narik taksi, ya? Wah….” Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan. Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah. Bapak menutup warung nasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(bisa juga dibaca di <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/28/04374790/keluarga.pengkhayal">sini</a>)</p>
<p><em>BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi.</em></p>
<p>“Bapak narik taksi, ya? Wah….”</p>
<p>Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan.</p>
<p>Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah.</p>
<p>Bapak menutup warung nasi yang telah dirintisnya enam tahun terakhir. Gara-garanya, enam bulan lalu, adik bungsuku meninggal di sebuah RS Paru-paru.<span id="more-53"></span></p>
<p>Tapi yang mati bukan hanya adikku.  Yang dikubur keesokan harinya bukan hanya jasadnya yang malang itu. Yang menempati kuburan paling dalam adalah hidup kami sekeluarga.</p>
<p>Adik IW bekerja di sebuah kios ayam potong di pasar. Ia bekerja Senin sampai Jumat. Dari pagi hingga petang. Ia kadang diminta pemilik kios mendatangi peternakan di luar kota untuk mengambil ayam-ayam baru. Sesekali di akhir pekan, adik IW membantu bapak di warung. Di rumah kami tidak ada ayam atau unggas lainnya. Rumah kami sempit, tak ada halaman untuk memiliki hewan peliharaan.</p>
<p>Suatu hari adik IW demam dan sesak napas. Ia dibawa ke rumah sakit. Dua hari kemudian napasnya tidak lagi tersengal, tapi berhenti sama sekali. Ia mati dan masuk televisi. Di hari-hari berikutnya kulihat orang-orang meludah dan menutup hidung bila melintas di depan warung kami.</p>
<p>Bapak murung. Bapak menangis. Tapi kami, anak-anaknya, tidak bisa banyak membantu. Ibu, perempuan tuna rungu yang sabar dan diam, hanya bisa ikut menangis sambil mengeluarkan suara mirip lolongan. Kata adikku, lolongan ibu pertanda kesedihan yang lebih dalam dari sekadar tangis. Sedih yang paling sedih.</p>
<p>Warung nasi harus ditutup. Untuk apa dibuka bila yang datang hanya petugas berbaju putih dan orang-orang yang memanggul kamera,  mengendus dan menyorot setiap sudut warung? Mereka bukannya memesan nasi rawon atau nasi campur.</p>
<p>Kepadaku, anak sulung dalam keluarga yang sehari-hari membantu berjualan, bapak pernah mengajarkan, setidaknya kami harus menjual 20 piring nasi rawon, nasi ayam, atau nasi campur, baru bisa balik modal. Di piring ke- 21 dan seterusnya barulah kami harap-harap cemas menghitung untung.</p>
<p>Ketika bapak menutup warung nasi itu, bukan hanya tenda kusam bertulis “Warung Nasi Dunia. Sedia Nasi Ayam, Nasi Campur, Nasi Rawon” yang terjuntai lesu, diturunkan dari dua tiang penyangga di depan warung.  Kami semua ikut terkulai. Jatuh.</p>
<p>Untunglah sekarang bapak punya semangat baru. Beberapa hari terakhir ini, bapak yang berseragam pengemudi taksi &#8211;kemeja biru muda berlogo dua segitiga merah di sakunya dan celana biru tua &#8212; memberikan harapan baru di rumah kami. Kesegaran semangat yang ditunjukkan di balik seragam itu, persis kesegaran sabun mandi murahan beraroma jeruk yang meruap dari tubuhnya di pagi hari.</p>
<p>Ibu pun tidak lagi menangis dengan suara lolongan aneh. Ibu berkali-kali menganggukkan kepala dan menaikkan jempol tinggi-tinggi: bahasa diam yang melukiskan kegembiraannya. Ibu memuji penampilan bapak.</p>
<p>Kami semua bersikeras melupakan episode kematian adik IW. Aku tahu bapak masih bersedih bila lewat di depan warung. Tapi kesedihan itu tidak lagi mematahkan bapak. Lagi pula untuk apa berpikir membuka kembali warung nasi bila orang terlanjur percaya bahwa nasi ayam yang dijual bapak mengandung virus fllu burung yang mematikan?</p>
<p>Kehidupan kami mulai kembali berjalan seperti biasa. Kedua adikku yang lain, yang terpaksa menunda rencana sekolah, tidak keberatan menunggu tahun ajaran depan.</p>
<p>Rumah kami bersinar lagi. Kami gembira. Meski ada aku, yang menganggur setelah warung nasi tutup.</p>
<p>***</p>
<p><em><strong>KAMI sering duduk di jendela. Bagian depan rumah kami memiliki empat jendela. Untuk menghalau cuaca panas, maka kami bertiga, kakak beradik, selalu membuka jendela dan duduk di atas bingkainya sambil menatap langit. Koran bekas yang dilipat dua kami jadikan kipas.</strong></em></p>
<p>***</p>
<p>KAKAK perempuanku dipinang seorang lakilaki kaya. Entah bagaimana caranya, kakakku yang dulunya hanya tenggelam di dapur warung nasi, akhirnya bertemu seorang pemuda yang tidak perlu terlalu tampan, tapi kaya raya dan baik hati. Entah bagaimana caranya si pemuda itu mampir di warung nasi kami dan memesan seporsi nasi ayam. Tentu kejadian ini harus muncul sebelum kematian adik IW. Lalu entah bagaimana caranya, kakak perempuanku yang wajahnya selalu berminyak karena sepanjang hari menggoreng ayam dan menanak nasi di dapur warung, bertemu pandang dengan lakilaki itu.</p>
<p>Dan simsalabim, mereka saling jatuh cinta, lalu menikah, dan memiliki anak-anak yang lucu.</p>
<p>Kakak perempuanku sangat baik. Di akhir pekan ia bersama suaminya yang tidak terlalu tampan tapi kaya itu, sering menjemput kami untuk diajak berbelanja ke mal. Ibu dan bapak tentu saja diajak pula, meski keduanya mengaku selalu kurang nyaman berada di tempat yang sangat luas, berhawa sejuk, wangi, penuh etalase kaca dan disesaki orang kaya.</p>
<p>Suami kakakku luar biasa baik hatinya. Ia bersedia menyisihkan sebagian kekayaannya untuk menyekolahkan aku ke sekolah kejuruan tata boga, dan kakakku yang satunya lagi dibiayai melanjutkan kuliah ke akademi bahasa asing.</p>
<p>Nasib baik memang datang lewat suami kakakku itu. Ia membiayai renovasi rumah kami, menyiapkan tabungan haji untuk bapak dan ibu, dan bahkan berjanji memberiku modal membuka toko kue bila telah menyelesaikan sekolah.</p>
<p>Kalaupun setelah semua keajaiban ini terjadi, lantas keluarga kami ditimpa musibah, aku pikir kehidupan kami tidak terguncang hebat. Katakanlah, meski meninggalnya adik IW yang diberitakan surat kabar dan televisi sebagai korban flu burung akhirnya membuat bapak terpaksa menutup warung nasinya, toh kami telah memiliki seorang ipar, suami kakak sulungku, yang kaya raya dan baik hati, bukan?</p>
<p>Kami sekeluarga tenang dan aman. Bahagia.</p>
<p>***<br />
<em>CUACA tidak lagi panas. Kami meninggalkan jendela. Saat beranjak meninggalkan jendela di ruang depan, kami melihat ibu duduk menyulam kain serbet makan. Ibu  membubuhkan inisial “WD” di ujung setiap serbet makan bercorak batik itu.</em></p>
<p>“WD”, Warung Dunia. Ibulah yang bertugas membubuhi inisial itu di setiap perlengkapan makan. Mulai dari sendok, garpu piring dan kain serbet. Tapi sekarang untuk apa ibu melakukannya?</p>
<p>Ibu menatap kami, lalu tersenyum dan mengacungkan serbet yang baru selesai disulamnya. Dalam kebisuan, ia menggerakkan kedua telapak tangannya membentuk atap rumah, lalu saling menjauh, menciptakan gerakan terbuka.</p>
<p>Adikku menerjemahkannya. “Kata ibu, nanti kalau Warung Dunia dibuka lagi, ia sudah punya persiapan kain serbet yang baru.”</p>
<p>Ah, ibu menyulam khayalannya.</p>
<p>Adikku mengajakku ke sudut ruang makan. Katanya, “Siang tadi aku mengkhayalkan Kakak menikah dengan seorang lakilaki yang tidak perlu tampan tapi kaya raya dan baik hati&#8230;.”</p>
<p>“O,ya? Aku justru mengkhayalkan bapak bekerja sebagai sopir taksi,” kataku.</p>
<p>Adikku yang satunya lagi berkata, “Oooh..aku sih belum sempat mengkhayalkan apa-apa hari ini. Pikiranku kosong saja mengamati awan yang tak jelas menjelma seperti apa&#8230;.”</p>
<p>Hawa panas berangsur reda. Sore datang dengan ramah. Anak-anak dari lorong-lorong kumuh berhamburan ke jalanan, bermain di bawah cuaca yang tak lagi terik.</p>
<p>Di sudut rumah, bapak bersinglet lusuh. Berpeluh. Ia sibuk menyusun barang dagangan. Besok, kami membantunya mengasong, menjajakan alat tulis, air kemasan, tisu dan permen, di depan stadion olahraga. Ada seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di sana.(*)</p>
<p>Tokyo, 14 Februari 2006 – Februari 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/keluarga-pengkhayal-53.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayahmu Bulan, Engkau Matahari</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/ayahmu-bulan-engkau-matahari-52.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/ayahmu-bulan-engkau-matahari-52.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 12:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[(bisa juga dibaca di sini) KETIKA engkau lahir, malam seperti meledak. Engkau, bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangis pertamamu tenggelam oleh suara tangis ketakutan yang lebih kencang di luar sana. Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(bisa juga dibaca di <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/28/13570489/ayahmu.bulan.engkau.matahari">sini</a>)</p>
<p>KETIKA engkau lahir, malam seperti meledak. Engkau, bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangis pertamamu tenggelam oleh suara tangis ketakutan yang lebih kencang di luar sana.</p>
<p>Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung satu-satunya di kampungmu telah digergaji gerombolan pemberontak, membuat dukun beranak dari kampung sebelah tak mungkin mencapai rumahmu. Tapi  seolah bisa kau atasi sendiri titik genting itu. Ada keajaiban yang bekerja dengan sangat baik di malam itu &#8211;entah dari mana datangnya&#8211; ketika kau mampu mendobrak liang rahim sesaat sebelum ibumu lunglai kehabisan tenaga.<span id="more-52"></span></p>
<p>Nenek di ujung ranjang menyaksikan kelahiranmu dengan mulut ternganga sempurna. Engkau, cucunya, mendesak minta dilahirkan, kepalamu muncul dengan rambut lebat hitam berbalur anyir darah dan air ketuban, disusul sepasang kaki yang menendang liar ke udara, serta sepasang tangan yang bergerak pelan dengan sepuluh jari membuat kepalan mungil.</p>
<p>Sepasang tangan renta nenek menjadi ayunan pertama yang membuaimu. Dada ibu menerimamu hangat, mengajak jantung kecilmu ikut berdegup bersama irama jantung perempuan muda itu. Kau membuka keran air mata ibumu, meminta air susu pertama.</p>
<p>Lengkap sudah, tiga generasi di rumah ini: nenek, ibu dan seorang cucu perempuan.</p>
<p>Tapi malam benar-benar telah meledak. Suara tembakan mendesing di bubungan. Angin malam letih bekerja mendorong peluru-peluru yang disasarkan ke tubuh siapa saja, di jalan-jalan, di parit-parit. Udara menjadi berat, darah muncrat di ujung clurit, di mana-mana ada perangkap dan jerat, yang menganga menanti mangsa.</p>
<p>“Sebentar kupanggil orang-orang untuk menggangkatmu…” Nenek tergopoh mengatur upaya pengungsian, di tengah riuh suara kentongan tanda bahaya, desing tembakan dan suara-suara yang membuat seluruh kampung dipeluk ketakutan. Sebuah bunker di halaman belakang menjadi kamar tidur pertamamu, dipangkuan ibumu yang merintih, di dekapan nenekmu yang terus terjaga mendoakanmu hingga pagi. Kau melewati pagi pertamamu di dunia, dalam keadaan gelap gulita di bawah tanah.</p>
<p>***<br />
<em>AYAHMU berjanji akan memberimu nama. Tapi ia lakilaki yang tak pernah beruntung mendapat kesempatan pulang setelah kerusuhan itu. “Panggil saja dia untuk sementara  Jannah. Ia surga yang sebenar-benarnya,” Nenek mengumumkan sebuah nama sementara kepada orang-orang kampung yang datang satu per satu mendoakan kelahiranmu, dua hari setelah gerombolan pemberontak pergi.</em></p>
<p>Nama sementara itu sebenarnya adalah doa nenek, harapan yang ditanamnya pada matahari dan bulan yang terbit bergantian: bahwa ayahmu akan pulang satu dua hari setelah pertikaian reda. Di kerusuhan-kerusuhan sebelumnya, semua lakilaki pemberani di kampungmu bergerilya di hutan-hutan memasang perangkap atau menyergap musuh. Mereka pulang setelah beberapa hari, demi memastikan bahwa kampung dan hutan di sekelilingnya benar-benar telah bersih dari musuh.</p>
<p>Di rumah panggung nenek yang besar dan kokoh, engkau dipestakan. Seusai salat subuh, orang-orang kampung menyembelih seekor kambing. Lengkingan binatang itu  menyambut kematiannya, menjadi penanda kesyukuran bagi kehidupan yang kelak kau jalani.  Sebuah pesta sederhana yang diliputi rasa was-was, dengan doa-doa yang mendentam, memantul-mantul di tiang-tiang kayu jati berkilat, kemudian ditiupkan ke ubun-ubunmu. Doa-doa yang sebenarnya bisa berubah menjadi semacam tahlilan mengenang ayahmu, yang tak juga kunjung datang memberimu nama.</p>
<p>Akhirnya nama sementara itu kau sandang selamanya. Jannah. Setelah berbulan-bulan berlalu, kekacauan gerombolan pemberontak yang hanya sekejap itu ternyata membawa pergi ayahmu untuk selama-lamanya. Ayahmu, lakilaki yang sederhana itu, akhirnya diabadikan dengan sebuah batu nisan di halaman belakang rumah. Nisan yang di depannya terentang gundukan tanah yang tidak pernah digali untuk menguburkan jasadnya. Satu nisan yang menyimpan cerita kematian yang berbeda-beda.</p>
<p>Pertama, lakilaki harapan seisi rumah panggung itu ditangkap gerombolan, dibawa ke markas mereka dan dibiarkan mati berkalang tanah. Ah, betapa cerobohnya ia kali ini.</p>
<p>Kedua, ayahmu berhasil lolos, tapi di tengah perjalanan pulang, ia mati ditembak tentara republik, yang menyangka ia adalah anggota pemberontak yang tertinggal dari rombongan. Aduh, betapa sialnya menemui ajal di saat ia justru punya firasafat bahwa engkau telah lahir.</p>
<p>Ketiga, ia menemui ajalnya di sungai deras, karena bersikeras menemuimu, mesti jembatan satu-satunya menuju kampungmu berhasil dirobohkan gerombolan. Ia melintasi arus, yang justru menyeretnya makin menjauhi jalan pulang menuju rumahmu. Sungguh, betapa tidak sabarnya ia menyaksikan kehadiranmu.</p>
<p>Apapun versi kematian yang dianggap paling benar, semua cerita berbeda itu bermuara pada satu keyakinan: ayah yang begitu mencintaimu, menanggalkan kewaspadaan dan sikap siaganya yang seharusnya tetap dijaga di hari-hari perlawanan yang melelahkan. Ia menjadi begitu cemas memikirkan kelahiranmu, juga memikirkan ibumu yang tengah mengarungi samudra kesakitan yang tak mungkin pernah dibayangkan para lelaki.</p>
<p>Di dalam gerilya, gemerisik dedaunan hutan dan langkah-langkah gerombolan tak mungkin lagi bisa dibedakan oleh jiwa yang lalai. Hunusan senjata lawan bisa tiba-tiba muncul di ujung tengkuk.</p>
<p>Berbulan-bulan setelah itu kampungmu memang aman. Tentara-tentara republik memburu satu demi satu anggota gerombolan. Tapi di rumahmu, ibumu menjadi lebih lebih banyak diam setelah melahirkanmu. Orang-orang kampung malah percaya, ibumu menjadi bisu setelah kehadiranmu. Ia lebih banyak duduk di beranda, menyusuimu sambil menangis. Adakah kesedihan lebih dalam selain menyadari bahwa ia meratapi suaminya di saat ia melahirkanmu?</p>
<p>Hanya nenek yang tegar mengajarimu tersenyum. Ia mengajakmu memandang bulan dan matahari, kemudian bercerita bahwa seperti dua bola langit itu, kau dan ayahmu tidak pernah bertemu. “Tapi kalian saling mencari, saling merindukan, saling menjaga…”</p>
<p>Dari tahun ke tahun, perempuan tua itu merawatmu dengan cara terbaik yang dipahaminya. Diguntingnya bulumatamu di usia tiga bulan, agar kelak tumbuh lentik. Dimandikannya tubuhmu dengan berbagai rempah dan dedaunan, agar bau tubuhmu hingga dewasa kelak adalah ruah aroma perempuan yang wangi dan terawat.</p>
<p>Belum lagi kau menginjakkan kakimu ke halaman sekolah, kau telah melewati akhir pekan dengan melafal abjad dan angka. Di hari Jumat nenek membawamu ke ibukota kabupaten, meminta tolong kepada seorang biarawati Belanda yang bertugas di gereja Katolik di kota kecil itu untuk mengajarimu baca tulis, melukis, dan bahasa Inggris.</p>
<p>Nenekmu perempuan tangguh dengan selera humor yang baik. “Yang penting, jangan kau ajak cucuku pindah agama..” begitu ia selalu mencandai suster Juliana yang bermata hijau kebiruan itu.</p>
<p>Nenekmu, pengusaha rokok tembakau yang terkenal. Di pekan ketiga setiap bulan ia berangkat ke ibukota provinsi, mengawal kardus-kardus rokok tembakaunya. Sepulangnya dari kota, ia membelikanmu buku-buku terbaik di satu-satunya toko buku yang ada di sana. Dimintanya suster Juliana memperlihatkan kartu-kartu pos berbagai kota dunia kepadamu. Nenekmu ingin, agar imajinasimu terbang menembus awan, menjelajahi samudra dan hinggap di kota-kota terbaik di lima benua, justru di saat kedua kaki kecilmu menjejak tanah kampung yang basah, yang sepanjang jalannya diteduhi pohon asam, dipagari kembang bougenville dan asoka.</p>
<p>***<br />
Ayahmu bulan, engkau matahari. Dua bola langit yang tidak pernah bertemu, tapi saling mencari, saling merindu, saling menjaga…</p>
<p>Pada akhirnya kau tahu, di belahan bumi utara yang kau datangi puluhan tahun kemudian, langit musim dingin memberikan pemandangan yang membuat pernyataan nenekmu terbantahkan: bulan bisa bertemu matahari!</p>
<p>Doa nenekmu yang berhati baja, serta doa ibumu yang bisu, menjelma sayap terbaik bagi dirimu, yang membuatmu terbang dan hinggap ke kota-kota terbaik di lima benua. Kau terbang, hinggap dan terbang lagi,  seperti hendak memastikan bahwa gambar-gambar kartu pos  suster Juliana bukan isapan jempol belaka. Apa yang kemudian kau pahami, bahwa korban perang, orang lapar yang meregang nyawa, yang berserakan di setiap benua, tidak pernah menghiasi kartu-kartu pos itu.</p>
<p>Di kota-kota yang menyajikan musim dingin di penghujung tahun, selalu saja kau dapati<br />
bulan ada di belakangmu, ketika matahari rekah di timur<br />
, meski hangatnya tidak sampai ke pipi dan dahimu. Di gedung tinggi tempatmu bekerja di Jenewa atau di London, bulan memantul-mantul di jendela kaca sebelah timur, sehingga seolah-olah tampak begitu dekat dengan matahari yang menggigil di musim dingin.</p>
<p>Dalam penugasanmu ke tenda-tenda korban gempa di Kashmir, kau menunjuk-nunjuk riang ke arah bulan dan menjulukinya sebagai benda langit yang lupa pulang, di kala langit telah terang. Kau tersenyum senang, ketika bulan memang menjadi “keras kepala” tidak juga mau tenggelam, ketika matahari bersiap menjalankan tugas memancarkan jelujur sinarnya. Kau temui kegirangan yang luar biasa. Di waktu-waktu tertentu di musim dingin.<br />
perasaanmu membuncah, membayangkan bahwa ayahmu, bulan yang lembut keperakan itu, menemuimu, Jannah, sang matahari yang tegar.</p>
<p>Tentu, kau tidak pernah menyalahkan nenekmu. Kau memaklumi saja bahwa perempuan tua itu membayangkan dua bola langit itu bekerja dengan patuh dan memang ditakdirkan tak pernah bertemu. Yang tak pernah berhenti kau syukuri, bahwa ia setia mendongeng tentang ayahmu, lakilaki yang menjelma bulan yang menjaga malam-malammu.</p>
<p>Di terjal pegunungan Kashmir, kau masuki satu demi satu tenda pengungsi. Cuaca dingin terkalahkan oleh kehangatan kenang-kenangan tentang rumah panggung dengan tiang-tiangnya yang kokoh berkilat. Engkau selalu mengenang tiga nisan di halaman belakang, bertulis nama ayah, ibu dan nenekmu. Mereka adalah tempat terbaik bagimu untuk memaknai arti pulang.</p>
<p>Di Kashmir, engkau mengingat cerita nenek tentang gerombolan pemberontak yang beberapa kali mencoba membumihanguskan kampung, di seputar hari kelahiranmu. Desingan senapan di garis perbatasan India-Pakistan, konflik-konflik, besar dan kecil, perampokan di bus, darah di garis perbatasan, pelecehan hingga kerusuhan yang meluas, menjadi pemandangan yang selalu membuat hatimu seperti disiram cuka.</p>
<p>Engkau bayangkan peluru-peluru itu bergerak seolah menjadi penunjuk arah bagi malaikat maut untuk menuju tempat tugas selanjutnya. Engkau bayangkan satu demi satu lakilaki yang terkapar adalah para ayah yang kelak terbang ke langit, menjelma sebagai bulan dalam dongeng-dongeng keluarga yang ditinggalkan.</p>
<p>Di saat benar-benar letih, engkau berpikir bahwa dirimu ditakdirkan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kemalangan ratusan ribu pengungsi. Hanya ransel anti-peluru dan simbol Palang Merah Internasional yang melintang di punggungmu yang menjadi tameng terbaikmu.</p>
<p>“Aku lahir saat sebuah pemberontakan meletus di kampung&#8230; Aku kehilangan ayahku di hari itu…”</p>
<p>Begitulah engkau selalu mengulang-ulang penjelasan kepada banyak pengungsi dari Afrika, Eropa Timur hingga ke Asia Selatan, yang menanyakan, apa gerangan yang membuat seorang perempuan bertubuh mungil dengan mata berbulu lentik sepertimu selalu hadir di antara mereka.</p>
<p>***</p>
<p>“Jannah, apakah kau masih ingin aku melanjutkan cerita ini?”  aku gamang melempar pertanyaan ini.</p>
<p>Aku, yang menceritakan perjalanan hidupmu ini, adalah gadis kecil yang di waktu-waktu tertentu mendesakkan diri keluar dari tubuhmu,</p>
<p>Engkau menggeleng. Pantulan wajahmu di cermin, sudah pasti meniru gerakan kepalamu itu.</p>
<p>“Aku harus bergegas ke bandara. Tak ada pesta ulangtahun. Aku harus terbang ke Darfur…”</p>
<p>Aku mengikutimu, masuk kembali dalam tubuhmu, terserap dalam sel-sel otak di dalam kepalamu, melebur dalam kesadaranmu. Aku gadis kecil yang meringkuk diam dibungkus tubuhmu yang makin matang, yang menumpahkan ruah aroma perempuan yang wangi dan terawat, berkah dari air rempah yang selalu dimandikan nenekmu sejak kecil.</p>
<p>Aku gadis kecil yang kadang-kadang mendesak-desak agar engkau berhenti menangis mengenang ayahmu, memberi waktu untuk diri sendiri, memikirkan hal-hal yang menyenangkan, dan menggelar pesta ulangtahunmu.</p>
<p>“Apakah yang lebih sedih daripada merayakan kelahiran yang juga adalah hari kematian ayah?” kau menghardikku, mendorongku kembali masuk ke dalam tubuhmu.</p>
<p>Di dalam tubuhmu, aku adalah sahabat terbaik yang memahami mengapa engkau selalu menangis melihat pemandangan langit musim dingin yang mempertemukan bulan dan matahari pagi. Di dalam tubuhmu, aku mencatat setiap tangis yang sengaja tak pernah kau usap, di setiap perayaan hari kelahiranmu yang sekaligus adalah hari kematian ayahmu.</p>
<p>Hanya kesepian yang setia mengungkungmu. Tapi aku terkadang protes. Aku ingin engkau menikmati kehidupan. Aku ingin engkau sekali-sekali keluar dari peta konflik. Berhenti mengurus penderitaan orang lain. Mengapa tidak berlibur ke pantai atau gunung, berbelanja di kota-kota dunia, bermanja di spa, manicure, pedicure? Tapi engkau selalu menghardikku. Engkau mematikan keinginan-keinginanku, yang sebenarnya sangat wajar dan dimiliki banyak perempuan manapun di dunia ini.</p>
<p>Namun kau membentakku. Kau katakan, tak pantas memikirkan kesenangan di saat di bagian lagi di dunia ini banyak orang yang mati kelaparan atau tewas percuma dalam konflik.</p>
<p>Aku paham bahwa doa-doa terbaik yang pernah diucapkan nenekmu telah terkabul. Engkau menghabiskan waktu di belahan bumi yang jauh dari kampungmu agar kau lupakan semua cerita sedih kelahiranmu. Engkau tumbuh tegar dan tidak pernah terkalahkan. Kukuh dalam kepungan keterasingan dan rasa sepi. Yang aku tidak paham, mengapa engkau tidak memberi ruang untuk memikirkan diri dan kehidupanmu sendiri?</p>
<p>Kapan engkau akan mendengar keinginanku: gadis kecil di dalam dirimu? (*)<br />
&#8211;untuk ulangtahun ibuku.</p>
<p>Tokyo, 23 Desember 2007/6.00 pm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/ayahmu-bulan-engkau-matahari-52.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita-cerita Ly di Oase Kompas.com</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/cerita-cerita-ly-di-oase-kompascom-44.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/cerita-cerita-ly-di-oase-kompascom-44.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 02:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman yang gemar membaca cerpen, Sejumlah cerita pendek yang saya tulis, baik yang ada di buku Makkunrai (Maret,2008) dan Maiasaura (Juni,2008) akan muncul satu-satu di rubrik Oase Kompas.com. Beberapa di antaranya telah ditayangkan di sana dan juga akan saya tayangkan di blog ini. Tapi, ya ada tapinya, berhubung cerita pendek yang saya tulis selalu panjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/sampul.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-45" title="sampul" src="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/sampul.jpg" alt="" width="94" height="126" /></a>Teman-teman yang gemar membaca cerpen,</p>
<p>Sejumlah cerita pendek yang saya tulis, baik yang ada di buku Makkunrai (Maret,2008) dan Maiasaura (Juni,2008) akan muncul satu-satu di rubrik <a href="http://www.kompas.com/oase/ceritaku">Oase Kompas.com.</a> Beberapa di antaranya telah ditayangkan di sana dan juga akan saya tayangkan di blog ini. Tapi, ya ada tapinya, berhubung cerita pendek yang saya tulis selalu panjang (3000- 6000 kata) redaktur Oase terkadang memuatnya sebagai &#8220;cerita bersambung&#8221;.</p>
<p>Terima kasih atas apresiasinya untuk cerita-cerita yang saya tulis.</p>
<p>Salam,</p>
<p>~Ly~</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/cerita-cerita-ly-di-oase-kompascom-44.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In The Delivery Room</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/in-the-delivery-room-39.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/in-the-delivery-room-39.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 05:29:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[I gave a birth to a million question marks the ocean sky sent down its rotten stars midwives on the bedside spinning their heads sinner, sinner they exchanged roars to the wall, to the window, to the newborn babe, the flame of veracity licked its own greenish smoke the white-pearl milk as pure as my [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I gave a birth to a million question marks<br />
the ocean sky sent down its rotten stars<br />
midwives on the bedside spinning their heads<br />
sinner, sinner they exchanged roars</p>
<p>to the wall, to the window, to the newborn babe,<br />
the flame of veracity licked its own greenish smoke</p>
<p>the white-pearl milk as pure as my breast<br />
dissolute my redden tears  and  sweat<br />
no cradle, no lullabies, but hasty beat<br />
no green home, no blue room, but a yellow cold miserable crest</p>
<p>drink my pain,  drink me, drink me<br />
you the  seed i planted with dare<br />
from the sweetest sin you grew<br />
my apology to name you: an uninvited creature</p>
<p>holy hands will raise you, tomorrow they come<br />
in this box i leave you a gloomy fairy tale:<br />
you were born from a bamboo tree</p>
<p>Tokyo Sept 27/21:51 pm<br />
Ly</p>
<p>*a note for underage mothers who leave their unwanted babies into &#8220;baby deposit box&#8221; in Japanese hospitals.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/in-the-delivery-room-39.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembenci Jakarta</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/pembenci-jakarta-37.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/pembenci-jakarta-37.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 02:54:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[“Maaf boleh numpang tanya,.. apa yang Anda lakukan di sini? Menunggui padi matang, ya?” seorang pendatang bertanya padaku. “Di dangau kau akan mendapati suasana di mana seolah waktu tercerabut dari dimensi ruang. Bila engkau membawa seribu persoalan sekalipun ke dangau, maka ribuan bulir padi bersedia menyerapnya. Boneka sawah mengusir pipit, juga mengusir segala persoalanmu. Segenap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/bundaranhi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-38" title="bundaranhi" src="http://lilyyuliantifarid.com/wordpress/wp-content/uploads/bundaranhi.jpg" alt="" width="200" height="150" /></a><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Maaf boleh numpang tanya,.. apa yang Anda lakukan di sini? <span> </span>Menunggui padi matang, ya?” seorang pendatang bertanya padaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Di dangau kau akan mendapati suasana di mana seolah waktu tercerabut dari dimensi ruang. Bila engkau membawa seribu persoalan sekalipun ke dangau, maka ribuan bulir padi bersedia menyerapnya. Boneka sawah mengusir pipit, juga mengusir segala persoalanmu. Segenap kenangan yang engkau nikmati terhampar dengan gradasi kuning hijau, lengkap dengan segala alurnya seperti pematang yang saling sejajar kemudian bersilangan di titik tertentu. Dangau adalah tempat yang membuatmu lupa pulang &#8230;” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ia pasti bingung mendengar ceracauku. Biar saja, orang Jakarta memang perlu dibuat bingung!</span></em><span id="more-37"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Orang-orang penting dari Jakarta menyerbu pelosok tempat tinggalku. Ia salah satunya. Membawa buku catatan tebal, mikrofon, dan seorang juru kamera yang tak henti mengunyah permen karet. Saat selusin pejabat mengangguk-angguk di tepi jalan beraspal mendengar penjelasan pak bupati, ia memilih duduk di dangau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Boleh <em>kan</em>? Baru sekali ini aku berada di tengah sawah. <em>Wonderful!</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ia duduk di sampingku, melempar pandangan ke hamparan emas padi yang siap dipanen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Wah, bakal panen besar, nih!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Inilah orang-orang Jakarta, hanya datang saat kami sedang gembira menyambut panen. Spanduk dan umbul-umbul menyambut rombongan mereka. Sebagian iuran dekorasi itu dipungut dari rumah penduduk. Lubang jalan ditambal. Buruh bekerja siang malam. Garis trotoar dilumuri kapur. Bunga perdu di tepi jalan dipangkas, membuat ibu-ibu PKK ketambahan pekerjaan. Anak-anak sekolah tak boleh pulang setelah lonceng akhir jam pelajaran. Mereka berlatih baris berbaris, bernyanyi dan melambaikan tangan. <em>Orang Jakarta, orang penting itu…</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dari dulu juga begitu. Aku juga mengalami masa kecil persis seperti anak-anak sekolah yang malang itu. Aku berbaris dengan betis kesemutan sejak pukul 7 pagi, menunggu rombongan dari Jakarta yang datang pukul 3 sore. Aku dipaksa tersenyum sambil menyanyikan lagu <em>Selamat Datang</em> saat sebagian dari siswa sudah ingin pulang, didera rasa bosan, jengkel dan lapar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku tidak mengenal Jakarta dengan baik. Seumur hidupku aku baru tiga kali ke Jakarta. Kenang-kenanganku tentang Jakarta serba kecut dan tengik. Maka tawaran pendatang itu setelah mewawancaraiku, <em>“Kapan main ke Jakarta&#8230;.”</em> kujawab dengan gelengan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Aku membenci Jakarta!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hah? Engkau membenci Jakarta?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Aku tak punya pengalaman yang baik dengan kota itu, juga dengan orang-orangnya..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Maksudmu&#8230;?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Karena ia memintaku bercerita, maka kukenang masa kecilku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ke Jakarta, horeee! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">(Kenangan Sari Ahmad Marzuki)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku mengucapkan pengumuman itu sekeras mungkin kepada seisi kelas. Tidak banyak teman yang pernah ke Jakarta. Hanya Samara si anak bupati dan Takwa anak pemilik toko bahan bangunan kaya raya di kampung kami yang bangga berkata, “Sudah menginjak Jakarta!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sepulang dari Jakarta dengan bangga mereka membawa ke kelas kami perlengkapan makan yang mereka ambil dari pesawat. Cangkir, sendok, garpu plastik dengan logo burung berparuh tertekuk, juga bungkusan putih dengan bulir-bulir halus di dalamnya, yang masing-masing bertulis “sugar”, “salt” dan “pepper”. Barang bukti bahwa mereka telah terbang ke Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku gosong oleh rasa cemburu. Aku juga ingin ke Jakarta. Kutanyakan pada ibu, kapan aku juga bisa ke Jakarta? Kata ibu, nanti ia meneruskan kepada bapak pertanyaan itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Sedang dinas ke Jakarta…” kalimat ini memang akrab di telingaku sejak kecil. Ada waktu-waktu tertentu di saat bapak meninggalkan ibukota kabupaten tengah malam, dan berbisik sambil mencium keningku, “Bapak dinas ke Jakarta ya&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bapakku ajudan bupati. Badannya yang lampai dan condong ke depan menggambarkan jelas pekerjaannya. Kedua tangannya harus selalu siap menyerahkan tas, kacamata, naskah pidato, topi, surat perjanjian, dan segala barang lainnya yang diperlukan atasannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Samara, sang putri bupati tentu mudah ikut bapaknya ke Jakarta. Sedangkan aku? Aku putri ajudan bupati. Kelasnya beda! Peluang dan keberuntungannya juga jelas beda!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tapi aku juga ingin merasakan menginjak ke Jakarta. Kelihatannya gaya sekali kalau aku bisa seperti Samara memamerkan fotonya di Ancol dan Taman Mini, atau di atas tangga berjalan. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku perlu menunggu naik kelas 6, hingga akhirnya suatu hari, ibu kudapati melonjak kegirangan, “Kita ke Jakarta, kita Jakarta, Sari!”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ke Jakarta! Aku ke Jakarta besok!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Samara tercekat. Tak percaya rupanya, dia! Teman-teman sekelasku menjelma lebah yang berdengung serempak. “Weeehhh…. enaknya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Terbanglah aku ke Jakarta. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di pesawat ada perempuan berseragam hilir mudik membagi permen, makanan dan menuangkan jus. Ada pengumuman-pengumuman dalam bahasa yang tak kumengerti, juga ada dengung halus mesin pesawat yang menggelitik telinga, semburan angin dingin di atas kepala dan silau lampu baca. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di sampingku, ibu komat-kamit baca doa. “Kalau kapal terbang ini jatuh, habislah generasi kita, Sari….,” bisiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ah ibu, selalu memikirkan nasib kami sekeluarga. Selalu begitu dia… </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku, bapak, ibu serta Rahmat, kakakku, menjalani penerbangan dengan perasaan yang berbeda-beda. Bapak yang sudah sering terbang, memilih tidur. Rahmat dan aku sibuk memasukkan perlengkapan makan di pesawat ke dalam ransel kami. Senang sekali rasanya melihat kotak plastik berisi makanan dengan logo burung berparuh tertekuk itu! Akhirnya, punya juga aku koleksi perlengkapan makanan seperti milik Samara!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kami berdua bersenang-senang memandang awan dan kabin pesawat yang penuh bermacam-macam orang. Ibu mengatupkan tangan, memainkan tasbih. Bulir dzikir tak henti berputar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Liburan keluarga ajudan bupati. Indah sekali rasanya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tapi ke mana pak bupati? Kata bapak, kami ini diselipkan di perjalanan dinas atasannya. <span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku bertanya-tanya. Celangak celinguk meneliti satu per satu penumpang. Tak tampak!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ssst.. pak bupati duduknya dekat pilot. <em>Kan</em> bupati&#8230;!” seru kakakku sok tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ada dua patung abu-abu dengan tangan yang terangkat tinggi-tinggi, berdiri tepat di depan hotel tempat kami menginap. Di bawah kaki patung itu ada bundaran besar dengan air mancur seperti berpasang lidah-lidah tipis yang menjulur-julur ke udara. Kendaraan berputar-putar di sekeliling bundaran itu. Poster, bendera, umbul-umbul yang terpasang, berkibar. Menari. Semarak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Wuiiih, Jakarta ramai sekali…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">&#8211;Jakarta asyik!&#8211;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">(kata Rahmat Ahmad Marzuki) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dua pintu besi terbuka diawali dengan bunyi <em>ting! </em>Rahmat mendorong Sari masuk ke dalam kotak besi berwarna kelabu itu. Telunjuknya yang mungil kemudian buru-buru menekan tombol semua angka<em>, </em>hampir bersamaan<em>. </em>Tak lama tawa bocah lelaki itu membahana di seluruh koridor hotel, meninggalkan Sari, adiknya, sendirian di dalam lift. Gadis kecil itu menangis meraung-raung. Rahmat menepuk-nepuk tangannya, puas pada rencana yang berjalan sukses. Dari jendela sepanjang koridor dilihatnya patung selamat datang di bundaran HI seolah melambai padanya. <em>Jakarta memang asyik! Ada pintu ajaib yang bisa menelan Sari!</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ting!</span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span>Kedua pintu besi itu terbuka. <em>Ting!</em> Kedua pintu itu tertutup. Bergerak, berhenti, terbuka, tertutup, bergerak lagi. Di setiap lantai. Gadis kecil itu meraung kebingungan. Mata dan hidungnya basah. Celananya juga basah. Seorang <em>room boy</em> yang kebetulan hendak masuk ke dalam lift, membawanya ke lobi. Di tuntunnya Sari ke meja resepsionis, mencari kamar bapak dan ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Nama bapakku Ahmad Marzuki, nama ibuku Hilma.” Sari kecil masih terus sesungukan.<span> </span>Petugas resepsionis<em> </em>kebingungan. Tak ada nama itu di daftar tamu. <em>Anak siapa yang menangis tersesat di dalam lift ini?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ahmad Marzuki memang tidak pernah ada di daftar nama tamu hotel. Ia bersama keluarganya terdaftar dalam “Rombongan Pemda”. Hotel di<em>booking</em> sekaligus untuk urusan dinas pemerintah daerah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hidup Ahmad Marzuki sangat tergantung pada atasannya. Seperti bayangan yang mengikuti tubuh, ia melekat pada sang bupati. Ia bayangan yang nyaman berlindung dan juga melindungi atasannya. Selayaknya ajudan pada umumnya, ke mana-mana, ia mengenakan stelan safari. Kadang <span> </span>lengan pendek, kadang lengan panjang. Kadang dua kantong, kadang empat kantong. Namun apapun variasi pakaian safari yang dikenakannya, warnanya selalu kelam: abu-abu, coklat pudar atau biru tua kehitaman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di waktu-waktu tertentu Ahmad Marzuki menyediakan telinganya untuk berbagai cerita yang meluncur dari bibir tuannya. Sang bupati memulai ceritanya dengan kalimat pendahuluan, <em>“Ini hanya antara kita saja&#8230;” </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Telinga Ahmad Marzuki menampung banyak rahasia atasannya. Mulutnya irit mengeluarkan kata-kata. Kontras dengan kepalanya yang luwes mengangguk sembari melontarkan kata, “Ya, Pak!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sari terus menangis di depan resepsionis. Seorang staf yang tampaknya panjang akal, tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang di menit berikutnya bisa menghentikan tangis si kecil Sari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Dari mana asalmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sari menyebut kota kabupatennya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Aha! Lantai 7. Ini rombongan bupati yang tiba pagi tadi…” si petugas <span>hotel</span> mendapatkan titik terang ke mana harus mengantar Sari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">&#8211;Jakarta menggemparkan!&#8211; </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">(gerutu Hilma Ahmad Marzuki)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dua tempat tidur dengan <em>bed cover</em> biru tua bemotif bunga teratai. Dua lukisan petani membajak sawah tergantung di dinding, tepat di kepala tempat tidur. Dua kursi hijau tua di sisi jendela, dan dua <em>welcome drinks</em> dihiasi setangkai anggrek yang diletakkan anggun di kaki gelas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ini kamar pak bupati. Kalian tinggal di sini dulu ya…<span> </span>Saya harus mendampingi bupati ke Bappenas…,”<span> </span>begitu pesan suaminya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hilma bersama dua anaknya terbelalak untuk kesekian kalinya. Kamar yang wangi, rapi dan nyaman. Kakinya tenggelam dirubung benang-benang wol karpet tebal. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“<em>Masya Allah</em>! ini kamar mandi ya… <em>Masya Allah</em>! bahkan di kamar mandinya pun kita bisa tidur…” Hilam menggosok-gosok lantai kamar mandi yang kering, licin dan wangi. Di kampungnya, kamar mandi pastilah basah! Dilekatkannya pipinya pada <em>bathup</em> putih gading yang memantulkan bayangannya. Diciuminya tiga susunan handuk putih yang tersusun di samping westafel, diputarnya kran bertanda merah yang membuatnya spontan menjerit, “Wow…panas…!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sejak subuh tadi mereka memang sudah membelalakkan mata seperti burung hantu. Pengalaman pergi ke bandara, duduk di ruang tunggu khusus penumpang, masuk ke dalam tubuh pesawat terbang, mengencangkan sabuk pengaman, menyaksikan pramugari hilir mudik. Ah, semuanya menggetarkan! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Pemandangan dari jendela pesawat menyajikan rumah-rumah penduduk yang menjelma jejeran kotak korek api diselingi sawah, gunung dan laut, lalu berganti gumpalan awan, yang semakin lama makin tebal. Semua itu membuat mata mereka terbelalak. Dan kini, kamar tidur yang dipesan pak bupati…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Jangan ke mana-mana ya… tunggu sampai saya kembali!”<span> </span>Ahmad Marzuki menutup pintu, meninggalkan Hilma, Rahmat dan Sari di dalam kamar. Tapi kedua anak itu tak betah terkurung. Ramai lalu lintas yang tampak dari jendela kamar begitu menggoda mereka! Di menit berikutnya kedua anak itu sudah berhamburan ke koridor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kringg..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sendirian di kamar hotel, Hilma tak tahu apakah harus menjawab telepon itu atau tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kringg..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Suaminya tidak meninggalkan pesan apa-apa soal telepon. Hilma ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kriing.. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ya… halo..” suara Hilma mengambang. Makin ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ini kamar Pak Zulhan?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Suara seorang perempuan terdengar di seberang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Dan Anda siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Engghhh…” Hilma bingung mencari jawaban yang tepat. Ia ingat sejak dari bandara, suaminya mewanti-wanti agar jangan sampai ada yang tahu bahwa mereka sekeluarga menggunakan kamar pak bupati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kamu jangan juga cerita-cerita di kampung nanti ya kalau kita menginap di sini. Ini pesan pak bupati…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Maaf, Anda siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Perempuan di seberang terdengar tidak sabaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Engghh…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Dengar baik-baik, ya! Saya ini Mirnaza, istri pak Zulhan. Wajar kan kalau saya ingin tahu siapa gerangan yang ada di dalam kamar suami saya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hah?” kali ini Hilma tak kuasa untuk tidak melempar gagang telepon itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Halo..halo…mana bapak! Mana bapak! Saya perlu bicara!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Suara di seberang berteriak serak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hilma memilih meninggalkan kamar. Ia memutuskan menunggu suaminya di lobi saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di koridor, ia berpapasan dengan Sari yang diantar seorang petugas hotel. Gadis kecil itu menangis. Bajunya kuyup, bibirnya gemetaran, pita rambutnya berantakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ada apa ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Rahmat muncul dari ujung koridor. Dengan wajah ditekuk penuh penyesalan, ia bercerita tentang Sari yang didorongnya ke dalam lift. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Rahmat mau membunuhku di dalam kotak itu…,!” Sari terus menangis, mengadu pada ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hilma merogoh tasnya, mencari tasbih kecil yang sejak di pesawat tadi digunakan untuk berdzikir. <em>Oh, ternyata dibutuhkan lebih banyak doa menenangkan diri di dalam hotel ini, dibandingkan dalam penerbangan tadi!</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di kepala Hilma, nama perempuan yang membentaknya di telepon terus terngiang. Mirnaza? M-i-r-n-a-z-a? Bukankah ibu bupati di kampung bernama Hajjah Hadrasah….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bulir tasbihnya berputar gemetar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hahaha… jadi kamu membenci Jakarta karena pernah dijebak lift oleh kakakmu sewaktu kecil ya… Hahaha…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Itu baru satu alasan… banyak alasan lainnya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Oh ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ceritakanlah…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hm, orang Jakarta itu mulai tertarik, rupanya..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku menunjuk rombongan pejabat di tepi jalan yang bergerak. Bersiap masuk ke dalam mobil. Salah seorang pejabat yang menggunakan caping, tertawa sangat keras mendengarkan penjelasan pejabat kabupaten yang membungkuk-bungkuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di kejauhan anak-anak sekolah terdengar lagi menyanyikan lagu <em>Selamat Jalan </em>sambil melambai-lambaikan bendera-bendera kecil. <em>Ah, orang Jakarta, kerjanya bikin susah orang satu kampung saja! </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Wah, sial! Pak Menteri sudah mau berangkat”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di ujung pematang, juru kamera yang sedari tadi sibuk merekam gambar sawah, sapi dan para pejabat, melambai memberi isyarat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Pak… sebaiknya pulang lewat pematang yang sebelah kiri. Pematang yang sebelah kanan, tanahnya rawan, sempit dan agak longsor&#8230;,” aku meyakinkan orang Jakarta itu dengan senyum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ia mengacungkan jempol, “<em>Siiip… thanks ya!</em>” Ditapakinya pematang sebelah kiri yang justru bertanah lembek, bekas galian irigasi buruh tani kemarin.<span> </span>Ia terperosok. Sumpah serapah terlontar di sepanjang pematang. Hahaha&#8230; <em>orang Jakarta jatuh ke sawah! </em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Haruskah kulanjutkan ceritaku mengapa aku benci Jakarta?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Musim tanam berikutnya seorang peneliti dari universitas ternama di Jakarta mengangguk-angguk serius menatapku. Guratan dahinya membentuk tiga garis berbanjar. Jari telunjuk dan jempol kanannya mempermainkan pulpen bermerek <em>Bic. </em>Sekali-kali pulpen itu diketuk-ketukkan di ujung dagunya. Ia menggenggam notes bertulis <em>World Bank.</em> Kaos oblong di dadanya bertulis <em>No Free Trade</em>! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ah, kali ini datang orang Jakarta dengan perpaduan simbol-simbol yang membuatku meringis! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku mengajaknya ke dangau. Kuajak ia memandangi padi yang luruh dan rebah, serta pematang yang luluh lantak diserbu tikus. Boneka pengusir burung sudah lama dicabut petani. Tak ada pipit yang sudi mampir musim tanam kali ini. Untuk menghibur penduduk, bupati memerintahkan program “pisangnisasi”, penanaman pisang di pinggiran sawah agar sawah yang mati itu masih bisa mendatangkan sedikit manfaat.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Orang Jakarta hanya datang saat padi kami kuning siap dipanen lalu disiarkan di televisi&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Si peneliti itu merekam suaraku. Mencatat seluruh ceritaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kalau boleh tahu&#8230; untuk apa ya wawancara ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Untuk proyek penelitian luar negeri, sekaligus tesis S2 saya..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Oh&#8230;.. kenapa Bapak baru datang sekarang, saat sawah kami sudah berantakan begini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hmmm, <em>gimana</em> ya, Dik…<span> </span>Dana proyeknya juga baru cair, jadi ya, saya baru bisa kerja…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Saat peneliti itu pamit kusarankan ia memilih pematang sebelah kanan. “Pak, pematang itu lebih kering. Lebih cepat sampai di ujung aspal&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Peneliti itu mengancungkan jempolnya, lalu bergegas melintas pematang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dan…. aku hanya butuh tiga menit untuk mendengar jeritannya meledak di udara. <em>Orang Jakarta memang perlu diperosokkan di pematang tonggos yang diserbu tikus-tikus sawah. Enak saja, sawah kami gagal panen, dia asyik meneliti kemalangan kami!</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">TENTU banyak cerita yang bisa kubagi. Banyak alasan mengapa aku membenci Jakarta. Samara, teman masa kecilku juga membenci Jakarta. Di pemakaman ayahnya, ia bertemu seorang perempuan dari Jakarta yang mengaku sebagai istri muda ayahnya. Kehadiran perempuan itu membuat ibu Samara pingsan berkali-kali di samping nisan suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di pemakaman penuh drama itu, aku melirik ibuku yang menangis gemetar. Ah, betapa tersiksanya ia menyimpan rahasia soal perempuan bernama Mirnaza yang mengaku istri simpanan bupati Zulhan di Jakarta. Lima belas tahun rahasia itu dikunci rapat-rapat, demi menjaga karir bapak sebagai ajudan bupati yang loyal dan berdedikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bapakku juga membenci Jakarta, karena bupati pengganti atasannya, terpilih dengan embel-embel “titipan Jakarta”, di pertengahan 1996. <span> </span>Bupati baru itu datang ke kabupaten ini dengan memboyong ajudan barunya. Bapakku turun pangkat jadi asisten urusan rumah tangga rumah jabatan bupati, dan tentu saja tak punya kesempatan ikut perjalanan dinas ke Jakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Oya, barangkali saja ada yang penasaran pada diriku. Aku, Sari Ahmad Marzuki, sarjana pertanian jurusan hama dan penyakit tanaman, yang memutuskan pulang kampung dua tahun lalu. Aku pulang menggarap sawah warisan orangtuaku. Bila kalian ingin mendengar cerita lainnya, mengapa ada sejumlah orang di pelosok ini yang membenci Jakarta, temui aku di dangau ini… (*)<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tokyo, 7 Februari 2008/ 11:59 am</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/pembenci-jakarta-37.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
