In The Delivery Room

I gave a birth to a million question marks
the ocean sky sent down its rotten stars
midwives on the bedside spinning their heads
sinner, sinner they exchanged roars

to the wall, to the window, to the newborn babe,
the flame of veracity licked its own greenish smoke

the white-pearl milk as pure as my breast
dissolute my redden tears and sweat
no cradle, no lullabies, but hasty beat
no green home, no blue room, but a yellow cold miserable crest

drink my pain, drink me, drink me
you the seed i planted with dare
from the sweetest sin you grew
my apology to name you: an uninvited creature

holy hands will raise you, tomorrow they come
in this box i leave you a gloomy fairy tale:
you were born from a bamboo tree

Tokyo Sept 27/21:51 pm
Ly

*a note for underage mothers who leave their unwanted babies into “baby deposit box” in Japanese hospitals.

Pembenci Jakarta

“Maaf boleh numpang tanya,.. apa yang Anda lakukan di sini? Menunggui padi matang, ya?” seorang pendatang bertanya padaku.

“Di dangau kau akan mendapati suasana di mana seolah waktu tercerabut dari dimensi ruang. Bila engkau membawa seribu persoalan sekalipun ke dangau, maka ribuan bulir padi bersedia menyerapnya. Boneka sawah mengusir pipit, juga mengusir segala persoalanmu. Segenap kenangan yang engkau nikmati terhampar dengan gradasi kuning hijau, lengkap dengan segala alurnya seperti pematang yang saling sejajar kemudian bersilangan di titik tertentu. Dangau adalah tempat yang membuatmu lupa pulang …”

Ia pasti bingung mendengar ceracauku. Biar saja, orang Jakarta memang perlu dibuat bingung! Continue reading

Danau

CERUK besar itu mengundang kumbang, capung dan burung, juga menggoda angin mempercepat pertemuan serbuk sari dan putik rumput liar di sekitarnya. Cahaya yang terpantul di permukaan air yang tenang dan kesejukan yang menyebar membuat orang bergegas membawa kayu-kayu tua tapi masih cukup kuat, untuk mendirikan bangku sederhana di tepinya.

Setelah beberapa bulan berlalu, saat tanah yang terkikis dari lereng-lereng gunung mulai mengeras, orang-orang semakin sering datang ke tepi danau itu mengenang longsor dan menghitung-hitung berapa persisnya orang yang mati dan hilang, berapa luas ladang yang lenyap, berapa panjang jalan beraspal yang pecah berantakan dan membuat desa terisolasi. Seperti sebuah tempayan raksasa yang dihadiahkan alam dalam semalam, yang dipenuhi air, yang kelak ditumbuhi teratai, dihuni ikan, dilapisi alga di dasarnya. Gunung dan bukit menjaganya. Danau yang lahir setelah prahara gempa itu, bertahun-tahun kemudian menjadi tempat orang-orang membasuh sedih mengenang segala yang ditelan bencana. Continue reading

Kecap

DI ulangtahun Nayu yang keduabelas, ayahnya memberikan hadiah yang tak biasa. Ketika bungkusan itu dibukanya, gadis kecil itu berteriak kecewa.

Botol kaca hitam berkilat dengan gambar naga menjulurkan lidah api dengan tulisan Nomor 1 menyembul dari balik kertas kado metalik berpita merah.

“Kenapa? Tak suka? Kecap mencerdaskanmu, Sayang! Kedelai banyak gizinya! Membuatmu kuat!”

“Yah… masak kecap?” Continue reading

Kamera


Biskuit coklat bermerek Wonder Girl. Kaos bertuliskan Happy Kids.

Engkau baru saja menangis, menyaksikan ayah dan ibu bertengkar, lalu Surinah, pembantu yang pulang dari pasar memberimu biskuit coklat dan selembar kaos tipis berwarna merah anggur.

Jadilah, Happy Kids lekat di tubuhmu, Wonder Girl membuat geligimu beradu. Serpihan coklat di sudut bibirmu, menyebar seperti serbuk sari kembang sepatu yang berantakan digoyang angin.

Aku tergesa mengambil kamera Polaroid. Tentu saja aku harus mengendap-endap mencuri sejenak barang mahal ini dari kamar kerja ayah. Benda ajaib yang selalu membuat kita takjub dan girang, bukan? Continue reading

“A”

(Catatan: Cerita ini diambil dari kumpulan cerita pendek MAIASAURA. Ia merupakan cerita paling terakhir saya tulis dalam Proyek Tauge Jilid II Maret- Juni 2008. Beberapa teman yang membaca Maiasaura, menempatkannya sebagai cerita favorit. Rencananya versi Bahasa Inggris cerita ini akan saya bacakan di Ubud Writers and Readers Festival, Oktober 2008. Bila Anda punya waktu membacanya, saya ingin mendengar respon, kritikan dan apapun pendapat Anda. Terima kasih. ~ Ly~)

royalti-free picture by SRBichara 3D (www.sxc.hu)SUDAH setahun terakhir A bercerita tentang tangan ciptaannya yang belum juga sempurna. Aku sebenarnya awam soal ini. Tangan dengan kekuatan sekaligus kelembutannya, inikah yang hendak dibuatnya? Kataku, tangan ciptaannya bisa saja meniru multi gerak yang dihasilkan otot dan engsel sungguhan, tapi bagaimana para ilmuwan yang bekerja bersamanya bisa menghasilkan telapak yang empuk dengan kemampuan genggaman kelima jari yang padu memanipulasi benda? Continue reading

People (who I think) I Knew… Part I: Fawwaz

I just got an idea to have interviews (or small talks) with people around me. It could be families, friends, fellow writers and journalists, people at work, and of course it could be you!

Unfortunately the idea appeared when there were only three living creatures in this house: Fawwaz, my 10 years old son; sun flowers for my birthday bucket yesterday and me. So, it is clear enough, Fawwaz will be the first “victim”… Continue reading

Remembering One Fine Friday

the picture taken from free royalty photos www.sxc.huIt was Friday. The morning was dry, pale blue was the sky . Mother was admitted to a hospital. An expecting mother, with a perfect dome-shaped belly, with a busy husband in the office, with what so called “orang-orang rumah” –the extended families and two house maids– who were ready to lend their hands for her.

The second child were about to be born. Girl or boy? The question was not so important. At home, an eleven months baby was crying. He was too young to know that mother had left him to deliver another baby. The second baby was unexpected, I guess. With 11 months interval from the first baby, I suspected that the second one was merely an unplanned birth (or shall I call it a sweet surprise for the young couple?). Continue reading