(bisa juga dibaca di sini)
BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi.
“Bapak narik taksi, ya? Wah….”
Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan.
Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah.
Bapak menutup warung nasi yang telah dirintisnya enam tahun terakhir. Gara-garanya, enam bulan lalu, adik bungsuku meninggal di sebuah RS Paru-paru. ( Read more )