Archive for March, 2009

Mar 05

Ayah di Layar

 Tunggulah ayahmu di situ!

 

Ibu mendudukkanku di depan televisi setelah mandi sore. Ah, seperti janjian saja. Ayah muncul, tampaknya juga baru selesai mandi, ia menyapaku di layar dengan wangi yang menembus kaca televisi. Aku mengendus-endus kaca cembung itu.

 

Apakah ayah pakai Mandom? Sering aku menebak-nebak. Soalnya ayah muncul setelah tayangan seorang lakilaki duduk di depan api unggun, yang mengiklankan minyak rambut dan bergumam “Hmmmm Mandom…”.

 

Di kemudian hari kutahu nama lakilaki itu Charles Bronson.

 

Tapi ah, bagiku ayah lebih tampan. ( Read more )

3
comments

Mar 05

Gurita

Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota.

“Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?”

“Ya, membuat film animasi.”

“Apa? Pasti butuh banyak biaya. Sudah, kau urus saja apotik ini. Ini usaha bagus. Sangat bagus.”

Aku turuti kehendak ibu. Aku ikuti intuisi bisnisnya. Ia menjemputku dengan rencana-rencana baru. Dalam perjalanan ke rumah, kubuang rencana hidupku. Ia tergilas truk gandeng, motor dan angkotan kota. Dari kaca belakang mobil, kulihat ia rata di aspal berdebu. ( Read more )

1
comments