Tujuh Paragraf Tentang Tukang Foto Tak Dikenal

Saya senang difoto. Karenanya saya termasuk orang yang paling sering minta tolong difoto oleh orang lain. Saya tidak begitu suka menggunakan selfie-stick, juga tidak begitu suka selfie. Saya senangnya difoto dari jarak tertentu yang menurut saya cukup bagus untuk menunjukkan latar belakang dan suasana.

Berdasarkan pengalaman saya, orang-orang di tempat wisata memiliki solidaritas untuk saling foto. Pelayan di kafe, rumah makan, satpam, pegawai hotel juga semakin lama semakin paham kebutuhan ini. Di kafe, sering sekali saya berujar “Mas, minta tolong foto kami…” – baik sebelum memesan makanan, setelah memesan makanan atau usai makan. Di tempat umum, orang semakin terbiasa diminta tolong untuk memotret. Saya tidak pernah menolak permintaan orang yang minta tolong, karena saya juga sering sekali minta tolong difoto oleh orang.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, orang Indonesia memiliki frekuensi memotret dan minta tolong difoto yang jauh lebih tinggi dibanding kawan-kawan Australia saya. Beberapa kawan Indonesia ada yang langsung mengunggah fotonya di Facebook, Instagram atau Path. Ada yang menunggu acara selesai kemudian menggunggah foto. Tapi ada juga kawan yang saya kenal yang merasa cukup menyimpan koleksi fotonya sebagai memori pribadi. Beberapa teman termasuk tipe yang ini: menunggu orang lain yang menggunggah foto dan mereka melakukan repost atau share.

Kawan Australia saya paling jarang minta foto bersama. Bila berada di antara mereka, saya pun sungkan menerapkan gaya hidup “foto-foto yuk…”. Beda bila berada di tengah kawan Indonesia, saya dengan ringan hati mengajak mereka berfoto atau meminta saya difoto dengan berbagai adegan: tolong foto saya saat presentasi di seminar; tolong foto saya pura-pura baca buku, tolong foto saya saat tengah serius mengikuti rapat (tapi pastikan sudut pengambilan gambar yang pas, ya), tolong foto saya di kafe dengan gaya menatap ke jendela dengan tatapan nanar seolah memikirkan masa depan bangsa; please foto saya pura-pura yoga, dan seterusnya. Kepura-puraan yang mungkin bagi sebagian orang menjengkelkan, tapi bagi saya bisa mengundang tawa dan menerbitkan kebahagiaan.

Di lingkaran perkawanan saya, kawan perempuan cenderung lebih aktif membagikan foto mereka di media sosial dibanding kawan laki-laki.  Kawan perempuan saya juga gemar menggunakan aplikasi fotografi dan terlihat luar biasa cantik. Saya pernah mencobanya dan membuat saya semakin sibuk mengagumi diri sendiri. Menyenangkan. Menerbitkan perasaan gembira meski sesaat. Juga membuat saya mengurungkan niat membeli krim anti-kerut yang mahal, karena aplikasi ini bisa membuat saya terlihat dua puluh tahun lebih muda.

Di Edinburgh, saya minta tolong seorang turis asal Singapura untuk mengabadikan foto ini. Kami saling bahu membahu bergantian minta foto sebagai sesama solo-traveller.

Di Kameido Tenjin Shrine, Tokyo di tengah mekarnya bunga wisteria, seorang pengunjung asal China berbaik hati memotret saya berulang kali (well, ada botol minuman sih)

Satpam di Blue Mansion George Town sudah paham kebutuhan pengunjung untuk berfoto di sudut yang menjadi sampul Lonely Planet ini.

Nah, kembali ke soal tukang foto tak dikenal. Menurut saya, merekalah “everyday heroes” hari ini. Betapa memori berharga di setiap perjalanan dan momentum terekam dengan baik berkat orang-orang yang tidak kita kenal ini. Kalau sedang solo-travelling, selain rutin membaca doa keselamatan dan agar tidak tersesat (ya, saya terkenal bodoh membaca peta dan mudah sekali mengalami disorientasi di tempat asing), saya juga selalu berharap bertemu dengan tukang foto tak dikenal yang baik hati, yang bisa memotret dengan benar dan menjadi pahlawan yang menerbitkan rasa gembira di hati saya. Sejak memiliki kamera digital bertama kalinya di tahun 2001 kemudian ponsel berkamera sejak 2004, tak terhitung banyaknya pahlawan tak dikenal yang membuat hidup saya memiliki rekam gambar yang baik.

Lantas apa yang membuat saya menulis tentang tukang foto tak dikenal ini? Sore ini mereka mengingatkan saya bahwa selama ini saya tidak lebih dari seseorang yang terlalu sibuk mengagumi diri sendiri. Bayangkan, setelah mendapatkan hasil foto yang diinginkan saya sama sekali tidak pernah terdorong memulai percakapan yang lebih bermakna dengan orang asing yang memotret saya. Setelah mengucapkan terima kasih, saya biasanya tenggelam dalam kesibukan baru: memilih-milih foto mana yang paling bagus untuk dipamerkan kepada orang banyak di media sosial. Saya terlalu sibuk mengagumi diri sendiri.

Melbourne, 3 Juli 2017/17:37

 

Tujuh Paragraf Tentang Panyingkul!

Sebelas tahun lalu saya terhubung dengan banyak kawan baru saat mengelola situs web Panyingkul! – jurnalisme warga yang dikerjakan atas bantuan banyak orang. Kehidupan di Tokyo yang serba bergegas waktu itu membuat saya ingin terhubung lagi dengan orang-orang di kota kelahiran saya di Makassar. Internet memudahkan keinginan itu dan Panyingkul! lahir berkat kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan teknologi informasi: membuat situs web yang harganya terjangkau, terhubung dengan kawan lama dan baru melalui email, mailing-list dan Yahoo messenger.

Dengan menyisihkan sedikit penghasilan, saya dan suami menyiapkan beasiswa kecil-kecilan untuk peserta pelatihan menulis di Panyingkul! Dibantu banyak orang, khususnya Nesia Andriana dan Yuhardin, saya belajar sedikit demi sedikit tentang pengelolaan situs web, atas bantuan Rahmat Hidayat di Belanda, saya berkenalan dengan beberapa anak muda di Makassar yang memiliki gairah menulis dan berkarya yang luar biasa.

Singkatnya, Panyingkul! menjadi “tempat bermain, bercanda, berkarya dan berbakti” bagi saya. Kebahagiaan yang mengaliri tubuh dan jiwa saya  karena secara emosional terhubung dengan Makassar melalui kegiatan menulis dan mengelola kelas menulis dari jarak ribuan kilometer, tak terungkapkan rasanya.

Konsep Panyingkul! sederhana saja: warga mengirim tulisan dan tim editor menyiapkan layanan editing, memberi masukan dan menerbitkannya. Ada penulis yang kami berikan honor yang sangat kecil (Rp 50.000 per tulisan) utamanya bagi penulis muda yang tentu butuh ongkos ke warung internet di kala itu. Ada juga program beasiswa bagi penulis muda yang dilakukan dengan sistem seleksi, tapi lebih banyak penulis yang menulis tanpa dibayar karena ingin terlibat dalam percakapan khas warga dengan tulisan-tulisan di Panyingkul! sebagai titik awal percakapan.

Di sela rutinitas kerja dan tanggungjawab mengurus keluarga, Panyingkul! menjadi penyeimbang kehidupan saya. Tak pernah sedetik pun saya melihatnya sebagai beban karena saya sangat menikmati peran yang saya berikan kepada diri sendiri mengelola media independen yang sangat sederhana ini. Dalam perayaan peluncuran dan perayaan ulangtahun media ini di kurun waktu 2006 – 2009 saya selalu berkata kepada diri sendiri kala itu, setidaknya bila Panyingkul! dapat bertahan lima tahun saja, sudah akan berarti sebagai sebuah proyek kemanusiaan yang manfaatnya dirasakan banyak orang.

Dan benar adanya, setelah lima tahun, menyusul kepindahan saya kembali ke Melbourne untuk studi S3, saya mulai kewalahan mengurus Panyingkul! Tuntutan studi yang luar biasa membuat saya harus memilih. Juga, di saat yang sama, yakni di tahun 2008 – 2010, saya mulai menggagas pendirian Rumata’ Artspace bersama sahabat saya Riri Riza dibantu banyak kawan lainnya. Rumata’ adalah mimpi yang lebih ambisius  lagi: mendirikan sebuah rumah budaya di Makassar, di mana kegiatan literasi, sastra, film, musik, seni rupa dan jurnalisme warga menjadi bagian penting di dalamnya.

Sebenarnya, sebagai pendiri, saya tidak pernah menyatakan Panyingkul! mati. Ia sedang berhibernasi saja, seperti beruang, meski masa hibernasinya bertahun-tahun sudah. Di tengah kesibukan dan beberapa rencana lain, saya tetap punya keinginan menghidupkannya lagi. Tentu dengan taktik yang lain, dengan strategi yang berbeda dibanding sebelas tahun lalu.

Hari ini saya mengenang Panyingkul! dan orang-orang yang pernah mampir di persimpangan yang riuh rendah ini. Saya mengenang percakapan-percakapan penuh makna,yang mewarnai perjalanannya, yang tentu saja tercipta atas kontribusi penulis dan pembaca. Makassar dan Indonesia pernah kita catat bersama-sama dengan gairah bertutur khas orang biasa. Saya merindukannya dan saya ingin membangunkannya dari tidur yang cukup panjang….

Melbourne, 1 Juli 2017/22:42.