Tujuh Paragraf Tentang Panyingkul!

Sebelas tahun lalu saya terhubung dengan banyak kawan baru saat mengelola situs web Panyingkul! – jurnalisme warga yang dikerjakan atas bantuan banyak orang. Kehidupan di Tokyo yang serba bergegas waktu itu membuat saya ingin terhubung lagi dengan orang-orang di kota kelahiran saya di Makassar. Internet memudahkan keinginan itu dan Panyingkul! lahir berkat kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan teknologi informasi: membuat situs web yang harganya terjangkau, terhubung dengan kawan lama dan baru melalui email, mailing-list dan Yahoo messenger.

Dengan menyisihkan sedikit penghasilan, saya dan suami menyiapkan beasiswa kecil-kecilan untuk peserta pelatihan menulis di Panyingkul! Dibantu banyak orang, khususnya Nesia Andriana dan Yuhardin, saya belajar sedikit demi sedikit tentang pengelolaan situs web, atas bantuan Rahmat Hidayat di Belanda, saya berkenalan dengan beberapa anak muda di Makassar yang memiliki gairah menulis dan berkarya yang luar biasa.

Singkatnya, Panyingkul! menjadi “tempat bermain, bercanda, berkarya dan berbakti” bagi saya. Kebahagiaan yang mengaliri tubuh dan jiwa saya  karena secara emosional terhubung dengan Makassar melalui kegiatan menulis dan mengelola kelas menulis dari jarak ribuan kilometer, tak terungkapkan rasanya.

Konsep Panyingkul! sederhana saja: warga mengirim tulisan dan tim editor menyiapkan layanan editing, memberi masukan dan menerbitkannya. Ada penulis yang kami berikan honor yang sangat kecil (Rp 50.000 per tulisan) utamanya bagi penulis muda yang tentu butuh ongkos ke warung internet di kala itu. Ada juga program beasiswa bagi penulis muda yang dilakukan dengan sistem seleksi, tapi lebih banyak penulis yang menulis tanpa dibayar karena ingin terlibat dalam percakapan khas warga dengan tulisan-tulisan di Panyingkul! sebagai titik awal percakapan.

Di sela rutinitas kerja dan tanggungjawab mengurus keluarga, Panyingkul! menjadi penyeimbang kehidupan saya. Tak pernah sedetik pun saya melihatnya sebagai beban karena saya sangat menikmati peran yang saya berikan kepada diri sendiri mengelola media independen yang sangat sederhana ini. Dalam perayaan peluncuran dan perayaan ulangtahun media ini di kurun waktu 2006 – 2009 saya selalu berkata kepada diri sendiri kala itu, setidaknya bila Panyingkul! dapat bertahan lima tahun saja, sudah akan berarti sebagai sebuah proyek kemanusiaan yang manfaatnya dirasakan banyak orang.

Dan benar adanya, setelah lima tahun, menyusul kepindahan saya kembali ke Melbourne untuk studi S3, saya mulai kewalahan mengurus Panyingkul! Tuntutan studi yang luar biasa membuat saya harus memilih. Juga, di saat yang sama, yakni di tahun 2008 – 2010, saya mulai menggagas pendirian Rumata’ Artspace bersama sahabat saya Riri Riza dibantu banyak kawan lainnya. Rumata’ adalah mimpi yang lebih ambisius  lagi: mendirikan sebuah rumah budaya di Makassar, di mana kegiatan literasi, sastra, film, musik, seni rupa dan jurnalisme warga menjadi bagian penting di dalamnya.

Sebenarnya, sebagai pendiri, saya tidak pernah menyatakan Panyingkul! mati. Ia sedang berhibernasi saja, seperti beruang, meski masa hibernasinya bertahun-tahun sudah. Di tengah kesibukan dan beberapa rencana lain, saya tetap punya keinginan menghidupkannya lagi. Tentu dengan taktik yang lain, dengan strategi yang berbeda dibanding sebelas tahun lalu.

Hari ini saya mengenang Panyingkul! dan orang-orang yang pernah mampir di persimpangan yang riuh rendah ini. Saya mengenang percakapan-percakapan penuh makna,yang mewarnai perjalanannya, yang tentu saja tercipta atas kontribusi penulis dan pembaca. Makassar dan Indonesia pernah kita catat bersama-sama dengan gairah bertutur khas orang biasa. Saya merindukannya dan saya ingin membangunkannya dari tidur yang cukup panjang….

Melbourne, 1 Juli 2017/22:42.