Lily Yulianti Farid

Small Notes of Ly

Dua Sahabat, Dua Buku

Kadang saya berpikir, di Panyingkul! model “citizen journalism” yang senantiasa dibicarakan itu sebaiknya diganti menjadi “friendship journalism” saja. Soalnya, satu demi satu orang yang ikut percaya pada ide yang saya tawarkan, dan kemudian tergerak menyumbangkan pikiran, energi dan waktunya untuk menghidup-hidupi Panyingkul! secara perlahan tapi pasti masuk dalam lingkaran persahabatan dan keluarga besar saya dan Farid.

Tahun ini, saya menemani dua sahabat, Winarni KS dan Kamaruddin Azis memulai serial jurnalisme warga. Winarni mencatat Makassar, Kamaruddin alias Daeng Nuntung mencatat Galesong. Tahun ini juga, saya akan menemani Muhammad Ridwan Alimuddin menulis jurnal “The Last Bajau”. Sementara Nilam, Miss On The Way akan menemani Erni Aladjai dan Masdianah memulai program Jurnal dari Kegelapan, mencatat keseharian teman-teman tuna netra di Pertuni (Persatuan Tuna Netra) Makassar.

Serial Jurnalisme Warga yang ditulis Winarni dan Daeng Nuntung ini tentu masih memiliki kekurangan di sana sini — utamanya disebabkan oleh kondisi kesehatan saya yang agak payah dan juga sempitnya waktu persiapan sehingga koordinasi kami kurang maksimal. Tapi terlepas dari semua itu, saya begitu bahagia, melihat mata Winarni dan Daeng Nuntung berbinar saat pertama kali melihat hasil karya mereka itu tiba di tangan masing-masing. Binar itu pesannya benderang: mimpi telah diwujudkan!

Kota dan kampung yang dicatatkan oleh Winarni dan Daeng Nuntung sudah pasti akan menjadi inspirasi bagi warga lainnya, bagi para citizen reporter lainnya.

Untuk Winarni, di usianya yang begitu belia, jelas buku pertamanya, “Makassar dari Jendela Pete-pete -catatan seorang pengguna jalan” membuat banyak teman yang “cemburu”. Di usia 22 tahun, ia telah dengan begitu serius mencatat Makassar, menguliti perencanaan dan pembangunan kota, ia membawa buku teks dari kampus untuk kemudian dikonfrontir dengan kenyataan di jalan.

Untuk Daeng Nuntung, Semesta Galesong adalah bukti kecintaan pada kampung sekaligus ajakan bagi penulis lain untuk kembali melihat kampung, menuliskan orang-orang dan peristiwa, merekonstruksi hal-hal yang telah hilang atau diabaikan, juga mempertanyakan nasib kampung di masa depan, tentu dengan sudut pandang khas seorang warga.

Selamat untuk Winarni dan Daeng Nuntung. Mohon maaf untuk semua hal yang kurang menyenangkan yang terjadi selama persiapan kelahiran kedua buku ini.

Tapi terlepas dari semua kendala dan keterbatasan, kelahiran kedua buku ini membuat persahabatan kita memiliki penanda yang abadi.

About

View all posts by

One Response

  1. Retty says

    [A fellow blogger, Lily Yulianti Farid, who founded the citizen journalism website “Panyingkul.com” said in Pesta Blogger 2009 that those involved in citizen journalism need to be techno savvy…]

    [Lily wrote in her blog that in spite of using the term “citizen journalism”, it would be better fitted in as “friendship journalism”…]