<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Lily Yulianti Farid</title>
	<atom:link href="http://lilyyuliantifarid.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lilyyuliantifarid.com</link>
	<description>Small Notes of Ly</description>
	<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 01:20:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Autumn Poetry Reading Class &#8211;Unfinished Project</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/autumn-poetry-reading-class-unfinished-project-46.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/autumn-poetry-reading-class-unfinished-project-46.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 01:20:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ly's scrapped notes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Fawwaz calls this month, &#8220;bulan bahasa&#8221; as his school is conducting language and literary competitions today, while in our house, there are at least 3 homeworks of poetry reading and literary works on his list.
He did a good kick-off  last week:
jalanjalan naik taksi
mandimandi di sungai
makanmakan di kentucky
&#8211;you master bahasa ibu, son!  let&#8217;s check your early [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fawwaz calls this month, &#8220;bulan bahasa&#8221; as his school is conducting language and literary competitions today, while in our house, there are at least 3 homeworks of poetry reading and literary works on his list.</p>
<p>He did a good kick-off  last week:</p>
<p><em>jalanjalan naik taksi</em></p>
<p><em>mandimandi di sungai</em></p>
<p><em>makanmakan di kentucky</em></p>
<p>&#8211;you master bahasa ibu, son!  let&#8217;s check your early version in bahasa three years ago:</p>
<p><strong>Di kebun binatang</strong></p>
<p><em>aku melihat beruang</em></p>
<p><em>beruang melihat aku</em></p>
<p><em>aku tidak takut</em></p>
<p><em>beruang mungkin takut</em></p>
<p>*Ueno Zoo, Tokyo 2005</p>
<p>hmmmm&#8230; you played with the limited  vocabularies <img src='http://lilyyuliantifarid.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>This weekend you threw another piece:</p>
<p><strong>AUTUMN</strong></p>
<p><em>Dear autumn,</em></p>
<p><em>brush your teeth and shower</em></p>
<p><em>welcoming your sister:</em></p>
<p><em>winter!</em></p>
<p><strong>SNOW</strong></p>
<p><em>I love snow,</em></p>
<p><em>go, slow, blow, glow, go</em></p>
<p>So, my dear son..good luck with your &#8220;lomba bulan bahasa&#8221; today. Enjoy the competition. No matter the result would be, you are the winner in my heart.</p>
<p>Love,</p>
<p>Mum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/autumn-poetry-reading-class-unfinished-project-46.php/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita-cerita Ly di Oase Kompas.com</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/cerita-cerita-ly-di-oase-kompascom-44.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/cerita-cerita-ly-di-oase-kompascom-44.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 02:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman yang gemar membaca cerpen,
Sejumlah cerita pendek yang saya tulis, baik yang ada di buku Makkunrai (Maret,2008) dan Maiasaura (Juni,2008) akan muncul satu-satu di rubrik Oase Kompas.com. Beberapa di antaranya telah ditayangkan di sana dan juga akan saya tayangkan di blog ini. Tapi, ya ada tapinya, berhubung cerita pendek yang saya tulis selalu panjang (3000- [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/sampul.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-45" title="sampul" src="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/sampul.jpg" alt="" width="94" height="126" /></a>Teman-teman yang gemar membaca cerpen,</p>
<p>Sejumlah cerita pendek yang saya tulis, baik yang ada di buku Makkunrai (Maret,2008) dan Maiasaura (Juni,2008) akan muncul satu-satu di rubrik <a href="http://www.kompas.com/oase/ceritaku">Oase Kompas.com.</a> Beberapa di antaranya telah ditayangkan di sana dan juga akan saya tayangkan di blog ini. Tapi, ya ada tapinya, berhubung cerita pendek yang saya tulis selalu panjang (3000- 6000 kata) redaktur Oase terkadang memuatnya sebagai &#8220;cerita bersambung&#8221;.</p>
<p>Terima kasih atas apresiasinya untuk cerita-cerita yang saya tulis.</p>
<p>Salam,</p>
<p>~Ly~</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/cerita-cerita-ly-di-oase-kompascom-44.php/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mao Mengajak Berhitung</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/mao-mengajak-berhitung-42.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/mao-mengajak-berhitung-42.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 00:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Citizen Journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Dalam suatu kesempatan saya sempat mengikuti presentasi Isaac Mao di Bangkok. Ia mengajak saya berhitung. Yang dihitung adalah social tools. Jadi mulailah kami menghitungnya. Ini jawaban saya:
1. gmail? ya, ada!
2. yahoo mail? ya, ada!
3. facebook? ya, ada!
4. flickr? ya, lanjut&#8230;.
5. slideshare? hm&#8230; belum
6. twitter? wah, belum merasa perlu..
Saya berhenti, Mao terus berhitung. Di angka 20, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/isaacphoto.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-43" title="isaacphoto" src="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/isaacphoto-300x223.jpg" alt="" width="251" height="186" /></a>Dalam suatu kesempatan saya sempat mengikuti presentasi Isaac Mao di Bangkok. Ia mengajak saya berhitung. Yang dihitung adalah <span style="font-style: italic;">social tools</span>. Jadi mulailah kami menghitungnya. Ini jawaban saya:<br />
1. gmail? ya, ada!<br />
2. yahoo mail? ya, ada!<br />
3. facebook? ya, ada!<br />
4. <span id="lw_1225410051_0" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">flickr</span>? ya, lanjut&#8230;.<br />
5. slideshare? hm&#8230; belum<br />
6. twitter? wah, belum merasa perlu..</p>
<p><span id="lw_1225410051_1" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">Saya</span> berhenti, Mao terus berhitung. Di angka 20, ia terus berhitung. Ia memiliki lebih dari 20 social tools!  Ia lalu membagi alamatnya di <span style="font-style: italic;">slideshare</span>. &#8220;Kau bisa membaca lengkap presentasiku di sana&#8230;&#8221;<span id="more-42"></span></p>
<p>Siapa Mao? Ia adalah pakar <em><span id="lw_1225410051_2" class="yshortcuts">social media</span></em>, konsultan new media untuk proyek <span id="lw_1225410051_3" class="yshortcuts">I<em>nternet and Society</em></span> di Harvard University. Ia duduk sebagai supervisor termuda <em>Global Voice</em>, inisiatif pelacak dan perangkum blog di seluruh dunia yang dirintis Ethan Zuckerman beberapa tahun lalu. Ia kini tengah berkeliling dunia nyata dan dunia maya mempromosikan sejumlah istilah aneh yang membuat penasaran: meta, memes, mind morphing, sharism, democracy 2.0,</p>
<p>Siapa Mao? Ia seperti anak muda kebanyakan.Ke mana-mana memanggul ransel, berpenampilan rileks dan selalu bersemangat diajak bicara tentang perkembangan Internet. Yang membedakannya barangkali adalah sejuta gagasan <em>social media</em> yang dibawanya di dalam laptop dan kepalanya.</p>
<p>Sejak mendirikan Panyingkul! saya memang meminjam salah satu konsepnya, &#8220;sharism&#8221;. Intinya bagaimana kita mengajak semua  anggota komunitas mengidentifikasi modal sosial dan intelektualnya kemudian bekerja membaginya untuk mencapai suatu misi yang disepakati bersama. Sharism &#8211;istilah yang kedengaran lucu ini&#8211; pada dasarnya bukan konsep baru. Ia adalah hasil reproduksi yang telah mengalami penyesuaian di sana sini. Dalam konteks social media di China, Mao dan timnya bekerja untuk memperdayai para intel dan departemen propaganda pemerintah yang memberlakukan sensor sangat ketat terhadap media. Ya, ada yang lebih kokoh dan tebal dari Tembok China: sensor.</p>
<p>Mao memutar otak. Bagaimana memperdayai para intel, bagaimana membantu para aktivis HAM di China, bagaimana memborbardir China dengan informasi yang lebih berimbang? Di belakang Mao, berbaris para blogger dan kalangan muda yang kecanduan Internet. Anak-anak muda ini tiba-tiba merasa mendapatkan semacam &#8220;panggilan berperang melawan kebatilan&#8221;. Mereka menabuh genderang perlawanan di ranah maya. Mao menggelar peta virtual, memanfaatkan sebaik-baiknya <span id="lw_1225410051_4" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">Google</span> mashup, <span id="lw_1225410051_5" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">Yahoo</span> pipe, twitter, Google map, dan kini bahkan menyusun sebuah peta social media yang rumit dengan melibatkan media mainstream seperti Reuters (tapi berupaya dijelaskan dengan lebih sederhana). Mereka menyusun siasat, tidak sekadar mendambakan arus informasi yang lebih bebas dan sehat, tapi mereka menciptakannya. Ya, setiap hari ada siasat baru untuk berupaya membobol sensor, termasuk memperbaharui bahasa sandi di kalangan blogger.</p>
<p>Mao memang mengajak kita berhitung. Yang dihitung bukan sekadar berapa banyak email account, blog, SNS, dan social tools lainnya yang kita miliki. Yang dihitung adalah manfaat apa yang bisa kita ciptakan dari semua ini?</p>
<p>&#8220;It&#8217;s not a game. It&#8217;s about a life!&#8221;  kata Mao ketika memberi contoh tentang upaya sejumlah blogger mengirimkan susu bubuk untuk seorang bayi berusia satu bulan,  anak dari seorang aktivis HAM  di China. Dengan menggunakan Google Map, para blogger melacak di mana gerangan keluarga demonstran ini disembunyikan oleh aparat? Setelah sang demonstran ditahan, akses makanan bagi keluarga ini diblokir total.</p>
<p>Sosodara,<br />
setelah Mao mengajak saya berhitung. Kini saya yang ingin mengajak Anda semua berhitung.Yang kita hitung tentu saja bukan berapa banyak blog dan cerita serta foto narsis yang terpajang. Yang kita hitung adalah sinergi, sharism, reproduksi ide dan gagasan untuk dijadikan sebuah tindakan dengan memanfaatkan sebaik-baiknya social tools yang kita miliki. Kita jauh lebih beruntung dibandingkan Mao dan kawan-kawannya, karena sensor telah lama mati di negeri ini.</p>
<p>Nah, mari kita hitung bersama. Di sini. Di Panyingkul!</p>
<p>ly<br />
Tokyo, 28  bulan dua 2008/ 6:20 am</p>
<p>*Isaac Mao bisa ditemui di <a href="http://www.isaacmao.com/" target="_blank"><span id="lw_1225410051_6" class="yshortcuts">www.isaacmao.com</span></a></p>
<p>*Sumber foto: Global Voice Online</p>
<p>*Tulisan ini adalah Celoteh Ly tentang Citizen Journalism di milis panyingkul@yahoogroups.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/mao-mengajak-berhitung-42.php/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kit Menggedor Arogansi Media</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/kit-menggedor-arogansi-media-40.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/kit-menggedor-arogansi-media-40.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 23:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Citizen Journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin mengajak Anda menonton Kit Kittredge: An American Girl yang dirilis Juli lalu. Bila belum sempat menonton, bisa lihat-lihat dulu di situs resminya, www.kitkittredge. com untuk sekadar tahu tentang film ini. Enam tahun lalu, si “Pretty Woman” Julia Roberts bersama saudaranya penasaran mengangkat serial populer An American Girl ke layar lebar. Rasa penasaran terbayar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/kitposter.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-41" title="kitposter" src="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/kitposter-203x300.jpg" alt="" width="169" height="250" /></a>Saya ingin mengajak Anda menonton <span class="yshortcuts"><em><span id="lw_1225408582_0">Kit Kittredge: An American Girl</span></em></span> yang dirilis Juli lalu. Bila belum sempat menonton, bisa lihat-lihat dulu di situs resminya, <a href="http://www.kitkittredge.com">www.kitkittredge. com</a> untuk sekadar tahu tentang film ini. <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_1">Enam</span></span> tahun lalu, si “Pretty Woman” Julia Roberts bersama saudaranya penasaran mengangkat serial populer <em>An American Girl </em>ke layar lebar. Rasa penasaran terbayar. Film ini disutradarai dengan apik oleh Patricia Rozema. <em>The great depression</em>, orang-orang kelas menengah yang terjun bebas ke jurang kemiskinan di tahun 1930an dan petualang seorang bocah perempuan di rumah pohonnya dengan cita-cita yang tidak tanggung-tanggung: ingin tulisannya dimuat di <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_2" style="cursor: pointer;">surat kabar</span></span> di kota tempat tinggalnya, <em>Cincinnati Register</em>, dibumbui upaya mengungkap  misteri kejahatan a la Lima Sekawan karya Enid Blyton <span id="more-40"></span></p>
<p>Bagi yang sudah menikmati <em>Little Miss Sunshine</em> dan <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_3" style="cursor: pointer;">gemas </span>pada akting si cilik <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_4">Abigail Breslin</span></span>, film ini akan mempertebal kekaguman itu. Tapi bukan kehebatan Abigail itu yang ingin saya ceritakan di sini. Saya ingin bercerita tentang tokoh Kit yang diperankannya dan  akar <em>citizen  journalism</em> yang tergambar di film itu. Kit yakin, dengan mesin ketik tua di rumah pohon dan restu kedua orangtua, ia bisa menulis sesuatu yang segar dan belum diketahui pembaca di kota itu. Ia mewawancarai tukang kebunnya. Saat si tukang kebun remaja itu ragu, &#8220;Apa ada yang menarik dari kehidupan saya?&#8221; Kit bersikeras, &#8220;Pasti ada! Setiap warga di kota ini pasti punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan! &#8220;</span></p>
<p><em>A resourceful young girl with bravery, compassion and determination</em>.  Begitu karakter Kit diterjemahkan oleh sang sutradara saat mengarahkan akting Abigail. Tiga modal Kit ini yang perlu kita catat. Ia memberi peran pada dirinya, mengabarkan kehidupan orang biasa di tengah resesi yang muram.</p>
<p>Tentu mencuat  pertanyaan soal hal-hal yang tidak masuk akal di film ini. Kit yang terlalu berani dan cerdas untuk bocah perempuan berusia 10 tahun, jelas mengusik saya. Ia seperti bocah Belitong, Ikal, Lintang dan Mahar yang <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_5">luar biasa</span></span> cemerlang dan berpengetahuan luas di <span class="yshortcuts"><em><span id="lw_1225408582_6" style="cursor: pointer;">Laskar Pelangi</span></em></span>.</p>
<p>Misalnya, ada adegan Kit datang ke Kantor Surat Kabar Cincinnati Register menggedor pintu Sang Pemimpin Redaksi dan penuh percaya diri menyerahan tulisannya. Artikelnya ditolak. Ia tak menyerah. Kit meliput lagi kehidupan kalangan pengangguran dan miskin kota yang disebut <em>The Hobos</em>, kelompok yang makin tercekik gara-gara hantaman krisis keuangan. Ia datang lagi, mengetuk pintu di ruang redaksi. Gadis kecil ini pantang mundur, deh pokoknya. Tentu, sebagai penonton, saya agak terganggu dengan rasa percaya diri berlebihan yang disusupkan pada karakter si bocah.</p>
<p>Tapi mengutip anak saya Fawwaz, yang gemar berkata: &#8220;yang penting kita mengerti pesan moral cerita ini&#8230;.&#8221;  maka saya mengabaikan sejumlah kejanggalan itu dan mengedepankan pesan moral  Kit Kittredge: &#8220;Di tengah peristiwa besar seperti depresi hebat 1930an begitu banyak hal yang nyaris luput dicatat dalam sejarah, seandainya bukan orang biasa yang menggerakkan tangan menuliskannya. &#8221;</p>
<p>Setelah terus berupaya tanpa lelah, tulisan Kit akhirnya dimuat. Judulnya: &#8220;Depresi Ekonomi dari perspektif seorang bocah.&#8221; <span class="yshortcuts"><span id="lw_1225408582_7" style="cursor: pointer;">Anak</span></span> perempuan itu berlompatan riang memperlihatkan surat kabar yang memuat tulisan dan gambar-gambar hasil jepretannya.  Sebagai warga Cincinnati, ia  menyeruak dengan laporan yang khas, yang tak terpikirkan wartawan yang terlanjur menjangkarkan diri pada wacana-wacana besar terkait resesi: kebangkrutan, pengangguran, kejahatan, langkah pemecahan dan seterusnya.</p>
<p>Bagi saya, citizen journalism yang menjadi pesan moral film ini. Tiga kata yang menjadi karakater utama Kit, bukankah itu juga yang jadi resep citizen journalism yang senantiasa didiskusikan?</p>
<p>Nah, hari-hari belakangan ini, di tengah krisis keuangan global yang membuat banyak orang megap-megap ditelan badai, apa yang telah kita catat sebagai warga? Media mainstream berlomba mengabarkan &#8220;bailout&#8221;, &#8220;fresh fund injections&#8221;, &#8220;coordinated global actions&#8221;, “interest rate cut” dan seterusnya. Dari perspektif warga, istilah dan cerita apa yang sebaiknya kita disandingkan dengan wacana krisis yang bikin kita semua panik itu? Kit menyodorkan ide: menuliskan sisi paling manusiawi dari kita semua di tengah gelombang krisis. Ada semangat setia-kawan antar orang-orang yang hidup di perkampungan tuna wisma, ada juga orang-orang yang tergerak tipu sana sini memanfaatkan kepanikan kelas menengah yang tidak siap jatuh miskin, juga tentang perayaan Thanks Giving yang mesti mengalami perombakan besar-besaran karena dirayakan di tengah situasi depresi yang begitu muram.</p>
<p>*tulisan ini adalah Celoteh Ly seputar Citizen Journalism di milis <a href="mailto:panyingkul@yahoogroups.com">panyingkul@yahoogroups.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/kit-menggedor-arogansi-media-40.php/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>In The Delivery Room</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/in-the-delivery-room-39.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/in-the-delivery-room-39.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 05:29:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[I gave a birth to a million question marks
the ocean sky sent down its rotten stars
midwives on the bedside spinning their heads
sinner, sinner they exchanged roars
to the wall, to the window, to the newborn babe,
the flame of veracity licked its own greenish smoke
the white-pearl milk as pure as my breast
dissolute my redden tears  and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I gave a birth to a million question marks<br />
the ocean sky sent down its rotten stars<br />
midwives on the bedside spinning their heads<br />
sinner, sinner they exchanged roars</p>
<p>to the wall, to the window, to the newborn babe,<br />
the flame of veracity licked its own greenish smoke</p>
<p>the white-pearl milk as pure as my breast<br />
dissolute my redden tears  and  sweat<br />
no cradle, no lullabies, but hasty beat<br />
no green home, no blue room, but a yellow cold miserable crest</p>
<p>drink my pain,  drink me, drink me<br />
you the  seed i planted with dare<br />
from the sweetest sin you grew<br />
my apology to name you: an uninvited creature</p>
<p>holy hands will raise you, tomorrow they come<br />
in this box i leave you a gloomy fairy tale:<br />
you were born from a bamboo tree</p>
<p>Tokyo Sept 27/21:51 pm<br />
Ly</p>
<p>*a note for underage mothers who leave their unwanted babies into &#8220;baby deposit box&#8221; in Japanese hospitals.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/in-the-delivery-room-39.php/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pembenci Jakarta</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/pembenci-jakarta-37.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/pembenci-jakarta-37.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 02:54:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[“Maaf boleh numpang tanya,.. apa yang Anda lakukan di sini?  Menunggui padi matang, ya?” seorang pendatang bertanya padaku.
 
“Di dangau kau akan mendapati suasana di mana seolah waktu tercerabut dari dimensi ruang. Bila engkau membawa seribu persoalan sekalipun ke dangau, maka ribuan bulir padi bersedia menyerapnya. Boneka sawah mengusir pipit, juga mengusir segala persoalanmu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/bundaranhi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-38" title="bundaranhi" src="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/bundaranhi.jpg" alt="" width="200" height="150" /></a><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Maaf boleh numpang tanya,.. apa yang Anda lakukan di sini? <span> </span>Menunggui padi matang, ya?” seorang pendatang bertanya padaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Di dangau kau akan mendapati suasana di mana seolah waktu tercerabut dari dimensi ruang. Bila engkau membawa seribu persoalan sekalipun ke dangau, maka ribuan bulir padi bersedia menyerapnya. Boneka sawah mengusir pipit, juga mengusir segala persoalanmu. Segenap kenangan yang engkau nikmati terhampar dengan gradasi kuning hijau, lengkap dengan segala alurnya seperti pematang yang saling sejajar kemudian bersilangan di titik tertentu. Dangau adalah tempat yang membuatmu lupa pulang &#8230;” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ia pasti bingung mendengar ceracauku. Biar saja, orang Jakarta memang perlu dibuat bingung!</span></em><span id="more-37"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Orang-orang penting dari Jakarta menyerbu pelosok tempat tinggalku. Ia salah satunya. Membawa buku catatan tebal, mikrofon, dan seorang juru kamera yang tak henti mengunyah permen karet. Saat selusin pejabat mengangguk-angguk di tepi jalan beraspal mendengar penjelasan pak bupati, ia memilih duduk di dangau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Boleh <em>kan</em>? Baru sekali ini aku berada di tengah sawah. <em>Wonderful!</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ia duduk di sampingku, melempar pandangan ke hamparan emas padi yang siap dipanen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Wah, bakal panen besar, nih!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Inilah orang-orang Jakarta, hanya datang saat kami sedang gembira menyambut panen. Spanduk dan umbul-umbul menyambut rombongan mereka. Sebagian iuran dekorasi itu dipungut dari rumah penduduk. Lubang jalan ditambal. Buruh bekerja siang malam. Garis trotoar dilumuri kapur. Bunga perdu di tepi jalan dipangkas, membuat ibu-ibu PKK ketambahan pekerjaan. Anak-anak sekolah tak boleh pulang setelah lonceng akhir jam pelajaran. Mereka berlatih baris berbaris, bernyanyi dan melambaikan tangan. <em>Orang Jakarta, orang penting itu…</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dari dulu juga begitu. Aku juga mengalami masa kecil persis seperti anak-anak sekolah yang malang itu. Aku berbaris dengan betis kesemutan sejak pukul 7 pagi, menunggu rombongan dari Jakarta yang datang pukul 3 sore. Aku dipaksa tersenyum sambil menyanyikan lagu <em>Selamat Datang</em> saat sebagian dari siswa sudah ingin pulang, didera rasa bosan, jengkel dan lapar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku tidak mengenal Jakarta dengan baik. Seumur hidupku aku baru tiga kali ke Jakarta. Kenang-kenanganku tentang Jakarta serba kecut dan tengik. Maka tawaran pendatang itu setelah mewawancaraiku, <em>“Kapan main ke Jakarta&#8230;.”</em> kujawab dengan gelengan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Aku membenci Jakarta!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hah? Engkau membenci Jakarta?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Aku tak punya pengalaman yang baik dengan kota itu, juga dengan orang-orangnya..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Maksudmu&#8230;?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Karena ia memintaku bercerita, maka kukenang masa kecilku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ke Jakarta, horeee! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">(Kenangan Sari Ahmad Marzuki)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku mengucapkan pengumuman itu sekeras mungkin kepada seisi kelas. Tidak banyak teman yang pernah ke Jakarta. Hanya Samara si anak bupati dan Takwa anak pemilik toko bahan bangunan kaya raya di kampung kami yang bangga berkata, “Sudah menginjak Jakarta!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sepulang dari Jakarta dengan bangga mereka membawa ke kelas kami perlengkapan makan yang mereka ambil dari pesawat. Cangkir, sendok, garpu plastik dengan logo burung berparuh tertekuk, juga bungkusan putih dengan bulir-bulir halus di dalamnya, yang masing-masing bertulis “sugar”, “salt” dan “pepper”. Barang bukti bahwa mereka telah terbang ke Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku gosong oleh rasa cemburu. Aku juga ingin ke Jakarta. Kutanyakan pada ibu, kapan aku juga bisa ke Jakarta? Kata ibu, nanti ia meneruskan kepada bapak pertanyaan itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Sedang dinas ke Jakarta…” kalimat ini memang akrab di telingaku sejak kecil. Ada waktu-waktu tertentu di saat bapak meninggalkan ibukota kabupaten tengah malam, dan berbisik sambil mencium keningku, “Bapak dinas ke Jakarta ya&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bapakku ajudan bupati. Badannya yang lampai dan condong ke depan menggambarkan jelas pekerjaannya. Kedua tangannya harus selalu siap menyerahkan tas, kacamata, naskah pidato, topi, surat perjanjian, dan segala barang lainnya yang diperlukan atasannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Samara, sang putri bupati tentu mudah ikut bapaknya ke Jakarta. Sedangkan aku? Aku putri ajudan bupati. Kelasnya beda! Peluang dan keberuntungannya juga jelas beda!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tapi aku juga ingin merasakan menginjak ke Jakarta. Kelihatannya gaya sekali kalau aku bisa seperti Samara memamerkan fotonya di Ancol dan Taman Mini, atau di atas tangga berjalan. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku perlu menunggu naik kelas 6, hingga akhirnya suatu hari, ibu kudapati melonjak kegirangan, “Kita ke Jakarta, kita Jakarta, Sari!”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ke Jakarta! Aku ke Jakarta besok!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Samara tercekat. Tak percaya rupanya, dia! Teman-teman sekelasku menjelma lebah yang berdengung serempak. “Weeehhh…. enaknya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Terbanglah aku ke Jakarta. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di pesawat ada perempuan berseragam hilir mudik membagi permen, makanan dan menuangkan jus. Ada pengumuman-pengumuman dalam bahasa yang tak kumengerti, juga ada dengung halus mesin pesawat yang menggelitik telinga, semburan angin dingin di atas kepala dan silau lampu baca. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di sampingku, ibu komat-kamit baca doa. “Kalau kapal terbang ini jatuh, habislah generasi kita, Sari….,” bisiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ah ibu, selalu memikirkan nasib kami sekeluarga. Selalu begitu dia… </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku, bapak, ibu serta Rahmat, kakakku, menjalani penerbangan dengan perasaan yang berbeda-beda. Bapak yang sudah sering terbang, memilih tidur. Rahmat dan aku sibuk memasukkan perlengkapan makan di pesawat ke dalam ransel kami. Senang sekali rasanya melihat kotak plastik berisi makanan dengan logo burung berparuh tertekuk itu! Akhirnya, punya juga aku koleksi perlengkapan makanan seperti milik Samara!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kami berdua bersenang-senang memandang awan dan kabin pesawat yang penuh bermacam-macam orang. Ibu mengatupkan tangan, memainkan tasbih. Bulir dzikir tak henti berputar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Liburan keluarga ajudan bupati. Indah sekali rasanya…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tapi ke mana pak bupati? Kata bapak, kami ini diselipkan di perjalanan dinas atasannya. <span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku bertanya-tanya. Celangak celinguk meneliti satu per satu penumpang. Tak tampak!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ssst.. pak bupati duduknya dekat pilot. <em>Kan</em> bupati&#8230;!” seru kakakku sok tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ada dua patung abu-abu dengan tangan yang terangkat tinggi-tinggi, berdiri tepat di depan hotel tempat kami menginap. Di bawah kaki patung itu ada bundaran besar dengan air mancur seperti berpasang lidah-lidah tipis yang menjulur-julur ke udara. Kendaraan berputar-putar di sekeliling bundaran itu. Poster, bendera, umbul-umbul yang terpasang, berkibar. Menari. Semarak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Wuiiih, Jakarta ramai sekali…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">&#8211;Jakarta asyik!&#8211;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">(kata Rahmat Ahmad Marzuki) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dua pintu besi terbuka diawali dengan bunyi <em>ting! </em>Rahmat mendorong Sari masuk ke dalam kotak besi berwarna kelabu itu. Telunjuknya yang mungil kemudian buru-buru menekan tombol semua angka<em>, </em>hampir bersamaan<em>. </em>Tak lama tawa bocah lelaki itu membahana di seluruh koridor hotel, meninggalkan Sari, adiknya, sendirian di dalam lift. Gadis kecil itu menangis meraung-raung. Rahmat menepuk-nepuk tangannya, puas pada rencana yang berjalan sukses. Dari jendela sepanjang koridor dilihatnya patung selamat datang di bundaran HI seolah melambai padanya. <em>Jakarta memang asyik! Ada pintu ajaib yang bisa menelan Sari!</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ting!</span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span>Kedua pintu besi itu terbuka. <em>Ting!</em> Kedua pintu itu tertutup. Bergerak, berhenti, terbuka, tertutup, bergerak lagi. Di setiap lantai. Gadis kecil itu meraung kebingungan. Mata dan hidungnya basah. Celananya juga basah. Seorang <em>room boy</em> yang kebetulan hendak masuk ke dalam lift, membawanya ke lobi. Di tuntunnya Sari ke meja resepsionis, mencari kamar bapak dan ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Nama bapakku Ahmad Marzuki, nama ibuku Hilma.” Sari kecil masih terus sesungukan.<span> </span>Petugas resepsionis<em> </em>kebingungan. Tak ada nama itu di daftar tamu. <em>Anak siapa yang menangis tersesat di dalam lift ini?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ahmad Marzuki memang tidak pernah ada di daftar nama tamu hotel. Ia bersama keluarganya terdaftar dalam “Rombongan Pemda”. Hotel di<em>booking</em> sekaligus untuk urusan dinas pemerintah daerah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hidup Ahmad Marzuki sangat tergantung pada atasannya. Seperti bayangan yang mengikuti tubuh, ia melekat pada sang bupati. Ia bayangan yang nyaman berlindung dan juga melindungi atasannya. Selayaknya ajudan pada umumnya, ke mana-mana, ia mengenakan stelan safari. Kadang <span> </span>lengan pendek, kadang lengan panjang. Kadang dua kantong, kadang empat kantong. Namun apapun variasi pakaian safari yang dikenakannya, warnanya selalu kelam: abu-abu, coklat pudar atau biru tua kehitaman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di waktu-waktu tertentu Ahmad Marzuki menyediakan telinganya untuk berbagai cerita yang meluncur dari bibir tuannya. Sang bupati memulai ceritanya dengan kalimat pendahuluan, <em>“Ini hanya antara kita saja&#8230;” </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Telinga Ahmad Marzuki menampung banyak rahasia atasannya. Mulutnya irit mengeluarkan kata-kata. Kontras dengan kepalanya yang luwes mengangguk sembari melontarkan kata, “Ya, Pak!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sari terus menangis di depan resepsionis. Seorang staf yang tampaknya panjang akal, tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang di menit berikutnya bisa menghentikan tangis si kecil Sari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Dari mana asalmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sari menyebut kota kabupatennya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Aha! Lantai 7. Ini rombongan bupati yang tiba pagi tadi…” si petugas <span>hotel</span> mendapatkan titik terang ke mana harus mengantar Sari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">&#8211;Jakarta menggemparkan!&#8211; </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">(gerutu Hilma Ahmad Marzuki)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dua tempat tidur dengan <em>bed cover</em> biru tua bemotif bunga teratai. Dua lukisan petani membajak sawah tergantung di dinding, tepat di kepala tempat tidur. Dua kursi hijau tua di sisi jendela, dan dua <em>welcome drinks</em> dihiasi setangkai anggrek yang diletakkan anggun di kaki gelas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ini kamar pak bupati. Kalian tinggal di sini dulu ya…<span> </span>Saya harus mendampingi bupati ke Bappenas…,”<span> </span>begitu pesan suaminya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hilma bersama dua anaknya terbelalak untuk kesekian kalinya. Kamar yang wangi, rapi dan nyaman. Kakinya tenggelam dirubung benang-benang wol karpet tebal. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“<em>Masya Allah</em>! ini kamar mandi ya… <em>Masya Allah</em>! bahkan di kamar mandinya pun kita bisa tidur…” Hilam menggosok-gosok lantai kamar mandi yang kering, licin dan wangi. Di kampungnya, kamar mandi pastilah basah! Dilekatkannya pipinya pada <em>bathup</em> putih gading yang memantulkan bayangannya. Diciuminya tiga susunan handuk putih yang tersusun di samping westafel, diputarnya kran bertanda merah yang membuatnya spontan menjerit, “Wow…panas…!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sejak subuh tadi mereka memang sudah membelalakkan mata seperti burung hantu. Pengalaman pergi ke bandara, duduk di ruang tunggu khusus penumpang, masuk ke dalam tubuh pesawat terbang, mengencangkan sabuk pengaman, menyaksikan pramugari hilir mudik. Ah, semuanya menggetarkan! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Pemandangan dari jendela pesawat menyajikan rumah-rumah penduduk yang menjelma jejeran kotak korek api diselingi sawah, gunung dan laut, lalu berganti gumpalan awan, yang semakin lama makin tebal. Semua itu membuat mata mereka terbelalak. Dan kini, kamar tidur yang dipesan pak bupati…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Jangan ke mana-mana ya… tunggu sampai saya kembali!”<span> </span>Ahmad Marzuki menutup pintu, meninggalkan Hilma, Rahmat dan Sari di dalam kamar. Tapi kedua anak itu tak betah terkurung. Ramai lalu lintas yang tampak dari jendela kamar begitu menggoda mereka! Di menit berikutnya kedua anak itu sudah berhamburan ke koridor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kringg..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Sendirian di kamar hotel, Hilma tak tahu apakah harus menjawab telepon itu atau tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kringg..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Suaminya tidak meninggalkan pesan apa-apa soal telepon. Hilma ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kriing.. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ya… halo..” suara Hilma mengambang. Makin ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ini kamar Pak Zulhan?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Suara seorang perempuan terdengar di seberang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Dan Anda siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Engghhh…” Hilma bingung mencari jawaban yang tepat. Ia ingat sejak dari bandara, suaminya mewanti-wanti agar jangan sampai ada yang tahu bahwa mereka sekeluarga menggunakan kamar pak bupati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kamu jangan juga cerita-cerita di kampung nanti ya kalau kita menginap di sini. Ini pesan pak bupati…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Maaf, Anda siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Perempuan di seberang terdengar tidak sabaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Engghh…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Dengar baik-baik, ya! Saya ini Mirnaza, istri pak Zulhan. Wajar kan kalau saya ingin tahu siapa gerangan yang ada di dalam kamar suami saya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hah?” kali ini Hilma tak kuasa untuk tidak melempar gagang telepon itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Halo..halo…mana bapak! Mana bapak! Saya perlu bicara!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Suara di seberang berteriak serak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hilma memilih meninggalkan kamar. Ia memutuskan menunggu suaminya di lobi saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di koridor, ia berpapasan dengan Sari yang diantar seorang petugas hotel. Gadis kecil itu menangis. Bajunya kuyup, bibirnya gemetaran, pita rambutnya berantakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ada apa ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Rahmat muncul dari ujung koridor. Dengan wajah ditekuk penuh penyesalan, ia bercerita tentang Sari yang didorongnya ke dalam lift. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Rahmat mau membunuhku di dalam kotak itu…,!” Sari terus menangis, mengadu pada ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hilma merogoh tasnya, mencari tasbih kecil yang sejak di pesawat tadi digunakan untuk berdzikir. <em>Oh, ternyata dibutuhkan lebih banyak doa menenangkan diri di dalam hotel ini, dibandingkan dalam penerbangan tadi!</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di kepala Hilma, nama perempuan yang membentaknya di telepon terus terngiang. Mirnaza? M-i-r-n-a-z-a? Bukankah ibu bupati di kampung bernama Hajjah Hadrasah….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bulir tasbihnya berputar gemetar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hahaha… jadi kamu membenci Jakarta karena pernah dijebak lift oleh kakakmu sewaktu kecil ya… Hahaha…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Itu baru satu alasan… banyak alasan lainnya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Oh ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Ceritakanlah…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Hm, orang Jakarta itu mulai tertarik, rupanya..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku menunjuk rombongan pejabat di tepi jalan yang bergerak. Bersiap masuk ke dalam mobil. Salah seorang pejabat yang menggunakan caping, tertawa sangat keras mendengarkan penjelasan pejabat kabupaten yang membungkuk-bungkuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di kejauhan anak-anak sekolah terdengar lagi menyanyikan lagu <em>Selamat Jalan </em>sambil melambai-lambaikan bendera-bendera kecil. <em>Ah, orang Jakarta, kerjanya bikin susah orang satu kampung saja! </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Wah, sial! Pak Menteri sudah mau berangkat”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di ujung pematang, juru kamera yang sedari tadi sibuk merekam gambar sawah, sapi dan para pejabat, melambai memberi isyarat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Pak… sebaiknya pulang lewat pematang yang sebelah kiri. Pematang yang sebelah kanan, tanahnya rawan, sempit dan agak longsor&#8230;,” aku meyakinkan orang Jakarta itu dengan senyum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ia mengacungkan jempol, “<em>Siiip… thanks ya!</em>” Ditapakinya pematang sebelah kiri yang justru bertanah lembek, bekas galian irigasi buruh tani kemarin.<span> </span>Ia terperosok. Sumpah serapah terlontar di sepanjang pematang. Hahaha&#8230; <em>orang Jakarta jatuh ke sawah! </em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Haruskah kulanjutkan ceritaku mengapa aku benci Jakarta?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Musim tanam berikutnya seorang peneliti dari universitas ternama di Jakarta mengangguk-angguk serius menatapku. Guratan dahinya membentuk tiga garis berbanjar. Jari telunjuk dan jempol kanannya mempermainkan pulpen bermerek <em>Bic. </em>Sekali-kali pulpen itu diketuk-ketukkan di ujung dagunya. Ia menggenggam notes bertulis <em>World Bank.</em> Kaos oblong di dadanya bertulis <em>No Free Trade</em>! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ah, kali ini datang orang Jakarta dengan perpaduan simbol-simbol yang membuatku meringis! </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Aku mengajaknya ke dangau. Kuajak ia memandangi padi yang luruh dan rebah, serta pematang yang luluh lantak diserbu tikus. Boneka pengusir burung sudah lama dicabut petani. Tak ada pipit yang sudi mampir musim tanam kali ini. Untuk menghibur penduduk, bupati memerintahkan program “pisangnisasi”, penanaman pisang di pinggiran sawah agar sawah yang mati itu masih bisa mendatangkan sedikit manfaat.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Orang Jakarta hanya datang saat padi kami kuning siap dipanen lalu disiarkan di televisi&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Si peneliti itu merekam suaraku. Mencatat seluruh ceritaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kalau boleh tahu&#8230; untuk apa ya wawancara ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Untuk proyek penelitian luar negeri, sekaligus tesis S2 saya..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Oh&#8230;.. kenapa Bapak baru datang sekarang, saat sawah kami sudah berantakan begini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hmmm, <em>gimana</em> ya, Dik…<span> </span>Dana proyeknya juga baru cair, jadi ya, saya baru bisa kerja…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Saat peneliti itu pamit kusarankan ia memilih pematang sebelah kanan. “Pak, pematang itu lebih kering. Lebih cepat sampai di ujung aspal&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Peneliti itu mengancungkan jempolnya, lalu bergegas melintas pematang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dan…. aku hanya butuh tiga menit untuk mendengar jeritannya meledak di udara. <em>Orang Jakarta memang perlu diperosokkan di pematang tonggos yang diserbu tikus-tikus sawah. Enak saja, sawah kami gagal panen, dia asyik meneliti kemalangan kami!</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">TENTU banyak cerita yang bisa kubagi. Banyak alasan mengapa aku membenci Jakarta. Samara, teman masa kecilku juga membenci Jakarta. Di pemakaman ayahnya, ia bertemu seorang perempuan dari Jakarta yang mengaku sebagai istri muda ayahnya. Kehadiran perempuan itu membuat ibu Samara pingsan berkali-kali di samping nisan suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di pemakaman penuh drama itu, aku melirik ibuku yang menangis gemetar. Ah, betapa tersiksanya ia menyimpan rahasia soal perempuan bernama Mirnaza yang mengaku istri simpanan bupati Zulhan di Jakarta. Lima belas tahun rahasia itu dikunci rapat-rapat, demi menjaga karir bapak sebagai ajudan bupati yang loyal dan berdedikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bapakku juga membenci Jakarta, karena bupati pengganti atasannya, terpilih dengan embel-embel “titipan Jakarta”, di pertengahan 1996. <span> </span>Bupati baru itu datang ke kabupaten ini dengan memboyong ajudan barunya. Bapakku turun pangkat jadi asisten urusan rumah tangga rumah jabatan bupati, dan tentu saja tak punya kesempatan ikut perjalanan dinas ke Jakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Oya, barangkali saja ada yang penasaran pada diriku. Aku, Sari Ahmad Marzuki, sarjana pertanian jurusan hama dan penyakit tanaman, yang memutuskan pulang kampung dua tahun lalu. Aku pulang menggarap sawah warisan orangtuaku. Bila kalian ingin mendengar cerita lainnya, mengapa ada sejumlah orang di pelosok ini yang membenci Jakarta, temui aku di dangau ini… (*)<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tokyo, 7 Februari 2008/ 11:59 am</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/pembenci-jakarta-37.php/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Danau</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/danau-35.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/danau-35.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 02:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[CERUK besar itu mengundang kumbang, capung dan burung, juga menggoda angin mempercepat pertemuan serbuk sari dan putik rumput liar di sekitarnya. Cahaya yang terpantul di permukaan air yang tenang dan kesejukan yang menyebar membuat orang bergegas membawa kayu-kayu tua tapi masih cukup kuat, untuk mendirikan bangku sederhana di tepinya. 
 Setelah beberapa bulan berlalu, saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-indent: 42pt; line-height: 150%;"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/danau.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-36" title="danau" src="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/danau.jpg" alt="" width="178" height="269" /></a><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">CERUK besar itu mengundang kumbang, capung dan burung, juga menggoda angin mempercepat pertemuan serbuk sari dan putik rumput liar di sekitarnya. Cahaya yang terpantul di permukaan air yang tenang dan kesejukan yang menyebar membuat orang bergegas membawa kayu-kayu tua tapi masih cukup kuat, untuk mendirikan bangku sederhana di tepinya. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> Setelah beberapa bulan berlalu, saat tanah yang terkikis dari lereng-lereng gunung mulai mengeras, orang-orang semakin sering datang ke tepi danau itu mengenang longsor dan menghitung-hitung berapa persisnya orang yang mati dan hilang, berapa luas ladang yang lenyap, berapa panjang jalan beraspal yang pecah berantakan dan membuat desa terisolasi. Seperti sebuah tempayan raksasa yang dihadiahkan alam dalam semalam, yang dipenuhi air, yang kelak ditumbuhi teratai, dihuni ikan, dilapisi alga di dasarnya. <span> </span>Gunung dan bukit menjaganya. Danau yang lahir setelah prahara gempa itu, bertahun-tahun kemudian menjadi tempat orang-orang membasuh sedih mengenang segala yang ditelan bencana.</span></em><span id="more-35"></span><em></em><em></em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Kurang lebih seperti inilah Zara ingin menulis bagian awal ceritanya untuk Fayza. Mungkin sebuah novel, bisa jadi sebuah trilogi yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dituntaskan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Sudah lama ia menyusun rencana ini, meluangkan waktu bercerita tentang danau-danau yang terbentuk setelah gempa atau longsor. Zara membayangkan kisah seorang peneliti penyendiri yang bertemu perempuan pemberani seperti Fayza, juga barangkali tentang masa tua nan sepi seorang mantan diktator yang menimbang-nimbang kembali kezalimannya, yang suatu hari saat melamun di tepian, ditenggelamkan ke danau oleh perawat setia yang mendorong kursi rodanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">DI meja makan kayu yang dipenuhi remah roti dan butiran gula yang disendok tergesa, Zara membisikkan rencana itu. Ini bukan pertama kalinya ia bicara tentang keinginannya menulis sebuah cerita yang sangat panjang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Restoran hotel kecil di pinggiran kota Amsterdam itu seolah milik mereka, sekelompok peneliti yang baru saja mengakhiri sebuah perjalanan jauh. Dan seluruh perhatian tertuju pada rencana Zara yang terasa ganjil di tengah percakapan tentang perubahan ekosistem akibat penimbunan, pendangkalan dan evaporasi danau. Pagi masih terlalu muda, tetamu lain belum ada yang muncul untuk sarapan. Pelayan yang menata menu <em>buffet</em> berkali-kali menghalau kantuk dan memasang senyum semasam yogurt.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Seorang teman menghentikan kesibukan mengaduk kopi demi mendengar keinginan yang diungkapkan Zara. Yang lainnya tetap meneruskan mengoles selesai kacang di atas roti panggang yang hangat, saat mendengar ia membuka percakapan perpisahan itu dengan pertanyaan, “Adakah di antara kalian yang memiliki kisah cinta atau kehidupan yang menarik, di sini? Aku ingin mulai menulis sebuah novel untuk mengenang kakakku…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Perjalanan yang jauh telah membuat mereka begitu dekat. Satu sama lain membagi apa saja yang ada di kepala dan di hati, ketika jurnal penelitian telah ditutup, ketika kantung-kantung tidur dibuka, padang di kaki bukit gelap terbentang, suara-suara serangga malam menjadi latar cerita-cerita yang mereka lontarkan sebelum tidur. Zara mendengar teman-teman yang berkisah tentang suami, istri, kekasih, anak atau rumah yang dirindukan. Yang lain mengenang kegagalan masuk dinas militer. Sementara dirinya sendiri mengingat Fayza dengan penuh kerisauan, juga membayangkan sebuah cerita panjang yang begitu ingin ditulisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">“Aku ingin mulai menulis setelah ekspedisi ini..” Zara berbisik kepada temannya yang ternyata telah terlelap. Di kejauhan ia mendengar burung malam seolah menyahuti rencananya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Dan pagi ini, ia mengulang lagi keinginannya itu di sela sarapan yang dikunyah tergesa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Seorang teman lainnya memandang Zara prihatin, menganggap perempuan itu tengah mengidap depresi serius setelah berhari-hari berkutat dengan pencatatan fluktuasi suhu, kemasaman tanah dan daftar vegetasi. Atau barangkali ia terkena pengaruh buruk udara dingin yang selalu saja menemukan cara paling lihai menembus tenda dan kantung-kantung tidur mereka. Atau, jangan-jangan petualangan bermil-mil menelusuri danau dan padang di Finlandia <span> </span>sebelum mengunjungi bekas-bekas danau di Belanda yang telah lenyap, membuat Zara merasa mendapatkan ilham untuk menyampaikan kabar mulia seperti layaknya orang-orang suci seusai menuntaskan semedi yang panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Rombongan peneliti itu berkemas-kemas sejak subuh. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil menuju tempat liburan. Satu dua orang memilih langsung pulang ke negara masing-masing. Ini lazim mereka lakukan saat sebuah ekspedisi berakhir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Zara menyeduh secangkir teh <em>earl grey</em> dan tergesa melahap semangkuk sereal di makan pagi yang dijadikan acara perpisahan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">“Hendak ke mana Zara?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> “Ke Jakarta …”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Zara pamit. Teman-temannya melambai, mengucapkan bermacam jenis salam lalu meneruskan sarapan dan percakapan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> “Kita ketemu di konferensi Montana, Zara! Hati-hati dan jangan lupa bawa novelmu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Ini seruan selamat jalan yang paling melekat di kepalanya saat taksi membawanya ke bandara. Terdengar seperti olok-olok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">(Oh, tunggu saja! Bukankah Galileo juga menulis puisi di sela kesibukannya membuat teleskop, mengamati jagat raya dan mempelajari aliran sungai?)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">***<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">ADA</span></em><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> gereja di dasar danau itu. Juga ada rumah-rumah yang lenyap secara misterius tujuh puluh tahun yang lalu. Danau itu sendiri hilang dalam waktu semalam. Seperti sebuah bak mandi raksasa yang dikuras, disedot oleh kekuatan gaib. Seorang nelayan yang terkantuk-kantuk di pagi hari, memutuskan menelepon polisi mengabarkan lenyapnya danau di Desa Bolotnikovo. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Penduduk desa berkerumun. Ada yang membatalkan kegiatan hari itu, memilih berdoa. Ini bukan pertanda baik. Sebaiknya jangan pergi jauh-jauh. Dua anak muda yang bangun kesiangan sehabis mabuk-mabukan di bar di desa sebelah, mengigau sambil sempoyongan. “Hantu danau beraksi lagi, kali ini mencuri semua air!”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Wartawan dan peneliti datang hampir bersamaan, mendapati dasar danau yang berlumpur. Seorang pejabat Rusia memberi keterangan pers, ada aktivitas gua-gua di bawah tanah. Ada celah yang tiba-tiba melebar di dasar danau dan menghisap semua air yang ditampung selama ini. Tapi bagaimana nasib ikan, lumut, alga dan berudu? Di mana lagi kita harus berenang dan berperahu? Rengek kanak-kanak yang menarik-narik ujung gaun ibunya. Seorang nenek berujar apatis, “Ah, ini ulah Amerika!”<span> </span></span></em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Zara juga ingin bercerita tentang Danau Beloye yang tiba-tiba mengering lenyap, menyisakan takhayul seperti yang ditemuinya di Desa Bolotnikovo. Hikayat yang seram tentang gereja dan sederetan rumah penduduk di sekitar danau yang tiba-tiba hilang puluhan tahun lampau, membuat orang-orang bergidik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Apakah Fayza senang pada kisah-kisah mahluk misterius yang tinggal di danau yang dikabarkan kerap menculik manusia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Kakak, mahluk seperti apakah yang menyekapmu?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bandara Schipol.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">DI sebuah <em>lounge</em> yang senyap, benak Zara sibuk menyusun sejumlah cerita. Tiga sofa biru tua yang empuk dan lembut, dua layar televisi plasma yang menyiarkan iklan wisata tanpa henti, seorang perempuan dengan dandanan meriah duduk dengan posisi kepala tertunduk menahan kantuk, seorang lakilaki dengan kemeja lusuh yang lengannya ditarik hingga ke siku, menyelonjorkan kaki di atas koper kecil bermerk <em>Samsonite</em> abu-abu, ia membaca buku yang di sampulnya tertulis <em>The World is Flat</em>. Di sampingnya, duduk seorang gadis dengan ransel <em>The</em> <em>North Face</em> yang begitu besar. Zara membayangkan gadis itu bakal sempoyongan saat berjalan menuju kabin pesawat memanggul ransel yang seolah menampung setengah dari isi Bumi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Lihatlah, orang-orang dengan penampilan yang berbeda-beda, tapi dengan tujuan yang sama: menunggu penerbangan paling pagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Belum pernah Zara secermat ini membuka lebar-lebar matanya dan mengamati dengan seksama setiap orang. Begitu banyak bandara, pelabuhan dan tempat-tempat ramai yang telah didatanginya, baru kali ini ia meluangkan waktu memperhatikan dengan sepenuh hati segala gerik-gerik orang di sekelilingnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Ia telah membayangkan dua danau di tempat yang berbeda. Yang satunya tercipta sekejap seusai guncangan gempa dan hantaman longsor. Yang lainnya ditelan seketika oleh gua-gua rahasia di perut Bumi yang menganga dan menghisap semua isinya, menyisakan dasar ceruk yang berkerut-kerut seperti kulit jeruk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Kisah dan orang-orang seperti apa yang hendaknya kuciptakan untuk mendampingi cerita Fayza yang begitu mencekam?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Sebuah rumah kecil yang sesak dengan kenangan. Di situlah mereka berdua menghabiskan masa kecil. Di mata Zara, langit selalu terlihat sangat dekat, seperti sengaja ditarik turun beberapa meter untuk menjadi latar pemandangan danau kecil di kejauhan yang tampak dari jendela rumah mereka. Danau tempat Fayza mengajaknya berperahu, berenang, menjaring ikan dan memetik biji teratai. Bertahun-tahun kemudian setelah ia menjelajah satu demi satu danau di belahan Bumi utara, yang beku di musim dingin dan cemerlang beriak tenang di musim panas, barulah Zara sadar bahwa langit memang kadang terasa sangat dekat, bahkan kerap seakan pindah ke permukaan danau, memantul-mantul jelas. Langit seperti bercermin mematut diri. Pernah sekali pemandangan menakjubkan itu membuat Zara yakin bahwa danau dengan permukaan sebening kristal membuat teratai dan bunga bakung seolah tumbuh di pantulan bayang-bayang awan yang berenang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Fayza dan seribu kenangan yang melintas silih berganti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">“Ada teori baru apa lagi, Nona peneliti danau?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Zara dengan penuh semangat bercerita tentang danau-danau di Utara, tentang laju evaporasi di danau tertutup, tentang pendangkalan, tentang pencemaran, tentang danau buatan yang bentuknya tampak aneh. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">“Zara, apa yang kusuka dari sebuah danau, karena kita tahu pasti ia hanyalah sebuah ceruk di tengah-tengah daratan luas. Ia bukan sungai yang mengalir ke laut, ia juga bukan samudra yang membuat kita cemas membayangkan di manakah pantai terdekat untuk berlabuh. Danau adalah hamparan air yang bisa kita nikmati tanpa perlu mencemaskan angin yang bisa tiba-tiba menjadi sangat kencang, tanpa perlu mengkhawatirkan gelombang pasang dan badai. Tepi danau yang tampak, meski hanya bayang-bayang yang samar, membuat kita tidak bakal merasa kehilangan arah dan menebak-nebak jalan pulang…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Fayza jugalah yang membuat Zara menumbuhkan cintanya pada danau, hingga akhirnya ia menegaskan sebuah cita-cita: <em>limnologist</em>. Nama yang tak akrab untuk sesuatu yang begitu dekat dengan masa kecil mereka. Ia menjelajahi danau, telaga, waduk dan segala ceruk di daratan yang menampung air. Fayza sendiri memilih jalan hidup di balik spanduk-spanduk perlawanan, meninggalkan kehidupan setenang danau, melupakan masa kecil menyenangkan, mengabaikan angin yang mendorong perahu dan keriangan mengumpulkan biji-biji teratai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">“Kalau menurut teori, tempat bermain kita dulu itu bukan danau, tapi hanyalah telaga luas, Kakak…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">“Apa bedanya danau dan telaga? Ah, Nona peneliti jangan sok serius begitulah! Kenapa harus kaku menggunakan definisi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">Fayza kembali turun ke jalan, mengepalkan tangan, membentang spanduk. Zara terbang kembali ke Montana bergabung dengan sebuah tim ekspedisi. Ia menenggelamkan diri dalam penelitian bertahun-tahun, juga mengadakan perjalanan ribuan mil mendatangi danau-danau di Bumi utara, yang putih beku di musim dingin, dan yang cemerlang di musim panas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">“Kakak hati-hati ya..”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB">“Kamu yang harusnya hati-hati di negeri orang, Zara.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Bandara Schipol yang lengang, dengan beberapa petugas yang terkantuk-kantuk di pagi yang belum merekah. Gerai-gerai toko masih tutup. Satu-satunya kesibukan tampak dari sebuah kafe kecil yang menebar bau kopi. Fayza melintas-lintas di benak Zara seperti cahaya berwarna warni yang berkejaran. Kenangan demi kenangan menyala terang. Ah, tiba lagi waktu itu. Sebuah peringatan yang selalu membawanya pulang ke Jakarta, bertemu orang-orang bernasib sama. <em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Kakak, bandara ini adalah sebuah danau masa lalu. Orang menyebutnya Herlemeer. Bukan danau yang tenang dan menyejukkan seperti yang kita kenang. Ini adalah medan pertempuan laut yang sangat sengit, antara pasukan Belanda dan Spanyol. Siapa yang membayangkan ratusan tahun kemudian ia dapat ditimbun dan diubah menjadi hamparan lantai keramik berkilau, <span> </span>di atasnya dibangun dinding-dinding kaca, ramai didatangi orang-orang yang hendak pergi dan pulang? Kakak, dulu kau bilang, danau bukan tempat yang menandakan penjelajahan jauh seperti halnya samudra. Di seberang, kita selalu pasti menatap tepian, katamu. Kau yakin, orang-orang mengarungi danau untuk sekadar mengitarinya, bukan merencanakan perjalanan yang jauh. Dan karenanya kau pernah bersikeras berperahu sendiri dan memintaku melambai di tepian.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">(“Kakak pasti pulang. Zara, jangan khawatir. Bila Kakak tiba di seberang, lambaianmu masih terlihat di sana…”) </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kakak,orang-orang memang sejak dulu melenyapkan danau demi melancarkan rencana-rencana yang semakin jahat dan serakah. Di negeri ini, danau ditimbun menjadi tanah pertanian. Rawa-rawa disulap menjadi lahan pabrik dan jalan bebas hambatan. Tapi danau yang hilang itu juga melenyapkan kemilau lanskap, membuat sedih para pemburu cahaya di dataran rendah ini. Para pelukis Eropa di abad-abad lampau yakin bahwa cahaya di sekitar danau adalah hadiah alam tiada tara. Ia terentang di garis langit, diselubungi titik-titik air yang sangat halus. Sungguh, keindahan yang subtil.”<a name="_ednref1" href="#_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><strong><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Arial;">[i]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Jakarta</span></strong><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">PULUHAN wajah tertunduk. Ada air mata yang berkilau diterangi cahaya lilin, ada karangan bunga dengan pita belasungkawa, juga ada doa yang dilambungkan ke angkasa malam. Sebuah spanduk besar dengan sembilan gambar wajah, terentang bersama renungan yang dituturkan dengan suara bergetar. Delapan tahun sudah orang-orang ini terperangkap dalam terowongan misterius yang begitu panjang dan tak menunjukkan tanda cahaya di ujungnya. Setiap tahun, saat mereka berkumpul untuk mengingat hari tragis itu, langit-langit terowongan itu memang terang benderang dengan kenangan. Tapi hanya sekejap. Selebihnya adalah gelap. Di dinding terowongan itu terpahat luka, sakit hati dan dendam. Udara yang memenuhi rongga dada mereka mengandung amarah sekaligus sikap pasrah dan putus asa. Menyesakkan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Hari itu tak ada yang aneh. Orang-orang di rumah tak ada yang memiliki firasat buruk. Fayza pamit seperti biasa dan hanya berpesan kamar tidurnya dibersihkan sebelum ia pulang..,”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Zara mendapat giliran mengenang Fayza. Apa yang dituturkannya adalah kutipan dari buku harian yang murung, yang dibuka sekali setahun untuk dibaca di depan banyak orang. Tahun demi tahun diceritakannya tentang Fayza yang pamit, melambai di pintu. Di</span><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: &quot;MS Mincho&quot;;" lang="JA"> </span><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">pagar, perempuan itu berhenti sejenak, memeriksa spanduk-spanduk unjuk rasa di tas kain yang menggantung di bahu kanannya. Lalu tubuhnya hilang di ujung jalan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Di samping Zara, ayah dan ibunya memeluk foto sang demonstran yang tersenyum sangat manis itu. Kaca bingkai foto itu berkilau ditimpa tangis, seperti dedaunan yang cemerlang sehabis hujan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Zara kemudian mundur, memberi tempat bagi orang-orang lainnya membeberkan kenangan mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Dan saat doa dan renungan dituntaskan, lilin-lilin meleleh, bunga duka cita ditabur di pelataran, seorang panitia acara renungan meneriakkan kemarahan. “Besok kita akan serukan lagi desakan baru. Ini sudah delapan tahun! Bahkan pernyataan maaf secara resmi pun tak sudi mereka berikan! Manusia-manusia tak punya hati itu harus terus ditekan! Kita tidak boleh lengah, harus tetap menuntut! Penculikan ini harus diungkap tuntas!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Lakilaki berpakaian serba hitam lalu menghampiri Zara, menjabat tangannya sangat erat. “Fayza aktivis yang luar biasa berani. Ia menjadi inspirasi. Kami tak mungkin melupakannya!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Zara terdiam. Ia teringat danau di Bolotnikovo, yang hilang dalam semalam, seperti Fayza yang juga lenyap begitu saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Ingin kutulis cerita tentang danau yang hilang itu untukmu, Kakak…<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Sudah larut. Kita pulang Zara…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Keranjang bunga yang digenggam ibunya telah kosong. Ajakan pulang itu mengembalikan kesadarannya. Kembang untuk Fayza telah ditabur di pelataran. Aspal hitam yang dipijaknya berhias kelopak ungu dan putih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Delapan tahun sudah mereka berziarah di pelataran itu. Tak ada makam untuk Fayza, karena mereka semua bersikeras bahwa perempuan berani itu <em>hanya lenyap hilang disekap. </em>Bukannya mati. Meski dalam kenyataan, yang ada hanya kesimpangsiuran, harapan yang makin menipis berendengan dengan kenangan yang semakin menebal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Taburan kembang di pelataran itu, di sebuah sudut kota yang diyakini menjadi saksi terakhir keberadaan Fayza dan demonstran lainnya, akan hilang besok. Mungkin terbawa angin, atau mungkin disapu petugas kebersihan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kakak, hati-hati…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kau yang harus hati-hati menjelajah negeri-negeri yang jauh, Zara..”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Zara ingin sekali kembali ke waktu di mana percakapan itu terjadi. Ia menyesal tak pernah menegaskan kekhawatirannya dengan sungguh-sungguh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><em><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">“Kakak yang seharusnya lebih hati-hati di negeri sendiri….”<span> </span><span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Tokyo</span></strong><strong><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> – Munich, Juni 2008</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><strong><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;">Catatan:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Arial;">*Cerita ini dipersembahkan untuk orang-orang yang hilang dalam perjuangan menegakkan demokrasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Arial;">*Bahan cerita diambil dari berita BBC dan Kantor Berita Pravda tentang White Lake di Desa Bolotnikovo, Rusia yang hilang dalam waktu semalam pada Mei 2005. Cerita ini juga diillhami oleh terbentuknya 23 danau akibat longsor sehabis gempa dahsyat pada 12 Mei 2008 di Provinsi Sichuan, China serta proses terbentuknya danau-danau di Montana, AS, puluhan tahun lalu. Bahan tentang danau di Belanda dan pelukis yang mengabadikan cahaya di atas danau dan permukaan air terinspirasi dari artikel <em>See the Light</em> ditulis oleh Ken Wilke untuk Holland Herald, edisi Juni 2008.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"><span style="font-size: 10.5pt; line-height: 150%; font-family: Arial;"> </span></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn1" href="#_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Kalimat ini disadur dari latar belakang pembuatan film <strong><em>The Dutch Light</em></strong>, karya sutradara <span style="font-size: 9pt; font-family: Arial; color: black;"><a href="http://www.iofilm.co.uk/cgi-bin/search_io.pl?a=1&amp;t=Pieter-Rim+de+Kroon">Pieter-Rim de Kroon</a> dan penulis <a href="http://www.iofilm.co.uk/cgi-bin/search_io.pl?a=1&amp;t=Maarten+de+Kroon">Maarten de Kroon</a>. Pemburu cahaya yang dimaksud adalah para pelukis Belanda abad ke-17 yang terkenal sangat terampil melukis gradasi cahaya, menyamai presisi karya fotografi.</span></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lilyyuliantifarid.com/danau-35.php/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kecap</title>
		<link>http://lilyyuliantifarid.com/kecap-32.php</link>
		<comments>http://lilyyuliantifarid.com/kecap-32.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 02:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilyyulianti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Creative Writing Projects]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lilyyuliantifarid.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[DI ulangtahun Nayu yang keduabelas, ayahnya memberikan hadiah yang tak biasa. Ketika bungkusan itu dibukanya, gadis kecil itu berteriak kecewa. 
Botol kaca hitam berkilat dengan gambar naga menjulurkan lidah api dengan tulisan Nomor 1 menyembul dari balik kertas kado metalik berpita merah. 
“Kenapa? Tak suka? Kecap mencerdaskanmu, Sayang! Kedelai banyak gizinya! Membuatmu kuat!”
“Yah… masak kecap?”
“Maaf, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/kecapku.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-33" title="kecapku" src="http://lilyyuliantifarid.com/wp-content/uploads/kecapku.gif" alt="" width="148" height="150" /></a><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">DI ulangtahun Nayu yang keduabelas, ayahnya memberikan hadiah yang tak biasa. Ketika bungkusan itu dibukanya, gadis kecil itu berteriak kecewa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Botol kaca hitam berkilat dengan gambar naga menjulurkan lidah api dengan tulisan <em>Nomor 1</em> menyembul dari balik kertas kado metalik berpita merah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Kenapa? Tak suka? Kecap mencerdaskanmu, Sayang! Kedelai banyak gizinya! Membuatmu kuat!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Yah… <em>masak</em> kecap?”</span><span id="more-32"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Maaf, Sayang… Ayah tak punya kado lain!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ya, mau apa lagi. Semua toko tutup. Kota masih terbakar, digulung kerusuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Di depan rumah mereka berdiri pabrik kecap. Industri rumah tangga itu milik keluarga Liong. Ketika sekelompok orang marah berteriak “Ganyang China!” sehari setelah beredar kabar seorang pembantu rumah tangga tewas dihajar majikannya yang warga keturunan China, seluruh anggota keluarga Liong bersembunyi di rumah Nayu. Sebelum mengungsi, Babah Liong buru-buru membeli <em>pylox</em>. Tembok pagar dan bagian depan pabrik kecap segera disemprot dengan tulisan: <em>Milik Pribumi!</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ayah Nayu bersama sejumlah warga lainnya berjaga-jaga membawa pentungan di depan pabrik itu. Tiga hari tiga malam amuk anti China berlangsung. Kota gempar terbakar. Kantor dan sekolah libur. Warga keturunan gemetar, kawasan pecinan menjelma kuburan, orang-orang misterius menyerang seperti rombongan barbar. Nayu mencoreti kalender. Libur! Ia memberi tanda silang di penanggalan dinding, menciptakan hari libur tambahan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Tapi ia juga sebenarnya kecewa luar biasa. Ia akan berulang tahun! Ia sudah merencanakan pesta sebelum lulus SD. Tapi batal. Orang-orang mendekam di rumah. Jalan-jalan hanya dipenuhi orang marah. Ia meringkuk bersama lima anak Babah Liong yang mengungsi ke rumah Nayu. Anak-anak itu ribut sekali. Manja dan tengil. Setiap saat merengek-rengek minta pulang ke rumah mereka, pabrik kecap berlantai hitam, yang penuh karung kedelai dan remah gula Jawa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Lidah api mungil di lilin-lilin berwarna-warni yang seharusnya ditiup Nayu di atas kue ulang tahun, berpindah menjadi kobaran api raksasa di sejumlah titik kota. Membesar. Menggulung. Membuat banyak tempat menjadi arang. Kota hangus. Rusuh dan hitam.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Ya, sudahlah… ini hadiah kecap dari Babah Liong. Tadi istrinya yang membantu membungkusnya sebagai hadiah. Selamat ulangtahun, Sayang!” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> Lakilaki itu mengecup Nayu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Iiihh.. Ayah bau!”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> Ayahnya memang membawa keringat yang sangat asin, di bajunya melekat bau asap dan bau mayat-mayat yang terbakar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Anak-anak Babah Liong mengerumuni Nayu. Melingkar mereka menatap botol hitam berkilat yang diangkat tinggi-tinggi. “Ini kecap dari rumahku…. !”<span> </span>Charles, anak tertua Babah Liong mencoba menggapai botol itu. Nayu mengangkat hadiah ulangtahun itu lebih tinggi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ia memang kecewa pada hadiah ulangtahunnya itu, tapi ia tak rela anak-anak Babah Liong merebutnya. Ia naik ke kursi, lalu naik lebih tinggi ke meja, menghindari sepuluh tangan yang menggapai-gapai, yang mencoba merebutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Enak saja! Lebih baik berulangtahun dengan sebotol kecap dari pada tanpa kado sama sekali!</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Kecap itu akhirnya ada juga gunanya. Kerusuhan tak reda hingga hari ketujuh. Berbagai isu lainnya yang tumpang tindih menjadi bahan bakar yang makin menyulut api di seluruh penjuru kota. Berhari-hari pasar dan toko tidak ada yang buka. Bagi Nayu, mengurung diri di rumah, menyantap nasi putih dan kecap manis, kelak menjadi kenangan yang tak dilupakannya hingga berpuluh tahun kemudian.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">KEBIASAAN ini diteruskan ayahnya hingga Nayu remaja, mulai pacaran, menikah dan bercerai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Ayah punya kecap <em>Kikkoman,</em> nih”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Di usianya yang keduapuluhtujuh Nayu memutuskan kembali ke rumah ayahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Kali ini ayahnya menghadiahkannya kecap Jepang. Encer dan asin. Hadiah promosi sebuah rumah makan milik kenalannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Anggap saja hadiah ulang tahun yang terlambat.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Nayu menerima botol kaca mungil bertutup plastik merah dengan tulisan kuning terang “made in Japan” di bagian bawahnya itu dengan wajah penuh rasa maklum. Ia memaksa diri tersenyum. Rasa sedih tak boleh masuk ke dalam rumah ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Selalu saja, ayah dan kecap adalah dua hal yang bisa mengaktifkan syaraf-syaraf otaknya untuk memerintahkan mulutnya memuntahkan gelak dan melarang rasa sedih menguasai perasaannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ayah dan kecap. Sebuah ritual yang janggal, yang menjadi bentuk komunikasi yang hanya mereka mengerti berdua. Kehadiran kado itu memanggil-manggil segenap peristiwa yang tidak menggembirakan tapi bersikeras dikenang dengan cara-cara yang baik, tanpa sikap cengeng dan wajah sendu berlarat-larat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ayahnya ingin diingat karena sesuatu yang berbeda. Bukan hanya sebagai juragan kos merangkap calo tanah yang ditinggal kabur istri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Malas, cemburuan, pemarah. Begitulah orang-orang bergunjing tentang ayahnya. Tapi Nayu punya versi lain tentang lakilaki itu: tidak ambisius, penyayang, pandai mengurus rumah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ayahnya memeluk Nayu. Agak lama. Dibenamkannya kepala Nayu di dadanya. “Kamu kuat?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Berat, Yah… tapi harus kuat! “</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ia mengajak ayahnya tertawa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Bersama ayahnya, ya hanya bersama lakilaki itu, ia tidak ingin kehilangan selera humornya untuk alasan apa pun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Keduanya tertawa. Sumbang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">NAYU memelihara banyak orang di dalam kepalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Waduh ini sifat warisan ibumu…” ayahnya cemas bukan main. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Orang-orang di dalam kepala Nayu itu makin ribut tidak karuan ketika ia memutuskan bercerai. Ini memang masa sulit baginya. Seperti perjalanan melalui terowongan sempit, gelap, tanpa oksigen, penuh ular dan siluman dan barangkali di ujungnya ada jurang yang curam dan di dasarnya ada sungai yang dihuni puluhan buaya lapar.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Mengumumkan dirinya sedang menjalani sidang perceraian membuat hidupnya berubah menjadi seonggok bangkai yang dirubung lalat. Kehidupannya riuh rendah dibahas para penggunjing. Orang-orang itu berlompatan keluar dari kepalanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Ya ampun.. kenapa harus cerai?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Cerai adalah perbuatan halal yang paling tidak disukai Allah..”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Nayu dicerai atau menggugat cerai?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Suamimu punya<em> affair</em>? Atau kamu yang selingkuh?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Apa? Gara-gara tidak punya anak? Ah, yang benar saja?! Kamu yang mandul? Kenapa tidak periksa baik-baik&#8230; atau jangan-jangan suamimu yang memang loyo!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Celakanya, orang-orang terkadang lupa pada etika bergosip yang baik dan benar: <em>pastikanlah obyek yang digosipkan berada pada radius beberapa puluh meter, sehingga si korban gosip tidak mendengarkan langsung gunjingan.<span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Nayu mendengar satu demi satu cerita seputar perceraiannya. Jelas. Keras. Dengan isi cerita yang dipelintir dan diberi bumbu. Menyakitkan. Membingungkan. Menjengkelkan. Perkawinannya berkembang tidak seperti yang diharapkan orang-orang. Berlian di cincin pernikahannya memang abadi. Tapi cahaya batu mulia itu memancarkan sinyal: perkawinan pemilik cincin itu berumur pendek.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Dulu, orang-orang berharap ia menikah. Maka menikahlah ia seperti harapan orang-orang itu. Ia menikah dengan lakilaki yang baik dan bermasa depan jelas.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Dulu, orang-orang berharap ia punya pekerjaan yang layak. Maka melamarlah ia di sebuah tempat kerja yang dianggapnya bagus, sehingga bila ia bertemu orang-orang itu dan mendapat lontaran pertanyaan: “Kerja di mana?” lalu ketika ia menyebut tempat kerjanya, maka orang-orang itu, seperti yang diharapkan, akan serempak berkata: “Waahh… hebat ya…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ia diganjar pujian untuk posisinya sebagai sekretaris di sebuah universitas swasta terkenal. Tak sia-sia ia sekolah sekretaris tiga tahun, belajar steno, mengetik cepat, <em>table manner</em>, hingga telaten berlatih berlenggak-lenggok dengan gemulai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Dulu, orang-orang berharap ia menjadi perempuan yang sangat taktis membagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumah, maka berlompatanlah ia antara rumah dan tempat kerja tanpa lupa menjadwalkan arisan dan kumpul-kumpul ikut organisasi sosial untuk melaporkan kepada orang-orang itu bahwa ia telah melakukan apa yang mereka harapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ya, Nayu menanam begitu banyak orang-orang dalam kepalanya. Orang-orang yang membuatnya tidak pernah benar-benar tidur nyenyak karena mereka tumbuh seperti tanaman rambat yang mencekik leher dan menjerat langkahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Hingga orang-orang mulai ribut “Wah, sudah isi?” sambil memandang perut Nayu yang serata papan. I<em>si apa? Anak? </em>Hei, tunggu dulu… apakah orang-orang ini juga mengintai setiap kali ia bercinta dengan suaminya? Apakah orang-orang ini melacak dan memastikan ovum yang dihasilkan sepasang ovariumnya bakal dibuahi oleh satu dari jutaan sperma yang disemprotkan suaminya ke dalam liang rahimnya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ah, orang-orang itu. Tanaman rambat yang mencelakakan! </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Kenapa belum hamil juga?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Betul-betul celaka! Hidupku betul-betul celaka, gerutu Nayu. Suami dan ibu mertuanya ternyata memelihara orang-orang yang lebih cerewet di dalam kepala mereka. Lebih celaka lagi, jumlahnya jauh lebih banyak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Belum juga ada tanda-tanda, Sayang?” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Wah, pertanyaan suaminya ini membuat ia lama kelamaan kehilangan selera bercinta dengan lakilaki yang dulunya membuat dirinya mabuk kepayang.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Adegan percintaan membuatnya ditindih beban berat yang memaksanya menghitung suara tokek: <em>hamil, nggak ya, hamil, nggak ya.</em> Ampun, di mana nikmatnya percintaan yang dibayangkan seperti kopulasi sepasang binatang yang memasuki masa birahi dan berjuang mati-matian melakukan regenerasi? Akankah terjadi pembuahan, akankah si sperma perkasa membuahi sel telur yang subur, akankah terjadi proses ajaib yang membawa babakan baru di dalam perutnya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Alat pengukur suhu badan untuk mendeteksi dengan cermat dan tepat kapan tubuhnya memproduksi sel telur yang siap dibuahi, obat-obatan penguat rahim, jamu kesuburan berbau tengik titipan mertua, semua itu membuat kamar tidurnya berubah menjadi ruang eksperimen pembuatan bayi. Bukan lagi tempat bercinta yang nyaman, tenang dan mengasyikkan. Di mata Nayu, suaminya berubah menjadi seperti petugas penyemprot sperma yang sekadar ingin membuahi sel telurnya, bukan lagi manusia yang dicintai dan mencintai dan karenanya perlu diajak bercinta.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Kira-kira kenapa ya, Sayang?” ini pertanyaan suaminya. Masih sopan tapi kedengaran tidak sabar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Apa kata dokter?” Nah kalau ini, adalah interogasi ibu mertuanya yang mengendus-endus seperti anjing pelacak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Hasil diagnosa: di ovariumnya tumbuh <em>myoma</em>. Ada tumor jinak yang berkembang di luar dinding rahimnya. Bukan hanya itu. Ada <em>endometriosis</em> juga yang diidapnya sejak lama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Tidak berbahaya,” kata dokter yang menjelaskan dengan senyum. “Tidak akan sampai menyebabkan kanker.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“</span></em><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Tak berbahaya bagi tubuhku, berbahaya bagi perkawinanku&#8230;”<em> </em>Nayu berusaha melucu. Ia mengingat suami dan ibu mertuanya yang lelah berjam-jam duduk di ruang tunggu si dokter spesialis kandungan. Juga lelah bertahun-tahun mengharapkan dirinya hamil. Mereka lelah mengkhayalkan adegan Nayu muncul dengan kebahagiaan membuncah dan tidak sabaran berkata, “Positif&#8230; aku hamil, Sayang..” Mirip adegan sinetron dengan latar musik yang riang gembira dan si perempuan ditahbiskan menjadi pahlawan penyelamat kehidupan generasi selanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Ibu dokter yang ramah itu masih tersenyum untuk menyampaikan kabar mengerikan. “Infertilitas adalah akibat myoma yang paling ditakutkan perempuan&#8230;” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> I-n-f-e-r-t-i-l-i-t-a-s. Eufimisme yang sulit dieja. Mungkin karena itulah orang-orang di dalam kepalanya punya kata yang lebih sederhana, sekaligus lebih menohok: mandul. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> </span><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">“Oh..mandul toh&#8230;!” </span></em><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">suara mirip paduan suara di kepalanya membuat Nayu memilih ingin sembunyi di palung Bumi paling dalam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> “Tapi kan bisa diobati? Kenapa tidak operasi saja?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> Nayu terlanjur kehilangan selera sekaligus kehilangan kesabaran meladeni orang-orang di dalam kepalanya, juga orang-orang yang berlompatan dari kepala suami dan ibu mertuanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">N</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">AYU</span><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> pulang ke rumah ayahnya. Sang juragan kos dan calo tanah yang pekerjaan utamanya duduk di teras mengobrol dengan berbagai macam orang yang menghampirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Bila dapat memilih, ia ingin seperti ayahnya, yang tidak memelihara banyak orang di dalam kepalanya. Yang selalu dengan rasa percaya diri berkata, “Kenalkan, saya Pak Hudan, makelar tanah!” dan ketika orang-orang mendelikkan mata dan memasang raut wajah mencemooh, ayahnya tetap percaya diri, “<em>Lh</em></span><em><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">o</span></em><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"> kenapa memangnya kalau saya ini calo? Keberatan?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">Nayu terkadang merangkai-rangkai keterkaitan episode kaburnya ibu dengan profesi makelar yang disandang ayahnya. Ibunya memilih kabur dengan lakilaki lain yang memiliki kartu nama mentereng, yang seakan mengandung sinar terang benderang setiap kali diserahkan ke orang-orang. Seorang lakilaki dengan gelar yang panjang, dokter spesialis penyakit dalam, yang tentu jauh lebih setara mendampingi dokter muda secantik ibuny