Lily Yulianti Farid

Small Notes of Ly

Gurita

Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota.

“Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?”

“Ya, membuat film animasi.”

“Apa? Pasti butuh banyak biaya. Sudah, kau urus saja apotik ini. Ini usaha bagus. Sangat bagus.”

Aku turuti kehendak ibu. Aku ikuti intuisi bisnisnya. Ia menjemputku dengan rencana-rencana baru. Dalam perjalanan ke rumah, kubuang rencana hidupku. Ia tergilas truk gandeng, motor dan angkotan kota. Dari kaca belakang mobil, kulihat ia rata di aspal berdebu.

Mengurus apotik. Tugasku: mengawasi dua apoteker muda yang kuperhatikan gemar membaca tabloid gosip dan menonton tayangan infotainment bila tak sibuk meracik obat. Pekerjaan yang sebenarnya tak sulit. Aku duduk-duduk saja, melihat mereka bekerja, sesekali membantu menerima resep dan memanggil nama pasien, mengobrol ini itu yang serba remeh temeh, dan yang terpenting, menghitung pemasukan dan pengeluaran harian sebelum apotik tutup.

Mengurus apotik. Rasanya: Huh, membosankan! Membuatku terpenjara. Tapi ibu bilang, keluarga kami dilanda musibah, tak ada orang yang bisa diajak kerja sama. “Coba lihat, orang-orang menjauhi kita setelah ayahmu kena jerat. Siapa yang peduli? Sekarang kita berdua harus berusaha keras memperbaiki nama dan mencari uang. Huh!” (Ibu mengucapkan “Huh” yang selalu lebih keras dari “Huh” milikku).

Beberapa tahun terakhir, kota kami memang penuh papan praktik dokter, apotik dan toko obat. Praktik dokter berkelompok muncul di sana-sini, mengingatkanku pada gerombolan anak muda yang duduk-duduk di ujung lorong sehabis magrib, main gitar dan bersiul menggoda orang lewat. Bedanya, para dokter ini berjubah putih, dan dari tubuh mereka tercium bau parfum bercampur larutan suci hama, penanda betapa terawat, wangi sekaligus sterilnya mereka. Mereka datang dengan mobil mewah, berkumpul sore-sore, mengobati (tapi lebih sering hanya mendengarkan keluhan pasien lalu menulis resep) hingga tengah malam. Dan, beberapa meter dari praktik dokter itu, pasti ada apotik atau toko obat.

Ibu sigap menangkap peluang. Om Yan, adik ibu, seorang dokter ahli penyakit dalam, punya usaha praktik berkelompok di pusat kota, tak jauh dari rumah jabatan gubernur. Apotik milik ibu ada di dalam gedung gerombolan dokter itu. Di bagian bawah resep obat yang ditulis Om Yan tertera stempel: Diskon 5 persen bila membeli obat di apotik Sriani Farma. Istri Om Yan, seorang dokter ahli kandungan juga membubuhkan stempel yang sama di ujung setiap resep yang ditulisnya, ditambah sedikit variasi: Diskon 10 persen untuk pembelian multivitamin dan susu bagi ibu hamil. Dokter spesialis lainnya, ahli jantung, ahli kulit dan kelamin, dokter anak, ahli tenggorokan, hidung dan telinga memiliki stempel yang sama dengan variasi di sana-sini, dan tentu saja mereka mengucapkan kalimat berpisah yang seragam kepada setiap pasien, yang bunyinya kurang lebih: “Ini resepnya dan bisa ditebus di apotik sebelah.”

Berkat stempel dan anjuran para dokter itulah, apotik kami maju, laris dan sibuk.

Tapi omong-omong, ayah di penjara bagaimana kabarnya?

Ibu menyemburkan puting beliung dari mulut, hidung dan telinganya menjawab pertanyaanku ini. Celaka, aku membuat rumah porak poranda kena hantam amarah ibu. Dua kali kuutarakan keinginan menjenguk ayah, kubayangkan membawa rantang, buah, buku atau majalah, dan bercakap-cakap di bawah pengawasan sipir penjara yang mengisyaratkan minta sogok. Dua kali juga ibu menabur badai kemarahan sambil membawa tanda larang besar. Ibu seperti polisi dengan rambu lalu lintas bulat bergambar wajah ayah yang diberi tanda silang merah. Tak cukup dengan itu, ia juga memasang portal, digembok, lalu dilapisi pagar kawat berduri. Pesannya jelas: aku tidak boleh bicara atau tanya-tanya soal ayah.

Tapi beberapa bulan kemudian ayah mati dan langsung jadi bintang televisi. Beritanya berendengan dengan kabar tentang banjir di Jakarta, kapal sarat muatan yang tenggelam di perairan Sulawesi Barat dan harga BBM yang diturunkan pemerintah. “Katanya ayahmu mati diracun.” Ibu memberi penekanan pada kata “mu” di belakang kata “ayah”.

Televisi menjelma sosok yang merasa paling mengenal ayah. Dari kotak persegi itu memancar-mancar semua berita tentang ayah. Aku mengutuk benda ini. Di layar muncul acara bertajuk “investigasi korupsi pembangunan pelabuhan dan bandara”. Ayah hadir dengan berbagai pose dan busana. Berkopiah, berbaju safari, berbaju takwa, berbaju partai, kemeja putih lengan panjang selama sidang serta satu rekaman yang kabur menayangkan ayah menutup wajahnya dari serbuan kamera. Yang terakhir, tentu gambar jasadnya yang disemayamkan di ruang tamu kami dilatari suara yang menyebut angka, nama proyek dan sejumlah nama pejabat.

Aku jarang bertemu ayah. Terakhir, kira-kira satu setengah tahun lalu saat pamit hendak kuliah di Jakarta, ia mengirim SMS, “Jadi anak baik. Jauhi narkoba. Perusak generasi bangsa.” Hihihi, lucu juga. Di gerbang bandara, pesan “jauhi narkoba” tercantum besar-besar di samping iklan rokok dan telepon seluler. Wah, jangan-jangan ayah sebenarnya sedang di bandara yang sama, barusan mendarat (entah dari kota mana), meluncur ke ruang VIP, yang hanya bisa dilalui presiden, menteri, gubernur dan pejabat tinggi, lalu iseng menyalin isi iklan itu untukku.

Sempat kucoba menelepon ayah. Suara ajudan yang menjawab telepon, membuatku kehilangan selera. “Kata Bapak, nanti ketemu di Jakarta. Beliau sedang mendampingi Pak Menteri.”

Kini ayah mati. Aku berusaha keras mengingat-ingat kenangan paling gres tentangnya. Yang paling baru, ya pesan SMS itu. Ah, kenapa ibu melarangku ke penjara? Kusesali ibu, si polisi yang gemar memasang tanda larang itu membuatku sia-sia mengais-ngais lubang kenangan tentang ayah, yang sebenarnya hampa.

Kami berduka. Dokter-dokter dari praktik berkelompok milik Om Yan memesan bunga duka cita yang sangat besar, mengalahkan deretan karangan bunga lainnya. Ibu menyembunyikan wajahnya di balik kaca mata hitam yang sangat besar, yang tidak hanya menutupi matanya, tapi juga sebagian pipinya. Dior. Inisial huruf “D” berkilau-kilau di dua gagang kaca mata itu. Pelayat yang memberi ciuman pipi pasti merasakan bingkai dingin kacamata hitam ibu itu menempel di kulit mereka. Ibu menerima ciuman, pelukan, jabat erat, dan kata-kata baik yang dari mulut ratusan orang. Aku berdiri di sampingnya, mengenakan gaun hitam terusan hingga mata kaki yang berbau kapur barus. Koleksi lama dari lemari ibu. Yves Saint Laurent. Inisial “YSL” menonjol di dua kancing emas di ujung lengan baju yang agak kedodoran di tubuhku.

Jasad ayah datang seusai magrib, disambut listrik yang byar pet, byar pet, berpijar sebentar menimbulkan harapan lalu selebihnya hitam. Aku ingat sekali peristiwa itu: ayah, si Riang, kucing kami dan listrik, ketiganya mati bersamaan. Aku mendengar tetangga berteriak marah mengutuki pemadaman bergilir dan krisis listrik. Mereka seakan memasang petasan injak di lidah mereka. Bukan main bisingnya bila mereka menyalak. “Masak kompleks kelas atas di kota ini juga kena pemadaman bergilir? Yang benar saja. Anjing!!” Pak Jaropi, tetangga kami, seorang pensiunan jenderal mencak-mencak di halaman depan.

Kami berduka di rumah yang kacau balau. Jenazah ayah terbaring dalam gelap, , tampak remang-remang. Orang-orang sibuk mencari lilin atau lampu darurat (“Kenapa tidak ada lilin? Kalau lampu berbaterei? Hah? Tidak ada juga? Ya, tidak adalah, kan kompleks ini jarang mati lampu. Bodoh!)

Para pelayat berbaju hitam tampak semakin hitam. Dalam gelap, hanya kilau gelang, cincin, anting perempuan-perempuan wangi teman arisan ibu serta pajangan kristal di ruang tamu yang berkerjap seperti lentera-lentera kecil.

Aku melirik ke halaman belakang. Ternyata, diam-diam Mak Tun mengubur Si Riang, di sana. Kucing itu mati tergilas mobil sore tadi. Beruntung ia menjalani pemakaman sederhana, berlangsung lancar tanpa huru hara. Setelah Riang dikubur, Mak Tun kembali ke dalam rumah. Ia ikut menggotong ibu yang pingsan lunglai di samping jasad ayah. Makin banyak pelayat datang. Di halaman depan, polisi berkumpul, disusul serombongan wartawan. Gaduh sekali.

Terbujur di sel dengan mulut berbusa. Katanya, almarhum minum Baygon.

Orang-orang berbisik lalu berdoa.

Bukannya diracun?

Ada juga orang-orang yang berdoa dulu, baru berbisik-bisik.

Aku menanam bisik-bisik dan doa-doa itu di dalam dadaku. Membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku teringat pelajaran biologi di SMA, tentang sekresi yang dilakukan organ tubuh manusia. Di tengah kemalangan ini aku mengalami proses sekresi yang sempurna: tangis pada mata, keringat pada telapak tangan dan kaki, air kencing yang membasahi celana dalam. Aku menangis, gemetaran dan pipis sekaligus. Sedih dan takut melihat ayah yang terbujur; panik dan bingung menyaksikan ibu yang setelah menerima kedatangan pelayat akhirnya pingsan; geram dan ngilu mendengar orang-orang yang berdoa sekaligus berbisik-bisik.

Mak Tun, pembantu setia itu satu-satunya tiang kokoh di rumah ini. Ia memelukku sepanjang prahara. Om Yan, dokter yang baik itu memesan ambulans. Mungkin khawatir, aku atau ibu memerlukannya.

Listrik menyala, ibu siuman. Doa-doa berdengung lagi. Lalu bisik-bisik lagi. Ibu pingsan lagi. Wajah-wajah pelayat yang tadi gelap dan samar, kini berpijar seperti bulan, bibir-bibir mereka komat kamit, mengulum doa dan bisik-bisik. Aku yang entah kenapa merasa lebih kuat dan tabah dari ibu, bermaksud memapah tubuh perempuan yang doyong itu. Sial. Ujung gaunku yang kedodoran terinjak, membuatku tersandung, jatuh. Aku dan ibu sempoyongan, berhimpit seperti roti tangkup di atas jasad ayah. Orang-orang merubung kami. Doa-doa lagi. Bisik-bisik lagi. Semakin gaduh. Lalu gelap.

***
Judul film animasi pertamaku adalah Gurita. Baru sebatas rencana. Berkelebat di kepala. Aku ingin bercerita tentang gurita berkepala perempuan. Wajah, perangai dan segala tindak tanduknya mirip ibu. Mungkin kunamakan ia Bu Gur. Atau Bu Rita.

Kusampaikan rencana melanjutkan kuliah. Kupikir, ini saat yang tepat. Semua sudah tampak baik. Ayah mati di penjara. Kami menangis, malu, bingung dan akhirnya pingsan. Berminggu-minggu, hanya Mak Tun yang menjadi tiang kokoh yang menyokong kami berdua. Aku percaya, setidaknya ada dua atau tiga malaikat yang bersemayam di dalam tubuh pembantu tua itu. Ia yang menolong ibu bangun, hingga kuat dan percaya diri membuka pintu dan bertemu kenyataan di jalan. Setelah ibu menolak permohonan otopsi jenazah ayah dan tak ingin memperpanjang dugaan siapa yang meracunnya atau apa yang mendorongnya minum Baygon, kehidupan kami tidak lagi diguncang berbagai kabar buruk.

Ibu bangkit. Ibu telah kembali!

Menjual obat, menjual obat, menjual obat. Memperluas usaha, memperluas usaha, memperluas usaha. Tiga kali sehari aku bertemu mantra ini. Saat sarapan, makan siang di apotik dan sebelum tidur. Tukang mantranya adalah ibuku, perempuan perkasa itu.

Inilah kesimpulan baru dalam perjalanan hidupku: ibu jadi matahari, jadi bulan, jadi tukang mantra, jadi perempuan terhebat dalam kehidupanku.

Di suatu pagi yang tak terlalu cerah, kubilang pada ibu ingin kuliah lagi, ingin membuat film animasi. Wajah ibu langsung sekusut sutra yang diremas penuh amarah. Pertama, ia menyemprotkan puting beliung dan memaki-maki rencanaku. Kedua, ia mengenakan seragam polisi, langsung memasang rambu peringatan besar-besar: Dilarang melanjutkan kuliah ke Jakarta. Di sana ada gambar gedung kuliahku dengan tanda silang merah besar. Lalu rambu berikutnya: Jangan Berpikir Macam-macam. Apalagi berpikir membuat film! Ketiga, tak puas menjadi polisi, ibu berganti busana: stelan perempuan karir dengan jabatan Presiden Direktur Sriani Medika Utama, usaha yang dirintisnya bersama Om Yan. Ia menjabarkan prospek bisnis di depan hidungku.

“Dari jaringan apotik di Makassar, kita akan memperluas usaha pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan di rumah sakit se-Indonesia Timur. Proyek besar ini ada di tangan ibu! Kita akan memasok cairan infus, jarum suntik, obat generik dan segala macam kebutuhan rumah sakit. Ini bisnis luar biasa dan ibu ingin kau membantu membesarkan usaha ini.”

Aku sebenarnya ingin berterus terang pada ibu, bahwa rencana hidup yang sudah kubuang di jalan saat kembali ke kota ini, ternyata tak mati-mati. Ia bangkit dan menemuiku dalam mimpi. Dari satu malam ke malam berikutnya, aku bermimpi membuat film animasi berjudul Gurita. Ceritanya tentang gurita perempuan yang muncul dari dasar laut, dengan delapan tangannya ia meraup dengan rakus semua kekayaan samudra. Gurita bersekongkol dengan hiu bertaring tajam dan sejumlah ikan ganas, menindas mahluk laut lainnya. Lalu…

“Berhenti melamun, anak bodoh!”

Memperluas usaha, memperluas usaha, memperluas usaha, memperluas usaha, memperluas usaha. (Di pagi nan celaka ini, ibu mengulang mantra itu lima kali. Ia kesal mendengarku berceloteh tentang film animasi yang dianggapnya tak masuk akal.)

Ah aku perlu merevisi kesimpulanku: Ibu jadi matahari, jadi bulan, jadi tukang mantra, jadi perempuan terhebat dan tentu saja menjadi polisi yang melarangku ini itu! Huh!
***

Di sebuah restoran hotel mewah di Jakarta, ibu menggandengku penuh percaya diri. Agenda kami: menghadiri makan malam dengan Om Jumadil, sepupu ibu yang disebut orang penting di kementrian, bersama sejumlah pejabat lainnya. Agenda khusus ibu: membicarakan tender obat-obatan untuk rumah sakit di Indonesia Timur. Agenda khusus untukku: belajar bisnis dan kenal lebih dekat dengan Om Jumadil itu, yang disebut ibu sebagai orang Makassar yang paling melejit di ibukota saat ini.

“Mereka sudah di lobi. Sebentar lagi ke sini…”

Ibu membetulkan duduk, merapikan ujung gaun, menatapku meminta konfirmasi tentang penampilannya. Ia bekerja keras sejak pagi untuk tampil cantik malam ini. Kuberi anggukan dengan pesan benderang: ia adalah mahluk tercantik sejagat raya, tak terkalahkan, bahkan oleh Miss Universe sekalipun! (Lihatlah, aku kadang bertugas sebagai si cermin ajaib dalam dongeng Putri Salju untuk ibuku tercinta).

“Itu mereka!”

Ibu berdiri dengan gerak seanggun mungkin. Ibu tersenyum dengan tarikan bibir semanis mungkin. Di pintu restoran beberapa orang berjas melambai ke arah kami.

“Yang di depan itu Om Jumadil. Masih ingat kan?” Ibu berbisik. Suaranya lebih mirip wanti-wanti agar aku menyapa lakilaki itu seolah sangat akrab.

Mereka mendekat ke meja kami. Dan kini, di hadapanku hadir seekor hiu besar dan serombongan ikan ganas bertaring tajam lainnya.

Kulirik ibu. Ia menjelma gurita berbulu mata lentik. (*)

Tokyo-Jakarta, Januari 2009.

About

View all posts by

3 Responses

  1. Hendra says

    keren bangettt

  2. AYAHMU BULAN, ENGKAU MATAHARI : KISAH PEREMPUAN DALAM NARASI YANG MENGGETARKAN / Catatan Dari Hati says

    […] yang kerap membuat saya tersenyum simpul. Lihat saja, bagaimana Lily mengungkapkannya dalam cerpen “Gurita” Televisi menjelma sosok yang merasa paling mengenal ayah. Dari kotak persegi itu memancar-mancar […]

  3. bisot says

    Quote:
    “Televisi menjelma sosok yang merasa paling mengenal ayah. Dari kotak persegi itu memancar-mancar semua berita tentang ayah.”

    nice catch, perlu penjiwaan untuk sampai masuk dalam perasaan seorang korban.

    Bagus kak, like it