Lily Yulianti Farid

Small Notes of Ly

Hiroshima, Hiroshima Sampai Kapan pun…

Hiroshima Peace Memorial ParkIni jelas kabar yang mengerikan: Rusia dan Amerika Serikat hingga hari ini memiliki cadangan lebih dari 10.000 hulu ledak nuklir; kapal selam AS bertenaga nuklir toh bisa berlabuh tenang di Sasebo, Nagasaki di tengah protes aktivis anti nuklir yang sayup; negara kekuatan nuklir lainnya juga seperti kuda tuli yang terus berlari dengan keyakinan, hanya dengan senjata nuklir rasa aman bisa dibangun.

Kekejaman perang masih terekam jelas di Hiroshima. Dalam kata, dalam ingatan orang-orang, dalam cerita yang dibagi di jalan, di kafe dan rumah-rumah penduduk. “Namida Ame…,” kata Ichiro Ando, warga Hiroshima pertama yang saya temui. Ia mengomentari hujan yang turun sebentar di tengah hawa panas yang tak nyaman. Hari pertama Agustus tahun ini, ada hujan yang sesaat. Lakilaki berusia 56 tahun itu menyebutnya “hujan air mata”, namida ame, di bulan kedelapan, setiap tahun, di Hiroshima.

Hari itu, papan informasi cuaca di Stasiun Hiroshima memajang gambar matahari kuning tanpa awan dengan angka 38 derajat Celcius. Sungguh musim panas yang menyiksa. Tapi ajaib! Ada hujan yang melintas. “Saya dibesarkan dengan cerita-cerita seputar perang. Saya dulu sangat benci pada Amerika. Tapi tahu tidak? Anak kedua saya justru menikah dengan orang Amerika dan kini menetap di Los Angeles..”

Ia tertawa sejenak, lalu melanjutkan, “Saya pernah mengunjungi mereka sekali. Sekarang, anak-anak yang lebih muda, punya pikiran lain…mereka kurang suka nostalgia..,”

Pukul 8.15, 6 Agustus 1945, sekitar 300.000 penduduk, yang baru memulai kegiatan pagi di bawah langit musim panas yang benderang, disentakkan oleh ledakan yang luar biasa dahsyat, yang dalam sekejap meluluhlantakkan kota, menghentikan semua rutinitas. Bom atom “little boy” dijatuhkan pagi hari, dengan sasaran utama jembatan Aoi tepat di jantung kota. Sebuah eksperimen nuklir beberapa tahun sebelumnya di sebuah laboratorium di Manhattan, AS akhirnya dieksekusi di sini, yang kemudian menjadikan Hiroshima sebagai kota yang mendapat serangan senjata nuklir pertama di dunia. Mengapa Hiroshima? Di Museum Perdamaian Hiroshima ada penjelasan singkat: kota ini dianggap sebagai sasaran sempurna karena ia satu-satunya kota yang tidak memiliki kamp tawanan perang (prisoners of war).

Berapa orang yang mati? Banyak versinya. Yang sering kali dikutip adalah 140.000 korban jiwa hingga akhir tahun 1945. Separuh dari angka ini adalah kematian yang tercatat di hari pemboman. Berapa banyak yang terluka, sakit, menderita trauma dan menunggu kematian? Angka ini yang terus bertambah hingga hari ini.

Luka memang abadi di Hiroshima. Pukul 8.15, 6 Agustus 2008, 45.000 orang berkumpul di Hiroshima untuk mendengarkan angka kematian baru. Begitulah setiap tahun, di awal upacara peringatan jatuhnya bom atom, nama-nama orang yang mati dalam setahun, di baca lantang di sela ributnya dengung ribuan tenggerek di perdu dan pohon Taman Perdamaian Hiroshima. Bila angka ini penting benar untuk dibacakan di berita hari ini, catatlah: dalam setahun terakhir 5.032 yang mati – yang kematiannya diakui negara sebagai kematian akibat radiasi. Merekalah para hibakusa atau orang yang menjadi korban bom atom.

Ichiro Ando mungkin benar, bahwa tak banyak lagi orang-orang muda Jepang yang betah mendengar nostalgia kalah perang dan kebangkitan sesudahnya. Generasi hari ini hanya melihat perang dan segala konsekuensinya melalui lembar-lembar dokumentasi yang dingin.

Tapi tak jauh dari Taman Perdamaian, ada Yuki Otsuji (22) yang menjadi pengecualian. Gadis manis ini sedang bersiap ke Rwanda, bergabung dengan tim pendidikan pasca perang di negara Afrika yang luluhlantak itu. Ini sebuah rencana yang diidamkannya sejak lama.

Ia tinggal di Tokyo, lahir dan besar di Hiroshima, berpenampilan layaknya anak muda kebanyakan, mengenakan T-shirt, celana selutut dan flat-shoes yang sedang tren. Yuki meringkas perjalanan karirnya sebagai Peace Educator, “Saya menghabiskan waktu satu tahun di Amerika dan Kanada, mengajarkan mata pelajaran perdamaian di sekolah dan universitas. Dalam setahun itu saya berbicara di 200 pertemuan dan bertemu lebih dari 5.000 pelajar dan mahasiswa. Dalam presentasi tentang Hiroshima dan Nagasaki, tidak sedikit yang menyalahkan Jepang di Perang Dunia Kedua, dan mengatakan Jepang pantas menerima ganjaran setelah terlebih dahulu menyerang Pearl Harbour.”

“Teman-teman saya bilang, mendengar Hiroshima seperti menyimak lagu lama yang terus menerus diputar, seperti diorama museum yang dimainkan secara otomatis dari pagi hingga sore. Di Tokyo tak banyak yang tertarik pada cerita-cerita seperti ini. Tapi saya lain, saya lahir di kota ini, di keluarga saya, cerita tentang kekejaman bom atom dituturkan turun temurun. Saya sendiri akan tetap kembali ke sini setiap tahun, bekerja untuk perdamaian!”

Yuki telah tiga tahun menjadi relawan di Konferensi Internasional Anti Bom Atom dan Bom Hidrogen yang diadakan setiap tahun di Hiroshima dan Nagasaki. Neneknya adalah seorang hibakusa. Radiasi bom atom merenggut nyawa sang nenek ketika Yuki berusia 10 tahun. Kematian itu kemudian menjadi cerita turun temurun di tengah keluarganya, bahwa sang nenek menderita kanker payudara. “Semasa hidupnya, nenek saya enggan bicara tentang tragedi bom atom itu. Ayah saya baru menceritakannya setelah nenek meninggal. Saya jadi berpikir-pikir, adakah orang yang sebaya dengan nenek saya yang tidak terdata sebagai hibakusa? Bukankah radiasi itu bisa menyebar, masuk ke tubuh siapa saja, dengan begitu halusnya?”

Dari Yuki, saya menyimak cerita tentang orang-orang yang enggan mengenang pemboman itu. “Mereka mudah menangis… juga memilih menutup mulut. Ingatan itu memang terlalu pahit.”

Ia rupanya tidak berlebihan soal ini. Di rumah jompo Funairi Mutsumien, saya menyaksikan tatapan penuh keengganan Chieko Fujihiro, yang masih tetap bugar di usia 82 tahun. Suster pendamping sebelumnya telah mewanti-wanti, jangan melontarkan pertanyaan yang melukai, ia akan enggan menjawab.

Chieko berusia 19 tahun ketika Hiroshima porak poranda. Ia berada sekitar 3,5 kilometer dari episentrum, baru saja memulai kesibukan paginya di tempat kerja. “Mengerikan…”

Ia menggumam. Saya mencoba sabar menunggu kalimat selanjutnya. “Mengerikan…” Ia memutar ingatannya tentang kota yang kacau di detik berikutnya ketika orang-orang berlarian ke jalan, berteriak kepanasan, meminta air, histeris.

Apa yang disesalinya karena ia, yang waktu itu tidak terluka berat, begitu saja mengikuti aliran massa ikut turun ke jalan tanpa pelindung tubuh yang memadai – beberapa menit setelah penduduk menyadari bencana itu, siapa yang tahu bahwa kali ini yang terjadi bukan serangan udara yang biasa, melainkan bom atom dengan resiko radiasi luar biasa ganas?

Chieko mendekat ke arah kota, ingin mencari tahu kondisi rumah, ayah, kakak, dan seluruh keluarganya.

Cerita belum tuntas tapi suster yang mendampingi Chieko memberi isyarat. “Ia tak bisa dibiarkan lelah mengingat banyak hal…”. Kelanjutan cerita itu kemudian dibagi sang suster di koridor, bahwa Chieko terkena radiasi pada matanya. Hingga kini telah menjalani sembilan kali operasi mata.

Saat mengunjungi rumah jompo itu, bersama saya turut Odetta King, mahasiswi asal Washington DC. Ia membagi refleksinya. “Pertemuan dengan Chieko hari ini terasa sangat personal bagi saya. Coba lihat, usianya 19 tahun ketika Hiroshima dibom, sama dengan usia saya sekarang. Ia berada sekitar 3,5 kilometer dari pusat pemboman. Saya sendiri tinggal sekitar 2 mil dari Gedung Putih, tempat disusunnya berbagai kebijakan yang memastikan bahwa kami orang-orang Amerika harus senantiasa merasa aman. Tapi apa yang terjadi? Saya sendiri selalu merasa ketakutan, ancaman teror ada di mana-mana…dan saya tidak tahu sejauh mana pemerintah kami mampu memberi rasa aman itu? Menjamin rasa aman dengan nuklir? No way!”

Odetta menulis esai. Tentang Hiroshima, tentang perdamaian. Saat masih SD, Odetta membaca kisah tentang Sadako Sasaki, gadis kecil berusia 10 tahun, korban radiasi. Sadako bertekad membuat 1,000 origami burung bangau saat dirawat di RS Palang Merah Hiroshima. Origami itu diyakini bisa menumbuhkan harapannya berjuang melawan leukimia. Sadako meninggal delapan bulan kemudian, dan origami burung bangau itu dilanjutkan oleh banyak orang di seluruh Jepang dan di berbagai negara, hingga hari ini.

Odetta turun ke jalan. Di Hiroshima, di Nagasaki, bersama puluhan remaja lainnya membentang spanduk menuntut penghapusan senjata nuklir.
Dari Odetta saya belajar, bahwa apapun pekerjaan atau kehidupan yang kita pilih, berkontribusi secara nyata bagi perdamaian dunia adalah kewajiban.

Di hari berikutnya, saya menyimak orasi Celeste Zappala, pendiri Gold Star Families Speak Out, organisasi keluarga korban perang di Amerika Serikat. Celeste seorang ibu rumah tangga yang kini menjadi simbol perdamaian dan penentang perang yang gigih. Kematian putranya, Sersan Sherwood Baker di Baghdad pada tanggal 26 April 2004, menjadi titik balik dalam kehidupan Celeste. “Saat kita berkumpul di sini mengenang tragedi Hiroshima dan Nagasaki, di tempat lain di dunia ini, ada pihak-pihak yang juga berkumpul merencanakan perang berikutnya, membuat lebih banyak senjata, dan merancang aksi militer yang baru. Ada pihak-pihak yang berkumpul untuk menghitung-hitung untung yang bisa mereka raup dari perang…,” Celeste marah, tapi suaranya itu sekaligus membangkitkan semangat.

Ia bertutur lembut. Ia berbicara dengan tempo yang diperlambat, mengingatkan saya pada suara seorang ibu membacakan dongeng pengantar tidur. Ia melawan sekaligus mengajak. Katanya, “Suara kita harus lebih keras, keyakinan kita harus lebih kokoh, dan tawaran jalan keluar yang kita sodorkan harus lebih persuasif. Mewujudkan perdamaian adalah tugas yang paling sulit di dunia ini. Pemimpin dunia dan pemikir besar telah mengingatkan soal ini sepanjang masa..”

Tak mudah. Sungguh tak mudah mewujudkan perdamaian. Orang-orang yang bergelut dengan urusan ini adalah mereka yang punya daya tahan luar biasa. Lelah tapi tidak putus asa. Lihatlah hari ini, pelaksanaan perjanjian Non Proliferation Treaty (NPT) yang telah berusia 40 tahun, hanya jadi pepesan kosong. Kekuatan-kekuatan nuklir dunia makin kencang bertanding, bahkan mereka bisa dengan mudah berkelit dari kewajiban mewujudkan pelucutan senjata nukir sambil sibuk tuding sana sini ke Iran dan Korea Utara. Sudah tepatlah apa yang dikatakan Mohammed Ezzeldine Abdel-Moneim, penasehat khusus bidang Pelucutan Senjata Nuklir Liga Arab, “Kita orang-orang yang menyuarakan perdamaian kini mengalami kekecewaan. Kita ditelikung dan dikhianati…”

Disappointment, deception and betrayal. Tiga kata ini diulang-ulang para aktivis perdamaian yang satu per satu berbicara di Hiroshima. Hal yang paling nyata adalah menunggu tahun 2010, berharap NPT Review Conference membawa titik terang, apakah dunia yang bebas senjata nuklir betul-betul bisa terwujud atau kita bakal kembali ke tiga kata itu lagi: dissappointment, deception and betrayal sambil menunggu Agustus berikutnya, mendengar angka kematian baru, para hibakusa yang mati satu-satu. (p!)

*Tulisan ini bisa dibaca di www.panyingkul.com

About

View all posts by