Jul 28

Isteriku yang Terbang

Kata Ayumi, adalah biasa lakilaki Jepang memukuli kepala isteri dan anaknya. Tapi rasanya sulit mendapatkan bayangan bagaimana adegan itu terjadi pada perempuan itu. Ia memang mungil. Tapi tidakkah segala wawasan dan pengetahuan serta harga diri bisa menuntunnya mengambil keputusan meninggalkan lakilaki brengsek yang mudah menamparnya?

“Kau tak paham…tak mudah meninggalkan Takeshi.”

Ya. Aku memang tak paham.

Aku juga berusaha membayangkan bagaimana Paliwal merenung-renung di depan jendela menunggu kabar dari Svida, kekasihnya yang belum jelas rimbanya.

Bagaimana mungkin Paliwal berkhayal tentang Svida yang entah di mana itu, tiba-tiba saja datang di hadapannya. Bagaimana mungkin.

“Kau tak mengerti. Selalu ada keajaiban.”

Ya. Aku memang tak mengerti.

Ayumi dan Paliwal baru saja menyelesaikan keluh kesahnya. Aku berusaha menunjukkan empati yang dalam, seperti biasanya. Aku ingin menghibur. Kutraktir mereka di café Lonely Hearts. Ayumi memilih mocha-latte, Paliwal memilih long-black, dan aku tetap setia dengan secangkir teh panas beraroma mint . Di sekitar kami terdengar musik yang menurut pelayan diambil dari seri the Healing Music –musik yang katanya bisa menyembuhkan luka hati. Suara biola ditimpal denting harpa mengalun menyayat-nyayat, seperti pisau tajam yang mengiris-iris langit di atas kepala kami.

Keluh kesah Ayumi dan Paliwal menyusup ke saluran telinga, sementara bayangan Maila menyala di kepala. Bukan sekadar mengingatnya. Aku merindukannya. Sangat rindu. Di mana ia sekarang? Tengah bergabung dengan tim kemanusiaan di Darfur? Atau telah terbang ke Johannesburg menemui seorang pengusaha teman lamanya yang bersedia menjadi donatur kegiatan kemanusiaan yang tengah dijalankannya? Sebentar lagi aku akan tahu jawabannya. Sebentar lagi…ia pasti berkirim kabar.

Inilah kami sore ini. Tiga kandidat doktor dari tiga negara dengan tiga kekasih yang menjadi sumbu cerita dari waktu ke waktu. Di kelas dan diskusi, kami tiga mahluk intelektual dengan logika dan argumen terbaik. Di meja kafe langganan ini, kami tiga manusia tolol penuh keluh kesah.

Telepon di dalam kantong kemejaku berdering.

Maila! Aku tahu itu pasti dari Maila.

Honey, pernah dengar nama Tarja Halonen?”

Suara dari seberang itu lembut, tapi mendarat di kesadaranku seperti gemuruh.

Selalu seperti itu, dan gemuruh itu akan dengan cepat merambat ke dada. Maila, tidakkah kau tahu suaramu selalu membuat dadaku berdegup?

Aku menggeleng. Maila mengulang pertanyaannya.

Tarja Halonen? Pernah dengan namanya? Honey…jangan hanya menggeleng atau mengangguk, aku tidak bisa melihatmu…

Maaf. Hmmm namanya kedengaran aneh…aku tidak tahu…

Honey…dia presiden Finlandia…… Dia pre-si-den….dan aku akan mempresentasikan program kerja kemanusiaan di wilayah konflik di hadapannya, minggu depan…..di hadapan presiden Finlandia itu…

Aku melirik Ayumi dan Paliwal yang duduk di sebelahku, lalu dengan isyarat tubuh mohon diri sejenak agar leluasa berbicara dengan Maila. Keduanya mengangguk paham.

Aku mendengarkan kabar dari Maila. Aku menyimak kalimat-kalimatnya dan tidak ingin memotong ceritanya tentang anak-anak dan ibu-ibu yang kelaparan di tenda-tenda penampungan di luar kota Darfur. Kemarin ia terbang ke Johannesburg untuk penggalangan dana. Ia pun bersemangat bercerita tentang rencana perjalanan menemui Presiden Tarja Halonen.

Kata-katanya seperti gemuruh dan halilintar yang saling bersusulan. Aku menjadi galau. Mungkin ini kegalauan sekaligus kerinduan.

Hati-hati, sayang….jangan terlalu capek..I miss you.”

Hanya itu yang aku ucapkan. Hanya itu. Percakapan pun usai.

Aku tahu Ayumi dan Paliwal sudah siap dengan setidaknya dua atau tiga pertanyaan tentang Maila, ketika aku kembali ke dalam Café menemui mereka.

Pertanyaan pertama: Itu tadi telepon dari Maila?

Mereka bertanya hampir bersamaan.

Ya…Maila titip salam buat kalian. Dia baru saja meninggalkan Darfur…dia baik-baik saja….

Pertanyaan kedua: Kapan ia akan kembali?

Kali ini Paliwal yang bertanya.

Aku mengangkat bahu. Aku lupa menanyakannya, kataku.

Pertanyaan ketiga: Well, Maila, the flying wife…., tidakkah kamu kesepian dengan the flying wife seperti itu?

Ini pertanyaan yang terlontar dari mulut Ayumi.

Aku tidak menjawab pertanyaannya.

***

MAILA, kapankah ia akan kembali?

Ayumi dan Paliwal telah lama pamit ke perpustakaan, tapi pertanyaan mereka terasa mengganggu. Lebih terasa mengganggu dari cericit burung-burung robin yang bergerombol pulang setelah senja. Lebih terasa menganggu dibanding suara caci maki yang keluar dari mulut gerombolan penonton footy yang kalah taruhan yang melintas di depan kafe.

Kapan Maila kembali?

Aku memanggil pelayan. Kupesan happy tea. Bukan untuk mengusir dingin udara sore, tapi untuk menemaniku melamunkan Maila. Happy tea tentu tidak membuatku langsung bahagia. Seperti pelanggan lainnya aku sebenarnya membeli secangkir sugesti dari nama secangkir teh, yang kupercayai dapat menghadirkan rasa bahagia setelah meneguknya. Seperti sugesti lainnya yang membuatku setia antri di kios Crazy Juice setiap habis kuliah untuk memesan anti-stress juice ukuran besar. Setelah meminumnya aku merasa telah menjalankan ritual yang membuatku melakukan upaya mengurangi stress.

Aku meneguk happy tea dan menggumamkan pertanyaan kapan Maila kembali?

Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan “kembali”?

“Kembali” untukku ataukah “kembali” ke rumah kami di tanah air, atau “kembali” ke mana? Tidakkah dalam percakapan-percakapan akhir-akhir ini aku tidak pernah menanyakan kapan ia kembali? Kapan terakhir kali aku menanyakan hal itu padanya?

Lagipula, pentingkah saat ini aku menanyakan hal itu pada Maila yang setiap kali menelepon terdengar bersemangat bertutur tentang orang malang yang bergelimpangan di kakinya?

Aku pernah merasa menjadi laki-laki yang paling tolol di dunia saat menerima teleponnya dari Pakistan. Waktu itu aku betul-betul menyatakan kekhawatiran akan kehilangan dirinya dan memintanya segera kembali ke Melbourne. Ia tengah terlibat penyusunan program baca tulis bagi perempuan di Kabul, Afghanistan, dan menyempatkan diri menelepon sebelum rombongannya bertolak ke Kabul.

Katanya, Honey, I do love you.. Kita percaya kehidupan setelah mati kan? Di surga, kita akan ketemu, kita akan menjadi sepasang suami isteri sejati, yang menghabiskan setiap detik bersama-sama..tidak akan ada kata perpisahan…sekejap pun tak ada. Itulah hadiah yang akan diberi Tuhan kepada kita, karena kita telah membaktikan kesempatan hidup di dunia sebaik-baiknya untuk kepentingan umat manusia. I love you, honey. Kalau di Kabul aku kena tembakan roket nyasar, itu artinya aku duluan menunggu kau di surga. I love you.

Sejak itu, aku tidak pernah lagi menanyakan kapan ia akan kembali.

“Kau tahu arti peta dunia yang kuminta sebagai hadiah pernikahan. Kau pasti paham.” Kalimat itu milik Maila. Diucapkan ketika ia bersedia menjadi istriku, ikut ke Melbourne, menemaniku belajar untuk beberapa bulan….. dan “Aku ingin melanjutkan tugasku…” ia mengepak koper dan berangkat.

***

Serena Hanna Alexeyyef. Professor berkacamata berbingkai merah, dengan sepasang mata penuh rasa penasaran.

Apa yang membuat anda tertarik belajar jender?

Aku merasa bukan hanya ia yang menunggu jawabanku, satu-satunya laki-laki yang hadir dalam kuliah Gender Issues in Developing Countries. Dua puluh satu mahasiswi lainnya pun menatap ke arahku. Dari formulir yang telah kuserahkan sebelum kelas dimulai, sang professor tahu bahwa aku seorang kandidat doktor di Melbourne Businees School, dan semata-mata mendaftarkan diri pada mata kuliah ini dengan alasan: “demi lebih memahami para feminis.”

Well,….isteri saya seorang feminis dan pekerja kemanusiaan. Saya ingin memahami dunianya. Ia yang menyarankan menghadiri kuliah ini.”

Kelas terdengar bergemuruh dengan berbagai macam komentar. Sekilas aku dengar ada yang mengucapkan kata: Wonderful, seandainya suami saya juga ingin melakukan hal yang sama….

Professor Serena Hanna Alexeyyef memulai kuliah. Di luar langit pukul lima sore telah gelap. Penjelasan Washington Consensus terasa tidak menjadi menarik di tengah cuaca yang muram seperti ini.

Dari jendela kelas, south lawn, lapangan yang biasanya dipenuhi mahasiswa, terlihat sunyi. Hanya orang-orang bermantel tebal yang terlihat melintas terburu-buru membelah cuaca yang makin gelap.

Maila, Maila seperti apakah langit yang menaungimu, sekarang?

Pernah sekali kau berkata seperti ini untuk mengobati kesepianku, Honey, banyak hal yang bisa membuat kita tetap merasa dekat. Tidakkah kita masih berada di bawah langit yang sama? Tidakkah kita bisa berangan-angan bahwa meski berjauhan, tapi bila di detik yang sama, kita sama-sama menengadah ke langit, menatap bulan yang sama, mengamati bintang timur yang sama juga. Kalau kau rindu, lihatlah langit dan kabarkan seperti apa langit yang menaungimu saat itu..

Tapi Maila, Maila….menatap langit hanya akan membuatku semakin rindu….

Coba lihat, Maila… kuikuti saranmu mengikuti kuliah ini. Aku siap mendapatkan olok-olok dari Ayumi dan Paliwal. Apa peduliku?

“Oh my God, jadi aku harus ikut kelas domestic violence untuk memahami Takeshi!” Ayumi memang pada akhirnya melontarkan ejekan itu saat kami makan malam bertiga.

Kau tahu Maila? Aku marah sekali padanya. Sungguh, aku marah sekali!

“Kau, suami kesepian tapi setia!” Ayumi menunjuk-nunjuk hidungku. Begitu dekat. Ia mabuk dan terus mengulang kata-kata itu.

***

Aku memimpikanmu, Maila. Aku mimpi kau datang mengetuk pintu apartemen dan langsung memelukku. Katamu, kau akan menghabiskan musim semi tahun ini bersamaku, dan mengajak pulang liburan beberapa hari di Jakarta, sambil menjenguk bapak dan ibu. Dalam mimpi itu, aku melihat diriku tersenyum bahagia. Aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku menggendongmu, mengangkat tubuhmu yang mungil, berputar-putar di ruang tengah, hingga kau berteriak-teriak kecil minta diturunkan. Kataku, aku harus bergegas memesan tiket, karena penerbangan Melbourne-Jakarta selalu penuh menjelang akhir tahun. Aku harus bergegas menyiapkan pakaian, menyiapkan kopor. Dan sebelum melakukan semua itu, aku kembali mengangkatmu setinggi mungkin, berputar-putar di ruang tengah untuk meluapkan kegembiraan…

Telepon berdering. Itu pasti Maila, itu pasti my Maila. Aku tak sempat melirik jam di samping tempat tidur. Aku tak tahu jam berapa saat ini. Yang aku tahu, aku baru saja memimpikan Maila dan telepon yang berdering itu harus segera kujawab…Aku tahu Maila akan menelepon…

Maila…

Oh, maaf…ini aku Ayumi……malam ini Takeshi mabuk berat, ia memukul kepalaku dengan patung kayu…..,” ada kesedihan yang menyebar cepat.

***

Bisakah aku numpang tidur di apartemenmu malam ini…?

Suara Ayumi memecah sunyi, pada saat aku masih sibuk dengan berbagai pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam benakku.

Ia berdiri di pintu dengan lebam kecil di dahi. Aku menuntunnya masuk ke dalam kamar.

Maaf telah menyusahkanmu… aku tahu kau masih marah…,” suara itu sangat lirih.

Aku menggeleng. “Tidurlah…,” kataku sambil menepuk pelan punggung tangannya. Aku lalu bangkit, mematikan lampu di atas meja kecil di samping tempat tidur, menutup pintu kamar sepelan mungkin, dan melangkah ke ruang tengah.

Aku berbaring di sofa sambil menatap langit-langit. Lalu mataku beralih menatap ruang tengah yang kosong. Aku memikirkan Ayumi yang selalu menanyakan kabar Maila, my flying wife. Ayumi yang kini terbaring lemah di kamar tidurku, sahabat yang senantiasa berwajah sendu, tapi tak henti menggodaku sebagai: suami kesepian tapi setia. Pandanganku lalu beralih menatap televisi yang bisu. Aku berkhayal tengah berdiri di depan televisi, dan di ruang yang agak luang di antara meja televisi dan sofa, aku mengangkat tubuh Maila tinggi-tinggi ke udara sambil berputar-putar di ruang tengah.

Sungguh, aku tidak ingin memejamkan mata. Aku tidak ingin kembali tidur. Karena aku tahu, bila aku tidur, aku akan memimpikan Maila, memimpikan ia datang mengetuk pintu apartemen dan mengajakku pulang ke Jakarta.

Aku tidak ingin tidur. Aku ingin menjaga Ayumi. Aku harus berjaga-jaga siapa tahu Ayumi terserang trauma dan histeria tahap awal, karena pengalaman kekerasan yang dialaminya tidak akan sembuh secepat pulihnya luka di kepalanya.

Dalam keadaan terbaring, dari jendela di belakang televisi, aku melihat langit mulai terang. Angin pagi musim semi yang dingin menerobos masuk melalui celah pintu dan jendela yang setengah terbuka. Bayang-bayang pohon peneduh jalan terlihat bergerak-gerak pelan. Semua terlihat jelas dari tempatku berbaring.

Maila, aku merindukanmu. Aku menatap langit, dan berharap di saat yang sama kau tengah menengadah dan menatap langit. Bukankah, katamu, kita bernaung di bawah langit yang sama? Aku ingin mengabarkan, langit pagi hari yang kupandangi, terlihat bersih dengan warna biru tidak secerah biasanya.

Samar, terdengar suara Ayumi memanggilku… Lirih. Merintih. (*)

Melbourne-Tokyo, 2004.

1
comments

1 comment!

  1. Retty says:

    wah, penggalan kisah ini menarik sekali. Kalau saya sendiri sepertinya istri yang ingin terbang tapi memilih untuk tidak terbang….dan terasa berat hehehe…
    Ada penggalan kata dari Maila?

Reply