Kamera


Biskuit coklat bermerek Wonder Girl. Kaos bertuliskan Happy Kids.

Engkau baru saja menangis, menyaksikan ayah dan ibu bertengkar, lalu Surinah, pembantu yang pulang dari pasar memberimu biskuit coklat dan selembar kaos tipis berwarna merah anggur.

Jadilah, Happy Kids lekat di tubuhmu, Wonder Girl membuat geligimu beradu. Serpihan coklat di sudut bibirmu, menyebar seperti serbuk sari kembang sepatu yang berantakan digoyang angin.

Aku tergesa mengambil kamera Polaroid. Tentu saja aku harus mengendap-endap mencuri sejenak barang mahal ini dari kamar kerja ayah. Benda ajaib yang selalu membuat kita takjub dan girang, bukan?

Bayangkan, Polaroid itu bisa langsung menghadirkan gambar kita. Mengekalkan satu detak waktu dalam hidup kita. Ia obat mujarab bagi rasa sedihmu.

Engkau bergaya dengan mata yang baru saja disiram tangis. Masih basah. Tapi tatapanmu tajam menantang kamera. Engkau berkacak pinggang, memiringkan kepala, menekuk lutut kananmu dan… jepret!

Engkau mendekat. Dengus napasmu lekat di telingaku. “Mana… mana, hasilnya!”

Tak sabar engkau tarik tanganku yang masih mengibas-ngibaskan lembaran foto langsung jadi itu ke udara.

“Sabar… tunggu lima menit!”

Dan kita berdua tersenyum. Di lembaran licin berkilap itu ada dirimu berkacak pinggang dengan kaos Happy Kids, dengan senyum dikulum, mata berkilat menyisakan tangis. Kita menatapnya. Girang sekali rasanya. Foto langsung jadi itu adalah pelipur lara! Sempurna! Engkau tercetak cantik di foto ini.

“Wada!! Kau main-main lagi dengan kamera Ayah!”

Uups… kita tertangkap basah. Tapi tak apa. Engkau bisa lari duluan. Sembunyi di kamar. Tiarap di bawah ranjang seperti biasa. Aku bersiap menyodorkan telinga untuk dijewer ayah.

Tapi tahu, tidak? Hari itu, ayah hanya mendengus. Kesal sekali tampaknya. Ia tidak menjewer. Mungkin lelah bertengkar dengan ibu, ya?

***

“Kau ingat itu, Miu?”

“Apa?”

“Kamera Polaroid itu…”

“Oh…”

“Kenapa Oh?”

“Kenapa kau selalu mengingat banyak hal dan memintaku juga mengingat banyak hal?”

“Kenapa kau tidak ingin mengingat banyak hal?”

“Pahit…”

“Tapi kan ada yang manis juga…”

“Pahit, kataku! Semua pahit!”

Wah, hari ini engkau melihat dunia serba pahit rupanya. Engkau menjadi segarang elang betina. Suaramu meninggi, urat lehermu muncul seperti anak-anak sungai biru yang terbayang di bawah lapisan kulitmu yang kuning.

Apakah karena sedang merasa pahit engkau memutuskan pulang sejenak ke rumah ini. Menarik diri dari duniamu dan mampir lagi melongokkan kepala di sini?

Tahu tidak Miu, setiap kali engkau datang, gadis cilik bermata basah dengan kaos Happy Kids dan remah coklat Wonder Girl di sudut bibirnya itu yang menyeruak di semesta kesadaranku. Sejak kepergianmu yang jauh, ya, jauh sekali, aku memang telah membekukan kenanganku tentangmu.

Kamera itu berjasa mengabadikan saat terindah dari dirimu, setidaknya di mataku, di hatiku, di kepalaku. Sejak saat itulah, dalam alam pikiranku, engkau tidak lagi berubah menjadi apa-apa, tidak beranjak lagi ke keadaan pun. Karena bagiku itulah saat terbaik mengenangmu.

Engkau bisa menyebutku gila atau apa saja. Tapi begitulah cara aku memujamu. Itulah Miu terbaik dalam hidupku. Makanya setiap kali engkau mengabari, “Aku mau pulang nih, sehari dua hari….” Dan saat engkau betul-betul hadir lagi di sini, maka yang kusongsong di depan pintu rumah adalah si centil dengan kaos Happy Kids mengulum biskuit Wonder Girl, bukan Miu dewasa yang terkenal, populer dan beredar di dunia yang hingar bingar.

Ayah kita tukang foto. Ibu kita perias pengantin. Kita berdua punya banyak foto di segala suasana, penting maupun tidak penting. Engkau juga sering dirias ibu di segala suasana. Pipi dan bibirmu selalu diberi pemerah. Matamu diberi berbagai warna. Rambutmu digelung, dikepang, diberi pita dan kembang goyang.

Coba lihat dinding rumah ini, Miu. Foto ketika aku diadopsi dari panti asuhan, juga foto kelahiranmu tergantung di dekat tangga menuju ruang baca. Kita berjejer di dinding.

Kita memang senantiasa berdampingan. Pigura yang memajang wajahku bersanding dengan pigura yang memajang wajahmu. Fotoku ketika lulus TK dan fotomu saat mulai belajar berjalan dipaku berurutan di ruang tengah. Fotomu ikut lomba bayi sehat dipajang berbanjar dengan fotoku saat menang karnaval sepeda.

Tapi Miu, tentu saja fotomu lebih banyak. Wajahmu mendominasi dinding rumah ini. Engkau difoto dalam lomba anak berbakat, lomba model cilik, lomba sepeda santai. Ah, banyak betul lomba yang kau ikuti sepanjang hidupmu, Miu! Rajin betul ibu menentengmu ke sana kemari ikut lomba ini lomba itu, memamerkanmu seperti boneka porselen.

Itulah mengapa wajahmu menguasai dinding rumah ini. Tapi tak apa. Aku kira, tak ada yang keberatan. Seperti halnya tak ada yang keberatan saat engkau berkata, engkau ingin semua orang di dunia melihat wajahmu, menonton tubuhmu. Engkau menginginkan itu.

Aku suka ikut ayah. Engkau suka ikut ibu. Terkadang aku ikut ayah berkeliling menerima panggilan pemotretan. Engkau sendiri riang melangkah mengikuti ibu merias wajah orang-orang yang hendak berpesta.

Aku jadi suka pada segala macam kamera yang membekukan sedetik peristiwa dalam kehidupan orang-orang. Benda kecil persegi yang dibawa ayah ke mana-mana itu, sungguh ajaib. Orang rela menghentikan sejenak aktivitas mereka, memasang senyum, lalu jepret!

Aku juga menikmati kegembiraan orang-orang yang datang ke studio foto milik ayah. Di studio foto ada orang yang datang membawa harapan (untuk selembar pas foto yang dilekatkan di lembaran lamaran kerja dan ijazah), ada juga yang datang membawa kebahagiaan yang ingin diabadikan (untuk para pengantin baru dan serombongan keluarga yang ingin dipotret dengan pose yang seolah ingin berkata: kamilah orang paling berbahagia di dunia! Atau para sarjana baru dengan toga sewaan yang ingin difoto dengan pesan jelas tegas: Siap menyongsong masa depan!)

Ah, studio foto ini, Miu… engkau juga banyak berpose di sini. Segala macam gaya sudah kau coba.

Tapi Miu, di mataku, tampilan terbaikmu bukanlah di foto-foto yang bertebaran di dinding rumah atau pose-pose amatiran yang kau lakukan di studio foto ayah. Juga bukan di sampul majalah, dalam balutan pakaian desainer ternama, atau di produk kosmetik, parfum dan jam tangan yang engkau iklankan. Miu terbaik adalah si centil dalam balutan kaos Happy Kids itu!

Matamu di foto itu membuatku tergerak menulis larik puitis tentang dua bola bening itu:

kubayangkan dua bintang

sehabis disiram hujan

Terdengar gombal ya, Miu? Ah, biar saja. Tapi sungguh, aku begitu ingin mengulum sepasang matamu itu. Itulah cahaya mata terbaik dalam tangkapan kamera dan rekaman ingatanku. Dua mata yang kau seka buru-buru, meski tetap saja ada selapis tangis menggenang.

Di foto Happy Kids itu, Miu, ponimu selurus penggaris, rata memayungi dua alismu. Seperti tirai hitam, legam, berkilat dan patuh mengikuti bentuk dahimu. Engkau kenes. Menggoda.

Bukankah kamera Polaroid itu yang membuat airmatamu terhenti?

Sebenarnya Miu, aku berandai-andai saat itu, meski airmatamu terus mengalir seusai menyaksikan ayah dan ibu bertengkar, tanpa perlu engkau seka pipimu yang basah itu, di foto instan itu tangismu akan beku juga, bukan? Ya, beku. Tak jatuh mengalir. Dan bila lembaran film itu kita kibas-kibaskan ke udara, lalu lapisan hitamnya itu secara perlahan memunculkan rekaman gambarmu, tak ada air mata di situ bukan? Kering. Bersih. Dan kita memang selalu kegirangan melihat kamera Polaroid itu bisa mendatangkan rasa senang. Selalu saja begitu.

Di usia empat belas tahun, engkau berangkat ranum. Cepat atau memang sewajarnya demikiankah? Aku tak tahu. Apa yang kutahu sebagai kakak lakilakimu bahwa engkau tidak lagi sekedar kenes, tapi semakin menggoda. Aku lakilaki kecil di hari terik yang melihatmu seperti segelas sirop stoberi atau es krim vanila. Menggiurkan. Dadamu mulai mekar, juga pinggulmu. Aku memperhatikannya. Dan itu membuatku selalu ingin memotretmu lebih dari biasanya. Dan engkau tampaknya senang-senang saja.

Aku mengendap ke kamar ayah, mencuri kamera Polaroid berwarna abuabu itu. Berkali-kali, dadamu yang membusung itu membuatku menahan napas. Fantasiku menari. Liar. Nakal. Membuatku malu sendiri. Terkadang engkau memelukku dari belakang. Engkau memberi kejutan pada lamunan-lamunan panjangku. Napasmu begitu dekat di telinga dan tengkukku. Engkau menjatuhkan seluruh berat tubuhmu ke pundak dan punggungku.

Kenapa aku merasa berdebar melihat badanmu mekar, Miu? Mengapa tubuhku menegang ketika begitu saja engkau jatuhkan tubuhmu ke tubuhku? Bukankah ketika engkau kecil dahulu kubopong dirimu berkeliling halaman. Aku adalah kuda dan engkau jokinya?

Tapi, Miu, di masa-masa ranummu itu, dada yang empuk dan lunak itu membakar punggungku.

“Nyeri di sebelah sini…” engkau menunjuk dadamu di bagian atas dengan wajah meringis. Tanpa segan engkau mengeluh. Tapi apa yang kutahu soal itu sebagai kakak lakilakimu, Miu?

Harusnya engkau tanya ibu. Tapi katamu ibu kini makin galak. Ia marah bila diganggu. Ibu sibuk merias pengantin. Makin banyak orang yang kawin. Ibu sempat berhenti menentengmu ke berbagai lomba. “Usia Miu lagi tanggung!” kata ibu. Masih kata ibu, tak ada lomba yang cocok. Ikut lomba model dewasa belum cukup umur. Ikut lomba kanak-kanak, sudah ketuaan.

Ibu memang tak banyak waktu untuk kita. Ibu telah kehabisan waktu menjalankan tugasnya dengan baik: melayani rias pengantin dan melayani ayah bertengkar. Itu saja!

Hanya Surinah, pembantu setia itu yang menjaga kita berdua. Lebih tepatnya, menjagamu, Miu. Ingat, aku lebih tua darimu. Aku selalu merasa jauh lebih dewasa dan tak pernah betul-betul merasa perlu dijaga.

Bila kita berdua saja di rumah, engkau mengajakku bermain di studio foto milik ayah atau membuka buku-buku tua di ruang baca ayah.

“Kakak… bedanya lakilaki dan perempuan ada di sini..” suatu hari engkau mengajakku membuka sebuah buku anatomi berbahasa Inggris di ruang baca ayah. “Lakilaki tak tidak punya ini!”

Sebuah kantung segitiga kemerahan yang melintang di tengah perut gambar perempuan telanjang, engkau tunjuki penuh semangat. “Dari sini manusia lahir!”

Lalu di suatu hari yang lain engkau menunjuk perutmu yang katamu berputar-putar seperti gasing kesurupan, seakan hendak terlepas dari tubuhmu

“Ada apa di perutmu?”

“Ada darah…”

“Hah?”

Engkau bercerita tentang bercak darah kecoklatan di pakaian dalammu.

“Ini mens pertama… Oalah… sudah gadis kau sekarang!” pembantu kita, Surinah yang membimbingmu ke kamar mandi, mengguyurmu. Ibu tak ada di rumah. Ayah sedang mengurung diri di ruang baca. Di malam harinya engkau berbisik padaku, “Pembalut yang diberi Bik Surinah sangat tidak nyaman di sini…” engkau menunjuk pangkal pahamu.

Tapi Miu, sungguh, ketika itu, apa yang bisa kubayangkan sebagai kakak lakilaki tentang dadamu yang nyeri dan perutmu yang melilit, juga soal pembalut yang tak nyaman itu? Apalagi tentang kantong segitiga berwarna merah di dalam perutmu yang katamu adalah tempat yang kelak bisa diisi manusia kecil?

“Ssst… aku sedang M

Oh Miu, bagaimana bisa kupahami artinya?

Datang bulan, sedang mens, palang merah, begitu engkau ajari aku tentang siklus yang dialami setiap perempuan.

Aku merasakan wajahku memanas setiap kali engkau melaporkan siklus itu. Kubayangkan ada siluman berpisau tajam yang menoreh perutmu setiap bulan sehingga engkau kerepotan berdarah-darah.

Aku menebak-nebak. Engkau mencari tahu. Di buku anatomi tua di ruang baca ayah itu, engkau mendapat penjelasan. Engkau mengajakku membacanya. Di dalam perutku dan perutmu terdapat susunan organ yang berbeda.

Tapi mengapa harus engkau laporkan soal darah yang mengotorimu pakaianmu, mengeluhkan perutmu yang melilit, dan memintaku mengedus-endus pangkal lenganmu untuk memastikan bau tubuhmu tidaklah terasa anyir?

“Ya… supaya kakak tahu saja!” suaramu kenes, dan…

“Hei melamunkan apa! Dasar pengkhayal!” suaramu kini garang. Menggelegar. Suara itu mengusir si centil berbalut kaos Happy Kids.

Engkau berkacak pinggang. Wajahmu kusut. Tapi ah, engkau tetap cantik meski dalam keadaan berantakan begini.

“Melamunkan apa, ayo!”

“Setiap kali kau datang, aku selalu menjadi sentimentil Miu! Mengenang masa-masa kecil kita…”

“Huuuuh..” engkau memonyongkan bibir.

“Pelamun, pemimpi, sentimentil, penyendiri, gemar mengunci diri di rumah, malas mandi… pantas saja Kakak tidak dapat jodoh hingga hari ini!”

Hari ini engkau datang khusus untukku, katamu. Tumben, balasku. Kangen, katamu. Kangen? Aku kok tiba-tiba merasa engkau berbasa-basi, sama seperti banyak basa-basimu yang bertebaran di majalah, surat kabar dan televisi.

“Manajermu?”

“Kubiarkan di Singapura. Mengurus kontrak pemotretan. Aku mau libur dua hari di rumah ini!”

Engkau melempar tubuhmu ke sofa tua yang kulitnya kusam. Sofa abuabu yang membenamkan banyak kenangan di rumah ini. Sofa itu Miu, dulunya dipajang di studio foto ayah. Berapa ratus orang yang telah mendudukinya ya? Kini ia reot. Lapuk.

Engkau menanyakan ayah. Engkau panjangkan lehermu, celangak-celinguk memandang pintu kamar ayah yang bercat hijau tua. Pintu yang dingin, seolah berpalang dan bertanda : dilarang masuk!

“Ayah tidur.” Aku menegaskan larangan itu.

“Bagaimana? Jadi kau masukkan ke panti jompo?”

“Itukan usulanmu. Miu”

“Di panti yang sama dengan ibu?”

“Terserah..”

“Hei… aku serius! Kakak jangan capek-capeklah mengurusi ayah. Kalau perlu studio ini ditutup sajalah! Ayah dan ibu ke panti jompo dan kakak ikut aku saja ke Singapura!”

Wah, sifat mengatur-aturmu mulai kambuh. Engkau menjelma mirip mandor proyek yang memuntahkan perintah kepada buruh bangunan.

“Ayah dan ibu kan perlu perawatan khusus. Mereka akan lebih nyaman di panti jompo. Kita bisa pulang ke sini menjenguk sekali sebulan, bagaimana? Kakak bisa mengembangkan hobi fotografi di Singapura atau mulai menulis novel. Kan cita-citanya mau jadi novelis? Atau bagaimana kalau menulis biografiku? Pasti keren tuh! Eh, aku akan dapat kontrak pemotretan di Milan, apartemenku di Singapura bakal kosong sekitar dua bulan…”

Wah, kali ini engkau bukan lagi mandor proyek. Jabatanmu kunaikkan menjadi seorang presiden yang menerbitkan dekrit!

“Kakak… aku akan cukup lama di Eropa musim panas nanti, bantulah aku mengurus banyak hal di Singapura!”

Nah, ini dia rengekan maut yang tak pernah engkau amandemen sekalipun setiap kali pulang ke rumah ini. Ayolah Kakak ikut aku! Pindah dari kota ini!

Setiap kali engkau datang, selalu saja engkau gelar rencana mengajakku pergi. Mengajak pindah. Tahukah engkau Miu, ajakan itu yang membuat ayah murung dan ibu berceracau tak karuan.

“Menutup foto studio ayah? Kamu sinting! Ayah bisa marah!”

“Kakak… zaman sekarang hampir semua orang punya kamera digital! Mereka tidak ke foto studio lagi?”

“Kata siapa? Ada kok yang datang ke sini!”

“Untuk apa?”

“Ya untuk dipotretlah! Pertanyaan bodoh!”

Lho, kenapa orang-orang masih ke sini?”

“Untuk membuat pas foto ijazah, kebutuhan melamar kerja, foto keluarga. Tahu tidak Miu, aku juga menerima foto pra-wedding!”

“Hah? Orang-orang di kota ini sudah kenal pra-wedding photo session? Hahaha Oh My God! latah sekali…”

“Itulah kau! Selalu memandang remeh! Kota ini juga berkembang… memangnya cuma hidupmu saja yang menggelinding ke Roma, Paris, Singapura, Sydney…”

“Huuuhhh…” Engkau mencibir. Congkak sekali garis wajahmu kali ini. Tapi, ah, engkau tetap saja cantik, dilihat dari sudut mana pun. Tapi tunggu dulu, pipimu agak tirus sekarang ya? Tuntutan agen, ya? Coba lihat tubuhmu, engkau susutkan lagi lingkar pinggangmu, ya? Ke ukuran berapa? Kamu ikut-ikutan jadi size zero model? Ingin jadi underweight model, Miu? Mau mati kekurusan ya Miu? Jangan tolol, Miu!

“Kenapa, Kak?”

“Kau kurus…”

“Memang harus… Kalau gemuk dikitkreeek!” Engkau membuat pisau tajam dengan tangan kirimu dan melakukan gerakan memenggal lehermu. Terhuyung. Engkau memutar-mutar bola matamu mirip orang tercekik kenyataan. Tak boleh gemuk satu senti pun! Pantang!

“Kakak… aku tak akan lama lagi. Dua tahun lalu pasti digilas dengan yang lebih asoy. Yang lebih muda. Model-model Eropa Timur itu, gila! Cantik, ulet dan licin! Mereka menyerbu! Agen-agen itu, orang yang membenci usia dan lemak itu, langsung menyembah-menyembah mereka. Aku akhirnya ikut-ikutan membenci usia, membenci lemak, membenci daftar menu! Huh!”

Kau selonjoran di sofa. Tungkaimu adalah sepasang kaki belalang yang panjang dan proposional. Lelah sekali engkau kelihatannya. Tulang pipimu menonjol. Perutmu landai sedatar padang luas. Dan ke mana perginya lemak di bawah dagumu itu? Aku selalu saja menjadi lakilaki yang cerewet melihat tubuhmu. Mengapa tidak pernah selesai engkau mengutak-atik tubuhmu itu, Miu?

“Oh ini… lemak dagu ini kusedot… jelek rasanya punya dagu bersusun! ”

“Miu…”

Aku masih ingin protes, tapi engkau tak tertarik membahas dirimu.

“Soal ayah…. Ada perkembangan?”

“Buruk. Stroke tahun lalu membuatnya mengalami gejala dementia.”

“Ibu?”

Hypertensinya perlu pemantauan khusus. Ibu juga mengalami gejala dementia tapi kata dokter penyebab dementia ibu lebih karena keturunan, ada sejarah dementia di keluarga ibu..”

Kok bisa?”

“Ya, namanya juga orang sudah tua.”

“Maksudku, kenapa dua-duanya pikun bersamaan..”

“Ya, mana aku tahu…”

“Ayah dan Ibu menghabiskan waktu dengan bertengkar, terus bertengkar hingga kita capek melihat keduanya mempertengkarkan begitu banyak hal dalam kehidupan mereka… Kalau sekarang dua-duanya pikun, wah…”

“Wah apa?”

Nggak… tiba-tiba saja terbayang betapa damainya rumah ini hahaha…”

Ah Miu, engkau tumbuh jadi anak yang kurang ajar rupanya! Ayah dan ibu pikun, malah menjadi bahan tertawaanmu! Hormatlah sedikit pada mereka!

Maaf Miu, aku memang sangat sensitif bila ada yang menertawai ayah dan ibu. Aku pantang menertawai dua orang yang mengadopsiku itu.

Ya, aku “anak pancingan” sebagaimana yang dipercaya keduanya bahwa kehadiranku di rumah ini dapat membuat ibu hamil. Dan memang benar, engkau lahir setelah setahun aku bersama mereka. Tahukah engkau Miu, hanya bersama keduanya aku merasa betul-betul menjadi anak. Meski keduanya gemar bertengkar.

Eh, kita pernah berpikir keduanya menunjukkan rasa cinta dengan mengisi hari-hari berdebat hingga kelelahan, ya? Tapi mereka mengajari aku untuk tidak dendam pada nasibku. Membuatku tidak menyesal pada takdirku yang tidak tahu dari rahim siapa sebenarnya aku terlahir.

“Kakak, kenapa orang bisa jadi pikun?”

“Otak manusia bisa kehilangan kemampuan mengingat… ada yang terjadi drastis, ada yang perlahan. Penyebabnya macam-macam. Makanya jaga otakmu baik-baik!”

“Huuuuh…” engkau monyongkan lagi bibirmu.

Lalu katamu, “Eh, asyik juga ya kalau kita punya banyak masalah, terlilit hutang, stress, putus asa, mending kita pikun saja, ya! Orang pikun pasti punya dunia yang lain, dunia di luar kita yang normal-normal ini…”

“Itu gila. Bukan pikun!”

“Pikun!”

“Gila!”

“Pikun, Kak!”

“Ayah dan ibu tidak gila, Miu!”

Lho yang bilang mereka gila siapa?”

“Kamu bilang mereka punya dunia sendiri, barusan!”

Eits, aku tidak bilang begitu! Dengar baik-baik, aku bilang, enak juga jadi orang pikun!”

“Tapi orang pikun tetap terhubung dengan orang-orang di sekitarnya, mereka tidak punya dunia sendiri..”

“Lantas ke mana mereka saat pikunnya kambuh? Ke mana mereka? Ke alam mana pikiran mereka berpindah?”

“Maksudmu?”

“Ah sudahlah! Kenapa kita jadi bertengkar begini, Kak… Yang jelas mereka berdua harus dirawat di panti jompo!”

Ah, engkau si presiden yang baru saja menerbitkan dekrit, kini memejamkan mata. Memilih tidur-tiduran. Itulah kebiasaanmu. Engkau selalu pura-pura tidur, memejamkan mata bila capek berdebat. Seperti yang engkau lakukan sekarang di hadapanku. Tubuhmu terlentang di sofa tua itu. Matamu engkau pejamkan. Dadamu naik turun teratur. Tertidurkah engkau? Benar-benar tidur?

Aku kira, Miu, kita mewarisi dengan baik kebiasaan ayah dan ibu memperdebatkan banyak hal besar, sedang dan kecil. Kadang berlarut-larut. Kadang engkau sampai memasang bendera permusuhan berhari-hari.

Hei Miu jangan pura-pura tidur begitu dong! Engkau hanya pulang untuk numpang tidur? Tadi katanya kangen!

Oh, come on Miu! Jangan pura-pura tidur dulu! Banyak yang harus kita pertengkarkan. Engkau bilang mengirim ayah dan ibu ke panti jompo adalah cara terbaik. Aku bersikeras masih bisa merawat keduanya. Engkau bilang lagi, ayah dan ibu butuh perawatan intensif, dokter ahli dan pendamping lansia yang terlatih. Aku menolak. Engkau berontak. Ingatkah engkau Miu betapa kita bertengkar hebat di telepon? Berjam-jam. Berhari-hari.

Pertengkaran ini akan berlanjut. Aku yakin, begitu engkau bangkit dari sofa tua itu, kita akan adu mulut lagi.

Tapi… ah, engkau betul-betul tidur rupanya. Dengkur halusmu diayunkan angin ke telingaku. Menyusup masuk ke sel-sel syarafku, berubah wujud menjadi linggis yang membongkar pintu-pintu kenangan.

***

“Pesawatnya terlambat sekitar setengah jam, Pak Wada. Tapi segala sesuatunya telah disiapkan melalui pintu kedatangan khusus…”

Seorang petugas kepolisian memberi penjelasan dengan wajah yang menunjukkan keprihatinan luar biasa. Setelah menyampaikan kabar itu, ia tak beranjak. Ia tetap berdiri di samping Wada, lakilaki bertubuh ringkih, bermata sembab yang tengah memandang kosong ke arah landasan pacu. Layar informasi penerbangan di depannya memajang kata “delayed” pada nomor penerbangan yang sejak tadi diawasinya.

Bandara ramai sekali. Sesak. Riuh oleh desas desus. Di ruang kedatangan, bukan hanya para penjemput yang berdesakan. Koridor dipenuhi polisi, wartawan dan orang-orang yang memasang wajah ingin tahu.

Sejak semalam kota kami gempar. Dua warga kota ini diberitakan ditemukan tewas di Singapura. Yang satu ditemukan tergeletak tak bernyawa dua hari lalu, yang satunya lagi membusuk di kamar mandi, diduga telah meninggal pekan lalu.

Keesokan paginya kota kami makin gempar ketika loper koran di seluruh perempatan jalan meneriakkan dua berita kematian itu. Lantang. Penuh sensasi.

***

MANIS, Miu. Sebenarnya dilihat dari sudut manapun, ingatan tentangmu selalu terasa manis. Aku tetaplah lakilaki kecil yang membayangkan mengulummu seperti es krim vanila di siang terik.
Semua tentangmu manis adanya, Miu… seperti halnya wajahmu, dengan tulang pipi sempurna, garis hidung lurus tegas, tatapan mata legam tajam menantang, ditangkap oleh kamera dari sudut manapun, akan tetap cantik, Miu…

Miu, engkau pulang. Kali ini untuk terakhir kalinya. Di koran, mereka bilang engkau tergeletak overdosis di apartemen manajermu. Obat pelangsing, ampetamin dan alat suntik berceceran di lantai. (Bersih, aku bersih, Kak! Di setiap party, aku bersih… begitu selalu engkau memberi jaminan di saat aku mengkhawatirkan pesta-pesta yang engkau hadiri. Multivitamin saja susah nelannya, apalagi pake obat dan suntik, ih!)

Miu, aku menunggumu. Aku menunggumu, Sayang…

Televisi bilang ada dugaan engkau berupaya menggugurkan kandunganmu yang berusia 6 minggu. Mengapa ada busa putih di sudut bibirmu dalam foto yang ditayangkan breaking news semalam? (Siapa yang benar-benar bisa menjelaskan ini padaku, Miu? Aku mengingat buku anatomi tua di ruang baca ayah itu, Miu. Aku mengingat kantong merah di perut perempuan yang katamu bisa memelihara manusia baru. Apakah engkau menjelma siluman yang menoreh sendiri kantong merah itu lalu membunuh isinya, Miu?)

Miu, engkau pulang. Dan tahukah engkau, Miu? Engkau tak sendiri. Ada tubuh beku lainnya yang diangkut pesawat yang menerbangkanmu dari Singapura. Koran pagi menulis namanya, Rusti. Pembantu rumah tangga yang mati disekap majikannya di Jurong East. Koran itu memajang foto Rusti dengan wajah bonyok lebam tak karuan.

Semalam, Miu, setelah berita tentang dirimu, penyiar televisi mengabarkan Rusti. Ia katanya telah tiga kali mencoba melarikan diri. Majikannya kalap lalu menyekap Rusti.

Pagi ini, Miu, engkau berbagi halaman utama dengan Rusti di semua koran. Hampir seluruh orang di kota ini membicarakanmu, juga membicarakan Rusti.

Miu, pesawat yang membawamu belum juga tiba. Tertunda. Entah dengan alasan apa. Terhalang hujan dan kabut tebal kah? Tersesat di gumpalan awan?

Tapi tahu tidak, Miu… engkau telah kulihat hadir jelas di ujung landasan pacu. Engkau berjalan menenteng travel bag Louis Vuitton kesayanganmu dan berlari bersungut-sungut mendekat ke arahku. “Kakak, agen-agen itu membenci usia, membenci lemak…tak boleh bertambah gemuk satu senti pun. Brengsek!

Manis, Miu… kukenang dari sudut manapun, engkau tetap manis. (*)

Tokyo, 3 Mei 2008/6:35

5 thoughts on “Kamera

  1. Bagus ceritanya….. Cuma agak aneh menurut saya, sedikit sekali hubungan cerita dengan judul… Ato saya yang kurang ‘ngeh’ ya??? Tapi cerita2nya bagus kok mba…. Pesan moril di setiap cerita TOP… Trus berkarya ya….Gud luck…

  2. untuk dweexc, youdie dan Ndra makasih banyak ya! masukan dan komentarnya menambah semangat!

    salam,
    Ly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *