Kecap

DI ulangtahun Nayu yang keduabelas, ayahnya memberikan hadiah yang tak biasa. Ketika bungkusan itu dibukanya, gadis kecil itu berteriak kecewa.

Botol kaca hitam berkilat dengan gambar naga menjulurkan lidah api dengan tulisan Nomor 1 menyembul dari balik kertas kado metalik berpita merah.

“Kenapa? Tak suka? Kecap mencerdaskanmu, Sayang! Kedelai banyak gizinya! Membuatmu kuat!”

“Yah… masak kecap?”

“Maaf, Sayang… Ayah tak punya kado lain!”

Ya, mau apa lagi. Semua toko tutup. Kota masih terbakar, digulung kerusuhan.

Di depan rumah mereka berdiri pabrik kecap. Industri rumah tangga itu milik keluarga Liong. Ketika sekelompok orang marah berteriak “Ganyang China!” sehari setelah beredar kabar seorang pembantu rumah tangga tewas dihajar majikannya yang warga keturunan China, seluruh anggota keluarga Liong bersembunyi di rumah Nayu. Sebelum mengungsi, Babah Liong buru-buru membeli pylox. Tembok pagar dan bagian depan pabrik kecap segera disemprot dengan tulisan: Milik Pribumi!

Ayah Nayu bersama sejumlah warga lainnya berjaga-jaga membawa pentungan di depan pabrik itu. Tiga hari tiga malam amuk anti China berlangsung. Kota gempar terbakar. Kantor dan sekolah libur. Warga keturunan gemetar, kawasan pecinan menjelma kuburan, orang-orang misterius menyerang seperti rombongan barbar. Nayu mencoreti kalender. Libur! Ia memberi tanda silang di penanggalan dinding, menciptakan hari libur tambahan.

Tapi ia juga sebenarnya kecewa luar biasa. Ia akan berulang tahun! Ia sudah merencanakan pesta sebelum lulus SD. Tapi batal. Orang-orang mendekam di rumah. Jalan-jalan hanya dipenuhi orang marah. Ia meringkuk bersama lima anak Babah Liong yang mengungsi ke rumah Nayu. Anak-anak itu ribut sekali. Manja dan tengil. Setiap saat merengek-rengek minta pulang ke rumah mereka, pabrik kecap berlantai hitam, yang penuh karung kedelai dan remah gula Jawa itu.

Lidah api mungil di lilin-lilin berwarna-warni yang seharusnya ditiup Nayu di atas kue ulang tahun, berpindah menjadi kobaran api raksasa di sejumlah titik kota. Membesar. Menggulung. Membuat banyak tempat menjadi arang. Kota hangus. Rusuh dan hitam.

“Ya, sudahlah… ini hadiah kecap dari Babah Liong. Tadi istrinya yang membantu membungkusnya sebagai hadiah. Selamat ulangtahun, Sayang!”

Lakilaki itu mengecup Nayu.

“Iiihh.. Ayah bau!”

Ayahnya memang membawa keringat yang sangat asin, di bajunya melekat bau asap dan bau mayat-mayat yang terbakar.

Anak-anak Babah Liong mengerumuni Nayu. Melingkar mereka menatap botol hitam berkilat yang diangkat tinggi-tinggi. “Ini kecap dari rumahku…. !” Charles, anak tertua Babah Liong mencoba menggapai botol itu. Nayu mengangkat hadiah ulangtahun itu lebih tinggi.

Ia memang kecewa pada hadiah ulangtahunnya itu, tapi ia tak rela anak-anak Babah Liong merebutnya. Ia naik ke kursi, lalu naik lebih tinggi ke meja, menghindari sepuluh tangan yang menggapai-gapai, yang mencoba merebutnya.

Enak saja! Lebih baik berulangtahun dengan sebotol kecap dari pada tanpa kado sama sekali!

Kecap itu akhirnya ada juga gunanya. Kerusuhan tak reda hingga hari ketujuh. Berbagai isu lainnya yang tumpang tindih menjadi bahan bakar yang makin menyulut api di seluruh penjuru kota. Berhari-hari pasar dan toko tidak ada yang buka. Bagi Nayu, mengurung diri di rumah, menyantap nasi putih dan kecap manis, kelak menjadi kenangan yang tak dilupakannya hingga berpuluh tahun kemudian.

***

KEBIASAAN ini diteruskan ayahnya hingga Nayu remaja, mulai pacaran, menikah dan bercerai.

“Ayah punya kecap Kikkoman, nih”

Di usianya yang keduapuluhtujuh Nayu memutuskan kembali ke rumah ayahnya.

Kali ini ayahnya menghadiahkannya kecap Jepang. Encer dan asin. Hadiah promosi sebuah rumah makan milik kenalannya.

“Anggap saja hadiah ulang tahun yang terlambat.”

Nayu menerima botol kaca mungil bertutup plastik merah dengan tulisan kuning terang “made in Japan” di bagian bawahnya itu dengan wajah penuh rasa maklum. Ia memaksa diri tersenyum. Rasa sedih tak boleh masuk ke dalam rumah ini.

Selalu saja, ayah dan kecap adalah dua hal yang bisa mengaktifkan syaraf-syaraf otaknya untuk memerintahkan mulutnya memuntahkan gelak dan melarang rasa sedih menguasai perasaannya.

Ayah dan kecap. Sebuah ritual yang janggal, yang menjadi bentuk komunikasi yang hanya mereka mengerti berdua. Kehadiran kado itu memanggil-manggil segenap peristiwa yang tidak menggembirakan tapi bersikeras dikenang dengan cara-cara yang baik, tanpa sikap cengeng dan wajah sendu berlarat-larat.

Ayahnya ingin diingat karena sesuatu yang berbeda. Bukan hanya sebagai juragan kos merangkap calo tanah yang ditinggal kabur istri.

Malas, cemburuan, pemarah. Begitulah orang-orang bergunjing tentang ayahnya. Tapi Nayu punya versi lain tentang lakilaki itu: tidak ambisius, penyayang, pandai mengurus rumah.

Ayahnya memeluk Nayu. Agak lama. Dibenamkannya kepala Nayu di dadanya. “Kamu kuat?”

“Berat, Yah… tapi harus kuat! “

Ia mengajak ayahnya tertawa.

Bersama ayahnya, ya hanya bersama lakilaki itu, ia tidak ingin kehilangan selera humornya untuk alasan apa pun.

Keduanya tertawa. Sumbang.

***

NAYU memelihara banyak orang di dalam kepalanya.

“Waduh ini sifat warisan ibumu…” ayahnya cemas bukan main.

Orang-orang di dalam kepala Nayu itu makin ribut tidak karuan ketika ia memutuskan bercerai. Ini memang masa sulit baginya. Seperti perjalanan melalui terowongan sempit, gelap, tanpa oksigen, penuh ular dan siluman dan barangkali di ujungnya ada jurang yang curam dan di dasarnya ada sungai yang dihuni puluhan buaya lapar.

Mengumumkan dirinya sedang menjalani sidang perceraian membuat hidupnya berubah menjadi seonggok bangkai yang dirubung lalat. Kehidupannya riuh rendah dibahas para penggunjing. Orang-orang itu berlompatan keluar dari kepalanya.

“Ya ampun.. kenapa harus cerai?”

“Cerai adalah perbuatan halal yang paling tidak disukai Allah..”

“Nayu dicerai atau menggugat cerai?”

“Suamimu punya affair? Atau kamu yang selingkuh?”

“Apa? Gara-gara tidak punya anak? Ah, yang benar saja?! Kamu yang mandul? Kenapa tidak periksa baik-baik… atau jangan-jangan suamimu yang memang loyo!”

Celakanya, orang-orang terkadang lupa pada etika bergosip yang baik dan benar: pastikanlah obyek yang digosipkan berada pada radius beberapa puluh meter, sehingga si korban gosip tidak mendengarkan langsung gunjingan.

Nayu mendengar satu demi satu cerita seputar perceraiannya. Jelas. Keras. Dengan isi cerita yang dipelintir dan diberi bumbu. Menyakitkan. Membingungkan. Menjengkelkan. Perkawinannya berkembang tidak seperti yang diharapkan orang-orang. Berlian di cincin pernikahannya memang abadi. Tapi cahaya batu mulia itu memancarkan sinyal: perkawinan pemilik cincin itu berumur pendek.

Dulu, orang-orang berharap ia menikah. Maka menikahlah ia seperti harapan orang-orang itu. Ia menikah dengan lakilaki yang baik dan bermasa depan jelas.

Dulu, orang-orang berharap ia punya pekerjaan yang layak. Maka melamarlah ia di sebuah tempat kerja yang dianggapnya bagus, sehingga bila ia bertemu orang-orang itu dan mendapat lontaran pertanyaan: “Kerja di mana?” lalu ketika ia menyebut tempat kerjanya, maka orang-orang itu, seperti yang diharapkan, akan serempak berkata: “Waahh… hebat ya…”

Ia diganjar pujian untuk posisinya sebagai sekretaris di sebuah universitas swasta terkenal. Tak sia-sia ia sekolah sekretaris tiga tahun, belajar steno, mengetik cepat, table manner, hingga telaten berlatih berlenggak-lenggok dengan gemulai.

Dulu, orang-orang berharap ia menjadi perempuan yang sangat taktis membagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumah, maka berlompatanlah ia antara rumah dan tempat kerja tanpa lupa menjadwalkan arisan dan kumpul-kumpul ikut organisasi sosial untuk melaporkan kepada orang-orang itu bahwa ia telah melakukan apa yang mereka harapkan.

Ya, Nayu menanam begitu banyak orang-orang dalam kepalanya. Orang-orang yang membuatnya tidak pernah benar-benar tidur nyenyak karena mereka tumbuh seperti tanaman rambat yang mencekik leher dan menjerat langkahnya.

Hingga orang-orang mulai ribut “Wah, sudah isi?” sambil memandang perut Nayu yang serata papan. Isi apa? Anak? Hei, tunggu dulu… apakah orang-orang ini juga mengintai setiap kali ia bercinta dengan suaminya? Apakah orang-orang ini melacak dan memastikan ovum yang dihasilkan sepasang ovariumnya bakal dibuahi oleh satu dari jutaan sperma yang disemprotkan suaminya ke dalam liang rahimnya?

Ah, orang-orang itu. Tanaman rambat yang mencelakakan!

Kenapa belum hamil juga?

Betul-betul celaka! Hidupku betul-betul celaka, gerutu Nayu. Suami dan ibu mertuanya ternyata memelihara orang-orang yang lebih cerewet di dalam kepala mereka. Lebih celaka lagi, jumlahnya jauh lebih banyak.

“Belum juga ada tanda-tanda, Sayang?”

Wah, pertanyaan suaminya ini membuat ia lama kelamaan kehilangan selera bercinta dengan lakilaki yang dulunya membuat dirinya mabuk kepayang.

Adegan percintaan membuatnya ditindih beban berat yang memaksanya menghitung suara tokek: hamil, nggak ya, hamil, nggak ya. Ampun, di mana nikmatnya percintaan yang dibayangkan seperti kopulasi sepasang binatang yang memasuki masa birahi dan berjuang mati-matian melakukan regenerasi? Akankah terjadi pembuahan, akankah si sperma perkasa membuahi sel telur yang subur, akankah terjadi proses ajaib yang membawa babakan baru di dalam perutnya?

Alat pengukur suhu badan untuk mendeteksi dengan cermat dan tepat kapan tubuhnya memproduksi sel telur yang siap dibuahi, obat-obatan penguat rahim, jamu kesuburan berbau tengik titipan mertua, semua itu membuat kamar tidurnya berubah menjadi ruang eksperimen pembuatan bayi. Bukan lagi tempat bercinta yang nyaman, tenang dan mengasyikkan. Di mata Nayu, suaminya berubah menjadi seperti petugas penyemprot sperma yang sekadar ingin membuahi sel telurnya, bukan lagi manusia yang dicintai dan mencintai dan karenanya perlu diajak bercinta.

“Kira-kira kenapa ya, Sayang?” ini pertanyaan suaminya. Masih sopan tapi kedengaran tidak sabar.

“Apa kata dokter?” Nah kalau ini, adalah interogasi ibu mertuanya yang mengendus-endus seperti anjing pelacak.

Hasil diagnosa: di ovariumnya tumbuh myoma. Ada tumor jinak yang berkembang di luar dinding rahimnya. Bukan hanya itu. Ada endometriosis juga yang diidapnya sejak lama.

“Tidak berbahaya,” kata dokter yang menjelaskan dengan senyum. “Tidak akan sampai menyebabkan kanker.”

Tak berbahaya bagi tubuhku, berbahaya bagi perkawinanku…” Nayu berusaha melucu. Ia mengingat suami dan ibu mertuanya yang lelah berjam-jam duduk di ruang tunggu si dokter spesialis kandungan. Juga lelah bertahun-tahun mengharapkan dirinya hamil. Mereka lelah mengkhayalkan adegan Nayu muncul dengan kebahagiaan membuncah dan tidak sabaran berkata, “Positif… aku hamil, Sayang..” Mirip adegan sinetron dengan latar musik yang riang gembira dan si perempuan ditahbiskan menjadi pahlawan penyelamat kehidupan generasi selanjutnya.

Ibu dokter yang ramah itu masih tersenyum untuk menyampaikan kabar mengerikan. “Infertilitas adalah akibat myoma yang paling ditakutkan perempuan…”

I-n-f-e-r-t-i-l-i-t-a-s. Eufimisme yang sulit dieja. Mungkin karena itulah orang-orang di dalam kepalanya punya kata yang lebih sederhana, sekaligus lebih menohok: mandul.

“Oh..mandul toh…!” suara mirip paduan suara di kepalanya membuat Nayu memilih ingin sembunyi di palung Bumi paling dalam.

“Tapi kan bisa diobati? Kenapa tidak operasi saja?”

Nayu terlanjur kehilangan selera sekaligus kehilangan kesabaran meladeni orang-orang di dalam kepalanya, juga orang-orang yang berlompatan dari kepala suami dan ibu mertuanya.

***

NAYU pulang ke rumah ayahnya. Sang juragan kos dan calo tanah yang pekerjaan utamanya duduk di teras mengobrol dengan berbagai macam orang yang menghampirinya.

Bila dapat memilih, ia ingin seperti ayahnya, yang tidak memelihara banyak orang di dalam kepalanya. Yang selalu dengan rasa percaya diri berkata, “Kenalkan, saya Pak Hudan, makelar tanah!” dan ketika orang-orang mendelikkan mata dan memasang raut wajah mencemooh, ayahnya tetap percaya diri, “Lho kenapa memangnya kalau saya ini calo? Keberatan?”

Nayu terkadang merangkai-rangkai keterkaitan episode kaburnya ibu dengan profesi makelar yang disandang ayahnya. Ibunya memilih kabur dengan lakilaki lain yang memiliki kartu nama mentereng, yang seakan mengandung sinar terang benderang setiap kali diserahkan ke orang-orang. Seorang lakilaki dengan gelar yang panjang, dokter spesialis penyakit dalam, yang tentu jauh lebih setara mendampingi dokter muda secantik ibunya. Calo tanah dan juragan kos yang tidak punya kartu nama dan gelar. Ah, tak selevel! kata orang-orang.

“Ibumu terlalu memusingkan apa kata orang-orang!” begitulah ayahnya selalu mengenang istrinya. “Tapi ingat, ibumu baik. Ulet, cantik dan menarik. Ia ibu yang sungguh baik. Ia cuma berhenti mencintai Ayah ketika bertemu lakilaki yang lebih baik.”

“Kenanglah ia sebagai ibu yang baik. Bayangkan, ia tidak keberatan ketika Ayah meminta agar engkau ikut Ayah saja! Jarang kan ada perempuan yang tidak cekcok mengurus harta gono gini dan hak pengasuhan anak seperti ibumu? Perceraian biasanya berlarut-larut karena soal harta dan anak. Ibumu tidak rewel soal itu…”

“Cuma ya itu… ibumu terlalu banyak mencemaskan apa kata orang. Apa kata orang-orang di seluruh permukaan Bumi ini melihat seorang dokter cantik bersuamikan calo tanah yang menghabiskan waktu di teras rumah, mengurus tanaman, mengobrol dan minum kopi sampai magrib?”

“Apa kata orang-orang melihat lakilaki yang di rumah saja seharian. Lakilaki yang hidupnya lebih malas dari kucing dapur!”

Apa kata orang-orang?

***

TEROWONGAN itu ternyata tidak seram-seram amat. Proses perceraian berjalan mulus. Tidak ada keberatan, sanggahan, atau sikap ngotot dari kedua pihak. Suaminya sejinak merpati di persidangan. Sepatuh binatang sirkus. Sidang demi sidang digelar tergesa, diusahakan seringkas mungkin.

Majelis hakim terlihat membosankan, dan mungkin karena menyadari diri mereka tampil sama sekali tidak menarik, maka bapak dan ibu hakim itu menggelar sidang seperti mengaduk segelas kopi instan. Mereka mengikuti perintah teks Proklamasi: diselenggarakan secara seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tentu, tentu dibutuhkan formalitas. Ada mediasi, ada sidang mendengarkan pendapat kedua belah pihak, juga lontaran pendapat dari pihak keluarga lainnya. Dan, ya… seperti yang diharapkan semua yang mengikuti sidang: jalan sudah buntu. Palu diketuk. Permohonan cerai dikabulkan.

Di halaman Kantor Pengadilan Agama, suaminya melambai dengan sikap tubuh menunjukkan rasa prihatin. Mereka tidak pulang bersama. Ajaib, semuanya berjalan cepat. Tak ada adegan slow motion menguras air mata. Memang tidak perlu. Ibu mertuanya lega, ia tidak perlu mengendus-endus segala pangkal penyebab ketidakhamilan menantunya. Jamu penyubur dan segala obat-obatan penguat rahim bisa diganti dengan obat mujarab baru: istri baru, yang subur, gembur, dengan rahim yang siap tempur. Adapun ayah mertuanya memilih tidak hadir. Ia berangkat main golf sejak pagi buta. Tak apa. Semua mesti diringkas saja, seperti sebuah seminar sehari yang kehabisan waktu dan harus segera ditutup.

***

NAYU pulang ke rumah ayahnya. Langit sore mengantarnya menuju halaman. Rumah yang hangat, dengan rumput yang terawat, rumpun asoka tiga warna yang ditata berselang-seling, merah, jingga dan kuning, pokok palem merah yang menjulang hingga ke tembok pembatas pagar dan kolam ikan yang menebar bau lumut. Dan, tentu saja papan pengumuman yang akrab: di sini terima kos. khusus mahasiswi/karyawati.

Ayahnya tak datang ke persidangan terakhir. Katanya, ia takut menangis. Lakilaki itu memastikan dirinya bakal menangis. Sebuah pengakuan yang mengejutkan Nayu.

“Ayah di rumah saja..”

Di ruang makan lakilaki itu menunggunya.

“Kecap Kikkoman nih!”

Di atas meja, sebotol kecap menunggunya. Encer dan asin.

Kecap yang membuat keduanya bernapas lega karena rasa sedih yang dibayangkan ternyata bisa mereka halau dengan mengingat segala sesuatu yang pernah terjadi di rumah ini. Nasib yang tidak begitu menggembirakan tapi bersikeras dikenang dengan baik.

“Ayah sejak awal sudah tahu bahwa Ibu bakal meninggalkan Ayah?”

“Ya.. bagaimana lagi, ibumu waktu itu mahasiswi kedokteran yang kos di sini. Ia rajin, ulet, ambisius dan tahu betul apa yang ingin diraihnya. Sedangkan Ayah…“

“Sedangkan Ayah…”

“Ya, begini-begini saja…”

“Hahaha… salahnya Ibu dong kenapa mau kawin dengan lakilaki yang begini-begini saja… Kenapa memang Ibu dulunya suka pada Ayah?”

“Entahlah. Mungkin waktu itu ibumu pikir, memacari anak pemilik kos akan membuat ia bisa tinggal gratis di sini…”

Ruang makan terguncang-guncang oleh tawa. Ke mana rasa sedih di ruang sidang tadi? Nayu sudah membuangnya di jalan. Rasa sedih tak boleh masuk ke rumah ini.

“Ibumu harus tetap dikenang dengan baik, Nayu…”

“Sama, suamiku, mertuaku dan segenap isi rumah mereka juga akan kukenang dengan baik…”

“Ya, sudahlah…”

Diam sejenak. Lalu tatapan keduanya sama-sama tertuju pada botol kecap mungil di atas meja. “Hidup ini seperti kecap ya, Yah..?”

“Tidak adakah penggambaran yang lebih baik dari sekadar mengibaratkan hidup ini seperti kecap, Nayu?”

“Aku ingat kecap yang Ayah berikan. Semuanya kecap manis. Kecap nomor satu. Kata ayah, kedelai membuat cerdas dan kuat.”

“Waktu pertama kali ayah memberimu kecap, kamu marah sekali ya… hadiah ulangtahun kok kecap! Kamu ngambek berhari-hari. Ya, mau apalagi… waktu itu kerusuhan besar sekali! Babah Liong saja hampir kena amuk massa di ujung jalan gara-gara ngotot mencari pylox. Coba bayangkan, di pabriknya yang jelas-jelas tertulis Pabrik Kecap Liong, ia bersikeras menulis Milik Pribumi! Disimpan di mana otak China satu itu! Hahaha.. Pabrik Kecap Liong kok milik pribumi, ya jelas saja makin membuat massa mengamuk! Coba kalo namanya Pabrik Kecap Haji Udin, baru massa percaya. Hahaha..”

Terdiam lagi. Mata keduanya masih menatap botol kecap Kikkoman di tengah meja, dengan gemuruh dan gelombang kenangan yang sama.

“Tapi kenapa sekarang hadiahnya kecap asin, Yah? Ogah ah… ”

Ayahnya terkekeh. “Ya, adanya cuma itu. Gratis pula!”

***

BAGI Nayu, hari ini ayah adalah mahluk yang paling penting sejagat raya. Bergandeng tangan mereka menyusuri lorong-lorong rak supermarket. Mereka berjalan perlahan dan hati-hati melintasi jejeran kaleng, botol, biskuit, mi instan dan minuman. Beberapa kali mereka terhadang, bahkan tersodok oleh kereta belanja yang didorong dengan kalap para pengunjung.

Akhir pekan yang ramai. Orang berbelanja, rakus hendak menimbun barang, seolah esok mereka harus mendekam di bunker, mengurung diri berbulan-bulan karena perang bakal meletus dan krisis pangan melanda.

“Pilih yang mana, Sayang?”

Botol-botol kecap, besar dan kecil, asin dan manis, encer dan kental, berjejer. Semuanya hitam. Pekat. Legam. Berkilat.

“Pilih yang mana, Sayang?”

Nayu menggapai tangan ayahnya. Keriput kulit dan alur-alur urat yang menonjol itu terasa lunak di telapak tangannya. Nayu menggenggamnya. Erat.

“Terserah, Ayah….”

Kali ini kado itu bukan untuk hadiah ulang tahun, tapi untuk merayakan kembalinya ia ke rumah ayahnya. Rumah yang dihuni seorang lakilaki tua, yang pada akhirnya memberinya kekuatan mematikan orang-orang yang selama ini hidup di kepalanya.

Ah, persetan dengan orang-orang itu, tanaman rambat yang mengekang dan menjerat, membuatku selalu gagal menjadi diri sendiri.

Ayahnya menyerahkan sebotol kecap manis, bermerek Padi dan Kapas, bertulis Kecap Nomor 1 (*)

Tokyo, 29 April 2008/ 23.05 pm

*Catatan:

– Myoma adalah tumor jinak yang berupa jaringan/gumpalan urat yang biasanya tumbuh di dalam atau di luar rahim.

– Endometriosis adalah proses terjadinya pertumbuhan suatu jenis sel tertentu di luar rahim, yang seharusnya terjadi di dalam rahim. Perempuan yang mengidap endometriosis umumnya mengalami sakit yang luar biasa saat haid dan cenderung beresiko mengalami infertilitas.

10 thoughts on “Kecap

  1. bagus cerita nya… agak mengingatkan ku pada kerusuhan yang terjadi di jakarta hampir 11 tahun silam yang mengakibatkan banyak orang yang harus kehilangan tempat tinggal nya, dan bahkan ada yang kehilangan lebih penting dari itu…

    saran ku: walau hidup ini makin lama makin susah. tapi tinggal tergantung bagaimana kita menghadapinya. jangan terlalu terbebani pada masalah yang ada, karena semakin kamu merasa terbebani, semakin kamu merasa masalah yang kamu hadapi itu sangat-sangat lah berat. padahal setiap masalah yang terjadi di dunia ini adalah cobaan, dan selalu ada jalan keluar nya…

    berjuang lah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *