Kit Menggedor Arogansi Media

Saya ingin mengajak Anda menonton Kit Kittredge: An American Girl yang dirilis Juli lalu. Bila belum sempat menonton, bisa lihat-lihat dulu di situs resminya, www.kitkittredge. com untuk sekadar tahu tentang film ini. Enam tahun lalu, si “Pretty Woman” Julia Roberts bersama saudaranya penasaran mengangkat serial populer An American Girl ke layar lebar. Rasa penasaran terbayar. Film ini disutradarai dengan apik oleh Patricia Rozema. The great depression, orang-orang kelas menengah yang terjun bebas ke jurang kemiskinan di tahun 1930an dan petualang seorang bocah perempuan di rumah pohonnya dengan cita-cita yang tidak tanggung-tanggung: ingin tulisannya dimuat di surat kabar di kota tempat tinggalnya, Cincinnati Register, dibumbui upaya mengungkap misteri kejahatan a la Lima Sekawan karya Enid Blyton

Bagi yang sudah menikmati Little Miss Sunshine dan gemas pada akting si cilik Abigail Breslin, film ini akan mempertebal kekaguman itu. Tapi bukan kehebatan Abigail itu yang ingin saya ceritakan di sini. Saya ingin bercerita tentang tokoh Kit yang diperankannya dan akar citizen journalism yang tergambar di film itu. Kit yakin, dengan mesin ketik tua di rumah pohon dan restu kedua orangtua, ia bisa menulis sesuatu yang segar dan belum diketahui pembaca di kota itu. Ia mewawancarai tukang kebunnya. Saat si tukang kebun remaja itu ragu, “Apa ada yang menarik dari kehidupan saya?” Kit bersikeras, “Pasti ada! Setiap warga di kota ini pasti punya sesuatu yang menarik untuk diceritakan! “

A resourceful young girl with bravery, compassion and determination. Begitu karakter Kit diterjemahkan oleh sang sutradara saat mengarahkan akting Abigail. Tiga modal Kit ini yang perlu kita catat. Ia memberi peran pada dirinya, mengabarkan kehidupan orang biasa di tengah resesi yang muram.

Tentu mencuat pertanyaan soal hal-hal yang tidak masuk akal di film ini. Kit yang terlalu berani dan cerdas untuk bocah perempuan berusia 10 tahun, jelas mengusik saya. Ia seperti bocah Belitong, Ikal, Lintang dan Mahar yang luar biasa cemerlang dan berpengetahuan luas di Laskar Pelangi.

Misalnya, ada adegan Kit datang ke Kantor Surat Kabar Cincinnati Register menggedor pintu Sang Pemimpin Redaksi dan penuh percaya diri menyerahan tulisannya. Artikelnya ditolak. Ia tak menyerah. Kit meliput lagi kehidupan kalangan pengangguran dan miskin kota yang disebut The Hobos, kelompok yang makin tercekik gara-gara hantaman krisis keuangan. Ia datang lagi, mengetuk pintu di ruang redaksi. Gadis kecil ini pantang mundur pokoknya. Tentu, sebagai penonton, saya agak terganggu dengan rasa percaya diri berlebihan yang disusupkan pada karakter si bocah.

Tapi mengutip anak saya Fawwaz, yang gemar berkata: “yang penting kita mengerti pesan moral cerita ini….” maka saya mengabaikan sejumlah kejanggalan itu dan mengedepankan pesan moral Kit Kittredge: “Di tengah peristiwa besar seperti depresi hebat 1930an begitu banyak hal yang nyaris luput dicatat dalam sejarah, seandainya bukan orang biasa yang menggerakkan tangan menuliskannya. ”

Setelah terus berupaya tanpa lelah, tulisan Kit akhirnya dimuat. Judulnya: “Depresi Ekonomi dari perspektif seorang bocah.” Anak perempuan itu berlompatan riang memperlihatkan surat kabar yang memuat tulisan dan gambar-gambar hasil jepretannya. Sebagai warga Cincinnati, ia menyeruak dengan laporan yang khas, yang tak terpikirkan wartawan yang terlanjur menjangkarkan diri pada wacana-wacana besar terkait resesi: kebangkrutan, pengangguran, kejahatan, langkah pemecahan dan seterusnya.

Bagi saya, citizen journalism yang menjadi pesan moral film ini. Tiga kata yang menjadi karakater utama Kit, bukankah itu juga yang jadi resep citizen journalism yang senantiasa didiskusikan?

Nah, hari-hari belakangan ini, di tengah krisis keuangan global yang membuat banyak orang megap-megap ditelan badai, apa yang telah kita catat sebagai warga? Media mainstream berlomba mengabarkan “bailout”, “fresh fund injections”, “coordinated global actions”, “interest rate cut” dan seterusnya. Dari perspektif warga, istilah dan cerita apa yang sebaiknya kita disandingkan dengan wacana krisis yang bikin kita semua panik itu? Kit menyodorkan ide: menuliskan sisi paling manusiawi dari kita semua di tengah gelombang krisis. Ada semangat setia-kawan antar orang-orang yang hidup di perkampungan tuna wisma, ada juga orang-orang yang tergerak tipu sana sini memanfaatkan kepanikan kelas menengah yang tidak siap jatuh miskin, juga tentang perayaan Thanks Giving yang mesti mengalami perombakan besar-besaran karena dirayakan di tengah situasi depresi yang begitu muram.

*tulisan ini adalah Celoteh Ly seputar Citizen Journalism di milis panyingkul@yahoogroups.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *