Mao Mengajak Berhitung

Dalam suatu kesempatan saya sempat mengikuti presentasi Isaac Mao di Bangkok. Ia mengajak saya berhitung. Yang dihitung adalah social tools. Jadi mulailah kami menghitungnya. Ini jawaban saya:
1. gmail? ya, ada!
2. yahoo mail? ya, ada!
3. facebook? ya, ada!
4. flickr? ya, lanjut….
5. slideshare? hm… belum
6. twitter? wah, belum merasa perlu..

Saya berhenti, Mao terus berhitung. Di angka 20, ia terus berhitung. Ia memiliki lebih dari 20 social tools! Ia lalu membagi alamatnya di slideshare. “Kau bisa membaca lengkap presentasiku di sana…”

Siapa Mao? Ia adalah pakar social media, konsultan new media untuk proyek Internet and Society di Harvard University. Ia duduk sebagai supervisor termuda Global Voice, inisiatif pelacak dan perangkum blog di seluruh dunia yang dirintis Ethan Zuckerman beberapa tahun lalu. Ia kini tengah berkeliling dunia nyata dan dunia maya mempromosikan sejumlah istilah aneh yang membuat penasaran: meta, memes, mind morphing, sharism, democracy 2.0,

Siapa Mao? Ia seperti anak muda kebanyakan.Ke mana-mana memanggul ransel, berpenampilan rileks dan selalu bersemangat diajak bicara tentang perkembangan Internet. Yang membedakannya barangkali adalah sejuta gagasan social media yang dibawanya di dalam laptop dan kepalanya.

Sejak mendirikan Panyingkul! saya memang meminjam salah satu konsepnya, “sharism”. Intinya bagaimana kita mengajak semua anggota komunitas mengidentifikasi modal sosial dan intelektualnya kemudian bekerja membaginya untuk mencapai suatu misi yang disepakati bersama. Sharism –istilah yang kedengaran lucu ini– pada dasarnya bukan konsep baru. Ia adalah hasil reproduksi yang telah mengalami penyesuaian di sana sini. Dalam konteks social media di China, Mao dan timnya bekerja untuk memperdayai para intel dan departemen propaganda pemerintah yang memberlakukan sensor sangat ketat terhadap media. Ya, ada yang lebih kokoh dan tebal dari Tembok China: sensor.

Mao memutar otak. Bagaimana memperdayai para intel, bagaimana membantu para aktivis HAM di China, bagaimana memborbardir China dengan informasi yang lebih berimbang? Di belakang Mao, berbaris para blogger dan kalangan muda yang kecanduan Internet. Anak-anak muda ini tiba-tiba merasa mendapatkan semacam “panggilan berperang melawan kebatilan”. Mereka menabuh genderang perlawanan di ranah maya. Mao menggelar peta virtual, memanfaatkan sebaik-baiknya Google mashup, Yahoo pipe, twitter, Google map, dan kini bahkan menyusun sebuah peta social media yang rumit dengan melibatkan media mainstream seperti Reuters (tapi berupaya dijelaskan dengan lebih sederhana). Mereka menyusun siasat, tidak sekadar mendambakan arus informasi yang lebih bebas dan sehat, tapi mereka menciptakannya. Ya, setiap hari ada siasat baru untuk berupaya membobol sensor, termasuk memperbaharui bahasa sandi di kalangan blogger.

Mao memang mengajak kita berhitung. Yang dihitung bukan sekadar berapa banyak email account, blog, SNS, dan social tools lainnya yang kita miliki. Yang dihitung adalah manfaat apa yang bisa kita ciptakan dari semua ini?

“It’s not a game. It’s about a life!” kata Mao ketika memberi contoh tentang upaya sejumlah blogger mengirimkan susu bubuk untuk seorang bayi berusia satu bulan, anak dari seorang aktivis HAM di China. Dengan menggunakan Google Map, para blogger melacak di mana gerangan keluarga demonstran ini disembunyikan oleh aparat? Setelah sang demonstran ditahan, akses makanan bagi keluarga ini diblokir total.

Sosodara,
setelah Mao mengajak saya berhitung. Kini saya yang ingin mengajak Anda semua berhitung.Yang kita hitung tentu saja bukan berapa banyak blog dan cerita serta foto narsis yang terpajang. Yang kita hitung adalah sinergi, sharism, reproduksi ide dan gagasan untuk dijadikan sebuah tindakan dengan memanfaatkan sebaik-baiknya social tools yang kita miliki. Kita jauh lebih beruntung dibandingkan Mao dan kawan-kawannya, karena sensor telah lama mati di negeri ini.

Nah, mari kita hitung bersama. Di sini. Di Panyingkul!

ly
Tokyo, 28 bulan dua 2008/ 6:20 am

*Isaac Mao bisa ditemui di www.isaacmao.com

*Sumber foto: Global Voice Online

*Tulisan ini adalah Celoteh Ly tentang Citizen Journalism di milis panyingkul@yahoogroups.com

3 thoughts on “Mao Mengajak Berhitung

  1. sbenarnya mao benar juga.. tidak usah menghitung seberapa banyak situs jejaring sosial yg kita miliki, yg terpenting adalah bagaimana berbagi dan share dgn sesama, menumpahkan ide, pikiran… ada beberapa tipikal komunitas yg sy liat malah lebih rajin kopdar dibanding mengupdate dan menulis postingan di blognya sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *