Oct 18

Pacar Untuk Moel

“Carikan aku pacar, dong!”

“Tak mungkin, Moel! Kamu ada-ada saja!”

Moel merengut. Ia bergayut di ventilasi jendela. Urat-uratnya yang menegang terukir jelas di sepanjang lengannya yang kurus. Moel memang selalu begitu bila ngambek, berayun-ayun di ventilasi jendela kamar dan mengancam tidak akan berhenti sebelum permintaannya dikabulkan.

“Jangan begitu, Moel!” Karya mencoba membujuknya.

“Ayolah, please….

Keringat dingin Karya mulai mengucur. Moel jarang mengajukan permintaan. Selama ini ia adalah partner yang baik dan penurut. Tak banyak tuntutan. Tapi karya hapal betul sifatnya, sekali ia mengajukan permintaan, maka ia akan berjuang terus agar permintaannya dikabulkan.

“Moel!!!!” Karya berteriak keras sekali.

Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia terbangun dengan perasaan tak nyaman. Migrain membuat kepalanya berdenyut-denyut seakan ingin meledak. Sial! Moel telah pergi dan membuatku terbangun tengah malam, umpatnya. Pukul satu lewat enam menit. Daun jendela kamar terbuka lebar. Angin malam yang bertiup membuat suasana makin dingin. Moel betul-betul kurang ajar! Kenapa ia harus datang tengah malam dan merengek dicarikan pacar? Laki-laki bertubuh kecil itu memang semakin bertingkah sejak namanya mulai dikenal orang.

“Moel, Moel, kamu seharusnya tahu, kehadiran seorang pacar hanya akan membuat semuanya berantakan. Berantakan, Moel!” Karya mulai bicara di depan cermin. Bicara dengan bayangannya. “Perempuan hanya akan membuat dunia kita semakin luluh lantak, Moel, percayalah!”

“Tapi aku butuh pacar, Karya!” Tiba-tiba Moel muncul lagi. Ia duduk di bingkai jendela sambil bertopang dagu.

“Kamu edan, Moel!”

“Aku butuh seseorang yang memperhatikanku. Seseorang yang menghiburku di kala sedih, yang menentramkanku di kala gelisah. Ini bukan mengada-ada. Ini kebutuhan. Pokoknya aku butuh pacar!” Moel semakin menjadi-jadi.

Karya meraih kacamata di atas meja gambarnya. Lewat sepasang lensa yang berbingkai tebal itu ia memelototi Moel yang masih bertopang dagu di bingkai jendela. “Lalu di mana kita akan mencari perempuan semacam itu?” ia mencoba merendahkan suaranya yang seakan hendak tersembur keluar lewat kerongkongannya.

Moel mengangkat bahu. “Itu urusanmu. Yang jelas, episode minggu depan aku sudah punya pacar. Tak perlu cantik, yang penting mau mengerti pilihan hidupku dan tidak mata duitan!”

Karya masih ingin mengomel panjang. Moel telah meloncat keluar. Angin malam bertiup semakin keras, mempermainkan daun jendela kamar. Karya terpaku sendirian di bingkai jendela yang telah kosong. Ini pertanda buruk, ini pasti pertanda buruk! Ia bergumam sendiri sambil mengelilingi kamar tidurnya. Moel yang bertingkah dan migrain yang semakin menjadi-jadi membuat sisa malamnya seperti lorong gelap dan menyesatkan. Sialan! Ditariknya selimut sampai ke batas leher dan memaksakan matanya terpejam.

***

KEESOKAN paginya Karya terlambat bangun sepuluh menit dari biasanya. Riniwati, sekretaris pribadinya, telah tenggelam dalam tumpukan surat-surat di ruang kerja ketika Karya keluar dari kamarnya.

“Pagi, Pak! Anda terlambat bangun pagi ini?” Riniwati berbasa-basi. Ia tersenyum melihat Karya masih mengenakan piyama yang kusut. Karya yang merasa dirinya diperhatikan tiba-tiba merasa gugup.

“Eh, maaf….maaf….” Ia menyadari keadaannya. Berantakan. Karya kembali masuk ke dalam kamarnya, lalu muncul lagi dengan keadaan tidak lebih baik.

“Hari ini banyak surat dari penggemar Anda dan ada kiriman tar coklat buat Moel,” jelas Riniwati ketika Karya kembali menemuinya di ruang kerja.

“Juga ada telepon dari Cendikia Pos, gambar Anda untuk edisi minggu depan paling lambat sudah harus masuk besok.”

“Apa jadwal acara saya hari ini?”

“Hari ini Anda akan menerima kedatangan Pak Mulya dan membicarakan rencana penerbitan Moel Mulai Berjuang Jilid 2,” Riniwati menyodorkan buku agenda besar ke hadapan Karya.

“Hanya itu?”

“Yang terjadwal hanya itu. Tapi Anda kan harus menandatangani ratusan foto untuk penggemar dan menyelesaikan episode Moel untuk minggu depan.”

Karya melangkah ke meja gambarnya. Riniwati sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia meninggalkan Karya sendirian di ruang kerja.

***

“Mana pacarku?” Moel muncul lagi. Ia duduk di tepi meja gambar. Kakinya diayun-ayunkan ke muka belakang, seperti anak kecil yang sedang merajuk.

“Aku tidak mengerti kamu akhir-akhir ini, Moel. Biasanya, pada saat-saat aku membutuhkanmu, kamu tidak banyak tingkah. Tapi sekarang….” Karya mulai gugup. Kacamata tebalnya melorot, meluncur dan berhenti di kedua sayap hidungnya. “Ka….ka…mu…aneh….”

“Dengar, aku hanya minta kamu menghadirkan seorang pacar untukku mulai episode minggu depan. Hanya itu. Apakah pembaca akan protes atau tidak, itu urusanmu. Kamu jangan terlalu egois, Karya. Kamu terkenal karena aku. Kamu banyak uang karena aku. Kamu dipuja banyak orang juga  karena aku. Kamu punya rumah, punya mobil, punya sekrertaris yang cuma kamu tugaskan nonton sinetron juga karena aku. Nah, tolong juga perhatikan keinginan-keinginanku!”

Karya terdiam. Ia mulai menggambari kertas kosong di hadapannya. “Okey. Kita mulai bekerja sekarang.”

Moel tersenyum penuh kemenangan. Dengan sigap ia masuk ke dalam tubuh Karya. Mereka mulai bekerja sama menggarap cerita untuk minggu depan. “Pacar kamu kita beri nama Donna Wangi,” usul Karya sekenanya. Moel tidak protes.

***

Sebagai tokoh kartun di harian Cendikia Pos Moel memang dipuja dan selalu dinanti-nanti kehadirannya oleh jutaan pembaca. Tokoh ciptaan Karya yang lahir tiga tahun lalu itu sangat dicintai oleh penggemar. Tak heran bila setiap hari ratusan surat mengalir ke alamat Karya, bahkan kadang ada yang mengirim tar coklat, yang digambarkan Karya sebagai makanan favorit Moel. Enam bulan lalu, atas prakarsa pihak penerbit yang mengontrak Karya untuk membukukan ceritanya, dibentuklah MFC (Moel Fans Club). Di luar dugaan, kaos oblong, topi, bros, kaos kaki, tas, gelang, piring, saputangan, dan barang-barang lain yang dijual dengan gambar Moel laku keras. Karya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang begitu tergila-gila pada Moel.

Tapi tak ada yang tahu, proses lahirnya Moel adalah suatu keajaiban yang belum bisa dimengerti oleh Karya sampai saat ini. Mereka bertemu secara tidak sengaja di jendela kamar Karya. Moel tiba-tiba muncul dan duduk di bingkai jendela ketika Karya sedang melamun. Mulanya, Karya pikir, Moel adalah sejenis tuyul. Tubuhnya yang kurus ceking dengan kepala yang nyaris botak, licin dan peyang memperkuat dugaannya. Mereka berkenalan, saling menyebut nama. Lalu, Moel pergi begitu saja.

Keesokan harinya Karya merasakan ada sesuatu yang menuntunnya untuk menggambarkan wajah Moel di kertas putih. Sesuatu itu juga menghadirkan rasa sakit yang tidak ketulungan di bagian dada dan kerongkongannya saat berkonsentrasi menyelesaikan gambarnya.

“Aduh…tolong! Dadaku sesak! Tolong…kerongkonganku gatal!” Karya berteriak tak karuan saat mencapai klimaks cerita yang digambarnya.

“Ayolah, teruskan…melahirkan kebenaran memang selalu menyakitkan, tahan saja, ayo teruskan…!” Moel tiba-tiba muncul di sampingnya, memompakan semangat.

Dua jam kemudian Karya sendiri tidak percaya kalau telah menyelesaikan sebuah cerita bergambar tentang penggusuran tanah dengan tokoh utama mahluk yang dikenalnya semalam.

Hari-hari selanjutnya adalah keajaiban-keajaiban baru. Moel diterima di Cendikia Pos tanpa banyak hambatan. Padahal, dulunya gambar Karya selalu ditolak di mana-mana, bahkan di penerbit buku TTS murahan sekali pun.

“Moel menjadi wakil ketakutan kita, wakil jutaan mulut yang tidak bisa mengemukakan kebenaran. Dia adalah pahlawan kita!” komentar salah seorang pengamat sosial politik pada saat Moel ramai dibicarakan orang.

“Banyak orang yang merasa bahwa Moel adalah keberanian yang telah lama hilang dalam diri mereka,” komentar pakar yang lain.

Karya hanya mengangguk-angguk mendengar semua pendapat yang dilontarkan. Sekali-kali ia kelihatan gugup, kacamata tebalnya melorot, bila ada yang menanyakan proses kreatifnya menciptakan Moel dan menulis cerita yang begitu bagus. “Moel sepertinya hidup di tengah-tengah kita ya, Bung Karya?” ujar seorang penggemar fanatik.

“Ya..ya.. ia memang ada…” Karya menujukan pernyataan itu untuk dirinya sendiri.

***

“SELAMAT pagi, Pak! Sampai detik ini sudah 67 telepon yang saya terima. Semuanya protes terhadap episode Pacar untuk Moel. Surat-surat yang masuk hari ini juga isinya sama,” Riniwati menyodorkan catatannya ke hadapan Karya. Ia menggigit-gigit pulpennya. Ia kelihatan gelisah dan tegang.

Tanpa memberi komentar Karya duduk di belakang meja kerjanya. “Tinggalkan saja catatan itu di sini. Semua telepon atau tamu yang ingin ketemu saya tunda saja sampai besok.”

Detik berikutnya Riniwati telah melesat keluar. Samar-samar terdengar suara televisi dihidupkan dari ruang tengah, sebuah lagu tema sinetron lagu mengalun menembus dinding ruang kerja Karya.

“Apa kataku, kamu hanya menggaji sekertarismu untuk menonton tivi kan?” Moel tiba-tiba telah duduk diatas meja Karya. “Ganti saja sekertarismu itu! Kalau perlu….”

“Moel! Kita sedang dalam kesulitan. Berhenti  mengoceh tak karuan!” sergah Karya agak kesal. “Semua orang protes kamu punya pacar. Pagi ini sudah banyak telepon yang masuk, semua mencerca episode percintaanmu dengan Donna Wangi. Redakturnya bilang, kalau untuk drama percintaan, orang cukup nonton televisi saja. Belum lagi para penggemarmu, mereka menyesalkan kamu punya pacar!”

Moel ternganga. Ia loncat dari meja tempatnya duduk, lalu mondar-mandir di depan Karya. Kedua tangannya disatukan di belakang punggung.

“Padahal aku datang pagi ini sebenarnya ingin berterima kasih karena kamu telah menghadirkan Donna Wangi. Aku menyukainya. Asyik sekali jalan-jalan berdua, makan malam, ngedate… Aku benar-benar jatuh cinta pada Donna Wangi. Aku pikir, barangkali tidak lama lagi aku ingin melamarnya, menikah, punya dua atau tiga orang anak, mencicil rumah sederhana, mencicil sebuah mobil bekas,…..”

“Stop Moel! Hentikan omong kosong itu. Kamu jangan sekali-kali berpikir seperti itu. Aku sudah tidak menghadirkan Donna Wangi minggu depan. Back to business, Moel! Masih banyak yang harus kamu kerjakan. Masih banyak cerita tentang perjuanganmu yang belum selesai kita garap. Kita kan sudah sepakat memulai episode Demonstrasi di Musim Bunga, aku juga sudah menandatangani kontrak penerbitan buku serialmu yang baru. Kalau kamu bertingkah macam-macam aku tidak bisa berkarya apa-apa. aku mandeg tanpa kamu, Moel. Please Moel…” Karya memelas. Keringatnya mulai mengucur deras.

Moel masih mondar-mandir. Sekali-kali wajahnya ditekuk. “Kamu egois! Cuma memikirkan dirimu sendiri. Tiga tahun sudah aku membantumu, mengikuti semua keinginanmu, apa itu tidak cukup?”

“Tapi Moel, penggemarmu masih menanti kehadiranmu, mereka tidak ingin kamu berubah, semua orang sudah menyandarkan harapannya padamu, semua….”

“Puiihh!” Moel meludah. “Persetan dengan kamu dan semua orang. Pokoknya aku mau pacaran, mau menikah, mau senang-senang! Kalau aku capek memperjuangkan sesuatu, apa ada yang mau peduli? Orang lain selalu mau jadi penonton. Aku yang dijadikan matador. Kalau aku terluka oleh banteng liar, mereka semua akan pulang dan cukup berkata ‘kasihan’ tanpa mau tahu nasibku selanjutnya. Lalu aku sembuh, bertarung lagi, jadi tontonan lagi, terluka lagi, dilupakan lagi, begitu seterusnya…. Aku mau berhenti. Berhenti, Karya! B-e-r-h-e-n-t-i!” Moel mendekati jendela, bersiap memanjat bingkainya. Kelihatannya ia hendak pergi.

“Moel, please….jangan pergi dulu. Kita bisa atur semuanya, ayolah….” Karya mencoba membujuk.

“Kamu cari tokoh lain saja. Aku mau pacaran dengan Donna Wangi dan persetan dengan protes penggemarmu!” Moel telah berdiri di bingkai jendela. “Atau suruh saja penggemar-penggemar sialan itu melanjutkan ceritanya sesuai dengan kehendaknya masing-masing! Adios….!” Moel lenyap tiba-tiba.

“Moel, jangan pergi! Moel!!” Karya berteriak sangat keras.

Riniwati muncul di depan pintu. “Ada apa? Ada apa? Anda memanggil saya?” tangannya memegang sebungkus keripik kentang. Mulutnya penuh, kedua pipinya menggembung.

Karya memandangnya bingung. “Tinggalkan aku sendiri….,” Ia lunglai di depan meja gambarnya.

*****

Makassar, April 1995.

(cerpen dahulu kala ini ditayangkan di Kompas Minggu Juni 1995, saat masih kuliah di Unhas :) )

5
comments

5 comments!!!

  1. asyik sekali cerpen ini. dulu pertama membacanya saat aku sma, merangsang kreatifitasku…thanks ya

  2. Mhimi says:

    sukaaaaaaaaaaaa cerpennya :)

  3. Cipu says:

    Kak Lili carikan aku pacar hehehehehe

    Keren tulisannya Kak Li :)

  4. hmmmhhh….asyik banget, mbak.

  5. Aku membacanya dari balik hujan di jendela.

Reply