Gurita

Saat ayah masuk penjara, ibu bilang, aku harus pulang ke Makassar. Ibu menyodorkan jabatan wakil manajer di apotik miliknya yang dibuka setahun lalu. Selamat tinggal Jakarta! Kumelambai pada pacar, apartemen mungil, kampus, dan seribu rencana di ibukota.

“Tak usah kau lanjutkan dulu kuliahmu. Lagi pula kalau selesai kau mau jadi apa?”

“Ya, membuat film animasi.”

“Apa? Pasti butuh banyak biaya. Sudah, kau urus saja apotik ini. Ini usaha bagus. Sangat bagus.”

Aku turuti kehendak ibu. Aku ikuti intuisi bisnisnya. Ia menjemputku dengan rencana-rencana baru. Dalam perjalanan ke rumah, kubuang rencana hidupku. Ia tergilas truk gandeng, motor dan angkotan kota. Dari kaca belakang mobil, kulihat ia rata di aspal berdebu. Continue reading

Keluarga Pengkhayal

(bisa juga dibaca di sini)

BEBERAPA hari terakhir ini bapak terlihat berseragam sopir taksi.

“Bapak narik taksi, ya? Wah….”

Bapak tersenyum. Senang sekali tampaknya. Ia mengajakku ke ujung lorong, melihat taksi biru muda terparkir di tepi jalan.

Akhirnya, bapak bekerja lagi setelah enam bulan terakhir ia hanya duduk termenung di rumah.

Bapak menutup warung nasi yang telah dirintisnya enam tahun terakhir. Gara-garanya, enam bulan lalu, adik bungsuku meninggal di sebuah RS Paru-paru. Continue reading

Ayahmu Bulan, Engkau Matahari

(bisa juga dibaca di sini)

KETIKA engkau lahir, malam seperti meledak. Engkau, bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangis pertamamu tenggelam oleh suara tangis ketakutan yang lebih kencang di luar sana.

Kabar kelahiranmu datang bersama sebuah kabar buruk: jembatan penghubung satu-satunya di kampungmu telah digergaji gerombolan pemberontak, membuat dukun beranak dari kampung sebelah tak mungkin mencapai rumahmu. Tapi  seolah bisa kau atasi sendiri titik genting itu. Ada keajaiban yang bekerja dengan sangat baik di malam itu –entah dari mana datangnya– ketika kau mampu mendobrak liang rahim sesaat sebelum ibumu lunglai kehabisan tenaga. Continue reading

Autumn Poetry Reading Class –Unfinished Project

Fawwaz calls this month, “bulan bahasa” as his school is conducting language and literary competitions today, while in our house, there are at least 3 homeworks of poetry reading and literary works on his list.

He did a good kick-off  last week:

jalanjalan naik taksi

mandimandi di sungai

makanmakan di kentucky

–you master bahasa ibu, son!  let’s check your early version in bahasa three years ago:

Di kebun binatang

aku melihat beruang

beruang melihat aku

aku tidak takut

beruang mungkin takut

*Ueno Zoo, Tokyo 2005

hmmmm… you played with the limited  vocabularies 🙂

This weekend you threw another piece:

AUTUMN

Dear autumn,

brush your teeth and shower

welcoming your sister:

winter!

SNOW

I love snow,

go, slow, blow, glow, go

So, my dear son..good luck with your “lomba bulan bahasa” today. Enjoy the competition. No matter the result would be, you are the winner in my heart.

Love,

Mum.

Cerita-cerita Ly di Oase Kompas.com

Teman-teman yang gemar membaca cerpen,

Sejumlah cerita pendek yang saya tulis, baik yang ada di buku Makkunrai (Maret,2008) dan Maiasaura (Juni,2008) akan muncul satu-satu di rubrik Oase Kompas.com. Beberapa di antaranya telah ditayangkan di sana dan juga akan saya tayangkan di blog ini. Tapi, ya ada tapinya, berhubung cerita pendek yang saya tulis selalu panjang (3000- 6000 kata) redaktur Oase terkadang memuatnya sebagai “cerita bersambung”.

Terima kasih atas apresiasinya untuk cerita-cerita yang saya tulis.

Salam,

~Ly~

Mao Mengajak Berhitung

Dalam suatu kesempatan saya sempat mengikuti presentasi Isaac Mao di Bangkok. Ia mengajak saya berhitung. Yang dihitung adalah social tools. Jadi mulailah kami menghitungnya. Ini jawaban saya:
1. gmail? ya, ada!
2. yahoo mail? ya, ada!
3. facebook? ya, ada!
4. flickr? ya, lanjut….
5. slideshare? hm… belum
6. twitter? wah, belum merasa perlu..

Saya berhenti, Mao terus berhitung. Di angka 20, ia terus berhitung. Ia memiliki lebih dari 20 social tools! Ia lalu membagi alamatnya di slideshare. “Kau bisa membaca lengkap presentasiku di sana…” Continue reading

Kit Menggedor Arogansi Media

Saya ingin mengajak Anda menonton Kit Kittredge: An American Girl yang dirilis Juli lalu. Bila belum sempat menonton, bisa lihat-lihat dulu di situs resminya, www.kitkittredge. com untuk sekadar tahu tentang film ini. Enam tahun lalu, si “Pretty Woman” Julia Roberts bersama saudaranya penasaran mengangkat serial populer An American Girl ke layar lebar. Rasa penasaran terbayar. Film ini disutradarai dengan apik oleh Patricia Rozema. The great depression, orang-orang kelas menengah yang terjun bebas ke jurang kemiskinan di tahun 1930an dan petualang seorang bocah perempuan di rumah pohonnya dengan cita-cita yang tidak tanggung-tanggung: ingin tulisannya dimuat di surat kabar di kota tempat tinggalnya, Cincinnati Register, dibumbui upaya mengungkap misteri kejahatan a la Lima Sekawan karya Enid Blyton Continue reading

In The Delivery Room

I gave a birth to a million question marks
the ocean sky sent down its rotten stars
midwives on the bedside spinning their heads
sinner, sinner they exchanged roars

to the wall, to the window, to the newborn babe,
the flame of veracity licked its own greenish smoke

the white-pearl milk as pure as my breast
dissolute my redden tears and sweat
no cradle, no lullabies, but hasty beat
no green home, no blue room, but a yellow cold miserable crest

drink my pain, drink me, drink me
you the seed i planted with dare
from the sweetest sin you grew
my apology to name you: an uninvited creature

holy hands will raise you, tomorrow they come
in this box i leave you a gloomy fairy tale:
you were born from a bamboo tree

Tokyo Sept 27/21:51 pm
Ly

*a note for underage mothers who leave their unwanted babies into “baby deposit box” in Japanese hospitals.

Pembenci Jakarta

“Maaf boleh numpang tanya,.. apa yang Anda lakukan di sini? Menunggui padi matang, ya?” seorang pendatang bertanya padaku.

“Di dangau kau akan mendapati suasana di mana seolah waktu tercerabut dari dimensi ruang. Bila engkau membawa seribu persoalan sekalipun ke dangau, maka ribuan bulir padi bersedia menyerapnya. Boneka sawah mengusir pipit, juga mengusir segala persoalanmu. Segenap kenangan yang engkau nikmati terhampar dengan gradasi kuning hijau, lengkap dengan segala alurnya seperti pematang yang saling sejajar kemudian bersilangan di titik tertentu. Dangau adalah tempat yang membuatmu lupa pulang …”

Ia pasti bingung mendengar ceracauku. Biar saja, orang Jakarta memang perlu dibuat bingung! Continue reading

Danau

CERUK besar itu mengundang kumbang, capung dan burung, juga menggoda angin mempercepat pertemuan serbuk sari dan putik rumput liar di sekitarnya. Cahaya yang terpantul di permukaan air yang tenang dan kesejukan yang menyebar membuat orang bergegas membawa kayu-kayu tua tapi masih cukup kuat, untuk mendirikan bangku sederhana di tepinya.

Setelah beberapa bulan berlalu, saat tanah yang terkikis dari lereng-lereng gunung mulai mengeras, orang-orang semakin sering datang ke tepi danau itu mengenang longsor dan menghitung-hitung berapa persisnya orang yang mati dan hilang, berapa luas ladang yang lenyap, berapa panjang jalan beraspal yang pecah berantakan dan membuat desa terisolasi. Seperti sebuah tempayan raksasa yang dihadiahkan alam dalam semalam, yang dipenuhi air, yang kelak ditumbuhi teratai, dihuni ikan, dilapisi alga di dasarnya. Gunung dan bukit menjaganya. Danau yang lahir setelah prahara gempa itu, bertahun-tahun kemudian menjadi tempat orang-orang membasuh sedih mengenang segala yang ditelan bencana. Continue reading