Pembenci Jakarta

“Maaf boleh numpang tanya,.. apa yang Anda lakukan di sini? Menunggui padi matang, ya?” seorang pendatang bertanya padaku.

“Di dangau kau akan mendapati suasana di mana seolah waktu tercerabut dari dimensi ruang. Bila engkau membawa seribu persoalan sekalipun ke dangau, maka ribuan bulir padi bersedia menyerapnya. Boneka sawah mengusir pipit, juga mengusir segala persoalanmu. Segenap kenangan yang engkau nikmati terhampar dengan gradasi kuning hijau, lengkap dengan segala alurnya seperti pematang yang saling sejajar kemudian bersilangan di titik tertentu. Dangau adalah tempat yang membuatmu lupa pulang …”

Ia pasti bingung mendengar ceracauku. Biar saja, orang Jakarta memang perlu dibuat bingung!

Orang-orang penting dari Jakarta menyerbu pelosok tempat tinggalku. Ia salah satunya. Membawa buku catatan tebal, mikrofon, dan seorang juru kamera yang tak henti mengunyah permen karet. Saat selusin pejabat mengangguk-angguk di tepi jalan beraspal mendengar penjelasan pak bupati, ia memilih duduk di dangau.

“Boleh kan? Baru sekali ini aku berada di tengah sawah. Wonderful!

Ia duduk di sampingku, melempar pandangan ke hamparan emas padi yang siap dipanen.

“Wah, bakal panen besar, nih!”

Inilah orang-orang Jakarta, hanya datang saat kami sedang gembira menyambut panen. Spanduk dan umbul-umbul menyambut rombongan mereka. Sebagian iuran dekorasi itu dipungut dari rumah penduduk. Lubang jalan ditambal. Buruh bekerja siang malam. Garis trotoar dilumuri kapur. Bunga perdu di tepi jalan dipangkas, membuat ibu-ibu PKK ketambahan pekerjaan. Anak-anak sekolah tak boleh pulang setelah lonceng akhir jam pelajaran. Mereka berlatih baris berbaris, bernyanyi dan melambaikan tangan. Orang Jakarta, orang penting itu…

Dari dulu juga begitu. Aku juga mengalami masa kecil persis seperti anak-anak sekolah yang malang itu. Aku berbaris dengan betis kesemutan sejak pukul 7 pagi, menunggu rombongan dari Jakarta yang datang pukul 3 sore. Aku dipaksa tersenyum sambil menyanyikan lagu Selamat Datang saat sebagian dari siswa sudah ingin pulang, didera rasa bosan, jengkel dan lapar.

Aku tidak mengenal Jakarta dengan baik. Seumur hidupku aku baru tiga kali ke Jakarta. Kenang-kenanganku tentang Jakarta serba kecut dan tengik. Maka tawaran pendatang itu setelah mewawancaraiku, “Kapan main ke Jakarta….” kujawab dengan gelengan.

“Aku membenci Jakarta!”

“Hah? Engkau membenci Jakarta?”

“Aku tak punya pengalaman yang baik dengan kota itu, juga dengan orang-orangnya..”

“Maksudmu…?”

Karena ia memintaku bercerita, maka kukenang masa kecilku.

***

Ke Jakarta, horeee!

(Kenangan Sari Ahmad Marzuki)

Aku mengucapkan pengumuman itu sekeras mungkin kepada seisi kelas. Tidak banyak teman yang pernah ke Jakarta. Hanya Samara si anak bupati dan Takwa anak pemilik toko bahan bangunan kaya raya di kampung kami yang bangga berkata, “Sudah menginjak Jakarta!”

Sepulang dari Jakarta dengan bangga mereka membawa ke kelas kami perlengkapan makan yang mereka ambil dari pesawat. Cangkir, sendok, garpu plastik dengan logo burung berparuh tertekuk, juga bungkusan putih dengan bulir-bulir halus di dalamnya, yang masing-masing bertulis “sugar”, “salt” dan “pepper”. Barang bukti bahwa mereka telah terbang ke Jakarta.

Aku gosong oleh rasa cemburu. Aku juga ingin ke Jakarta. Kutanyakan pada ibu, kapan aku juga bisa ke Jakarta? Kata ibu, nanti ia meneruskan kepada bapak pertanyaan itu.

“Sedang dinas ke Jakarta…” kalimat ini memang akrab di telingaku sejak kecil. Ada waktu-waktu tertentu di saat bapak meninggalkan ibukota kabupaten tengah malam, dan berbisik sambil mencium keningku, “Bapak dinas ke Jakarta ya…”

Bapakku ajudan bupati. Badannya yang lampai dan condong ke depan menggambarkan jelas pekerjaannya. Kedua tangannya harus selalu siap menyerahkan tas, kacamata, naskah pidato, topi, surat perjanjian, dan segala barang lainnya yang diperlukan atasannya.

Samara, sang putri bupati tentu mudah ikut bapaknya ke Jakarta. Sedangkan aku? Aku putri ajudan bupati. Kelasnya beda! Peluang dan keberuntungannya juga jelas beda!

Tapi aku juga ingin merasakan menginjak ke Jakarta. Kelihatannya gaya sekali kalau aku bisa seperti Samara memamerkan fotonya di Ancol dan Taman Mini, atau di atas tangga berjalan.

Aku perlu menunggu naik kelas 6, hingga akhirnya suatu hari, ibu kudapati melonjak kegirangan, “Kita ke Jakarta, kita Jakarta, Sari!”

Ke Jakarta! Aku ke Jakarta besok!

Samara tercekat. Tak percaya rupanya, dia! Teman-teman sekelasku menjelma lebah yang berdengung serempak. “Weeehhh…. enaknya!”

Terbanglah aku ke Jakarta.

Di pesawat ada perempuan berseragam hilir mudik membagi permen, makanan dan menuangkan jus. Ada pengumuman-pengumuman dalam bahasa yang tak kumengerti, juga ada dengung halus mesin pesawat yang menggelitik telinga, semburan angin dingin di atas kepala dan silau lampu baca.

Di sampingku, ibu komat-kamit baca doa. “Kalau kapal terbang ini jatuh, habislah generasi kita, Sari….,” bisiknya.

Ah ibu, selalu memikirkan nasib kami sekeluarga. Selalu begitu dia…

Aku, bapak, ibu serta Rahmat, kakakku, menjalani penerbangan dengan perasaan yang berbeda-beda. Bapak yang sudah sering terbang, memilih tidur. Rahmat dan aku sibuk memasukkan perlengkapan makan di pesawat ke dalam ransel kami. Senang sekali rasanya melihat kotak plastik berisi makanan dengan logo burung berparuh tertekuk itu! Akhirnya, punya juga aku koleksi perlengkapan makanan seperti milik Samara!

Kami berdua bersenang-senang memandang awan dan kabin pesawat yang penuh bermacam-macam orang. Ibu mengatupkan tangan, memainkan tasbih. Bulir dzikir tak henti berputar.

Liburan keluarga ajudan bupati. Indah sekali rasanya…

Tapi ke mana pak bupati? Kata bapak, kami ini diselipkan di perjalanan dinas atasannya.

Aku bertanya-tanya. Celangak celinguk meneliti satu per satu penumpang. Tak tampak!

“Ssst.. pak bupati duduknya dekat pilot. Kan bupati…!” seru kakakku sok tahu.

Ada dua patung abu-abu dengan tangan yang terangkat tinggi-tinggi, berdiri tepat di depan hotel tempat kami menginap. Di bawah kaki patung itu ada bundaran besar dengan air mancur seperti berpasang lidah-lidah tipis yang menjulur-julur ke udara. Kendaraan berputar-putar di sekeliling bundaran itu. Poster, bendera, umbul-umbul yang terpasang, berkibar. Menari. Semarak.

Wuiiih, Jakarta ramai sekali…

***

–Jakarta asyik!–

(kata Rahmat Ahmad Marzuki)

Dua pintu besi terbuka diawali dengan bunyi ting! Rahmat mendorong Sari masuk ke dalam kotak besi berwarna kelabu itu. Telunjuknya yang mungil kemudian buru-buru menekan tombol semua angka, hampir bersamaan. Tak lama tawa bocah lelaki itu membahana di seluruh koridor hotel, meninggalkan Sari, adiknya, sendirian di dalam lift. Gadis kecil itu menangis meraung-raung. Rahmat menepuk-nepuk tangannya, puas pada rencana yang berjalan sukses. Dari jendela sepanjang koridor dilihatnya patung selamat datang di bundaran HI seolah melambai padanya. Jakarta memang asyik! Ada pintu ajaib yang bisa menelan Sari!

Ting! Kedua pintu besi itu terbuka. Ting! Kedua pintu itu tertutup. Bergerak, berhenti, terbuka, tertutup, bergerak lagi. Di setiap lantai. Gadis kecil itu meraung kebingungan. Mata dan hidungnya basah. Celananya juga basah. Seorang room boy yang kebetulan hendak masuk ke dalam lift, membawanya ke lobi. Di tuntunnya Sari ke meja resepsionis, mencari kamar bapak dan ibunya.

“Nama bapakku Ahmad Marzuki, nama ibuku Hilma.” Sari kecil masih terus sesungukan. Petugas resepsionis kebingungan. Tak ada nama itu di daftar tamu. Anak siapa yang menangis tersesat di dalam lift ini?

Ahmad Marzuki memang tidak pernah ada di daftar nama tamu hotel. Ia bersama keluarganya terdaftar dalam “Rombongan Pemda”. Hotel dibooking sekaligus untuk urusan dinas pemerintah daerah.

Hidup Ahmad Marzuki sangat tergantung pada atasannya. Seperti bayangan yang mengikuti tubuh, ia melekat pada sang bupati. Ia bayangan yang nyaman berlindung dan juga melindungi atasannya. Selayaknya ajudan pada umumnya, ke mana-mana, ia mengenakan stelan safari. Kadang lengan pendek, kadang lengan panjang. Kadang dua kantong, kadang empat kantong. Namun apapun variasi pakaian safari yang dikenakannya, warnanya selalu kelam: abu-abu, coklat pudar atau biru tua kehitaman.

Di waktu-waktu tertentu Ahmad Marzuki menyediakan telinganya untuk berbagai cerita yang meluncur dari bibir tuannya. Sang bupati memulai ceritanya dengan kalimat pendahuluan, “Ini hanya antara kita saja…”

Telinga Ahmad Marzuki menampung banyak rahasia atasannya. Mulutnya irit mengeluarkan kata-kata. Kontras dengan kepalanya yang luwes mengangguk sembari melontarkan kata, “Ya, Pak!”

Sari terus menangis di depan resepsionis. Seorang staf yang tampaknya panjang akal, tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang di menit berikutnya bisa menghentikan tangis si kecil Sari.

“Dari mana asalmu?”

Sari menyebut kota kabupatennya.

“Aha! Lantai 7. Ini rombongan bupati yang tiba pagi tadi…” si petugas hotel mendapatkan titik terang ke mana harus mengantar Sari.

***

–Jakarta menggemparkan!–

(gerutu Hilma Ahmad Marzuki)

Dua tempat tidur dengan bed cover biru tua bemotif bunga teratai. Dua lukisan petani membajak sawah tergantung di dinding, tepat di kepala tempat tidur. Dua kursi hijau tua di sisi jendela, dan dua welcome drinks dihiasi setangkai anggrek yang diletakkan anggun di kaki gelas.

“Ini kamar pak bupati. Kalian tinggal di sini dulu ya… Saya harus mendampingi bupati ke Bappenas…,” begitu pesan suaminya.

Hilma bersama dua anaknya terbelalak untuk kesekian kalinya. Kamar yang wangi, rapi dan nyaman. Kakinya tenggelam dirubung benang-benang wol karpet tebal.

Masya Allah! ini kamar mandi ya… Masya Allah! bahkan di kamar mandinya pun kita bisa tidur…” Hilam menggosok-gosok lantai kamar mandi yang kering, licin dan wangi. Di kampungnya, kamar mandi pastilah basah! Dilekatkannya pipinya pada bathup putih gading yang memantulkan bayangannya. Diciuminya tiga susunan handuk putih yang tersusun di samping westafel, diputarnya kran bertanda merah yang membuatnya spontan menjerit, “Wow…panas…!”

Sejak subuh tadi mereka memang sudah membelalakkan mata seperti burung hantu. Pengalaman pergi ke bandara, duduk di ruang tunggu khusus penumpang, masuk ke dalam tubuh pesawat terbang, mengencangkan sabuk pengaman, menyaksikan pramugari hilir mudik. Ah, semuanya menggetarkan!

Pemandangan dari jendela pesawat menyajikan rumah-rumah penduduk yang menjelma jejeran kotak korek api diselingi sawah, gunung dan laut, lalu berganti gumpalan awan, yang semakin lama makin tebal. Semua itu membuat mata mereka terbelalak. Dan kini, kamar tidur yang dipesan pak bupati…

“Jangan ke mana-mana ya… tunggu sampai saya kembali!” Ahmad Marzuki menutup pintu, meninggalkan Hilma, Rahmat dan Sari di dalam kamar. Tapi kedua anak itu tak betah terkurung. Ramai lalu lintas yang tampak dari jendela kamar begitu menggoda mereka! Di menit berikutnya kedua anak itu sudah berhamburan ke koridor.

Kringg..

Sendirian di kamar hotel, Hilma tak tahu apakah harus menjawab telepon itu atau tidak.

Kringg..

Suaminya tidak meninggalkan pesan apa-apa soal telepon. Hilma ragu.

Kriing..

“Ya… halo..” suara Hilma mengambang. Makin ragu.

“Ini kamar Pak Zulhan?”

Suara seorang perempuan terdengar di seberang.

“Ya…”

“Dan Anda siapa?”

“Engghhh…” Hilma bingung mencari jawaban yang tepat. Ia ingat sejak dari bandara, suaminya mewanti-wanti agar jangan sampai ada yang tahu bahwa mereka sekeluarga menggunakan kamar pak bupati.

“Kamu jangan juga cerita-cerita di kampung nanti ya kalau kita menginap di sini. Ini pesan pak bupati…”

“Maaf, Anda siapa?”

Perempuan di seberang terdengar tidak sabaran.

“Engghh…”

“Dengar baik-baik, ya! Saya ini Mirnaza, istri pak Zulhan. Wajar kan kalau saya ingin tahu siapa gerangan yang ada di dalam kamar suami saya!”

“Hah?” kali ini Hilma tak kuasa untuk tidak melempar gagang telepon itu.

“Halo..halo…mana bapak! Mana bapak! Saya perlu bicara!!!”

Suara di seberang berteriak serak.

Hilma memilih meninggalkan kamar. Ia memutuskan menunggu suaminya di lobi saja.

Di koridor, ia berpapasan dengan Sari yang diantar seorang petugas hotel. Gadis kecil itu menangis. Bajunya kuyup, bibirnya gemetaran, pita rambutnya berantakan.

“Ada apa ini?”

Rahmat muncul dari ujung koridor. Dengan wajah ditekuk penuh penyesalan, ia bercerita tentang Sari yang didorongnya ke dalam lift.

“Rahmat mau membunuhku di dalam kotak itu…,!” Sari terus menangis, mengadu pada ibunya.

Hilma merogoh tasnya, mencari tasbih kecil yang sejak di pesawat tadi digunakan untuk berdzikir. Oh, ternyata dibutuhkan lebih banyak doa menenangkan diri di dalam hotel ini, dibandingkan dalam penerbangan tadi!

Di kepala Hilma, nama perempuan yang membentaknya di telepon terus terngiang. Mirnaza? M-i-r-n-a-z-a? Bukankah ibu bupati di kampung bernama Hajjah Hadrasah….

Bulir tasbihnya berputar gemetar.

***

“Hahaha… jadi kamu membenci Jakarta karena pernah dijebak lift oleh kakakmu sewaktu kecil ya… Hahaha…”

“Itu baru satu alasan… banyak alasan lainnya!”

“Oh ya?”

“Ceritakanlah…”

Hm, orang Jakarta itu mulai tertarik, rupanya..

Aku menunjuk rombongan pejabat di tepi jalan yang bergerak. Bersiap masuk ke dalam mobil. Salah seorang pejabat yang menggunakan caping, tertawa sangat keras mendengarkan penjelasan pejabat kabupaten yang membungkuk-bungkuk.

Di kejauhan anak-anak sekolah terdengar lagi menyanyikan lagu Selamat Jalan sambil melambai-lambaikan bendera-bendera kecil. Ah, orang Jakarta, kerjanya bikin susah orang satu kampung saja!

“Wah, sial! Pak Menteri sudah mau berangkat”

Di ujung pematang, juru kamera yang sedari tadi sibuk merekam gambar sawah, sapi dan para pejabat, melambai memberi isyarat.

“Pak… sebaiknya pulang lewat pematang yang sebelah kiri. Pematang yang sebelah kanan, tanahnya rawan, sempit dan agak longsor…,” aku meyakinkan orang Jakarta itu dengan senyum.

Ia mengacungkan jempol, “Siiip… thanks ya!” Ditapakinya pematang sebelah kiri yang justru bertanah lembek, bekas galian irigasi buruh tani kemarin. Ia terperosok. Sumpah serapah terlontar di sepanjang pematang. Hahaha… orang Jakarta jatuh ke sawah!

***

“Haruskah kulanjutkan ceritaku mengapa aku benci Jakarta?”

Musim tanam berikutnya seorang peneliti dari universitas ternama di Jakarta mengangguk-angguk serius menatapku. Guratan dahinya membentuk tiga garis berbanjar. Jari telunjuk dan jempol kanannya mempermainkan pulpen bermerek Bic. Sekali-kali pulpen itu diketuk-ketukkan di ujung dagunya. Ia menggenggam notes bertulis World Bank. Kaos oblong di dadanya bertulis No Free Trade!

Ah, kali ini datang orang Jakarta dengan perpaduan simbol-simbol yang membuatku meringis!

Aku mengajaknya ke dangau. Kuajak ia memandangi padi yang luruh dan rebah, serta pematang yang luluh lantak diserbu tikus. Boneka pengusir burung sudah lama dicabut petani. Tak ada pipit yang sudi mampir musim tanam kali ini. Untuk menghibur penduduk, bupati memerintahkan program “pisangnisasi”, penanaman pisang di pinggiran sawah agar sawah yang mati itu masih bisa mendatangkan sedikit manfaat.

“Orang Jakarta hanya datang saat padi kami kuning siap dipanen lalu disiarkan di televisi…”

Si peneliti itu merekam suaraku. Mencatat seluruh ceritaku.

“Kalau boleh tahu… untuk apa ya wawancara ini?”

“Untuk proyek penelitian luar negeri, sekaligus tesis S2 saya..”

“Oh….. kenapa Bapak baru datang sekarang, saat sawah kami sudah berantakan begini?”

“Hmmm, gimana ya, Dik… Dana proyeknya juga baru cair, jadi ya, saya baru bisa kerja…”

Saat peneliti itu pamit kusarankan ia memilih pematang sebelah kanan. “Pak, pematang itu lebih kering. Lebih cepat sampai di ujung aspal…”

Peneliti itu mengancungkan jempolnya, lalu bergegas melintas pematang.

Dan…. aku hanya butuh tiga menit untuk mendengar jeritannya meledak di udara. Orang Jakarta memang perlu diperosokkan di pematang tonggos yang diserbu tikus-tikus sawah. Enak saja, sawah kami gagal panen, dia asyik meneliti kemalangan kami!

***

TENTU banyak cerita yang bisa kubagi. Banyak alasan mengapa aku membenci Jakarta. Samara, teman masa kecilku juga membenci Jakarta. Di pemakaman ayahnya, ia bertemu seorang perempuan dari Jakarta yang mengaku sebagai istri muda ayahnya. Kehadiran perempuan itu membuat ibu Samara pingsan berkali-kali di samping nisan suaminya.

Di pemakaman penuh drama itu, aku melirik ibuku yang menangis gemetar. Ah, betapa tersiksanya ia menyimpan rahasia soal perempuan bernama Mirnaza yang mengaku istri simpanan bupati Zulhan di Jakarta. Lima belas tahun rahasia itu dikunci rapat-rapat, demi menjaga karir bapak sebagai ajudan bupati yang loyal dan berdedikasi.

Bapakku juga membenci Jakarta, karena bupati pengganti atasannya, terpilih dengan embel-embel “titipan Jakarta”, di pertengahan 1996. Bupati baru itu datang ke kabupaten ini dengan memboyong ajudan barunya. Bapakku turun pangkat jadi asisten urusan rumah tangga rumah jabatan bupati, dan tentu saja tak punya kesempatan ikut perjalanan dinas ke Jakarta.

Oya, barangkali saja ada yang penasaran pada diriku. Aku, Sari Ahmad Marzuki, sarjana pertanian jurusan hama dan penyakit tanaman, yang memutuskan pulang kampung dua tahun lalu. Aku pulang menggarap sawah warisan orangtuaku. Bila kalian ingin mendengar cerita lainnya, mengapa ada sejumlah orang di pelosok ini yang membenci Jakarta, temui aku di dangau ini… (*)

Tokyo, 7 Februari 2008/ 11:59 am

8 thoughts on “Pembenci Jakarta

  1. “Cangkir, sendok, garpu plastik dengan logo burung berparuh tertekuk, juga bungkusan putih dengan bulir-bulir halus di dalamnya, yang masing-masing bertulis “sugar”, “salt” dan “pepper”. ”

    Hehehe.. Loved the detail.. Sebagai orang non Jakarta, terasa sekali cerita ini dan betapa noraknya ketika pertama kali datang ke ibukota.

    Sekarang.. huh.. tiap hari kerjanya cuma ngomel di tengah kemacetan hehe

  2. salam

    sy kagum dengan Mbak Lily. cerpen Mbak Lily yg udah sy baca belum banyak sih, antara lain : “Api”, “Dapur” (ada di http://www.goresan.com) dan pembenci jakarta yg ada disini. soalnya belum beli buku kumpulan cerpennya. tapi dari sy udah baca, cerpen-cerpen Mbak Lily tuh enak banget buat di baca. bahasanya ga muluk-muluk. mudah dan pengen terus ngikutin dari awal sampe selesai. terus, penuh kejutan di akhir ceritanya. selain itu, isi-nya padat dan bergizi, banyak aspek yg bisa masuk ke dalamnya tanpa melupakan detil, kok bisa ya? …alurnya jg ga ngebosenin, mungkin ini yg bikin sy betah baca dari awal sampe tuntas. itu saja barangkali komentar sy. maaf kalo tidak berkenan. sebab sy bukan penyair. sy cuma orang yg gemar baca fiksi aja terutama cerpen. semoga Mbak Lily sehat selalu dan diberkati oleh Tuhan. Amin.

    salam

  3. Iya nich…udach males banget tinggal dijakarta, tinggal dikampung aja ach…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *